IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Nusron Wahid Sebut Indonesia Hadapi Tiga Tantangan Serius

Rabu 19 Juli 2017 1:5 WIB
Bagikan:
Nusron Wahid Sebut Indonesia Hadapi Tiga Tantangan Serius
Pati, NU Online
SMK Pesantren Cordova dan Pesantren Mathaliul Huda AlKautsar, Kejan Margoyoso Pati, Jateng menyelenggarakan Apel Bendera Iftitahussanah atau pembukaan kegiatan pendidikan tahun ajaran 2017 di halaman SMK berbasis pesantren tersebut, Senin (17/7). Kurang lebih 1700 santri-santriwati mengikutinya.

Hadir pada apel tersebut Kepala Badan Negara Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia H. Nusron Wahid yang memberikan pembekalan kebangsaan dan ke-NU-an.

Nusron menegaskan bahwa saat ini bangsa Indonesia menghadapi tiga tantangan serius, yaitu kebinekaan, kemiskinan, dan korupsi. Tantangan kebinekaan karena makin maraknya gerakan yang bertujuan memperlemah Pancasila sebagai dasar negera Indonesia.

Generasi muda Aswaja, kata dia, harus menjawab tantangan tersebut melalui penguatan keyakinan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang tidak bertentangan dengan Islam dan bahkan merupakan penjabaran dari ajaran Islam.

“Generasi muda NU juga harus dibekali dengan nilai-nilai dasar ke-NU-an sehingga tidak mudah terpengaruh oleh gerakan atau pemikiran radikalisme Islam,” tegasnya.

Nusron juga meminta agar lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU termasuk SMK pesantren agar sebaiknya membentuk Komisariat IPNU dan IPPNU agar para pelajar belajar pola berorganisasi sesuai tradisi NU.

Sementara Pengasuh  Pesantren Mathaliul Huda Al-Kautsar KH Ahmad Zakcy Fuad Abddullah menegaskan agar para santri mempunyai sifat-sifat para nabi, yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Dengan membekali diri dengan sifat-sifat kenabian tersebut, insyaallah para santri akan mudah mendapatkan keberkahan dalam mencari ilmu di pesantren.

Pada Apel Bendera tersebut, mars Ya lal Wathon dan lagu Syukur dinyanyikan bersama oleh para siswa dan santri dengan penuh penghayatan. Apel bendera yang juga menandai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah dan pesantren tersebut berjalan khidmat.

Selama satu minggu ke depan, para siswa dan santri baru diberikan orientasi sekolah dan pesantren meliputi peraturan sekolah dan pondok, ke-NU-an, nilai-nilai perdamaian dan anti-kekerasan, bahaya ancaman narkoba di lingkungan sekolah, ancaman radikalisme agama, mengkritisi budaya hoax di media sosial dan bahaya sex di luar nikah. Pihak sekolah dan pesantren dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut bekerja sama dengan instansi terkait di wilayah sekitar pesantren. (Niam Sutaman/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 18 Juli 2017 17:3 WIB
Menuntut Ilmu di Pesantren Akan Mengangkat Derajat Orang Tua
Menuntut Ilmu di Pesantren Akan Mengangkat Derajat Orang Tua
Cirebon, NU Online
Sejak Sabtu, (15/7/2017), ratusan peserta didik baru madrasah di lingkungan Pondok Buntet Pesantren mengikuti rangkaian Masa Taaruf Siswa Madrasah (Matsama) 2017. Selama tiga hari, mereka diberikan pembekalan sebelum masa aktif belajar dimulai.

Di hari terakhir, Senin, (17/7/2017), para peserta Matsama diagendakan sowan ke kiai-kiai sepuh Buntet Pesantren guna mengalap berkah dan nasihatnya.

Di kediamannya, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza menyampaikan bahwa para peserta didik baru di madrasah Buntet Pesantren itu orang yang beruntung.

“Kalian mengambil ilmu di pondok pesantren Buntet adalah sebuah keberuntungan bagi kalian karena kalian akan mengangkat maqom (kedudukan) derajat orang tua.,” ujarnya.

Mengutip dawuh ulama, Kiai Adib menjelaskan, bahwa seseorang tidak akan mendapatkan seluruh ilmu pengetahuan meskipun dia belajar selama seribu tahun sebab ilmu itu seperti lautan. Maka ambil yang terbaiknya saja. Karena ilmu itu laut, diambil oleh siapapun dan seberapa banyak pun orang mengambil air dari laut, airnya tidak akan habis.

“Ilmu itu diibaratkan laut. Orang sedunia mengambil air dari laut, laut akan bergeming, laut tidak akan keruh, laut tidak akan asat (surut),” katanya.

Selain itu, kiai yang juga salah satu mustasyar PBNU itu menyampaikan bahwa untuk mencapai ilmu itu harus mendapatkan restu dan juga takzim kepada kiai dan guru.

“Untuk menghormati kiai dan guru adalah dengan meningkatkan kualitas belajar,” ungkapnya.

Tidak cukup hanya belajar, Kiai Adib mengingatkan agar para santri juga mendaras atau mutalaah. Dari mendaras itulah, ilmu diterima oleh akal, lalu dimasukkan ke dalam fuad (hati). Fuadlah yang akan menyetir jawarih (anggota tubuh).

“Kalau itu bisa kalian kerjakan, maka jaminannya adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang lebih baik, dan ilmu yang akan menyelamatkan kehidupan kalian, baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Selain sowan pada Kiai Adib, para peserta Matsama juga sowan pada KH Abdul Hamid Anas, KH Hasanuddin Kriyani, dan KH Amiruddin Abkari. (M. Rikays/Abdullah Alawi)

Ahad 16 Juli 2017 16:34 WIB
Lima Remaja Nias Utara Dapat Beasiswa Nyantri dari NU Care LAZISNU
Lima Remaja Nias Utara Dapat Beasiswa Nyantri dari NU Care LAZISNU

Depok, NU Online
Lima remaja asal Nias Utara, mengikuti program Beasiswa Sejuta Santri yang diadakan oleh NU Care LAZISNU. Mereka akan menjalani “nyantri”di Pesantren Annahdlah Islamic Boarding School, Depok Jawa Barat.

Kelima  santri asal Nias Utara ini adalah Didi Supriandi Aceh, asal Lahewa, Nias Utara, Aulia Rahman Zebua, Adward hafizh Zalukhu, Abdul Hafiz Zalukhu, dan Muhammad Yusfansyah. Kelimanya tiba di Depok, Sabtu (15/7) setelah menempuh perjalanan dengan pesawat, dan menembus kemacetan dari bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.

Ketua PCNU Kabupaten Nias Utara, M Yusuf Zebua menyampaikan, program beasiswa santri yang diterima Kabupaten Nias Utara baru kali ini diadakan. 

“Saya berterimakasih kepada Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua LAZISNU Pak Syamsul Huda, dan seluruh tim di NU Care LAZISNU,” katanya saat mengantar kelima kader remajanya.

Yusuf menceritakan, keberangkatan lima calon santri asal Nias Utara penerima beasiswa dilepas keluarga melalui bandara. Suasana haru dan sedih tercipta karena para santri akan berpisah dengan orangtua mereka untuk menimba ilmu di pulau Jawa.

Ikut menghantar, Rais Syuriah PCNU Nias Utara, Ahmad Nur Zalukhu dan memberikan pembekalan kepada kelima santri. 

“Saya minta santri yang berangkat mondok ini harus istiqamah dalam menunutut ilmu. Karena  akan dididik dengan baik dan nanti bisa menjadi Duta Aswaja di Nias Utara melalui PCNU Nias Utara,” kata Yusuf menirukan Rais Syuriah PCNU Nias Utara. (Kendi Setiawan/Muslim Abdurahman)

Sabtu 15 Juli 2017 22:13 WIB
SMK Al-Falah, SMK NU di Pati Kidul dengan Segudang Prestasi.
SMK Al-Falah, SMK NU di Pati Kidul dengan Segudang Prestasi.
22 tahun sudah SMK Al-Falah berkiprah di dunia pendidikan. Sejak berdiri tahun 1995, sumbangsihnya dalam mencerdaskan anak bangsa begitu besar.

Di bawah naungan yayasan pendidikan Islam Al-Falah- yang yang didirikan oleh KH Habib Hasan, tokoh NU kecamatan Winong,SMK Al-Falah mengarungi masa hingga tak terasa sudah berkembang sedemikian rupa. Dari data resmi terbaru siswa Al-Falah berjumlah 1345 yang berasal dari berbagai penjuru Pati.

Pada awal berdirinya SMK Al-Falah hanya membuka jurusan akuntansi. Namun,  seiring dengan antusiasme masyarakat dan tuntutan pendidikan yang mesti menyesuaikan perkembangan zaman maka dibukalah jurusan teknik komputer dan jaringan, otomotif, farmasi dan teknik mesin.

SMK yang dipimpin oleh Mukhlisin ini, memiliki fasilitas yang terbilang lengkap. Di dalamnya, terdapat 35 kelas, masjid, asrama, aula, laboratorium komputer, perpustakaan, lap. futsal, lap. bola volley, lap. basket. minimarket, gedung teater, klinik dan masih banyak lagi lainnya.  

Tenaga pengajar yang dimiliki SMK Al-Falah berjumlah 70 orang dengan beragam disiplin ilmu. Latar belakang mereka dari berbagai universitas terkemuka seperti Undip,UGM, UMY, IKIP Malang dan lainnya.

Dengan fasilitas yang lengkap, tenaga pengajar yang profesional juga sistem pendidikan yang terpadu, tentu sudah semestinya SMK Al-Falah masuk dalam daftar sekolah idaman.

Bagi masyarakat Winong dan sekitarnya sudah sangat mengenal dengan SMK Al-Falah, yang beralamat di Jl. Winong-Pucak Wangi, RT 01 desa Pekalongan, Kec. Winong, Kab. Pati. Lingkungan khas alam pedesaan pantura yang sangat asri dan sejuk, menciptakan suasana belajar mengajar siswa sangat kondusif membuat para siswa semangat belajar dalam kesehariannya.

Bukti nyata dari kesungguhan siswa tersebut bisa dilihat dari jejeran piala, medali juga piagam yang tertata rapi di lemari kantor SMK Al-Falah.

Piala, medali juga piagam tersebut adalah prasasti atas prestasi siswa Al-Falah baik tingkat nasional maupun lokal diberbagai bidang di antaranya adalah juara 1 teater nasional tingkat SMU/sederajat, juara 1 futsal Bupati Pati cup tingkat SMU/sederajat, juara 1 marathon se-Karesidenan Pati tingkat SMU/sederajat, juara 1 festival film pendek, juara 1 bola volley se-Kecamatan Winong tingkat SMU/sederajat, juara 3 lomba karya tulis ilmiah se-Jateng dan DIY tingkat SMU/sederajat. 

Dengan sederet pencapaian prestasinya ini tentu bisa menjadi tolak ukur betapa Al-Falah mampu memberi warna di kancah pendidikan Indonesia. Dengan beragam keunggulan yang dimilikinya seperti fasilitas belajar dan ruang praktik yang representatif, tenaga pengajar yang profesional, kurikulum terpadu, biaya pendidikan yang terjangkau juga sederet prestasi yang telah diraihnya SMK Al-Falah memiliki visi menjadi SMK rujukan. 

"Al-Falah bervisi menjadi SMK rujukan, mohon bantuan dan do'anya," ujar Mukhlisin ketika memberi sambutan dalam reuni alumni angkatan 1997, 1998, dan 1999 yang digelar awal Juli lalu. Alumni SMK Al-Falah bertebaran di mana-mana. Tak sedikit yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan banyak juga yang langsung diserap oleh dunia usaha.

Sebagai lembaga pendidikan yang bernaung di bawah LP Ma'arif NU tentu SMK Al-Falah sangat konsisten menjaga dan mewariskan aqidah, nilai-nilai dan tradisi NU.

Untuk mewujudkan amanah mulia itu SMK Al-Falah menerapkan sistim pendidikan terpadu, perpaduan antara kurikulum Kemendikbud dan kurikulum pesantren salaf NU. Untuk kurikulum Dikbud diterapkan dari pagi sampai menjelang sore yang selanjutnya menerapkan kurikulum pesantren salaf seperti hadist, fiqh, tafsir, nahwu, sharaf, sirah, muhadarah dan lainnya. 

Selain itu ada kegiatan mingguan, bulanan dan tahunan khas NU seperti tahlilan, barzanji, manaqiban juga peringatan haul. Adapun ektrakurikulernya  meliputi kegiatan wajib dan pilihan. Kegiatan wajibnya pramuka, sementara pilihannya banyak; karate, marawis, drama, teater, marchind band, jurnalistik, kajian ilmiah dan tari Nusantara.

Selain itu ada juga kegiatan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah di antaranya renang, ziarah ke makam orang-orang shaleh juga studi banding.

Dengan gemblengan yang sedemikian komplitnya, para siswa diharapkan kelak siap menjadi pengawal aqidah aswaja dan mentransformasikan kemampuan dan keterampilannya ketika sudah berada di tetengah masyarakat.(Alfathiy/Mukafi Niam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG