IMG-LOGO
Nasional

Majelis Dzikir Wahana untuk Memecah Kebuntuan Komunikasi

Selasa 18 Juli 2017 21:3 WIB
Bagikan:
Majelis Dzikir Wahana untuk Memecah Kebuntuan Komunikasi
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathon Hery (MDHW) Haryanto Azumi mengatakan, MDHW akan mematangkan organisasi dan mengembangkan jaringannya hingga ke daerah-daerah. Ia mengatakan hal itu ketika ditemui selepas deklarasi majelis yang diinisiasi Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin di hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (14/7) yang dihadiri 700 kiai.

Untuk tujuan itu, MDHW akan melibatkan banyak pihak untuk membesarkan majelis itu. “Karena kita sedang membangun infrastruktur organisasi nasional,” katanya, “akan melibatkan para habaib, para kiai untuk bergabung bersama-sama dalam . Ini kombinasinya para habaib, masyaikh, kiai-kiai kita,” jelasnya.

Menurut dia, majelis tersebut didesain tidak tersentral pada figurnya, tapi pada visi dan misi yang ingin menjadi jembatan untuk mengatasi kebuntuan komunikasi, kebuntuan silaturahim yang hari ini terjadi. Banyak problem saat ini bukan terjadi karena subtansi masalah, tapi karena problem komunikasi.

“Kita mencoba membantu mengatasi dari situ, mengatasi problem-problem dengan silaturahim. Dzikir itu kan bahasa spiritual, bahasa hati, bahasa bagaimana orang masuk ke dalam upaya meyelesaikan problem itu dari dalam dirinya sendiri, dan resistensi tidak ada,” katanya.  

Dengan berdzikir, lanjutnya, dari partai mana pun, dari kelompok mana pun, mereka pasti suka. “Di situ kita masuk,” lanjutnya.

Ketika ditanya bagaimana problem komunikasi diselesaikan dengan cara dzikir, Hery menjelaskan, dzikir itu adalah wahana. “Kalau kita ketemu, yang kita omongkan kan macam-macam, bisa politik, ekonomi, bisa macam-macam. Intinya, kalau orang ketemu, pasti akan komunikasi. Nah, jangankan untuk ketemu, menyelesaikan masalah, cara komunikasinya pun, orang sekarang tidak bisa,” katanya.

Deklarasi Majelis Dzikir Hubbul Wathon dihadiri Presiden RI Joko Widodo, Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Wakil Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan ratusan kiai. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 18 Juli 2017 23:45 WIB
Soal Pesta Seks di Surga, Mahfud MD: Saya Risih Dengar Dakwah Begitu
Soal Pesta Seks di Surga, Mahfud MD: Saya Risih Dengar Dakwah Begitu
Jakarta, NU Online
Mantan Menteri Pertahanan di era Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Mohammad Mahfud MD merasa risih usai melihat cuplikan cermah Ustadz Syam. Mahfud menilai isi cermah yang disampaikan dai asal Kota Makassar itu tidak bermanfaat. Dia justru merasa aneh jika orang bisa bertaqwa lantaran dijanjikan pesta seks.

"Menurut saya isi ceramah seperti itu tak ada manfaatnya, mengasumsikan bahwa orang bisa bertaqwa kalau dijanjiin pesta seks di surga. Saya risih ada dakwah begitu," kata Mahfud membalas pengikut twitternya yang meminta tanggapan terkait video itu.

Ustadz bernama lengkap Syamsuddin Nur Makka yang pengisi acara dakwah "Islam itu Indah" di stasiun televisi Trans TV ini dikecam lantaran melontarkan ucapan senonoh dan terkesan melecehkan ajaran Islam. 

Dalam ceramahnya pada siaran Islam itu Indah, Sabtu (15/7), dai muda ini menjelaskan jika satu di antara kenikmatan bagi penghuni surga adalah adanya "pesta seks" karena nafsu seks selama di dunia harus dikendalikan.

"Salah satu nikmat yang ada di surga adalah pesta seks. Minta maaf, karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia. Inilah yang kita tahan-tahan di dunia dan kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT di surga adalah pesta seks," demikian kata Ustadz Syam di hadapan para jamaah yang mayoritas kaum perempuan.

Mahfud yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini meminta semua stasiun televisi memiliki tim yang mengerti soal agama dan mampu menentukan narasumber maupun tema yang baik.

"Sy sarankan semua stasiun TV punya Tim yg kuat dan paham agama dlm program dakwah di TV. Ya, agar bisa memilih narasumber dan topik yg baik," kata Mahfud melalui akun twetter pribadinya @mohmahfudmd. (Zunus)





Selasa 18 Juli 2017 22:15 WIB
Pesta Seks di Surga? Nadirsyah Hosen: Pahami Konteks Ayat
Pesta Seks di Surga? Nadirsyah Hosen: Pahami Konteks Ayat
Nadirsyah Hosen.
Jakarta, NU Online
Program Islam itu indah di Trans TV yang dibawakan oleh pemuda Syamsuddin Nur, Sabtu (15/7) dinilai masyarakat justru tidak mencerminkan indahnya Islam karena menerangkan ayat Al-Qur’an secara tekstual, tidak kontekstual. Dalam penjelasannya, ia menyebut ada pesta seks di surga.

Tak ayal kata yang terdengar negatif dan tabu di telinga umat Islam tersebut menuai banyak kecaman masyarakat, tak terkecuali Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand, Nadirsyah Hosen.

Dosen senior di Monash Law School Australia yang menggeluti bidang Hukum Islam (Syariah) dan Hukum Umum ini menuliskan tanggapan panjang lewat tweet di akun twitter pribadinya, @na_dirs, Selasa (18/7).

Menurutnya, Al-Qur’an tidak boleh dipahami secara tekstual dan harfiah, melainkan harus dipahami konteks sosial ketika ayat tersebut diturunkan.

“Memahami ayat hanya dari terjemahan harfiah akan membawa kita pada pemahaman zahir akan kenikmatan surga yang dikisahkan dalam Nash,” ujar Nadirsyah Hosen dalam salah satu cuitannya.

Berikut 22 cuitan lengkap Nadirsyah Hosen yang berhasil dihimpun NU Online:

Surga yang diributkan. Gara2 ceramah @itss_syam (Syamsuddin Nur) yg mengatakan kenikmatan terbesar di surga nanti adalah pesta seks, banyak yg heboh.

Mungkin @itss_syam lupa bhw kenikmatan terbesar di surga kelak adalah saat kita memandang wajahNya. Bukan soal bidadari dan seks.

Tapi beliau @itss_syam sudah minta maaf. Ya mari kita maafkan. Selalu ada pelajaran dibalik peristiwa. Smg kedepannya lebih hati2 lagi.

Tapi bukankah di ayat dan hadits itu ada soal seks dan bidadari di surga? Bgm memahaminya? Di sinilah perlunya memahami konteks sosial.

Memahami ayat hanya dari terjemahan harfiah akan membawa kita pada pemahaman zahir akan kenikmatan surga yg dikisahkan dalam Nash.

Saya ingin beri contoh 3 kenikmatan surga: bidadari, sungai dan kebun, serta khamr. Ketiganya jangan dipahami secara zahir semata.

Iming2 kenikmatan ketiganya adalah strategi dakwah Islam sesuai konteks sosio-historis masyarakat Arab jahiliyah saat itu.

Sebelum Islam datang, orang Arab istrinya gak terbatas. Islam dtg bawa aturan maksimal 4. Rugi dong kalau masuk Islam? Begitu tanya mrk.

Maka Islam tawarkan kalau kalian buat baik di dunia akan ada bidadari cantik menunggu di surga. Ini kompensasi sesuai konteks saat itu.

Bidadarinya jumlahnya berapa? Banyak, kata Islam. Cantik gak? Cantik, santun, montok, bergelang emas, selalu perawan, jawab Qur'an.

Jadi ini jawaban Qur'an pada konteks masyarakat yang masih jahiliyah, gila wanita dan merasa rugi kalau masuk Islam. Ini konteksnya.

Gak cuma itu, Qur'an kasih iming2 lain soal surga. Dulu itu org kaya adalah mrk yg punya kebun kurma banyak. Di surga gimana nanti? Ada!

Akan ada kebun yg indah, dimana akan mengalir air di bawahnya. Jgn lupa arab itu tandus dan gersang, maka surga yg diprojeksikan spt itu.

Kalau utk masyarakat Jawa yg subur, banyak kebun dan sungai tentu projeksi surga spt itu gak akan menarik lha wong udah ada hehehe.

Itu sebabnya memahami penggambaran surga jgn zahir saja. Rugi nanti kalau surga isinya cuma kebun doang. Pahami ayat secara sosiologis.

Orang arab tukang minum khamr. Eh diharamkan. Rugi dong masuk Islam. Maka Islam harus memberi jawaban kompensasi kelak di surga.

Maka dalam sebuah riwayat dikatakan di surga nanti ada sungai isinya khamr. Kamu minum sambil menyelam gak bakal mabuk. Puas deh.

Begitulah cara Islam berdakwah dg memprojeksikan ukuran kesenangan dan kebahagiaan masyarakat Arab pada saat itu.

Anak sekarang nanyanya:  di surga ada wifi gak? Boleh jadi kalau Qur'an masih turun skr jawabannya: "ada wifi dg kecepatan tak terbatas".

Padahal sejatinya surga itu adalah yg tak terbayangkan oleh kata dan mata serta rasa. Beyond our imagination.

Pelajaran yg kita ambil dari kasus "surga yg diributkan" ini adalah: pahami ayat sesuai konteksnya dan pahami manhaj dakwah Qur'an.

Demikian penjelasan singkat saya. Waallahu a'lam bisshawab.

Seperti diberitakan, video Syamsuddin Nur beredar luas di media sosial soal kata-kata pesta seks di surga. Dalam video berdurasi 56 detik itu, kata-kata tersebut membuat masyarakat geram.

"Salah satu nikmat yang ada dalam surga adalah pesta seks. Minta maaf karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia dan kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT di surga adalah pesta seks. Kenapa ini? Karena ini yang disuruh tahan di dunia oleh laki-laki," ungkap Syamsuddin Nur dalam cuplikan video yang beredar. (Fathoni)
Selasa 18 Juli 2017 22:3 WIB
Pencak Silat Dulu Kampungan, Sekarang Olahraga Bergengsi
Pencak Silat Dulu Kampungan, Sekarang Olahraga Bergengsi
Foto: Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PB IPSI 1981-2003 Mayjen TNI (Purn) Eddie M Nalapraya menyatakan rasa syukur atas penerimaan masyarakat terhadap olahraga pencak silat sekarang ini. Ia menyampaikan kegembiraannya atas perubahan cara pandang masyarakat terhadap olahraga silat dari negatif menjadi positif.

Demikian disampaikan Eddie pada acara halal bihalal perguruan Pencak Silat (PS) Purbakala di Sekretariat Pusat PS Purbakala, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad (16/7) siang.

Dalam pertemuan itu Wagub DKI Jakarta 1984-1987 bertanya kepada salah satu orang anggota PS Purbakala. “Kamu pakai seragam ini dari rumah atau baru di sini?” Setelah dijawab bahwa pakaian seragam itu dia pakai sejak dari rumah, Eddie mengapresiasinya.

“Wah kalau dulu tidak bisa begitu. Dulu anggota pencak silat malu pakai seragam dari rumah. Mereka baru pakai seragam di tempat latihan. Masyarakat masih memandang pencak silat sebagai olahraga kampungan. Sekarang pandangan itu berubah,” kata Eddie, Ketua IPSI DKI Jakarta 1978.

Perubahan pandangan masyarakat itu tidak lepas dari Eddie yang memperkenalkan pencak silat di tengah masyarakat. Ia membawa seni beladiri silat ke mancanegara. Sejak 1980-an ia merintis perkenalan dunia silat itu ke warga dunia hingga kemudian ia diangkat sebagai Ketua Presidium Persekutuan Silat Antarbangsa (Persilat) dengan anggota dari pelbagai negara.

“Nanti tanggal 22 kita mengadakan halal bihalal di padepokan TMII, salah satu agendanya adalah syukuran atas gelar doktor honoris causa di bidang olahraga yang saya terima dari UNJ pada Mei 2017,” kata Eddie.

Ia menyampaikan pidato berjudul Budaya Pencak Silat dalam Membangun Karakter Manusia pada sidang terbuka penganugerahan doktor honoris causa di UNJ.

“Sekarang silat sudah masuk kajian akademik dan ilmiah. Dulu dianggap kampungan,” kata Eddie. (Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG