::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mbah Dalhar dan Mbah Siroj Payaman, Wibawanya Dihormati Para Romo Katolik

Selasa, 18 Juli 2017 01:00 Fragmen

Bagikan

Mbah Dalhar dan Mbah Siroj Payaman, Wibawanya Dihormati Para Romo Katolik
KH Siroj Payaman(belakang) dan KH Dalhar Watucongol (Depan).
Setelah lama menimba ilmu di Mekkah, Arab Saudi.  KH Nahrowi Dalhar atau biasa dikenal dengan sebutan Mbah Dalhar menjadi magnet sowanan banyak orang, utamanya masyarakat sekitar Magelang. Ada diantaranya yang memohon kepada Mbah Dalhar agar berkenan menularkan ilmunya. Langsung dijawab oleh Mbah Dalhar bahwa sumber ilmu itu ada di Payaman, yakni KH Anwari Siroj. 

Orang itu pun manut dengan ngendika Mbah Dalhar, sowan ke Payaman. Begitu disowani dan dimohon permohonan serupa Mbah Siroj juga menjawab bahwa sumber ilmu ada di Watucongol. "Bahkan ilmunya baru dientas dari Mekkah," ucap Mbah Siroj ta'dzim.

Padahal tiada yang mengingkari kealim Mbah Dalhar. Begitupun Mbah Siroj. Orang-orang mengakui bahwa beliau berdua adalah ulama yang alim allamah. Tapi memang seperti itulah gambaran tawadhu'nya para kiai jaman dulu.

Ada kisah unik tentang Mbah Siroj yang jarang diketahui. Pernah suatu waktu seorang romo Katolik bertanya kepada Gus Yusuf Chudlori Tegalrejo Magelang, "Gus, Payaman itu di Magelang mana?" Lalu dijawab oleh Gus Yusuf rute Payaman.

Dan romo Katolik itu bercerita dengan nada heran, "Aku masih penasaran Gus. Di lingkup para romo cerita ini melegenda. Dulu para romo Katolik Gereja Mertoyudan mewanti-wanti ada macan di Payaman. Saat mereka akan ke Mertoyudan naik kereta api, pasti turun dulu sebelum Payaman, lalu jalan kaki hingga melewati Payaman, baru naik kereta api kembali. Bukan saja tidak berani naik kereta, bahkan para romo itu menundukkan kepala tidak berani mengangkatnya. Kata para romo, Macane (harimau) Payaman itu Mbah Siroj," kisah Gus Yusuf Chudlori saat acara Halal Bihalal P4SK di Babakan Tegal, Ahad (16/7).

Mbah Siroj dikenal sebagai ulama besar dengan kedigdayaan ilmu karomahnya setelah menjalani pendidikan Islam di Kota Mekkah. Beliau berguru bersama Almarhum Mbah Dahlar yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan Ponpes Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari pimpinan Pesantren Tebuireng, Jombang. (Syaroni As-Samfuriy)