IMG-LOGO
Wawancara

Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi

Sabtu 22 Juli 2017 6:7 WIB
Bagikan:
Pesantren: dari Tantangan Kelembagaan Hingga Ideologi
Pesantren sudah eksis ratusan tahun di Nusantara. Selama itu, pesantren memberikan kontribusi dan sumbangsih yang tidak sedikit bagi bangsa ini. Pada masa penjajahan, pesantren turut menentang penjajahan kolonial. Setelah merdeka, pesantren turut serta dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Kontribusi pesantren dalam mengisi dan ikut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa hingga hari ini masih begitu terasa. 

Bukan hanya berkecimpung di dunia pendidikan, pesantren juga aktif dalam sektor-sektor yang lain seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, sosial, budaya, dan lainnya. bahkan, Gus Dur menyebut pesantren sebagai sebuah sub-kultur.

Di sepanjang sejarahnya, pesantren menghadapi problematika yang beragam sesuai dengan eranya, baik tantangan dari luar ataupun tantangan dari dalam itu sendiri. Namun, semua permasalahan itu bisa diatasi sehingga pesantren bisa tumbuh subur dan berkembang hingga sampai detik ini. Dewasa ini, tantangan yang dihadapi pesantren juga tidak kalah hebatnya dengan tantangan yang telah dihadapi pada masa lalu.

Untuk mengurai segala hal ikhwal dunia pesantren –mulai dari peran pesantren dalam konteks keindonesiaan, peluang dan tantangan pesantren, dan masa depan pesantren, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berhasil mewawancarai Ketua Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) KH Abdul Ghofar Rozin. Berikut perikan wawancaranya:

Peran pesantren dalam konteks keindonesiaan itu seperti apa, Gus?

Kalau kita ngomong Nusantara, kalau kita ngomong Indonesia maka tidak bisa lepas dari yang namanya pesantren. Kalau bicara pesantren, kita tidak hanya memotret pesantren secara kelembagaan yang kita lihat sekarang ini. 

Pesantren itu sebuah peradaban besar. Misalnya pada zaman Raden Fatah menjadi sultan itu juga merupakan dari peradaban pesantren. Kalau meminjam bahasanya Mas Imam, pesantren itu great civilization. Tetapi kalau kita motretnya ke sana itu terlalu kejauhan, meskipun cita-cita pesantren adalah menjadi great civilization seperti dulu.

Kalau meloncat pada masa pra kemerdekaan, pesantren mendorong terjadinya kemerdekaan Indonesia. Meski pesantren ada lebih dulu sebelum Indonesia, tetapi pesantren juga yang menjaga kemerdekaan NKRI. Apapun taruhannya. 

Sepanjang sejarahnya, pasti pesantren memiliki tantangan-tantangan yang dihadapi. Apa saja tantangannya itu?

Tantangannya banyak. Ada tantangan ideologis, ada tantangan kelembagaan, dan ada tantangan budaya. Pada tantangan budaya, apakah pesantren mampu merumuskan kembali manifesto kebudayaan pesantren yang kompatibel terhadap isu-isu kekinian. 

Kiai menjadi figur dalam pesantren. Ada fenomena jika kiainya wafat maka pesantrennya akan mengalami penurunan. Bagaimana Gus Rozin melihat ini?

Memang kiai itu menjadi figur sentral di pesantren. Kalau kita lihat dua atau tiga puluh tahun yang lalu pendapat seperti itu relevan, tetapi sekarang sudah tidak relevan lagi. Karena selama dua puluh tahun terakhir, banyak pesantren yang berjalan by system. 

Artinya figur itu menjadi berpengaruh dan tidak satu-satunya faktor. Contoh pesantren yang ditinggal sesepuhnya yaitu Pesantren Denanyar, Pesantren Tambak Beras, Pesantren Cipasung, namun pesantren-pesantren tersebut tambah pesat. 

Saya kira tesis itu harus ditinjau ulang. Itu dulu seorang kiai menjadi figur sentral, menjadi pelaksana, melakukan fungsi kehumasan. Namun sekarang jarang sekali kiai yang melakukan itu semua.
 
Artinya?

Secara alamiah pesantren menemukan bentuk barunya dan itu sudah berjalan. Memang ada persoalan yang pengasuhnya tokoh nasional atau tokoh yang terkenal lintas provinsi. Memang kalau kiai tersebut wafat, ada sesuatu yang ‘bolong.’ Saat beliau wafat, putra-putra atau saudara-saudaranya tidak mengambil peran kenasionalannya itu.

Tetapi itu tidak serta merta pesantrennya menurun. Karena sekali lagi dua puluh tahun terakhir ini, kiai-kiai tokoh besar itu memang menjalankan fungsi keluarnya. Fungsi internalnya dipegang oleh the second line, level kedua, level ketiga, para gus, para mantu. Bahkan ada pesantren yang mengajak profesional untuk bergabung di dalamnya. 

Kalau soal itu, saya optimis pesantren tidak akan turun. Kalau pesantren sebagai sebuah organisme, pasti dia akan menemukan sendiri caranya untuk survive. 

Balik lagi ke tantangan pesantren. Salah satunya tadi tantangan akidah seperti Pesantren-pesantren Wahabi. Bagaimana itu?

Saya meilhat tidak ada pesantren wahabi. Kalau ada pesantren yang wahabi itu berarti bukan pesantren. Pesantren itu khas nusantara, pesantren itu khas Indonesia. Pesantren yang asli itu secara genealogis, baik hubungan darah maupun hubungan keilmuan, pasti nyambungnya ke Wali Songo. Yang secara genealogis tidak nyambung ke Wali Songo berarti bukan pesantren, itu lembaga pendidikan biasa.  

Kalau ‘pesantren’ yang mengajarkan kekerasan seperti cara menggunakan senjata tajam dan perakitan bom?
Itu bukan pesantren. Ngaku-ngaku pesantren tetapi bukan pesantren. 
 
Lalu, urgensi dari tantangan ideologis itu seperti apa?

Tantangan itu menjadi cukup serius sekarang karena ghozwul fikr itu sudah bergeser dari Timur Tengah kemudia di Indonesia. Intensititasnya meningkat. Problemnya adalah pesantren belum cukup sadar bahwa mereka harus menggukana media sosial dengan bijak dan untuk keperluan ini. Ini salah satu kelemahan pesantren yang harus diperbaiki.

Maksudnya?

Pesantren melihat teknologi bukan sebagai patner. Pesantren melihat teknologi tidak sebagai wasilah yang bisa digunakan. Pesantren melihat teknologi kebanyakan itu masih sebagai ancaman. Ini yang membuat akses terhadap teknologi itu dibatasi. Kalau ada santri yang mengakses gadget itu masih secara diam-diam. 
Di satu sisi santri masih belum begitu membutuhkan. Mereka harus fokus belajar dan tidak membutuhkan gadget itu karena kebutuhan yang dibutuhkan santri sudah dipenuhi oleh pesantren. 

Tetapi itu membawa madarat juga karena sesungguhnya gadget itu adalah sebuah alat dalam konteks ghozwul fikr dan dalam konteks remaja sekarang tidak bisa dilepaskan dari gadget. Teknologi itu seperti pisau, tergantung mau pakai apa pisaunya itu. Kalau kita buat masak, pisau itu akan bermanfaat. 

Bagaimana memecahkan masalah itu?

Pesantren melihat gadget itu adalah sebuah ancaman karena bisa untuk ‘memukul orang’. Toh, kita bisa ajarkan kepada mereka untuk menggunakan gadget secara bijak, secara bertahap, dan melalui mekanisme yang benar. Ini yang membuat kita tertinggal dalam ‘perang’ di media sosial karena di pesantren tidak disiapkan untuk itu. Bukan hanya memanaj penggunaan gadget, tetapi juga harus dimulai dari sudut pandang melihat bahwa teknologi itu adalah wasilah untuk mencapai tujuan. Karena kita melihat sejarah bahwa tidak ada satupun peradaban yang menang melawan teknologi. 

Saat ini, seberapa jauh pesantren mengakomodasi teknologi?

Beberapa sudah memiliki kesadaran dan mengaplikasikan teknologi sebagai alat sebagai sarana untuk berdakwah atau untuk pembelajaran. Tapi sebagian besar masih belum. 

Tantangan ideologis lainnya adalah radikalisasi atas nama agama. Bagaimana Gus Rozin melihat pesantren dalam melakukan upaya-upaya kontra-radikalisasi?
Selama ini pesantren bersikap defensif terhadap radikalisasi. Pesantren bereaksi ketika dirinya merasa terancam, bereaksi ketika santrinya ada yang ikut paham yang aneh-aneh itu. Pesantren belum ofensif. Pesantren belum secara aktif membuat sistem yang membuat pesantrennya imun dari pengaruh radikalisasi.  
Sebenarnya dakwah-dakwah radikal menggunakan medsos. Sedangkan kita masih melihat medsos sebagai ancaman. Cara berfikir anak-anak muda ini kan berbeda, mereka digital born, sementara saya dan orang-orang yang berumur di atas empat puluh tahun digital migrant. Nah, karena pemegang kebijakan di pesantren adalah orang yang digital migrant yang berumur di atas empat puluh tahun masih belum mengalami bahwa yang mereka asuh adalah digital born. 

Ke depan, pesantren ini akan seperti apa?

Ke depan pesantren akan berperan strategis dalam merekatkan bangsa ini. Pertama, karena aspek sejarahnya. Pesantren yang mendorong adanya NKRI. Bahkan, Panglima TNI mengakui bahwa kalau tidak ada pesantren, maka belum tentu ada resolusi jihad. Kalau tidak ada resolusi jihad, belum tentu ada Indonesia. 
Kedua, pesantren sedang dalam sebuah proses untuk menjadi mainstream pendidikan di Indonesia. kalau itu tercapai, bukan tidak mungkin pesantren itu menjadi perekat bangsa. Dan fungsinya akan sangat strategis dan negara tidak akan pernah bisa meninggalkan pesantren. Inikatornya adalah hampir semua partai politik memiliki organisasi-organisasi yang didisain untuk mendekati pesantren. Ini menjadi indikator bahwa pesantren itu menjadi sangat penting. 

Partai politik memiliki kendaraan ke pesantren. Apakah ini peluang atau malah akan menjadi tantangan yang mengahncurkan pesantren?
Tergantung cara kita menyikapi. Kalau kita masuk secara sadar, maka kita akan mendapatkan manfaatnya. Kalau kita masuk secara tidak langsung, maka kita akan diperalat.  

Terakhir, terkait dengan RUU Madrasah dan Pesantren. Bagaimana kita menyikapinya?

RUU Madrasah dan Pesantren belum masuk ke Badan Legislatif. Itu harus didorong. Walaupun memang ada beberapa bagian yang harus tetap dikritisi misalnya fokus dari RUU ini adalah lebih kepada soal pemerataan anggaran. Padahal kesuksesan sebuah lembaga pesantren dan madrasah, faktor anggaran itu bukan satu-satunya. Ada faktor-faktor lain yang harus disentuh yang belum mendapatkan perhatian. Tetapi tidak apa-apa, yang ada saja didorong dan nanti bisa diperbaiki sambil jalan. Semoga saja bisa segera masuk Baleg dan disahkan. 

Bagikan:
Rabu 19 Juli 2017 15:2 WIB
Memecah Kebuntuan Komunikasi dengan Dzikir
Memecah Kebuntuan Komunikasi dengan Dzikir
Hery Haryanto Azumi.
Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menggagas sebuah majelis dzikir yang dinamakan Hubbul Wathon. Majelis tersebut dideklarasikan di hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis (13/7). Deklarasi yang dihadiri 700 kiai itu juga dihadiri Presiden Joko Widodo.

Apa dan bagaimana gerak dan cita majelis dzikir itu ke depan? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathon Hery Haryanto Azumi. Berikut petikannya:  

Setelah dideklarasikan, apa rencana terdekat Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW)?

Saat ini yang sedang dilakukan adalah mematangkan organisasi dan jaringannya karena kita sedang membangun infrastruktur organisasi nasional. Nanti kita akan mengajak para habaib, para kiai untuk bergabung bersama-sama. Ini kombinasinya para habaib, masyaikh, kiai-kiai kita. Kita tersentral pada visi dan misi. Visi misinya adalah kita ingin menjadi jembatan untuk mengatasi kebuntuan komunikasi, kebuntuan silaturahim yang hari ini terjadi, kelompok dalam rumah Indonesia ini tidak berkomunikasi dengan baik.

Bagaimana caranya?

Dzikir itu kan bahasa spiritual, bahasa hati, bahasa bagaimana orang masuk ke dalam upaya meyelesaikan problem itu dari dalam dirinya sendiri, dan resistensi tidak ada. Kalau kita mau berdzikir, dari partai mana pun, dari kelompok mana pun, mereka pasti suka. Di situ kita masuk. Banyak problem ini bukan terjadi karena subtansi masalah, tapi karena problem komunikasi. Kita mencoba membantu mengatasi dari situ, mengatasi problem-problem dengan silaturahim.

Problem komunikasi diselesaikan dengan cara dzikir dalam praktiknya itu bagaimana?

Begini, dzikir itu, wahana ya. Kalau kita ketemu, yang kita omongkan kan macam-macam, bisa politik, ekonomi, bisa macam-macam. Intinya, kalau orang ketemu, pasti akan komunikasi. Nah, jangankan untuk ketemu, menyelesaikan masalah, cara komunikasinya pun, orang sekarang tidak bisa. Beda pikiran. Beda macam-macam. Tidak nyambung. Kita bertengkar hari ini, tidak nyambung masalahnya ini. Kita ingin masuk melampaui itu semua. Bayangkan bagaimana jika suatu hari di Istana, Jokowi mengundang semua kelompok oposisi untuk berdzikir bersama. Atau sebaliknya, di kelompok oposisi mengundang Istana untuk berdzikir di situ. Ini kan bisa menjadi sesuatu yang bisa jadi jembatan.

Lalu, bagaimana bisa menjadi alat komunikasi bagi orang tidak suka dzikir?  

Dzikir kan memang bahasa kelompok yang suka dzikir memang. Kita tidak mau masuk kepada wilayah orang yang tidak suka dzikir.

Oh ya, tadi disebutkan akan melibatka habib-habib. Siapa di antaranya?

Kita rencananya akan meminta Habib Zen bin Smith selaku Rabithah Alawiyah untuk jadi semacam Dewan Khosnya, juga Habib Ali Abdurrahman Al-Habsyi, insyaallah jadi Korwil Jawa Timur.

Bagaimana dengan pelibatan anak muda?

Ini yang kerja hari ini anak muda. Panitia. Yang berdzikirnya juga pasti melibatkan anak muda. Kita mengundang gus-gus yang setara dengan kita, para putra kiai yang muda-muda, dengan harapan mampu menjadi gerakan anak muda. Gus Wafi, putranya Mbah Moen, ada Gus Salam, cucunya Mbah Bisri, dan gus gus lain, yang alhamdulillah bersedia menjadi bagian majelis dzkir ini.

Bacaan dzikirnya itu bagaimana?

Tadi sudah meminta ijazah dari Mbah Moen, mohon dibuatkan, dipersiapkan dzikir yang bisa diaplikasikan, sederhana, untuk kalangan umum karena kita kan bukan pengamal thoriqoh seperti thoriqoh tertentu ya. Kita ini majelis dzikir, dzikir yang umum untuk khalayak karena tujuannya kan menyatukan masyarakat dalam nuansa spiritualitas, jadi mencari model yang sederhana yang bisa diterapkan.

Kita berdzikir sebagaimana orang-orang berdzikir, tapi sebagaimana Kiai Ma’ruf sampaikan; ada halaqah, ada tahswirul afkarnya, ada tukar-menukar pikirannya, disamping juga ada istightsah, ada program sosial dan program ekonomi, modelnya korwil.

Tadi ada informasi majelis dzikir ini akan diundang ke Istana, bisa diceritakan?

Tanggal satu itu kan menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari kemerdekaan. Yang kita undang perwakilan dari habaib, kiai-kiai, umat sendiri. Intinya akan rolling nanti. Rolling ke berbagai daerah di Indonesia.

Kenapa dinamakan Majelis Dzikir Hubbul Wathon?

Penamaan, saya tidak berani mengklaim itu dari saya, tapi itu menunjukkan semangat hubbul wathon hari ini bagitu luar biasa. Kemarin memutuskannya, dapat itu.
 

Kamis 6 Juli 2017 18:1 WIB
GP Ansor Lakukan Rekontekstualisasi Islam Nusantara
GP Ansor Lakukan Rekontekstualisasi Islam Nusantara
Dalam rangka apa GP Ansor ke Amerika Serikat?

Melanjutkan gagasan “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” yang diangkat sebagai tema Muktamar NU Agustus 2015 di Jombang dan Deklarasi Nahdlatul Ulama di ISOMIL Mei 2016 serta Deklarasi GP Ansor di Global Unity Forum yang dihelat sehari pasca ISOMIL, maka pada 21-22 Mei 2017 GP Ansor mengadakan Halaqah Internasional di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang. Halaqah yang menghadirkan ulama dan pembicara dari dalam dan luar negeri serta diikuti oleh 300 kiai/nyai muda ini menghasilkan Deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan (Humanitarian Islam, Al-Islam lil Insaniyyah).

Deklarasi Humanitarian Islam yang terdiri dari 112 poin ini berisi pandangan GP Ansor tentang akar masalah kemelut di dunia Islam dan problem dunia yang terkait dengan isu Islam dan pihak-pihak (aktor negara dan nonnegara) yang terlibat. Deklarasi ini juga memuat solusi atas masalah tersebut serta peta jalan solusi atas masalah-masalah tersebut. Prinsipnya adalah pentingnya rekontekstualisasi ajaran Islam dalam penyelesaian masalah-masalah terkait Islam dewasa ini sebagaimana teladan sejarah yang diwariskan para wali dan pengalaman rekontekstualisasi Islam (Nusantara) dalam realitas Indonesia modern.

Pada 26-29 Juni 2017, KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam Syuriyah PBNU yang juga Emissary GP Ansor untuk Dunia Islam, dan Adung Abdul Rochman, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor, berada di Washington DC dalam rangka mempromosikan Humanitarian Islam ke berbagai pihak strategis; pengambil kebijakan AS, tokoh-tokoh negarawan AS, lembaga think thank, lembaga interfaith, Dubes Afghanistan dan seterusnya. Ikut mendampingi dalam agenda tersebut Charles Holland Taylor yang juga Emissary GP Ansor untuk PBB, AS dan Eropa.                                                                        

Bagaimana tanggapan mereka?                        

Merespon dengan sangat positif. Mereka bahkan mengusulkan kita membuka kantor di Washington DC untuk menguatkan promosi Humanitarian Islam ini ke pengambil kebijakan dan kelompok strategis di AS dan diterimanya inspirasi gagasan dari Indonesia ini ke seluruh dunia.                        

Mendapatkan respon semacam itu, apakah GP Ansor akan membuka kantor di sana?                        

GP Ansor akan buka Kantor Pusat Humanitarian Islam di Jakarta dan kantor di Washington. Akan diputuskan dalam Rapat Harian PP GP Ansor dalam waktu dekat.                        
Apa pentingnya kunjungan itu dengan tujuan AS? Maksudnya kenapa AS yang dipilih, tidak negara-negara lain?                        

Iya, nanti akan kita ke negara-negara lainnya.                        

Humanitarian Islam itu bagaimana sebenarnya?                        

Humanitarian Islam bisa dimaknai sebagai gerakan global yang didedikasikan untuk kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan, perdamaian dunia dan harmoni peradaban yang terinspirasi oleh Islam rahmatan lil-'alamin, yang dimanifestasikan dengan merekontekstualisasi ajaran Islam sesuai dengan realitas kekinian. Humanitarian Islam tidak akan berusaha menjadi ideologi supremasis yang akan menaklukkan siapapun, juga tidak datang untuk menghancurkan, dan oleh karenanya mencegah penyalahgunaan agama untuk mempromosikan kebencian, supremasi dan kekerasan sektarian.

Sabtu 17 Juni 2017 11:0 WIB
Tantangan Para Dai di Televisi
Tantangan Para Dai di Televisi
KH Cholil Nafis.
Dakwah merupakan salah satu upaya untuk menyebarluaskan Islam. Banyak cara, metode, dan strategi yang digunakan oleh para mubaligh, penceramah, dai, dan ulama di dalam berdakwah untuk menyampaikan kebenaran ajaran Islam kepada umat. Media yang digunakan pun juga begitu variatif. Diantara media yang digunakan untuk berdakwah dan memiliki daya jangkau yang luas di tengah-tengah masyarakat adalah televisi karena hampir setiap rumah pasti memiliki televisi.
  
Di televisi, mereka bisa mendengarkan para dai dan penceramah dengan berbagai macam tema. Apalagi pada saat Bulan Ramadhan, televisi kita penuh dengan konten-konten ceramah keislaman. Program-program di televisi selama Ramadhan pun dikemas dengan membubuhkan atribut-atribut keislaman. Para penceramah pun laris manis pada Bulan Ramadhan.
  
Memang, dakwah dengan televisi memiliki dampak yang begitu efektif, signifikan, dan luas karena memiliki daya jangkau yang begitu luas. Namun demikian, dakwah di televisi tidak lah sesederhana sebagaimana yang kita bayangkan. Ada lika-liku yang melingkupi dakwah di televisi itu sendiri. Terutama saat Bulan Ramadhan tiba, dimana setiap televisi pasti memiliki program ceramah yang dipandu oleh seorang dai atau penceramah.

Lalu, seperti apa serba-serbi dakwah di televisi? Dan mengapa saat Bulan Ramadhan tiba semua stasiun televisi memiliki program yang menampilkan serba-serbi Islam? Untuk menguraikan itu, Jurnalis NU Online Ahmad Muchlishon berkesempatan mewawancari seorang dai yang sering tampil di televisi nasional, KH Muhammad Cholil Nafis.
 
Ia adalah Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU masa khidmat 2005-2015. Diantara program televisi yang diisinya adalah Damai Indonesiaku yang ditayangkan salah satu stasiun televisi nasional. Berikut wawancaranya:

Saat Ramadhan, semua televisi berbondong-bondong menjadi ‘Islami’. Terkait fenomena itu, bagaimana tanggapan kiai?

Pertama, program televisi itu dibuat sesuai dengan rating karena mereka tidak bisa hidup tanpa sponsor. Dan sponsor itu mengacunya kepada rating.
 
Di Bulan Ramadhan, orang suka menonton acara-acara yang sifatnya berkaitan dengan Ramadhan. Maka mereka menyesuaikan dengan pemirsanya. Kepentingan dengan pemirsanya ini menampilkan ada unsur religinya yang berkaitan dengan Ramadhan itu. Kita ambil aspek positifnya saja. Itu juga memudahkan kita untuk menyampaikan dakwah dan menciptakan suasana lebih terasa Ramadhan. Hal itu tidak kita temukan di negara-negara tetangga seperti Australia dan Singapura yang medianya tidak mendukung itu karena di sana kita minoritas.

Apakah program-program ‘islami’ di televisi tersebut sudah benar-benar mendidik masyarakat atau hanya sekedar mengikuti arus dan mengejar rating saja? 

Kita sedang koordinasi dengan KPI (Komisi Penyiaran Informasi). Insyaallah besok kita publish tentang setengah bulan pemantauan MUI terhadap program-program yang ada saat Ramadhan ini. Jadi ada yang bagus, positif, ilmiah, dan menyentuh kebutuhan publik. Ada juga yang menyampaikan ayatnya tidak benar karena dainya kurang cakap. Ada juga yang tidak proporsional karena banyak guyon dan sebagainya.
 
Kita akan beri penilaian tentang hal itu. Pada akhir Ramadhan kita akan kasih penilaian. Kita akan memberikan penghargaan kepada televisi yang acaranya dianggap bagus. Ada banyak kategori nantinya yang kita buat; kategori ceramah, sinetron, dialog.
 
Dengan memberikan penghargaan tersebut, kita berniat untuk memberikan apresiasi dan mendorong mereka untuk membuat acara yang baik. Sehingga nanti bukan dia yang terbawa rating, tetapi acara yang baik yang bisa mendatangkan rating.

Untuk program yang nilainya di bawah standar, bagaimana menindaklanjuti itu?

Kita akan koordinasi dengan KPI. Kalau itu masih bisa diperbaiki, maka akan dilakukan perbaikan. Tetapi kalau sudah fatal, biasanya kita menggunakan KPI. Karena KPI yang memiliki kewenangan untuk memberikan peringatan, memberi sanksi, dan memberhentikan acara tersebut. 

Perkembangan dakwah di televisi itu seperti apa?

Pertama, ini adalah peluang bagi kita. Dulu orang dakwah itu di televisi itu ada pada retorika yang baik. Pada masa Zainuddin MZ, orang terbawa dan terlena kepada retorika disamping isi. Perkembangan berikutnya adalah bagaimana sentuhan kepada hati. Mungkin banyak dari kita yang galau maka model seperti Aa Gym muncul.
 
Tapi setelah itu, bagaimana kerinduan seseorang akan hal-hal yang bersifat spiritual, ubudiyah. Maka muncullah pola-pola seperti Arifin Ilham, Yusuf Mansur. Pada pola berikutnya adalah yang menghibur atau entertain. Jadi bagaimana dakwah di televisi itu tidak kalah menarik dengan artis, maka muncullah generasi alamarhum Uje dan Zacki Mirza. 

Belakangan ini mulai dari tahun 2015 ke belakang, mulai ada kesadaran masyarakat untuk mengaji benar. Artinya meskipun di televisi dia ingin berguru kepada ustadz yang memang ustadz, bukan hanya ustadz di televisi tetapi di luar televisi. Mereka yang memang benar-benar mendalami agama dan menjawab secara agama. Mereka juga ingin mengaji kepada orang yang memang memberikan gambaran keagamaan. 

Ketika ada seorang ustadz yang menyinggung masalah politik, maka orang kurang suka. Dia ingin apa saja ajaran agamanya, sampaikan saja. Nanti persoalan politik adalah kesimpulan masing-masing. Jadi mereka tidak ingin ustadz masuk atau menyinggung persoalan-persoalan politik yang mengarahkan kepada kelompok politik tertentu.

Kelebihan dakwah dengan televisi?

Pertama, penggunaan frekuensi itu mahal karena orang tidak bisa sekaligus secara bersamaan karena dia harus bergantian dan frekuensi itu terbatas. Sehingga orang-orang yang diberi kesempatan untuk bicara di televisi itu adalah momen yang sangat besar untuk menyampaikan kebaikan. Kedua, dia bisa dengan cepat untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. 
   
Ada anggapan kalau ustadz di televisi itu adalah ustadz seleb yang hanya pandai beretorika. Bagaimana melihat itu?

Memang sebelumnya seperti itu. Tetapi akhir-akhir ini terutama di program Damai Indonesiaku tidak ada yang seleb. Seperti Habib Ahmad Al Kaff, Habib Nabil, Pak Ahmad Faisal. Di TVRI, ada Pak Kamarudin Dirjen Pendidikan Kemenag, Kiai Wahfiuddin. Jadi memang dicari orang yang terpelajar dalam bidang keagamaan dan mereka bisa membaca fenomena perkembangan yang ada. Mereka memiliki basis keagamaan dan ilmiah. 

Lalu, apa tantangan para dai di televisi?

Pada saat saya masuk media, problem pertama adalah menghadapi kamera. Tidak semua orang yang memiliki kemampuan secara keilmuan bisa mengartikulasikan di depan kamera yang singkat, padat, dan banyak variabel yang harus dikuasai. Jadi dalam waktu lima menit harus bisa menyampaikan dalil, fakta, teori ilmiah. Dan pada saat yang bersamaan kita memberikan humor-humor yang segar, itu tidak mudah.
 
Sebenarnya, dari pihak televisi sudah banyak membuka peluang untuk menjadi dai tetapi kita masih kekurangan sumber daya manusia. Mungkin ada banyak sumber daya tetapi tidak banyak yang mau karena kawatir dianggap riya, harus bergaul dengan artis, dan lainnya.

Kadang-kadang mereka masih menggunakan fiqhul ahkam, artinya dia rigid dengan hukum sedikit-sedikit haram. Padahal saat ini kondisi dakwah kan beda.

Bagaimana mendorong mereka yang memiliki kapasitas tetapi tidak bersedia tampil di televisi karena dianggap riya dan sebagainya itu tadi?
   
Saya pikir kita harus sering mengajak mereka piknik. Bahwa kehidupan di luar itu berbeda dengan yang ada di pesantren-pesantren atau lingkungan keagamaan misalnya. Kita perlu tidak hanya dakwah di masjid. Tidak semua orang siap untuk dakwah di tempat pelacuran, di tempat karaoke, dan di tempat-tempat yang rusak lainnya.

Kesadaran ini harus dibangun dulu, baru setelah itu disiapkan mentalnya. Kadang-kadang kita bisa norak dan kaget kalau tidak siap mental. Bisa-bisa mereka yang baru masuk dunia dai di televisi ikut gaya-gaya artis. Ini butuh karakter yang matang karena kalau tidak matang dia akan terbawa arus dunia artis. 

Terkait dengan dai atau ustadz yang menarget tarif ceramahnya?

Secara pribadi saya tidak pernah mentarif, tetapi yang menanyakan berapa tarif saya banyak. Saya jawab dengan lembut kalau saya tidak meminta tarif. Kalau bagi saya lebih senang ceramah itu sebagai tempat ngaji, bukan sebagai pelengkap dari sebuah kegiatan.
 
Tetapi memang ada teman penceramah yang sepeti itu. Kita tidak bisa ingkari bahwa kehidupan di kota itu menuntut finansial yang lumayan. Kalau mereka tidak ada kerjaan lain dan hanya mengandalkan ceramah, sementara kebutuhan banyak dan apalagi kalau istrinya dua, maka mereka seperti itu.

Saya sering berpesan dan berkoordinasi dengan teman-teman, kalau yang mengundang masjid, pengajian, ya jangan ditarif. Tetapi kalau perusahaan karena untuk syiar dan dianggarkan, sebaiknya saling pengertian antara pihak panitia dan dai nya. Di lapangan, dai juga ada yang dieksploitasi dimana anggaran dari perusahan untuk acara tersebut ratusan juta, tetapi penceramahnya hanya dikasih sejuta.
 
Ada juga teman yang sudah menyetujui untuk hadir di sebuah even, lalu kemudian ia diminta untuk mengisi acara lainnya yang lebih besar maka ia membatalkan yang pertama dan mengambil yang kedua. Tetapi sepanjang yang saya tahu, mayoritas masih takdzim. Tidak semata-mata karena tarif.

Ada dai-dai yang mempermasalahkan masalah-masalah furuiyyah dan membuat gaduh masyarakat, bagaimana itu kiai?

Saya banyak menyelesaikan masalah itu seperti ketika Ustadz Maulana menyampaikan tentang sopir, pilot itu tidak perlu muslim, Syekh Ali Jaber yang menyinggung masalah qurban, Solmed berkenaan dengan tarif, dan lainnya.

Agar saya tugasnya tidak hanya jadi ‘tukang bersih-bersih’, saya sampaikan kepada teman-teman jika menyampaikan masalah-masalah furuiyyah harus cover both side (seimbang) sebagaimana wartawan. Jadi dia harus menerangkan dalil A dan B nya. Misalnya tentang doa qunut saat Salat Subuh, ia harus menjelaskan dalil yang memakai qunut seperti ini. Sementara yang tidak qunut seperti itu. Silahkan dipilih tetapi tidak boleh mencaci yang lain.

Dia boleh menyampaikan itu asalkan tidak menyampaikannya dari satu segmentasi atau firqah dan menyalahkan yang lainnya. Padahal ini masalahnya khilafiyyah. Jadi, hindari pernyataan yang ambigu dan yang menimbulkan salah paham di publik. 

Kalau sudah terjadi dan tidak cover both side bagaimana, kiai? 

Kalau di Damai Indonesiaku, kita diminta untuk menjadi pengawas. Kalau ada protes tentang dai-dai yang menyampaikan khilafiyah dan menyalahkan yang lain, maka mereka akan di-cooling down dan tidak diundang dalam beberapa bulan ke depan. Kalau ke depan dia mau berubah, maka diperbolehkan lagi untuk mengisi.

Kita persilahkan ia menyampaikan pemikirannya, tetapi jangan sampai menimbulkan perdebatan karena nanti kita tidak produktif. Antar pengajian bisa saling bermusuhan, padahal kita ingin memberikan pencerahan dan memberikan perspektif keagamaan dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantang dan peluang dakwah ke depan itu seperti apa?

Sekarang, banyak televisi streaming dengan kru yang juga profesional. Mereka menjadi rujukan masyarakat dalam mencari informasi. Ke depan media mainstream itu akan bergeser kepada konten mainstream. Konten-konten tersebut akan di-viralkan dan dilihat banyak orang. Nanti ke depan, konten yang akan menjadi maharaja, bukan mainstream televisi nasional. Bahkan, televisi itu bisa dicurigai karena berafiliasi dengan partai politik tertentu.
 
Sama seperti di media sosial, apabila kontennya bagus maka akan banyak yang membuka. Ke depan, arahnya orang akan lebih cerdas, tidak lagi terbawa oleh simbol-simbol dan predikat. Hal itu nanti juga mempengaruhi pilihan kiai dan ustadz. Kalau dulu orang merujuk kepada kiai putranya kiai besar dan lulusan dari pesantren mana. Seakan-akan kebenaran itu disematkan kepada anaknya kiai besar.

Sekarang, orang bisa menilai dia memang seorang kiai dan anaknya seorang kiai besar, tetapi orang akan lebih tertarik dengan mereka yang mampu mengemas dakwahnya dengan menarik. Orang harus bisa membaca tanda-tanda zaman, kalau tidak maka kita akan tergilas.

Kalau kita mau main di publik, maka kita harus memperhatikan betul konten agar menarik. Orang berdakwah harus memiliki konten yang bagus dan juga bungkus yang bagus. Kemaren, saya mengirim seorang hafidz ke Eropa untuk menjadi imam. Namun karena bacaannya kurang tertata dan bukan seorang qari, maka itu kurang menarik bagi makmum. Itu kalah dengan yang hanya hafal juz tiga puluh tapi bacanya enak karena seorangqari, itu kan sangat menarik bagi makmum.

Ke depan, seorang dai harus menguasai materi dengan mendalam dan juga mampu mengemasnya dengan menarik.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG