IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Menuntut Ilmu di Pesantren Akan Mengangkat Derajat Orang Tua

Selasa 18 Juli 2017 17:3 WIB
Bagikan:
Menuntut Ilmu di Pesantren Akan Mengangkat Derajat Orang Tua
Cirebon, NU Online
Sejak Sabtu, (15/7/2017), ratusan peserta didik baru madrasah di lingkungan Pondok Buntet Pesantren mengikuti rangkaian Masa Taaruf Siswa Madrasah (Matsama) 2017. Selama tiga hari, mereka diberikan pembekalan sebelum masa aktif belajar dimulai.

Di hari terakhir, Senin, (17/7/2017), para peserta Matsama diagendakan sowan ke kiai-kiai sepuh Buntet Pesantren guna mengalap berkah dan nasihatnya.

Di kediamannya, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza menyampaikan bahwa para peserta didik baru di madrasah Buntet Pesantren itu orang yang beruntung.

“Kalian mengambil ilmu di pondok pesantren Buntet adalah sebuah keberuntungan bagi kalian karena kalian akan mengangkat maqom (kedudukan) derajat orang tua.,” ujarnya.

Mengutip dawuh ulama, Kiai Adib menjelaskan, bahwa seseorang tidak akan mendapatkan seluruh ilmu pengetahuan meskipun dia belajar selama seribu tahun sebab ilmu itu seperti lautan. Maka ambil yang terbaiknya saja. Karena ilmu itu laut, diambil oleh siapapun dan seberapa banyak pun orang mengambil air dari laut, airnya tidak akan habis.

“Ilmu itu diibaratkan laut. Orang sedunia mengambil air dari laut, laut akan bergeming, laut tidak akan keruh, laut tidak akan asat (surut),” katanya.

Selain itu, kiai yang juga salah satu mustasyar PBNU itu menyampaikan bahwa untuk mencapai ilmu itu harus mendapatkan restu dan juga takzim kepada kiai dan guru.

“Untuk menghormati kiai dan guru adalah dengan meningkatkan kualitas belajar,” ungkapnya.

Tidak cukup hanya belajar, Kiai Adib mengingatkan agar para santri juga mendaras atau mutalaah. Dari mendaras itulah, ilmu diterima oleh akal, lalu dimasukkan ke dalam fuad (hati). Fuadlah yang akan menyetir jawarih (anggota tubuh).

“Kalau itu bisa kalian kerjakan, maka jaminannya adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang lebih baik, dan ilmu yang akan menyelamatkan kehidupan kalian, baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Selain sowan pada Kiai Adib, para peserta Matsama juga sowan pada KH Abdul Hamid Anas, KH Hasanuddin Kriyani, dan KH Amiruddin Abkari. (M. Rikays/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Ahad 16 Juli 2017 16:34 WIB
Lima Remaja Nias Utara Dapat Beasiswa Nyantri dari NU Care LAZISNU
Lima Remaja Nias Utara Dapat Beasiswa Nyantri dari NU Care LAZISNU

Depok, NU Online
Lima remaja asal Nias Utara, mengikuti program Beasiswa Sejuta Santri yang diadakan oleh NU Care LAZISNU. Mereka akan menjalani “nyantri”di Pesantren Annahdlah Islamic Boarding School, Depok Jawa Barat.

Kelima  santri asal Nias Utara ini adalah Didi Supriandi Aceh, asal Lahewa, Nias Utara, Aulia Rahman Zebua, Adward hafizh Zalukhu, Abdul Hafiz Zalukhu, dan Muhammad Yusfansyah. Kelimanya tiba di Depok, Sabtu (15/7) setelah menempuh perjalanan dengan pesawat, dan menembus kemacetan dari bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.

Ketua PCNU Kabupaten Nias Utara, M Yusuf Zebua menyampaikan, program beasiswa santri yang diterima Kabupaten Nias Utara baru kali ini diadakan. 

“Saya berterimakasih kepada Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua LAZISNU Pak Syamsul Huda, dan seluruh tim di NU Care LAZISNU,” katanya saat mengantar kelima kader remajanya.

Yusuf menceritakan, keberangkatan lima calon santri asal Nias Utara penerima beasiswa dilepas keluarga melalui bandara. Suasana haru dan sedih tercipta karena para santri akan berpisah dengan orangtua mereka untuk menimba ilmu di pulau Jawa.

Ikut menghantar, Rais Syuriah PCNU Nias Utara, Ahmad Nur Zalukhu dan memberikan pembekalan kepada kelima santri. 

“Saya minta santri yang berangkat mondok ini harus istiqamah dalam menunutut ilmu. Karena  akan dididik dengan baik dan nanti bisa menjadi Duta Aswaja di Nias Utara melalui PCNU Nias Utara,” kata Yusuf menirukan Rais Syuriah PCNU Nias Utara. (Kendi Setiawan/Muslim Abdurahman)

Sabtu 15 Juli 2017 22:13 WIB
SMK Al-Falah, SMK NU di Pati Kidul dengan Segudang Prestasi.
SMK Al-Falah, SMK NU di Pati Kidul dengan Segudang Prestasi.
22 tahun sudah SMK Al-Falah berkiprah di dunia pendidikan. Sejak berdiri tahun 1995, sumbangsihnya dalam mencerdaskan anak bangsa begitu besar.

Di bawah naungan yayasan pendidikan Islam Al-Falah- yang yang didirikan oleh KH Habib Hasan, tokoh NU kecamatan Winong,SMK Al-Falah mengarungi masa hingga tak terasa sudah berkembang sedemikian rupa. Dari data resmi terbaru siswa Al-Falah berjumlah 1345 yang berasal dari berbagai penjuru Pati.

Pada awal berdirinya SMK Al-Falah hanya membuka jurusan akuntansi. Namun,  seiring dengan antusiasme masyarakat dan tuntutan pendidikan yang mesti menyesuaikan perkembangan zaman maka dibukalah jurusan teknik komputer dan jaringan, otomotif, farmasi dan teknik mesin.

SMK yang dipimpin oleh Mukhlisin ini, memiliki fasilitas yang terbilang lengkap. Di dalamnya, terdapat 35 kelas, masjid, asrama, aula, laboratorium komputer, perpustakaan, lap. futsal, lap. bola volley, lap. basket. minimarket, gedung teater, klinik dan masih banyak lagi lainnya.  

Tenaga pengajar yang dimiliki SMK Al-Falah berjumlah 70 orang dengan beragam disiplin ilmu. Latar belakang mereka dari berbagai universitas terkemuka seperti Undip,UGM, UMY, IKIP Malang dan lainnya.

Dengan fasilitas yang lengkap, tenaga pengajar yang profesional juga sistem pendidikan yang terpadu, tentu sudah semestinya SMK Al-Falah masuk dalam daftar sekolah idaman.

Bagi masyarakat Winong dan sekitarnya sudah sangat mengenal dengan SMK Al-Falah, yang beralamat di Jl. Winong-Pucak Wangi, RT 01 desa Pekalongan, Kec. Winong, Kab. Pati. Lingkungan khas alam pedesaan pantura yang sangat asri dan sejuk, menciptakan suasana belajar mengajar siswa sangat kondusif membuat para siswa semangat belajar dalam kesehariannya.

Bukti nyata dari kesungguhan siswa tersebut bisa dilihat dari jejeran piala, medali juga piagam yang tertata rapi di lemari kantor SMK Al-Falah.

Piala, medali juga piagam tersebut adalah prasasti atas prestasi siswa Al-Falah baik tingkat nasional maupun lokal diberbagai bidang di antaranya adalah juara 1 teater nasional tingkat SMU/sederajat, juara 1 futsal Bupati Pati cup tingkat SMU/sederajat, juara 1 marathon se-Karesidenan Pati tingkat SMU/sederajat, juara 1 festival film pendek, juara 1 bola volley se-Kecamatan Winong tingkat SMU/sederajat, juara 3 lomba karya tulis ilmiah se-Jateng dan DIY tingkat SMU/sederajat. 

Dengan sederet pencapaian prestasinya ini tentu bisa menjadi tolak ukur betapa Al-Falah mampu memberi warna di kancah pendidikan Indonesia. Dengan beragam keunggulan yang dimilikinya seperti fasilitas belajar dan ruang praktik yang representatif, tenaga pengajar yang profesional, kurikulum terpadu, biaya pendidikan yang terjangkau juga sederet prestasi yang telah diraihnya SMK Al-Falah memiliki visi menjadi SMK rujukan. 

"Al-Falah bervisi menjadi SMK rujukan, mohon bantuan dan do'anya," ujar Mukhlisin ketika memberi sambutan dalam reuni alumni angkatan 1997, 1998, dan 1999 yang digelar awal Juli lalu. Alumni SMK Al-Falah bertebaran di mana-mana. Tak sedikit yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan banyak juga yang langsung diserap oleh dunia usaha.

Sebagai lembaga pendidikan yang bernaung di bawah LP Ma'arif NU tentu SMK Al-Falah sangat konsisten menjaga dan mewariskan aqidah, nilai-nilai dan tradisi NU.

Untuk mewujudkan amanah mulia itu SMK Al-Falah menerapkan sistim pendidikan terpadu, perpaduan antara kurikulum Kemendikbud dan kurikulum pesantren salaf NU. Untuk kurikulum Dikbud diterapkan dari pagi sampai menjelang sore yang selanjutnya menerapkan kurikulum pesantren salaf seperti hadist, fiqh, tafsir, nahwu, sharaf, sirah, muhadarah dan lainnya. 

Selain itu ada kegiatan mingguan, bulanan dan tahunan khas NU seperti tahlilan, barzanji, manaqiban juga peringatan haul. Adapun ektrakurikulernya  meliputi kegiatan wajib dan pilihan. Kegiatan wajibnya pramuka, sementara pilihannya banyak; karate, marawis, drama, teater, marchind band, jurnalistik, kajian ilmiah dan tari Nusantara.

Selain itu ada juga kegiatan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah di antaranya renang, ziarah ke makam orang-orang shaleh juga studi banding.

Dengan gemblengan yang sedemikian komplitnya, para siswa diharapkan kelak siap menjadi pengawal aqidah aswaja dan mentransformasikan kemampuan dan keterampilannya ketika sudah berada di tetengah masyarakat.(Alfathiy/Mukafi Niam)
Jumat 14 Juli 2017 17:15 WIB
Riyadlul Banin, Jejak Geliat Nyantri di Mojogeneng
Riyadlul Banin, Jejak Geliat Nyantri di Mojogeneng
Jombang, NU Online
Pondok Pesantren Riyadlul Banin Mojogeneng, Gedangan, Mojowarno Jombang dulu menjadi tempat santri belajar. Sudah banyak santri yang lulus mempelajari kitab kuning, lantas mempraktikkannya baik dalam keseharian atau diajarkan pada masyarakat. Sayangnya, ketika Ustadz Dlomirin, pengasuh pesantren tersebut berpulang ke Rahmatullah, Riyadlul Banin berangsur-angsur ditinggalkan santrinya. Saat ini (2017) bersisa 5 orang santri kalong saja, itu pun hanya belajar mengaji Al-Qur’an.

Ketika memasuki Dusun Mojogeneng Desa Gedangan Mojowarno Jombang kita tidak akan tahu kalau dulu ada sebuah pesantren, tempat santri belajar Al-Qur’an dan kitab kuning. Bahkan ketika sampai di rumah pengasuh pesantren tersebut kita hanya menjumpai bangunan rumah sebagaimana hunian lain yang ada di dusun itu. Akan tetapi, ketika masuk lebih dalam, maka akan terlihat sebuah pesantian yang diberi nama Pondok Pesantren Riyadlul Banin.

Pondok tersebut tidak cukup luas, hanya sekitar 3 x 6 meter persegi. Ketika memasukinya harus menaiki 4 anak tangga. Sebab, pondok tersebut berbentuk panggrok atau panggung. Bangunannya khas dan klasik. Berdinding gedek, berlantai dan berpagar bambu. Di dalamnya hanya ada satu bilik saja yang digunakan untuk sholat berjamaah dan mengaji. Ada dua rak yang digantung sebagai tempat Al-Qur’an dan kitab. Selain itu, sebuah mikrofon disediakan sebagai pengeras ketika mengaji.

Pondok Pesantren Riyadlul Banin didirikan 15 tahun lalu, sekitar tahun 2002, usai ustadz Dlomirin muda merampungkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo selama 7 tahun. Sebelumnya, ia nyantri di Pesantren Tebuireng selama 6 tahun.

Hj. Mahsunah, ibunda Ustadz Dlomirin menuturkan, dulu putranya itu pamit untuk menghafal kitab Alfiyah ke Pesantren Lirboyo agar bisa diajarkan. Dan sepanjang nyantri, Ustadz Dlomirin muda kerap riyadlah mulai dari berjalan kaki ketika awal berangkat nyantri ke Pesantren Lirboyo, hingga tidak makan nasi, akan tetapi makan jagung.

Ustadz Dhomirin termasuk pribadi yang sederhana. Menurut penuturan Hj Mahsunah, salah satu wujud kesederhanaannya adalah bangunan pondok pesantren yang berdinding gedhek, yang sekalipun tidak direnovasi menjadi gedhong. “Saya pernah menawarkan untuk direnovasi dan ditembok, dia (Ustadz Dlomirin, red) tetap tidak mau. Masjid saja sudah banyak digedhong, masak pondoknya tetap gedhek. Bahkan, sampai ia wafat, ada santrinya yang diimpeni (dapat mimpi) agar bangunannya tetap dibiarkan seperti sedia kala,” kenang wanita 75 tahun itu. Alhasil, bangunan pondok tetap berdinding sesek dan berlantai pring.

Untuk itu, pondok tersebut hanya diperkokoh saja dengan mengganti pondasinya menggunakan lumpang. “Warga dengan sukarela menyerahkan lumpang sebagai pondasi atau kaki penyangga, agar bisa kokoh berdiri dan tidak ambruk ketika santri naik-turun pondok,” ungkap wanita tamatan Madrasah Muallimat Cukir tersebut.

Di awal, Pondok Pesantren Riyadhul Banin mendidik sampai 40 santri putra dan putri. Santri-santri tersebut berasal dari desa sekitar, seperti Menganto, Gedangan, Berjo, Gondek dan beberapa desa lain. Santri putri tidur di rumah pengasuh, sedangkan santri putra di pondok panggung tersebut. Pengajian kitab dilaksanakan secara sorogan dan bandongan setiap bakda subuh dan maghrib. Diantara mereka ada yang sampai mumpuni membaca kitab kuning untuk diajarkan.

Sayangnya, Ustadz Dlomirin tidak berusia panjang. Ia berpulang ke Rahmatullah dikarenakan sakit dengan meninggalkan seorang istri dan seorang putra. Usai kepergian Ustadz Dhomirin, Pondok Pesantren Riyadlul Banin sempat vakum tanpa satu pun aktivitas pengajian. Hingga akhirnya perawatan dan pengajian diteruskan oleh kakak iparnya, dengan mengajar ngaji Al-Qur’an.

“Tidak ada yang bisa meneruskan. Kitab-kitabnya (Ustadz Dlomirin, red) tersimpan di kamarnya, masih rapi. Sekarang santrinya ada 5, hanya mengaji Al-Qur’an dan istiqomah rutin jamaah maghrib,” tuturnya

Menurut Hj. Mahsunah, sekarang ini tidak mudah mengajak anak muda untuk belajar agama. Alih-alih kitab kuning, istiqomah membaca Al-Qur’an saja juga sudah sangat jarang. “Anak zaman sekarang susah. Pamitnya ngaji, tapi mampirnya ke tempat lain. Ya, ada 5 santri kalong saja sekarang ini. Semoga walaupun santrinya sedikit bisa menjadi jariyah,” ungkapnya.

Meski tidak mendapat dukungan dari manapun, Hj. Mahsunah dan menantunya bertekad untuk merawat dan tetap membuka pengajian Al-Qur’an bagi siapa saja yang ingin mengaji di pondok Riyadhul Banin tersebut. (Robiah/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG