::: Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Hj Masturah, istri KH Idam Chalid  (ketum PBNU 1952-1984), Kamis (13/7), wafat di RS Pondok Indah Jakarta ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Tuan Basyir, Pengikat Amaliah Ahlussunnah Annahdliyah

Senin, 17 Juli 2017 21:02 Opini

Bagikan

Kiai Tuan Basyir, Pengikat Amaliah Ahlussunnah Annahdliyah
Oleh: Nur Faizin Darain

Warga NU, khususnya masyarakat Madura kehilangan dua ulama khos di hari yang sama Sabtu kemarin (15/7/17) KH Ahmad Basyir AS dan KH Mannan Fadhaly. Beliau berdua "pakunya bumi" di tanah garam. Kiai Tuan Basyir, pengasuh PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep dan Kiai Mannan, pengasuh PP Miftahul Qulub Polagan Galis Pamekasan. Keduanya pimpinan tertinggi di PCNU Sumenep dan PCNU Pamekasan. 

Mengenai Kiai Tuan Basyir, saya memiliki kenangan baik semasa beliau hidup. Suatu hari yang sejuk sebelum Ramadhan lalu (2/4/17) saya bersama teman-teman Densus 26 berkesempatan sowan ke ndalem Kiai Tuan Basyir, begitulah masyarakat Sumenep menyebut nama Syaikh KH Ahmad Basyir bin KH Abdullah Sajjad. Pertemuan tersebut begitu bersahaja. Kami bersyukur dapat bersua kembali dengan beliau. Sebab sebelum mangkatnya beliau  tak mudah tamu-tamu menemuinya  karena alasan kesehatan. 

Kami bersua dengan beliau melalui K. Muhammad Hazmi (putra Kiai Tuan Basyir). Saat itu kami menyampaikan sekian hal, termasuk iktikad kami untuk nguri-nguri Islam Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah di Madura. Kami meminta restu dan sambungan doa pada beliau agar iktikad kami istiqomah. Bukan tanpa alasan kami menyampaikan hal tersebut. Adanya paham-paham menyimpang dan propaganda beberapa kelompok garis keras yang membawa bendera Islam sudah mulai menyeruak ke sendi-sendi kehidupan masyarakat Madura. 

Ajaran-ajaran ala NU (Nahdlatul Ulama) memang mendarah daging ke setiap sendi soaial-keagamaan masyarakat Madura. Hal ini sudah diakui beberapa kalangan hingga muncul anekdot yang dipopulerkan Cak Nun (budayawan Emha Ainun Najib) bahwa agama orang Madura adalah NU. Nah, anggapan demikian tak lepas dari keseharian masyarakat Madura yang lekat dengan tradisi NU seperti tahlilan, ziarah kubur, qunut, barzanjian, dan lainnya. 

Walaupun keseharian masyarakat Madura tak lepas dari tradisi NU, tapi maraknya ajaran-ajaran menyimpang dan gerakan Islam garis keras membuat kami yang berlatarbelakang pesantren merasa terpanggil berkhidmah ke NU untuk menguatkan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah annahdliyah di tengah-tengah masyarakat. 

Mengikat Tradisi
"Saya sudah mau 90 tahun. Paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad sudah semakin marak. Saya berharap kalangan muda dapat semakin menguatkan akidah umat yang terhasut kelompok menyimpang," begitulah petuah Kiai Tuan Basyir kepada kami. 

Pertemuan yang sebentar dengan beliau tak menghilangkan rasa khidmat yang kami rasakan. Petuah tersebut bagaikan embun bagi hati dan pikiran kami. Petuah beliau mengenai penguatan nilai ahlussunnah wal jamaah seakan memompa semangat kami generasi muda NU untuk tak bosan melakukan  perlawanan (counter attact) terhadap maraknya radikalisasi dan ideologisasi kaum ekstrimis. Begitupula a jungrojung (bersama-sama) seluruh elemen masyarakat dalam menguatkan akidah dan keummatan. 

Ahlussunnah wal jamaah annahdliyah bukanlah paham baru, bukan pula ideologi menyimpang. Paradigma tersebut mengacu pada upaya yang concern mempertahankan Islam dengan teguh melalui penguatan akidah, amalan syariah, muamalah, dan tasawuf sesuai sendi-sendi sunnah Rasulullah. Tentu mengikuti ajaran Nabi takkan sampai jika tak mengikuti petunjuk yang telah diajarkan Rasulullah kepada sahabat, tabi', tabi'n, ulama salafussholeh, ulama masa kini dan sampai pada kita. 

Apa yang disampaikan Kiai Tuan Basyir memliki korelasi terhadap apa yang kami dan generasi muda NU lakukan. Densus 26, kepanjangan Pendidikan Da'i Khusus Ahlussunnah wal Jamaah NU 1926, bersama-sama Kiai NU dan Banom NU, telah melakukan penguatan akidah Islam di banyak wilayah di Indonesia. Tidak hanya ke Madura sebagai lumbung NU, Densus 26 telah melakukan penguatan akidah bersama KH. Marzuki Mustamar selaku imam besar. Dengan alat kitab al-muqtathofat li ahlilbidayah kami melakukan penguatan akidah umat Islam dari satu tempat ke tempat lain. 

Kembali ke Kiai Tuan Basyir, bahwa penguatan akidah Islam sesuai dengan semangat para ulama terdahulu. Kiai Tuan Basyir, yang juga menjadi Mustasyar PBNU (2015-2020), patut menjadi tuntunan kalangan muda dalam berdakwah. Pelajaran berharga dari sikap beliau salah satunya ialah persoalan disiplin. Disiplin ini tak hanya mengenai soal tepat waktu, tapi istiqomah atau ajeg dalam menuntut ilmu, berjejaring, berdagang, bersilaturrahim, hingga berpolitik. Dengan cara inilah beliau mengikat emosi, tradisi, dan persepsi masyarakat sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. 

Semangat tersebut beliau contohkan pada santri-santri di Annuqayah dan masyarakat umum. Tak jarang ketika beliau diundang masyarakat dipastikan bila tidak ada udzur selalu tepat waktu. Tak hanya itu, beliau dikenal 'alim dalam ilmu fiqih. Kealiman beliau tak lepas pula dari sejak belia hingga menjelang wafatnya tak lelah mutholaah (belajar), mengaji, dan mengkaji sumber keislaman dari kitab-kitab ulama salaf. 

Para ulama telah banyak mangkat mendahului kita. Sebagai pewaris para nabi, ulama menjadi tambatan "kegalauan" umat. Satu persatu pakunya bumi telah diambil. Kita, utamanya golongan muda, hanya bisa berharap dan kalau bisa dapat meneruskan lelampah  perjuangan mereka. Semoga kita belum sampai waktunya menjelang kiamat saat para ulama dan orang-orang shalih satu persatu meninggalkan kita. Wallahu a'lam. 


Penulis adalah alumnus Sosiologi UGM Yogyakarta dan Korwil Madura Densus 26.