IMG-LOGO
Nasional

Bidan Indonesia Tembus Rekor Pemeriksaan Kanker Serviks

Rabu 19 Juli 2017 21:2 WIB
Bagikan:
Bidan Indonesia Tembus Rekor Pemeriksaan Kanker Serviks
Jakarta, NU Online
Memperingati Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-66 dan Hari Bidan Internasional yang jatuh setiap tanggal 5 Mei, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyelenggarakan rangkaian kegiatan bakti sosial berupa pelayanan kesehatan gratis dan pemeriksaan IVA gratis serentak di seluruh Indonesia.

Pemeriksaan IVA dilakukan oleh 21.017 bidan kepada 91.349 perempuan di 3.098 lokasi di seluruh Indonesia. Kegiatan pemeriksaan kesehatan khususnya pemeriksaan IVA ini menarik perhatian berbagai pihak dan dicatatkan dalam rekor MURI. Penyerahan Piagam Rekor Muri ini dilakukan oleh Jaya Suprana di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (19/7).

Piagam diserahkan kepada Ibu Negara RI selaku Ketua Dewan Pembina Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK) yang mempunyai program Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim (Serviks) di Indonesia; Menteri Kesehatan RI; dan Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia.

Ketua Umum PP IBI Emi Nurjasmi menyebutkan, tema HUT IBI ke-66 dan Hari Bidan Internasional tahun 2017 adalah Bidan Mengawal Kesehatan Perempuan dan Keluarga dengan Layanan Holistik dan Berkesinambungan, Midwives, Women, and Family.

“Indonesia sebagai salah satu tenaga kesehatan profesional terus berupaya meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya guna menjawab tantangan khususnya dalam bidang kesehatan perempuan, ibu, dan anak,” kata Emi.

Emi menambahkan, IBI sebagai organisasi profesi, terus berupaya  meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kalangan bidan Indonesia membutuhkan dukungan yang kuat salah satunya melalui penguatan regulasi bidan yang menjamin kepastian hukum baik bagi masyarakat maupun bagi profesi bidan sendiri melalui Undang-undang Kebidanan.

“Diharapkan dengan baiknya regulasi serta terpeliharanya kompetensi bidan, maka kualitas pelayanan kesehatan perempuan, ibu dan anak dapat terus meningkat,” ujar Emi.

Peran bidan yang sangat besar dalam memberikan edukasi kepada perempuan, keluarga, dan masyarakat untuk mendapatkan kehamilan dan persalinan yang sehat dan aman, terus didukung oleh Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan lembaga-lembaga lokal dan asing, termasuk badan PBB yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi, salah satunya UNFPA (United Nations Population Fund–Dana Kependudukan PBB).

UNFPA di tingkat global maupun nasional bekerjasama dengan organisasi profesi bidan dalam upaya meningkatkan profesionalisme bidan dalam pelayanan kesehatan reproduksi, khususnya dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu di Indonesia.

Perwakilan UNFPA di Indonesia, Annette Sachs Robertson mengatakan, UNFPA Indonesia pernah mendukung lahirnya pedoman teknis skrining IMS terintegrasi dengan kanker leher rahim di tahun 2014. Pedoman yang dimaksud digunakan sebagai panduan skrining yang dilakukan bidan untuk pencegahan kanker serviks.

Menurut WHO, kanker serviks termasuk salah satu penyakit yang mematikan.  Sementara Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia, dan menyebebkan kanker serviks menjadi pembunuh perempuan nomor satu di Indonesia. Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Fenomena artis Julia Perez yang meninggal karena kanker serviks stadium 4 kian meningkatkan kesadaran akan pentingnya mewaspadai penyakit ini. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Rabu 19 Juli 2017 23:0 WIB
Kemendes PDTT Gandeng Investor Kembangkan Lima Daerah Perbatasan
Kemendes PDTT  Gandeng Investor Kembangkan Lima Daerah Perbatasan
Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu (PDTU), Kemendes PDTT, Johozua M. Yoltuwu
Jakarta, NU Online
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mempertemukan para kepala daerah wilayah perbatasan dengan para calon investor dan pihak perbankan di Jakarta, Selasa (17/7). Pertemuan digelar dalam Rapat Koordinasi Safari Pengembangan Daerah Perbatasan.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Border Investment Summit yang telah dilaksanakan pada awal November 2015 dan Forum Bisnis dan Investasi Perbatasan di akhir tahun 2016 yang lalu.

Rapat Koordinasi dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Johozua M. Yoltuwu. Selain itu turut hadir Bupati Kapuas Hulu, Bupati Nunukan, Bupati Maluku Barat Daya, Bupati Kabupaten Kepulauan Aru dan Wakil Bupati Kabupaten Natuna. Acara juga dihadiri oleh 40 perwakilan kabupaten perbatasan, beberapa mitra pengusaha, perwakilan badan koordinasi dan penanaman modal daerah dan juga pihak perbankan.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas penerbitan kajian Rencana Bisnis dan Investasi Daerah Perbatasan tahun lalu. Dari dari 6 (enam) kabupaten daerah perbatasan yang dikaji, lima wilayah akan diintensifkan untuk mendapatkan investasi. Kelima kabupaten tersebut adalah, yaitu: (1) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau; (2) Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara; (3) Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara; (4) Kabupaten Merauke, Provinsi Papua; dan (5) Kabupaten Belu, Provinsi NTT.

Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Johozua M Yoltuwu mengatakan, program ini merupakan salah satu komitmen pemerintah untuk memajukan daerah perbatasan. "Kita lihat pada pada tahun lalu sampai dengan tahun 2018 nanti, Pemerintah melalui berbagai Kementerian telah berkomitmen menjadikan wilayah perbatasan Indonesia sebagai kawasan beranda negara yang layak, salah satunya melalui Kementerian PUPR yang telah merevitalisasi pembangunan 7 pos lintas batas negara. Komitmen pemerintah tersebut perlu disinergikan bersama dengan K/L lainnya termasuk dengan apa yang sedang kami lakukan," ujarnya.

Dengan telah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), lanjutnya, maka pembangunan daerah perbatasan juga perlu diperhatikan dan dipercepat. Ia menegaskan pembangunan tersebut merupakan salah satu langkah untuk menghadapi era globalisasi.

Sementara itu Direktur Pengembangan Daerah Perbatasan Kemendes PDTT, Endang Supriyani, mengatakan pihaknya kini sedang mengembangkan daerah perbatasan melalui dua program, yakni soft dan hard program. Upaya percepatan tersebut, lanjut Endang, merupakan amanah dalam visi Nawacita ke tiga, yakni membangun Indonesia dari pinggiran.

"Kegiatan soft program lebih diarahkan pada kegiatan untuk memfasilitasi dan mempertemukan para pengusaha dengan para kepala daerah di wilayah perbatasan. Sementara hard program berupa pembangunan beberapa infrastruktur di lokasi perbatasan," ungkap Endang.

Pembangunan infrastruktur tersebut, lanjutnya, diantaranya berupa sarana dan prasarana air bersih, jalan penghubung, dan budidaya rumput laut. Pembangunan infrastruktur tersebut diantanya akan dibangun di empat kabupaten, yakni di Kab Belu, Merauke, Morotai dan Nunukan. Nilai pengembangan tersebut dialokasikan sekitar Rp 27, 8 miliar.

"Kami menargetkan ada komitmen yang riil antara pemerintah daerah dengan para pelaku usaha. Ditambah lagi kami juga akan mengajak para pelaku usaha untuk melakukan safari ke lima daerah perbatasan secara simultan untuk melihat kondisi di lapangan secara langsung," ujar Endang.

Berdasarkan kajian pada Rencana Bisnis dan Investasi Perbatasan, terdapat lima lokasi utama pembangunan daerah perbatasan. Pertama, Kabupaten Natuna. Wilayah Natuna sangat berpotensi secara ekonomi pada sektor perikanan, pariwisata, komoditi cengkeh, karet, serta kelapa. Untuk investasi awal dibutuhkan pelabuhan perikanan, penambahan armada perikanan tangkap, pembangunan pusat pendaratan ikan, pembangunan pabrik es kapasitas 10 ton dan cold storage kapasitas 50 ton. Selain itu juga dibutuhkan sub-pelabuhan perikanan, pengadaan sarana dan prasarana budidaya perikanan, pasokan bahan bakar, dan kapasitas sumber daya manusia.

Kedua, Kabupaten Nunukan. Daerah tersebut memiliki potensi di komoditas perikanan dan rumput laut dengan peluang pasar domestik maupun ekspor ke mancanegara. Pengembangan investasi selaras dengan rencana kawasan terpadu pengelolaan perikanan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten. Saat ini telah ditetapkan lahan seluas 50 hektar untuk kawasan marine technopark yang membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 56,95 miliar. Sedangkan untuk budidaya rumput laut direncanakan seluas 3.300 hekat dengan perkiraan kebutuhan investasi sebesar Rp. 146,360 miliar. Sementara investasi usaha perikanan tangkap senilai Rp. 94,784 miliar dan investasi perikanan budidaya Rp 45,270 miliar.

Ketiga, Kabupaten Belu. Potensi yang dapat dikembangkan yakni komoditas jagung dan ternak sapi dengan target pengembangan 2.500 sapi pada lahan 500 hektar. Sementara untuk jagung ditargetkan seluas 1.000 hektar yang dapat meningkatkan produksi hingga 5.000 ton per tahun dengan dua kali masa panen. Pengembangan komoditas jagung seluas 100 hektar tersebut diperkirakan membutuhkan investasi mencapai Rp. 4,7 miliar serta perkiraan investasi untuk ternak sapi dengan luas penggembalaan 100 hektar mencapai Rp. 84,5 miliar per tahun.

Keempat, Kabupaten Pulau Morotai. Selain sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus pada bidang pariwisata, wilayah ini juga memiliki potensi dalam perikanan tangkap dan rumput laut serta komoditas perkebunan (kelapa/kopra, pala dan cengkeh). Diperkirakan kebutuhan investasi untuk pembangunan resort pariwisata dengan asumsi luas lahan 10 Ha adalah Rp. 29,164 miliar. Sedangkan kebutuhan investasi untuk produksi ikan tuna dengan asumsi pengadaan kapal seharga Rp. 1,272 miliar dengan perhitungan dapat menghasilkan tangkapan tuna sebesar 4.136 ton setahun.

Kelima, Kabupaten Merauke. Wilayah ini memiliki potensi pada komoditas padi dan peternakan dengan kebutuhan investasi padi dengan luas lahan sawah 1.000 hektar adalah Rp 8,66 miliar. Angka tersebut dibutuhkan khususnya untuk sawah tekno yang memiliki NPV di atas estimasi belanja modal dengan BCR 6,3 dan PP 2 tahun 2 bulan. Perhitungan tersebut berpotensi sangat menguntungkan dan bankable. Sedangkan kebutuhan Investasi ternak sapi dengan jumlah 100 ekor adalah Rp. 1,497 miliar. (Red Mahbib)


Rabu 19 Juli 2017 19:4 WIB
NU Care Salurkan Modal Budidaya Jahe Merah ke Pesantren Annur
NU Care Salurkan Modal Budidaya Jahe Merah ke Pesantren Annur
Bogor, NU Online
NU Care Lazisnu menyalurkan permodalan budidaya jahe merah untuk Pondok Pesantren Annur, Taman Sari, Bogor, Selasa (18/7). Direktur NU Care Syamsul Huda menjelaskan, budidaya jahe merah merupakan bagian dari 1000 Santri Enterpreneur yang menjadi salah satu fokus program NU Care Lazisnu.

“Budidaya jahe merah ini juga sebagai upaya pemanfaatan lahan produktif yang hasilnya diperuntukkan bagi santri Pondok Pesantren Annur,” terang Syamsul.

Ia menambahkan budi daya jahe merah akan efektif karena NU Care juga bekerjasama dengan Bedjo Bintang Toedjoe yang siap membeli hasil panen. Penyaluran modal dilakukan atas kerjasama dengan Baituzzakah Pertamina (Bazma).

Ketua Pelaksana Harian Basma Pertamina Sukendar mengatakan, pihaknya bangga dapat bekerja sama dengan NU Care dalam program tersebut.

“Pemberdayaan berbasis pondok pesantren ini sangat baik, karena penerima manfaatnya sangat luas dan akan berdampak jangka panjang. Pemberdayaan berbasis pondok pesantren tidak putus di satu program, dapat mendukung pendidikan dan operasional pesantren,” kata Sukendar.

Ia menambahkan program pembedayaan pondok pesantren merupakan cita-cita bersama bahwa ke depan ponpes akan mengikuti arus perkembangan dan menjadi ponpes yang bisa mandiri.

Pondok Pesantren Annur merupakan pesantren tahfidh Al-Qur’an. Dirintis pada tahun 2007, semula pesantren itu hanya memiliki delapan santri. Berdiri di atas lahan seluas 1, 8 hektar, Pesantren Annur dibangun atas cita-cita H Amran yang ingin mewadahi para yatim dan dhuafa untuk menghafal Al-Qur’an.

Para santri Ponpes Annur berada pada rentang usia SMP-SMA, berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka belajar secara gratis di pesantren tersebut, baik untuk makan, tempat tinggal, maupun biaya pendidikan. Sementara alumninya banyak yang meneruskan belajar maupun mengabdikan diri di berbagai tempat termasuk luar negeri seperti Qatar dan Turki. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Rabu 19 Juli 2017 14:35 WIB
100 HARI BUYA BASITH
Mengenang Buya Basith, Sang Penggerak Zakat Warga Sukabumi
Mengenang Buya Basith, Sang Penggerak Zakat Warga Sukabumi
Sukabumi, NU Online
Camat Sukabumi, Agung Gunawan mengatakan almarhum KH R Abdul Basith, (Buya Basith) merupakan sosok yang telah memberikan banyak inspirasi baik kepada Pondok Pesantren Al-Amin, maupun warga Sukabumi.

“Inspirasi terbesar adalah semangat beliau untuk mengembangkan gerakan ZIS,” cerita Agung saat peringatan 100 hari wafatnya Buya Basith di Pondok Pesantren Al-Amin, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (18/7) malam.

Almarhum Buya Basith juga memberikan pesan khusus kepada Agung untuk mengembangkan zakat, infak, dan sedekah di Kecamatan Cicurug. 

“Beliau pernah mengamanatkan agar gerakan ZIS di Naggerang bisa dilakukan se-Kecamatan Cicurug. Beliau ingin sekali pergerakan ZIS bisa berjalan secara masif di Kecamatan Cicurug,” lanjut Agung.

Atas dorongan Buya Basith, dan semangat serta dukungan dari seluruh masyarakat, para kepala desa, dan Forum ZIS Kabupaten Sukabumi, semangat ZIS telah tersebar di 12 desa dan 1 kelurahan di Cicurug.
 
“Cicurug menjadi percontohan dalam pengelolaan ZIS,” kata Agung.

Pada kesempatan itu, Agung juga menceritakan salah satu agenda yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini adalah launching ZIS seluruh kecamatan di Sukabumi. Bupati dan gubernur juga diagendakan datang dalam launching ZIS tersebut.

“Bupati ingin sekali menggerakkan ZIS agar bisa dilaksanakan di seluruh kecamatan. Dalam lauching tersebut akan menghadirkan seluruh camat, agar mereka bisa melihat dan meniru visi dan misi seperti yang diharapkan yaitu menjadikan Sukabumi menjadi reigius dan mandiri,” tambahnya.

Peringatan 100 hari wafatnya Buya Basith dilangsungkan sejak Selasa pagi. Masyarakat berduyun-duyun datang dan mengikuti prosesi peringatan, seperti pembacaan Al-Qur’an dan tahlilan. 

Pengamatan NU Online pada Selasa malam, santri dan masyarakat memenuhi masjid, halaman hingga lapangan parkir di Pondok Pesantren Al Amin. Ketua MUI Kabupaten Sukabumi yang juga Wakil Rasi Syuriah PCNU Kabupaten Sukabumi, KH A Komarudin berkesempatan hadir dan memberikan tausiyah. Selain itu juga hadir pejabat pemerintahan dan alim ulama Sukabumi.

Buya Basith meninggal dunia saat menjalankan ibadah umrah pada Maret silam. Semasa hidupnya, selain sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin dan Pondok Pesantren Global Insani Mandiri (GIM) Sukabumi, ia juga pernah diamanahi sebagai Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi. (Kendi Setiawan/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG