IMG-LOGO
Opini

Feminisme dalam Islam

Ahad 23 Juli 2017 18:0 WIB
Bagikan:
Feminisme dalam Islam
Oleh Muhammad Shodiq Masrur

Orang masih sibuk bertanya. Orang juga masih saja sibuk berdebat, melontarkan berbagai argumentasi yang bisa jadi dibangun dari interpretasi pribadi. Isu feminimisme memang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tapi sesungguhnya, sudahkah kita bersepakat koridor feminisme yang diperdebatkan?

Bahwa feminisme tidak sama dengan emansipasi, kita harus bisa memahami hal tersebut. Jika emansipasi diterjemahkan sebagai pandangan yang mengusung peran serta wanita di ruang publik. Maka sesungguhnya feminisme lebih dari itu.

Apa yang diperkenalkan oleh Charles Fourier; aktivis sosialis utopis pada tahun 1837 mengenai feminisme adalah bentuk emansipasi secara lebih radikal. Dengan latar belakang kejenuhan akan nasib kaum wanita yang terjadi di barat, feminisme lahir dan mendukung persamaan mutlak hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan di belbagai bidang. Mulai dari sosial, politik, hingga ekonomi.

Jika feminisme disamaartikan dengan emansipasi maka dalam koridor itu Islam sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena ajaran yang dibawa Islam sama sekali tidak merendahkan martabat wanita. Islam juga tidak datang untuk mengungkung dan memenjarakan mereka dalam sel-sel penjara imajiner di luar batas kemanusiaan.

Feminisme dalam Islam

Orang masih sibuk bertanya. Orang juga masih saja sibuk berdebat, melontarkan berbagai argumentasi yang bisa jadi dibangun dari interpretasi pribadi. Isu feminimisme memang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tapi sesungguhnya, sudahkah kita bersepakat koridor feminisme yang diperdebatkan?

Bahwa feminisme tidak sama dengan emansipasi, kita harus bisa memahami hal tersebut. Jika emansipasi diterjemahkan sebagai pandangan yang mengusung peran serta wanita di ruang publik. Maka sesungguhnya feminisme lebih dari itu.

Apa yang diperkenalkan oleh Charles Fourier; aktivis sosialis utopis pada tahun 1837 mengenai feminisme adalah bentuk emansipasi secara lebih radikal. Dengan latar belakang kejenuhan akan nasib kaum wanita yang terjadi di barat, feminisme lahir dan mendukung persamaan mutlak hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan di belbagai bidang. Mulai dari sosial, politik, hingga ekonomi.

Jika feminisme disamaartikan dengan emansipasi maka dalam koridor itu Islam sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena ajaran yang dibawa Islam sama sekali tidak merendahkan martabat wanita. Islam juga tidak datang untuk mengungkung dan memenjarakan mereka dalam sel-sel penjara imajiner di luar batas kemanusiaan.

Islam justru memuliakan mereka. Menempatkan mereka sewajarnya manusia bukan barang dagangan, apalagi binatang. Islam juga mendorong mereka untuk ikut berpartisipasi dalam ruang lingkup publik yang lebih luas seperti halnya laki-laki.

Bandingkan dengan peradaban-peradaban lain di masa lalu. Romawi menempatkan wanita ibarat barang. Kepemilikan atas hak kehidupannya dimilliki seutuhnya oleh ayah mereka. Kebudayaan Cina dan Hindu pun tidak lebih baik daripada itu. Hak kehidupan mereka dimiliki selagi suaminya masih hidup. Saat suaminya meninggal, maka ia juga tidak memiliki hak untuk hidup.

Ajaran agama Islam tidak seperti itu. Al-quran sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam agama Islam justru melegitimasi eksistensi keberadaan wanita. Wanita diberikan porsi hak, kewajiban serta hukum yang sama dengan laki-laki. Dalam salah satu ayat, Tuhan menyampaikan pesan bahwa ganjaran kebaikan yang diterima wanita sama persis dengan ganjaran yang laki-laki terima dalam mengamalkan kebaikan.

Islam memberikan ruang lingkungan dan sosial yang layak bagi perempuan. Tidak seperti kebudayaan elite Yunani. Yang mengharuskan wanita selalu berada di dalam istana. Islam memberikan ruang bagi wanita untuk keluar dan berinteraksi. Namun dengan beberapa catatan yang memang harus dipertimbangkan demi kemaslahatan bersama.

Wanita juga mendapatkan kebebasan untuk ikut andil dalam menjalankan perputaran roda ekonomi. Mereka memiliki hak untuk mengatur perdagangan seperti halnya kaum laki-laki. Tidakkah apa yang dilakukan Khadijah semasa hidupnya adalah sebuah dalih bagaimana bebasnya wanita mengatur ekonominya?

Islam juga memberikan ruang gerak wanita untuk berpartisipasi dalam ruang publik. Sudah menjadi maklum; bahwa Aisyah-istri nabi Muhammad yang paling muda merupakan salah seorang perawi hadis yang terkenal. Ia mendapatkan ruang publik untuk bebas bergerak dalam bidang pendidikan. Bahkan, ia juga pernah berpartisipasi dalam bidang peperangan sebagai satu dari tiga orang komandan perang di awal kepemimpin khalifah Ali bin Abi Thalib.

Apa yang dilakukan oleh Khadijah dan Aisyah yang notebene keduanya disebut-sebut sebagai ummahatul mu’minin (ibu dari orang-orang yang beriman) adalah sebuah bukti bahwa Islam mengakui dan meghormati eksistensi serta peran wanita dalam berbagai segmentasi kehidupan. Entah itu ruang privasi maupun ruang publik. Tak ayal bila dapat dipahami bahwa Islam masih selaras dengan feminisme dalam koridor tersebut. Tapi apakah itu berarti Islam juga menerima gagasan persamaan peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan secara mutlak? Sebentar, tunggu dulu.

Sudah menjadi rahasia umum, salah satu dasar pemikiran feminisme adalah pandangan bahwa peran dan tanggung jawab yang berbeda antara laki-laki dan perempuan didasarkan atas nama budaya. Karenanya di tahun 2012, DPR RI memunculkan wacana pengesahan RUU KKG ( kesetaraan dan keadilan gender ) yang sarat kontroversi. Dalam pasal satu ayat yang pertama, disebutkan “Gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.”

RUU KKG ini terlihat menganggu pikiran Adian Husaini. Dalam salah satu bukunya, ”Seputar Paham Kesetaraan Gender” ia mempermasalahkan sebuah doktrin yang didasarkan pada kontruksi sosial budaya. Terlebih jika itu doktrin agama, maka tidak ada lagi nilai-nilai yang tetap dan bisa dijadikan acuan dalam hidup manusia secara universal. Tidak ada lagi yang sakral, semua bisa diubah sekehendak hatinya. Manusia juga menjadi sangat bebas, bahkan hingga tahapan enggan terikat dengan campur tangan Tuhan.

Memang, dalam khazanah disiplin ilmu ushul fikih dikenal satu kaedah, al-adah muhakamah. Bahwa suatu adat istiadat dapat menjadi landasan legitimasi suatu hukum dalam agama Islam. Namun ia tidak serta-merta mutlak. Ia memiliki batasan-batasan berdasarkan aturan ketetapan Tuhan.

Batasan-batasan inilah yang kontradiktif dengan tuntutan kesetaraan 50 berbanding 50 ala feminis. Tuhan sudah menetapkan wanita dengan kodratinya sebagai wanita. Fisik dan psikologinya jelas berbeda dengan laki-laki.

Ia mengalami fase melahirkan dan menyusui yang tidak mungkin dialami oleh laki-laki. Kedua fase tersebut dan ditambah dengan berbagai faktor lain membuat mereka mendapatkan porsi hukum yang berbeda dengan laki-laki. Di dalam masalah ibadah, jelas sekali mereka mendapatkan dispensasi taklif untuk tidak menjalankan ibadah semisal shalat dan puasa saat mereka mengalami masa menstruasi.

Kemudian, ketetapan-ketetapan lain dalam hukum Islam yang kerap dituntut oleh para feminis sebenarnya mengandung hikmah yang mendalam dalam hukum tersebut. Dalam pembagian harta warisan misalkan, feminisme memandang ajaran agama Islam sebagai ajaran yang tidak adil. Seorang laki-laki yang mendapatkan bagian dua kali lipat dari wanita adalah sebuah ketidaksetaraan yang harus diubah begitu saja.

Padahal jikalau dikaji lebih mendalam, terdapat hikmah yang sebenarnya sangat sederhana. Laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dari wanita karena laki-laki memiliki tanggung jawab untuk menafkahi istri dan anaknya. Berbeda dengan wanita, harta yang ia miliki benar-benar miliknya sendiri. Ia tidak punya tanggungjawab menafkahi orang lain.

Kemudian terkait kepemimpinan, tidak bisa dielak bahwa isu tersebut merupakan isu yang paling panas nan seksi sampai saat ini. Terlepas dari pro-kontra kepemimpinan wanita yang terjadi, cukuplah kondisi wanita yang memungkinkan hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak sebagai alasan untuk lebih fokus akan tanggung jawab mereka. Karena untuk menjadi seorang pemimpin, dibutuhkan banyak pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya pikiran. Hal ini dapat menyebabkan gugurnya kandungan, terbengkalainya nasib anak dan lain sebagainya.

Meskipun memang, dalam realitanya tidak semua wanita lebih lemah dan tidak dapat memimpin laki-laki. Zakarya al-anshory dalam maha karyanya lubbul ushul menyinggung ayat arrijalu qawwamuna alan nisa’. Bahwa laki-laki lebih kuat dan lebih tangguh daripada wanita. Ia mengatakan, lafal arrijal dan annisa’ dalam ayat di atas sama-sama bersambung dengan alif-lam yang disebut mahiyah jinsiyah. Singkatnya, memang pada hakikatnya laki-laki lebih kuat daripada wanita, namun itu tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Bahwa wanita memiliki kemampuan dan kapabilitas dalam memimpin kaum laki-laki itu mungkin saja. Hanya saja, itu terjadi sebagai sesuatu yang jarang,tidak secara global dan menyeluruh.


Penulis adalah alumnus (Program Keagamaan) MAN 1 Surakarta. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Indonesia sekaligus Mahasantri di Pondok Pesantren Nailul Ula, Plosokuning, Sleman, Yogyakarta.

Tags:
Bagikan:
Ahad 23 Juli 2017 9:5 WIB
Pers NU dan Kontekstualisasi Sejarah
Pers NU dan Kontekstualisasi Sejarah
Oleh Sobih Adnan
Sejarah selalu berulang. Paling tidak, mirip. Maka, amat pas ketika semangat itu dikurung Polycarpus (P) Swantoro ke dalam judul buku yang diterbitkan pada 2007; Masalalu Selalu Aktual.

Setidaknya, ada tiga makna kata “aktual” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pertama, perihal kebenaran. Aktual berarti betul-betul ada. Kedua, obyek perbincangan. Ia difungsikan untuk menyasar pada hal ihwal yang tengah banyak diobrolkan.

Makna terakhir, aktual adalah penceritaan suatu peristiwa yang baru saja terjadi. Barangkali, definisi inilah yang paling bernilai berseberangan dari kata “masa lalu”, sejarah, atau sejenisnya.

Di sini pula menariknya. Satu lema yang dibentuk untuk menyebut kejadian lampau, digandeng dengan pengistilahan untuk sebabak kabar hari ini. Dan kembali ke Swantoro, ia mendaulat kalimat ajaib itu untuk mengikat 62 tulisan mingguannya yang pernah dimuat dalam rubrik Fokus Peristiwa Pekan Ini di harian Kompas sejak 1970-an.

Swantoro, memang empunya history journalism alias jurnalisme sejarah di Indonesia. Ia meramu secara apik kejadian silam untuk meramaikan, mengomentari, dan merefleksi peristiwa-peristiwa paling hangat. Basisnya, bisa tokoh, atau remah-remah kejadian yang mengelilingi sosok terkait.

Di eranya, kepiawan Swantoro tak banyak diikuti para penulis, termasuk oleh insan pers sendiri. Namun belakangan hari, kontekstualisasi sejarah dalam media pemberitaan, rupanya mulai dilirik kembali.

Historia docet!
Pertanyaanya, bagaimana cara mengawinkan sejarah dengan kabar aktual?

Memasuki tahun 2012, geliat media daring Indonesia disemarakkan oleh satu platform berbeda. Historia Online, kehadiran laman berita ini cukup membuat para penggemar sejarah terlongo-longo. Cerita lampau, oleh situs tersebut disajikan secara populer, ringan, namun tetap berkelas.

Sejatinya, Historia masih memanfaatkan peluang yang sudah diawali Swantoro. Keberadaannya dijagat maya langsung disambung dengan kelahiran versi cetak. Dan sesekali, jargon Sejarah Selalu Aktual dituliskan di satu lembar sebelum halaman terakhir.

Usaha Bonnie Triyana, pendiri sekaligus pemimpin redaksi majalah ini tak sia-sia. Jika Swantoro dulu cuma memuat keterampilannya di salah satu rubrik saja, oleh Historia secara total dijadikan wajah dan identitas. Maka, tak ayal, Museum Rekor Indonesia (MURI) tak ragu memberinya penghargaan sebagai majalah sejarah populer pertama di Indonesia pada 2014 lalu.

Sebelum Historia, mungkin majalah Tempo sudah lebih dulu memulai. Cuma saja, sifatnya masih berpatokan pada momentum. Biasanya, pembaca akan kenyang mendapatkan ini dalam bentuk edisi-edisi khusus.

Mulai tahun lalu, geliat kontekstualisasi sejarah kian menarik dengan kehadiran portal Tirto.id. Dari penamaannya saja, sebenarnya pembaca sudah boleh curiga. Sekilas dengar mirip Tirto Adhi (Soerjo), pendiri surat kabar Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia.

Tidak seperti Historia, Tirto.id memang tidak melulu mengangkat cerita sejarah. Tulisan-tulisan yang diunggah lebih mengedepankan semangat kedalaman, istilah jurnalismenya; indepth report. Laman ini menjadikan wawasan sejarah sebagai porsi tersendiri.

Tak butuh waktu cukup lama, Tirto.id pun dianggap sebagai pilihan bagus di tengah belantara portal berita online yang menyemburat sekarang ini.

Keberanian media-media yang disebutkan tadi merujuk pada peluang dari adagium Historia docet, sejarah itu mengajar, atau tepatnya kepada peristiwa lampau manusia bisa belajar.

Ujung dari pemahaman itu ialah kontekstualisasi sejarah. Kekayaan peristiwa masa lalu sangat memungkinkan untuk dijadikan bahan refleksi atas hiruk pikuk yang terjadi hari ini.

NU Lebih Kaya
Semuanya mengarah pada bagaimana cara memanfaatkan peluang. Apalagi, jurnalisme sejarah masih diyakini sebagai sesuatu yang bisa tampil beda di tengah banyaknya media pemberitaan pascareformasi 1998.

Khusus media daring, mengutip data Dewan Pers (2016), sekarang ini ada 43.400 situs. Meski dikatakan, yang memenuhi syarat sebagai media massa cuma 234 portal berita saja.

Peluang makin lebar ketika menengok data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis akhir 2016 lalu. Disebut bahwa dari jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 132,7 juta orang dan 129,2 juta pengguna aktif media sosial, sebesar 127,9 juta digunakan untuk mengakses berita dan informasi.

Tentu, dengan ini persaingan menjadi makin ketat. Belum lagi, misalnya, tidak semua pengakses website tersebut memiliki ketertarikan dengan konten-konten peristiwa yang bersifat ala kadarnya.

Sajian berbau sejarah, lalu menjadi pilihan. Meski dalam hal menuliskan ulang sebuah peristiwa masa silam, bukan perkara gampang.

Tidak sembarang orang bisa menulis dengan berkiblat pada teknik jurnalisme sejarah. Modalnya cukup mahal, paling tidak, mesti memiliki selera sejarah dan pembacaan pustaka yang kuat. Kemudian ditambah sedikit banyak keterampilan dalam memilah dan mengingat sumber dan cerita.

Soal ini, media-media di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) semestinya lebih memungkinkan. Sebab, di dalamnya terdapat bekal berupa sumber-sumber sejarah dan khazanah klasik yang luar biasa kaya.

NU, bukan jamiyah yang berdiri kemarin sore. Penanda tahun 1926, menjadi rentang waktu panjang yang sudah barang tentu menyimpan banyak cerita dan peristiwa. Penulis dan media pemberitaan NU, tinggal ambil dan merefleksikannya untuk menyambut isu yang tengah digandrungi pembaca hari ini.

NU Online, Risalah, dan Aula, yang selama ini banyak mewarnai sindikasi media nahdliyin akan tampil sempurna jika turut meramaikan geliat kontekstualisasi sejarah melalui pemberitaan.

Meski, bicara media NU tidak cukup pada pertimbangan besar kecilnya jumlah pembaca. Melainkan di dalamnya tentu mengandung misi paling luhur, yakni syiar keislaman yang moderat. Dan melalui jurnalisme sejarah, pers NU bisa memberi tamsil-tamsil lebih mengena.

Tidak bisa dipungkiri, misalnya, media-media pemberitaan NU hari ini sudah banyak mengangkat khazanah klasik sebagai daya tawar yang disuguhkan kepada publik. Tapi, tentang sejarah sebagai sesuatu yang berkait-paut dengan peristiwa hari ini boleh dibilang masih jarang.

Manfaat lainnya, penggiat media NU akan lebih mudah menjelaskan sesuatu yang sudah telanjur simpang siur. Ambil misal, kesalah-kaprahan sebagian masyarakat memahami langkah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam mendukung penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Melalui kontekstualisasi sejarah, ijtihad PBNU ini akan menjadi terang dan sama sekali tidak berkiblat pada hal-hal pragmatis sebagaimana yang selama ini difitnahkan.

Penekenan Perppu Ormas oleh Presiden Joko Widodo, seperti yang diyakini PBNU, amat berbeda dengan otoriterianisme Orde Baru (Orba), atau cikal bakal Undang-undang (UU) Subversif yang diterbitkan Presiden Soekarno. Tidak semua mafhum, ada perbedaan mencolok yang hal itu menjadi pertimbangan matang para kiai sebelum mengambil keputusan.

Dalam historiografi, memang tidak semuanya lengkap. Ada sedikit celah yang terwujud dalam adagium 'Sejarah, tergantung siapa yang mengungkapkan, atau menuliskannya'. Jika pers dan penulis NU sedikit lengah, maka kekayaan sejarah yang dimiliki akan dengan mudah diambil alih, lalu diselewengkan maknanya.

Barangkali, memang sudah waktunya NU membuka kulkas sejarahnya untuk disajikan kepada pembaca lebih banyak. Melalui seri penulisan yang populer, kesulitan menghafal nama-nama dan angka-angka dalam mitos pembelajaran ilmu sejarah tak akan ada lagi.

Kontekstualisasi sejarah sebagai kunci pembukanya. Terlebih, pepatah Belanda bilang, In het heden ligt het verleden, in het nu watkomen zal. Dalam masa sekarang, kita mendapati masa lalu dan masa depan.


*) Santri Cirebon, bekerja sebagai content editor di Metro TV.
Sabtu 22 Juli 2017 13:54 WIB
Kiai Nggathilut dan Kiai Lèlès
Kiai Nggathilut dan Kiai Lèlès
Ilustrasi
Oleh Yahya Cholil Staquf 

Lèlès (vokal e dibaca seperti pada "Menteng") artinya memunguti apa-apa yang tercecer untuk diambil manfaatnya atau dirawat.

Nggathilut artinya kenyamanan yang diperoleh tanpa susah-payah.

Saya ini kiai nggathilut. Begitu ayah saya meninggal, orang langsung mengkiaikan saya tanpa fit and proper test. Gus Dur mencomot dan menggelandang saya ke Jakarta hanya karena saya ini keponakan temannya dan teman keponakannya. Kemudian hanya karena reputasi saya sebagai mantannya Gus Dur (mantan jubir, mantan ini dan mantan itu) pemimpin NU memasukkan saya dalam jajaran kepengurusan begitu saja.

Saya menikmati kedudukan, otoritas, previlege dan pengaruh publik secara instan tanpa ikhtiar, bahkan tanpa terlebih dahulu berusaha menjadi pintar ataupun terampil. Saya pun tak perlu mencari-cari pengikut, karena dimana-mana ada saja orang yang siap menjadi pengikut saya, atas nama Gus Dur, NU atau status kekiaian saya. Bikinlah panggung dan biarkan saya naik keatasnya. Begitu sound system dihidupkan, orang-orang siap menyimak apa saja yang saya omong-kosongkan. Yang begitu itu, apa namanya kalau bukan Nggathilut?

Tapi ada kiai seperti almarhum Mbah Sungeb di Kragan. Beliau telah menginvestasikan seluruh masa muda lunas-tuntas tanpa sisa untuk ngaji dan tirakat. Seandainya beliau mau, bisa saja beliau menyuwuk atau mengikuk madu dengan hasil produk yang pasti jauh lebih berkualitas ketimbang yang sekarang ini diperdagangkan. Seandainya beliau mau membuka kitab di rumahnya sendiri dan membacanya dengan mengeraskan suara walaupun tanpa panggung dan tanpa sound system, pasti orang-orang yang ngebet pada ilmu akan berduyun-duyun datang bersimpuh dibawah dulinya. 

Tapi Mbah Sungeb memilih keluyuran di lokalisasi pelacuran di pinggiran Rembang. Nongkrong berjam-jam di warung-warung mesum. Bergaul dengan orang-orang yang tidak tahu dan tidak perduli dengan keluhuran maqomnya.

Mbah Sungeb memilih mendatangi orang-orang yang tak akan mau mendatangi ataupun mendengarkan kiai mana pun dan kiai mana pun akan merasa tak pantas mendatangi mereka karena kehinaan maqom mereka. Orang-orang yang tersingkir dari terangnya sinar lampu-lampu, dari leganya jalan lapang, dari harumnya taman-taman.

Mbah Sungeb memilih melèlès sampah-sampah untuk siapa tahu bisa didaur-ulang menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Kenyataannya, komplek pelacuran itu bubar tak lama sesudah Mbah Sungeb wafat. Saya beriman bahwa secara ruhaniyah Mbah Sungeb punya andil atas kebubaran itu.

Untuk menjadi kiai nggathilut nyaris tak perlu investasi maupun usaha. Tinggal nangkring saja. Untuk menjadi kiai lèlès yang sukses, dituntut keteguhan jiwa dan mental wiraswasta yang dhukdhèng.

"Kiai Muhammad Ainun Najib", begitu saya menyebut namanya ditengah walimah pengantin sepupu saya, Bisri Mustova bin Mustofa Bisri dan Ines, isterinya.

Dan saya katakan dihadapan hadirin bahwa, "Entah Cak Nun itu kiai beneran atau tidak, dia sudah biasa ngelakoni pekerjaannya kiai".

Saya memang dari dulu mengkategorikan Cak Nun sebagi kiai lèlès. Dan dia mungkin punya ambisi dan vitalitas bisnis yang lebih besar dari Mbah Sungeb. Itu sebabnya Cak Nun mau melakukan sofistikasi gaya, metode dan teknologi dalam usaha lèlèsnya.

Terkait dengan kontroversi yang dibikin Cak Nun terhadap NU dan Ansor belakangan ini, saya menduga dia cuma sedang mencoba melèlès HTI dan kalangan Islam gagap lainnya.

Penulis adalah Katib Aam PBNU

Sabtu 22 Juli 2017 9:0 WIB
Mengembangkan Dakwah Tasamuh
Mengembangkan Dakwah Tasamuh
Oleh Muhamad Hizbullah

Islam mewajibkan kepada para pemeluknya untuk menyampaikan pesan-pesan Islam melalui dakwah, yaitu panggilan kepada kebenaran agar manusia yang bersangkutan dapat mencapai keselamatan dunia dan akhirat (Q.S. 16:125;22:67; 41:33). Karena dakwah merupakan ”panggilan”, maka konsekuensinya adalah bahwa ia harus tidak melibatkan pemaksaan – lâ ikrâha fid-dîn (Q.S.2:256). Dengan demikian jelas, Islam mengakui hak hidup agama-agama lain; dan mempersilakan para pemeluk agama lain tersebut untuk menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing. Di sinilah letak dasar ajaran Islam mengenai toleransi antarumat beragama.

Kaitan dengan hal tersebut ada sebuah tesis yang ditulis oleh Fajriatul Mustakharah Mahasiswa UIN Walisongo dengan judul “pemikiran KH Abdurrahman Wahid tentang dakwah tanpa kekerasan” kesimpulan tesis tersebut menyatakan bahwa, dakwah tanpa kekerasan yang dikonsepkan oleh KH Abdurrahman Wahid adalah hidup bersama untuk saling menghargai paham dan pendapat orang lain, meliputi suku bangsa, keyakinan beragama, dan lain-lain.Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, apalagi dengan melihat kondisi Indonesia dengan berbagai macam etnik, suku, budaya, dan agama karena itu untuk menciptakan sebuah kerukunan ditengah pluralis bangsa, prinsip toleransi atau tasamuh mutlak dibutuhkan.

Dakwah Islam yaitu mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dakwah menjadikan perilaku muslim dalam menjalankan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh manusia, yang dalam prosesnya melibatkan unsur: dai (subjek), maddah (materi), thariqah (metode), washilah (media), dan mad’u (objek) dalam mencapai maqashid (tujuan) dakwah yang melekat dengan tujuan Islam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (Saputra, 2011: 3).

Istilah toleransi akan selalu berkaitan dengan nilai dan perilaku. toleransi berasal dari bahasa Inggris tolerance atau tolerantia dari bahasa Latin. Kurang lebih diartikan dengan “saling memahami, saling mengerti, dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan”. Dalam terminologi Islam, istilah yang dekat dengan toleransi adalah tasamuh meskipun tidak sepenuhnya sama maknanya, namun secara esensial mengandung tujuan yang diinginkan, yaitu saling memahami, saling menghormati, dan saling menghargai sebagai sesama manusia.

Kasih dan damai merupakan jantung ajaran agama, karena merupakan kebutuhan kemanusiaan. Al-Qur’an mencoba mengembangkan moralitas tertinggi dimana perdamaian merupakan komponen terpenting. Kata ’Islam’ diderivasi dari akar kata ’silm’ yang berarti ”kedamaian.” Visi kasih dalam Islam dibangun di atas dua pilar, yaitu individu dan masyarakat. Hubungan individu-individu yang saleh dan damai akan membentuk masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat yang berdasarkan pada tiga pilar: keadilan politik, yang disebut dengan demokrasi; keadilan ekonomi, yang disebut dengan kesejahteraan dan pemerataan; dan keadilan sosial, yang disebut dengan persamaan dan tersedianya akses politik.

Damai dan kasih adalah merupakan cita-cita agama dan bangsa yang sudah lama dinanti-nantikan oleh pendiri bangsa ini dan sekaligus oleh Islam sendiri. Namun kita tidak bisa menutup mata meskipun toleransi sering dikibarkan namun selalu ada problem dalam mengangkat cita-cita mulia itu. Setidaknya ada sejumlah faktor yang menghambat terwujudnya toleransi menurut Dr. Aceng Muchtar Ghazali sebagaimna yang dimuat di website UIN Sunan Gunung Jati Bandung dengan judul “Membangun Kerukunan Lewat Madrasah” faktor penghambat terwujudnya toleransi yaitu: pertama, pemahaman agama. Seringkali persoalan keagamaan yang muncul terletak pada penafsiran dan pemahaman. Dialog antar agama harus menjadi wacana sosiologis dengan menempatkan doktrin keagamaan sebagai pengembangan pemuliaan kemanusiaan. Kita bisa lihat akhir-akhir ini konflik antarumat beragama misalnya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita sebagai masyarakat yang sudah matang dan dewasa pemikirannya seharusnya tidak melihat sebuah konflik dalam skala sempit namun juga harus dalam skala luas. Konflik terjadi tidak serta merta atas atau karena agama bisa jadi karena faktor politik, ekonomi, dll. Karena sejatinya agama itu hadir sebagai pemersatu umat manusia. Semakin matang dan dewasa pemahaman keagamaan seseorang maka akan semakin adil, damai, dan sejahteralah dalam memperlakukan orang lain, karena memang demikian sesensi dari beragama.

Kedua, klaim kebenaran (truth claim). Masing-masing bersikukuh dengan pendapat yang diyakininya bahkan tak segan-segan dengan tindakan anarkisme. Sikap takfiriah pun menjadi jargonnya, setiap yang berbeda dengan pemahaman dan cara pandangnya ia kafirkan dan tak segan-segan memvonisnya sebagai penduduk neraka. Sikap-sikap tersebut dalam konteks berbangsa dan bernegara tentu akan merusak persatuan dan kesatuan berbangsa apalagi dengan kondisi Indonesia yang heterogen dan multikultural akan menjadi tantangan berat untuk menciptakan sebuah peradaban bangsa yang berkeadilan dan berkemajuan.

Dakwah
Rahmatan lil alamin

Dakwah yang mengedepankan toleransi dan kesantunan adalah mutlak dibutuhkan untuk membumikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Orientasi dakwah rahmatan lil’alamin adalah supaya Islam tidak dianggap sebagai lawan terhadap agama-agama selain Islam dan memberikan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang mendukung prinsip perdamaian, toleransi, dan mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan (humanitis), Islam melarang membunuh anak-anak, wanita-wanita, janda-janda tua, Islam melarang menghancurkan Gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya.

Sejatinya warga dunia tidak lagi memandang Islam sebagai sebuah agama kekerasan yang mesti dijauhi dan dicurigai. Dalam sebuah tayangan di Youtube seorang pendeta ketika berpidato di sebuah gereja mengomentari salah seorang kawannya yang menjadi pendeta yang mengeluarkan pernyataan bahwa pasca-serangan 11/9 sebagai “hari pembakaran Al-Quran”, seorang Pendeta tersebut menyatakan bagaimana bisa seorang Pendeta yang menjaga tempat Tuhan mengeluarkan pernyataan seperti itu? Yesus pun kalau diminta pendapatnya tidak mungkin akan mengeluarkan pernyataan demikian, Yesus sangat menghargai kitab-kitab suci agama lain, karena kitab suci itu mebawa pesan-pesan perdamaian. Lantas Pendeta tersebut mempertanyakan siapa yang ia wakili mengeluarkan pernyataan seperti itu? Ia menyatakan serangan 11/9 tidak boleh kita menyalahkan Islam sebagai sebuah agama tetapi kalau memang benar terlibat bahwa dalang dari peristiwa 11/9 itu ada oknum yang beragama Islam yang disalahkan adalah secara personal. Karena Islam menurutnya tidak mengajarkan kekerasan, dari segi maknanya Islam berarti damai, tunduk, dan pasrah. Jadi, seorang pemeluk Islam yang taat adalah seseorang yang tunduk, patuh, dan pasrah kepada Allah, tentu Allah adalah Tuhan simbol kebaikan dan pemberi rahmat bagi umat manusia.

Memandang Islam sebagai sebuah agama yang damai sebenarnya sudah banyak diakui oleh agama-agama lain. Pelaku kekerasan, pengeboman, hingga salah faham makna jihad sudah sedikit demi sedikit mulai mereda, bahkan banyak tokoh-tokoh agama di luar Islam sudah memahami bahwa tindakan brutal tersebut di luar makna Islam yang sebenarnya. Mereka memahami bahwa golongan fundamental dalam Islam yang kemudian melegalkan pembunuhan masal atau bunuh diri serta pengrusakan adalah bukan dari Islam, mereka menyadari pelaku-pelaku kekerasan atau teroris tersebut adalah segelintir orang yang salah memahami teks kitab suci. Mereka-mereka itu adalah korban golongan fundamental yang diiming-imingin janji manis syurga dan bidadari-bidadari sehingga mampu merelakan dunianya demi janji kenikmatan yang jauh lebih abadi di akhirat. Karena itu dakwah yang orientasinya rahmatan lil’alamin harus semakin digencarkan oleh umat Islam menyentuh seluruh lapisan masyarakat. dakwah rahmatan lil’alamin itu harus meliputi; dakwah yang mencakup kehidupan realitas sosial umat, dakwah ingklusif, dakwah yang toleran terhadap agama-agama lain, dakwah yang berisi perdamaian, substansi dakwahnya lebih kepada pembangunan sosial dan kerukunan dari pada hanya sebuah doktrin yang berujung fanatisme.


Penulis adalah pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG