IMG-LOGO
Tokoh

KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an

Ahad 23 Juli 2017 17:3 WIB
Bagikan:
KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an
Di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, masyhur dengan pondok pesantren penghafal Al-Qur’an. Nama-nama pondok Al-Muayyad, Al-Qur’aniyy, begitu tersohor hingga ke luar daerah. Bila waktu subuh maupun maghrib, dari pondok tersebut, sering pula kita dengarkan lantunan syahdu para santri yang tengah mendaras Kalamullah. Belum lagi ditambah para ustaz serta ustazah di langgar maupun masjid, yang selalu setia menemani para santri mengaji Kitab Suci.

Di daerah penghasil batik itu, terdapat sejumlah tokoh ulama ahlul-Qur’an. Siapa yang tidak kenal KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan, KH Ahmad Musthofa (Mbah Daris), KH Ahmad Asy’ari, KH Asfari (Mbah Bei), dan masih banyak lagi nama yang kiranya dapat disebutkan.

Termasuk di dalamnya, yakni KH Muhammad Tolhah bin Sulaiman, seorang ulama Ahlul-Qur’an yang tinggal di daerah Tegalsari, Kelurahan Bumi, Laweyan. Pribadi yang memiliki sifat lemah lembut ini dikenang sebagai sosok yang rendah hati.

“Beliau Bicaranya halus, tidak pernah ingin jadi yang di depan,” kenang Ketua Yayasan Ta’mirul Masjid Tegalsari, KH Idris Shofawi, saat ditemui As-Shofwah di kediamannya, belum lama ini (16/5).

Kiai Idris juga masih ingat pesan singkat yang diberikan KH Muhammad Sulaiman, kala dirinya hendak pergi haji, tahun 1991 silam. “Dadiya lemah, lemah diidak meneng tapi akeh manfaate (Jadilah seperti tanah, yang diam meski selalu diinjak, di sisi lain memiliki banyak manfaat,-red.)

Produktif Menulis
Di sela-sela kesibukannya mengajar, KH Muhammad Sulaiman juga produktif dalam menghasilkan karya tulisan. Salah satu yang cukup populer yakni kitab tafsir al-Quran berbahasa Arab : Jami’ul Bayaan. Sebuah ringkasan dari berbagai kitab tafsir, yang konon populer dan dicetak hingga ke luar negeri.

Selain kitab tafsir tersebut, Mbah Muhammad yang pernah berguru kepada KH Dimyathi Tremas, KHR Munawwir Krapyak, dan lainnya itu menulis beberapa buku antara lain : Khulasoh Min Shuwaril Qur’an (1992), Asmaul Husna dan Syarahnya (1991), Bukti Al-Quran Sebagai Wahyu (1989).

Ia juga memiliki jadwal rutin mengajar di Masjid Tegalsari, yakni pengajian Tafsir Jalalain (Selasa pagi) serta Shahih Bukhari, di serambi masjid. Sepeninggalnya, rutinan ini dilanjutkan KH Naharussurur, kemudian estafet berpindah sampai ke KH Abdul Halim Naharussur yang berjalan hingga sekarang.

Begitulah, sosok kiai panutan umat ini, tutup usia pada Sabtu Pon 28 Shofar 1412 H atau bertepatan dengan 7 September 1991 pukul 13.30 WIB di RS Kasih Ibu. Jenazahnya dikebumikan keesokan harinya, di Makam Pulo Laweyan, berdekatan dengan makam KH Ahmad Shofawi. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)


Tags:
Bagikan:
Selasa 18 Juli 2017 6:0 WIB
Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya
Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya
Mbah Muchit begitu beliau akrab disapa. Pria kelahiran 4 Desember 1925 di Bangilan, Tuban itu, terlahir dengan nama lengkap Abdul Muchit. Ketika dewasa, ia menisbatkan nama ayahnya dibelakang namanya, sehingga menjadi Abdul Muchit Muzadi.

Bagi warga NU, nama Mbah Muchit tak asing. Ia dikenal sebagai pengawal khittah NU setelah ditetapkan pada muktamar NU tahun 1984 di Situbondo. Saat itu, kakak kandung Ketua Umum PBNU 1999 - 2009 KH Hasyim Muzadi itu, menjadi sekretaris pribadi Rais ‘Aam PBNU KH Achmad Siddiq. Konon, teks Khittah An-Nahdliyah yang dipresentasikan oleh Kiai Siddiq saat itu, ia yang mengetiknya.

Sepanjang hidupnya ia dedikasikan dirinya untuk NU. Bahkan, beberapa saat sebelum kembali ke haribaan Allah SWT, 6 September dua tahun yang lalu, beliau masih sempat "cawe-cawe" menenangkan hiruk pikuk pasca Muktamar 33 NU.

Namun, dibalik kiprahnya di NU dan masyarakat, ada sisi yang menarik dari sosok Mbah Muchit. Ia merupakan sosok yang gemar membaca dan menulis. Sampai di penghujung usianya, ia masih berlangganan beberapa surat kabar nasional di kediamannya di Jember. Setiap pagi ia rajin membaca koran dan juga majalah.

Selain itu, ia juga gemar membaca berbagai literatur. Tak hanya literatur yang sefaham, bahkan ia juga mengkaji literatur lintas madzab dan lintas kajian. Pada sebuah kesempatan ia pernah bercerita. Kawan-kawannya di Muhammadiyah Jember tak pernah mendebatnya. Meski, anatara NU dan Muhammadiyah kerap kali berbeda pendapat. Apa pasalnya?

"Mereka tidak berani berdebat karena referensi kemuhammadiyahannya lebih lengkapan saya," tuturnya sembari tersenyum.

Berkat kegemarannya membaca ini, beliau juga penulis yang cukup produktif. Banyak artikelnya yang dimuat di media massa. Terutama tentang ke-NU-an. Selain itu, juga ada beberapa buku yang berhasil diselesaikan oleh beliau. 

Di antaranya adalah Fikih Perempuan Praktis (Khalista), Mengenal Nahdlatul Ulama (Khalista) dan NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (khalista).

Selain yang sudah terbit, ketika beliau wafat, masih banyak pula tulisan-tulisannya yang masih berupa manuskrip. Belum pernah dipublikasikan dan tersimpan di perpustakaan pribadinya di Jember.

Tak hanya membaca dan menulis, sisi literasi Mbah Muchit yang menarik adalah tentang kegemarannya membagikan buku. Untuk hal ini, ada beberapa cerita sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Subhan dalam "Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit".

Suatu ketika, Mbah Muchit menggelar pengajian setiap malam Sabtu di Masjid Sunan Kalijaga di samping rumahnya yang tak jauh dari Kampus UNEJ tersebut. Pengajian yang ia ampu adalah tentang keaswajaan. Yang menjadi rujukan dalam pengajian tersebut, adalah "Aswaja dalam Persepsi dan Tradisi NU" dan "Wawasan Umum Ahlussunnah wal-Jama'ah" yang keduanya ditulis oleh KH Tolchah Hasan.

Kedua buku tersebut ternyata sudah jarang beredar di toko-toko buku. Adanya hanya di penerbitnya yang berada di Jakarta. Mbah Muchit pun memesan buku yang harganya Rp. 50 ribu per ekslempar itu. Lalu, ia membagikannya kepada para jama'ahnya. Sayangnya, setelah buku itu dibagikan, malah tak banyak jama'ahnya yang kembali datang untuk mengkaji buku tersebut.

Tak hanya itu, pada 2006 Mbah Muchit membagikan bukunya sendiri yang berjudul "Mengenal Nahdlatul Ulama". Buku yang setebal 60 halaman dan dicetak dengan biaya sendiri itu, ia bagikan ke pengurus MWC dan Cabang NU se-Jawa Timur. Juga kepada pengurus PWNU dan PBNU yang saat itu sedang mengadakan pertemuan di kantor PWNU di Surabaya. Total ada 1.200 ekslempar buku yang ia bagikan dari 1.500 buku yang dicetak.

Honorium yang didapatnya dari penerbit ketika menerbitkan buku, juga tak pernah beliau ambil. Mbah Muchit lebih senang mengambilnya dalam bentuk buku. Lalu, ia bagikan kepada orang lain yang datang bertamu atau saat ada acara.

Desember 2005, ketika ulang tahunnya ke-80, Mbah Muchit juga membagikan bukunya yang berjudul "Fikih Perempuan Praktis". Saat itu, ia sedang mengadakan acara di Pesantren KH Wahid Hasyim, Bangil, Pasuruan. Begitu pula saat Munas dan Konbes NU di Surabaya pada 2006. Saat itu, beliau membagikan buku "NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran".

Untuk buku yang terakhir ini, saya pernah mendapatkannya pula. Gratis pula. Saat itu, saya diberi oleh seseorang di pondok. Setelah cukup lama saya pelajari dan nangkring di rak buku, ada teman yang meminjamnya. Sampai saat ini, buku itupun tak kunjung balik. Mungkin, ada lagi yang meminjamnya dari teman saya tersebut. Tak balik juga. Dan terus bergulir demikian.

Seperti itu, mungkin yang diharapkan oleh Mbah Muchit atas buku-buku yang ia bagikannya. Ia tidak rela jika buku yang dibagikannya tersebut sampai tidak terbaca. Maka, ketika buku itu sudah nangkring dan tak dibaca lagi, buku itu pun berpindah tangan. Bisa jadi, bukan? (Ayunk Notonegoro)

Sabtu 15 Juli 2017 18:1 WIB
Sulaiman Zuhdi, Kiai Tarekat, Seni, hingga Ekonomi
Sulaiman Zuhdi, Kiai Tarekat, Seni, hingga Ekonomi
KH Sulaiman Zuhdi Affandi merupakan salah seorang kiai yang tidak hanya pandai dalam bidang agama, namun juga sebagai pengamal tarekat, tepatnya Naqsyabandiyyah-Khalidiyyah. Tetapi yang lebih istimewa lagi adalah beliau mempunyai keahlian yang tidak biasa untuk seukuran kiai-kiai pada zamannya. Kelebihan itu, beliau mampu menciptakan tenaga pembangkit listrik bertenaga air tahun 1938, kemudian beliau juga membuat pabrik rokok, membuat pabrik kain tenun (tekstil), dan menyamak kulit hewan.

Pondok Pesantren Mojopurno-Magetan, adalah tempat kediamanan Sulaiman dan keluarganya. Pondok tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat masyarakat belajar agama saja, tetapi disana tempat warga masyarakat bekerja meningkatkan taraf ekonominya. Sulaiman sebenarnya bukan penduduk asli Mojopurno-Magetan, ia adalah orang pendatang dari Kebonsari, Madiun. Kobonsari sendiri merupakan tempat belajar agama dan thoriqah (olah batin melalui dzikir kepada Allah).  Ketika itu sebagaian santri Kebonsari yang berasal dari Magetan meminta kepada keluarga NdalemKebonsari supaya mengirimkan salah seorang kiainya ke Magetan.

Maka sekitar antara tahun 1929-1930 ndalem menunjuk Sulaiman untuk ke Magetan. Sebelum benar-benar tinggal di Magetan, Sulaiman terlebih dahulu memohon petunjuk kepada Allah SWT. Setelah melalui istikharah dan pertimbangan yang matang, maka Sulaiman berketetapan hati bertempat tinggal di Desa Mojopurno sebagai tempat dan pusat kegiatan dakwah serta kemasyarakatannya.

Pertama-tama yang dilakukannya adalah dengan membangun masjid di Mojopurno. Mojopurno pada saat itu adalah tempat maksiat, liar, banyak para pemabuk, tukang judi, perampok, suka datang ke punden, dan keburukan-keburukan lainnya, serta masyarakatnya yang masih banyak hidup dalam kemiskinan. Tanah tempat dimana masjid dibangun oleh Sulaiman dikenal sebagai tempat yang sangat angker saat itu. Keberhasilan Sulaiman membangun masjid dan menghilangkan keangkeran tempat tersebut mendatangkan nilai tersendiri dan secara tidak langsung membawa pengakuan masyarakat akan keunggulan pribadinya.

Sedikit demi sedikit masyarakat banyak yang berdatangan ke kediaman Sulaiman. Pertama kali yang datang kepadanya adalah santri-santri Kebonsari yang dari Magetan, kehadiran Sulaiman sedikit memudahkan mereka belajar, sebab mereka tidak perlu jauh-jauh datang ke Madiun. Didukung dengan tidak hanya terbatas pada keahlian agama dan tarekat saja, tetapi kemampuannya menciptakan peluang dan lapangan ekonomi, Sulaiman tidak butuh waktu yang lama untuk merubah masyarakat Mojopurno menjadi orang-orang yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan agamanya.

Sempat Sulaiman mengalami kesulitan bagaimana cara mengumpulkan masyarakat ke masjidnya. Di tengah-tengah berpikir mencari cara, ketika itu di tempat lain tidak jauh dari Desa Mojopurno menggelar acara reog yang di datangkan dari Ponorogo. Saat itu masyarakat Mojopurno keluar dari rumah-rumah mereka beramai-ramai untuk menonton pertunjukan reog di desa tetangga tersebut. Dari sana muncullah ide Sulaiman, bahwa untuk mengumpulkan masyarakat berada di satu tempat harus mengadakan acara besar dan salah satu pertunjukan yang berhasil menyedot perhatian masyarakat adalah reog.

Sulaiman kemudian mengundang reog Ponorogo kira-kira tahun 1933. Sulaiman mengkonsep reog tersebut dalam rangka untuk hari-hari besar Islam semisal peringatan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan Tahun Baru Hijriah (Muharram), dan hari-hari besar Islam lainnya. Sulaiman menggelar peringatan hari-hari besar Islam tersebut berlangsung tiga hari. Tidak hanya Reog yang ditmpilkan dalam semarak hari besar Islam, disana juga ditampilkan tonel. Tonel adalah Sebuah lakon sandiwara yang diciptakan oleh Sukarno, di dalamnya berisi secara halus mengajak masyarakat supaya sadar akan pentingnya harkat dan martabat serta harga diri suatu bangsa. Mengajarkan kewajiban dan hak individu untuk hidup merdeka bebas dari penjajahan. Dengan konsep acara yang demikian, setiap Sulaiman mengadakan hari peringatan besar Islam pihak penjajah Belanda selalu datang mengawasi dan memata-matainya.

Perjuangan Sulaiman tidak sebatas menggelar acara dan pertunjukannya saja supaya masyarakat senang datang ke tempatnya, tetapi ia juga menyediakan konsumsinya juga untuk masyarakat yang hadir. Ketika itu piring beling adalah barang langka dan istimewa, selesai acara tidak jarang piring-piring beling itu di bawa pulang oleh orang-orang yang hadir. Dengan raut muka yang kesal suatu ketika istri Sulaiman pernah bertanya kepadanya kenapa masyarakat suka membawa piringnya, Sulaiman memberi jawaban kepada sang isteri dengan jawaban sederhana. Ia mengatakan, nanti kalau mereka sudah mampu membeli sendiri mereka tidak akan membawa pulang piring-piring itu lagi. Mendengar jawaban dari sang suami demikian, isteri Sulaiman hanya bisa terima dan bersabar.

Benar saja, kira-kira pada tahun 1937 masyarakat Mojopurno menunjukkan perubahan yang positif, banyak perubahan sikap dalam diri mereka. Pada sekitar tahun tersebut ketika diselenggarakan kembali peringatan hari-hari besar Islam masyarakat sudah membawa konsumsi sendiri-sendiri dalam bentuk julen. Julen adalah bentuk miniatur masjid atau mushalla yang didalamnya di isi dengan beraneka makanan serta buah-buahan. Masyarakat membawa julen dari desa masing-masing dengan di pikul beramai-ramai di bawa ke Desa Mojopurno, tepatnya di kediaman Sulaiman. Setelah selesai acara meniatur-miniatur masjid dan mushalla yang berisi aneka makanan tersebut mereka buka dan kemudian mereka makan bersama-sama.

Sulaiman tidak berhenti hanya penataan pada tingkah dan prilaku masyarakat, tetapi ia berjuang pula melalui usaha pada peningkatan taraf hidup ekonomi masyarakat. Bersama beberapa penduduk yang sekaligus muridnya ia mendirikan pabrik rokok, melatih masyarakat membuat kain tenun (tekstil), menyamak kulit hewan (sapi, kambing), ia juga salah seorang yang menciptakan tenaga pembangkit listrik dengan melalui rekayasa air. Kekuatan daya salur pembangkit listrik tenaga air ini mampu hingga sejauh satu kilo meter. Bagi masyarakat, ini merupakan teknologi yang luar biasa untuk ukuran jaman saat itu. Ketika itu hanya masyarakat di Desa Mojopurno yang bisa menikmati lampu listrik berkat tangan Sulaiman dimana di daerah yang lain di Magetan masih jauh menggunakan lampu teplok.

Sulaiman juga di kenal sebagai pejuang gigih kemerdekaan di barisan tentara Hizbullah. Ia merupakan salah satu komandan dan panutan dalam kesatuannya yang berkedudukan di Mojokerto. Disamping itu, Sulaiman sangat di kenal oleh masyarakat Magetan sebagai gusti lider, yaitu orang yang ditakuti oleh para perampok dan pencoleng. Ketika di Magetan ada perampok dan pencoleng, maka Sulaiman yang paling diharapkan kehadirannya oleh masyarakat mengusir para perampok-perampok itu. Pada masa kemerdekaan, Sulaiman menjadi penasehat Buapati Magetan, M. Ng. Sudibjo. 

Sulaiman Meninggal dunia pada 1948 September bersama Bupati Magetan tersebut, mereka berdua meninggal oleh keganasan PKI ketika melakukan petualangan politik di Madiun, yang dikenal dengan Madiun Affair. (Moh. Yusuf)
Jumat 30 Juni 2017 20:7 WIB
KH Zainal Abidin, Pendiri Pesantren Tertua di Blora
KH Zainal Abidin, Pendiri Pesantren Tertua di Blora
Setiap tanggal 13 Rabiul Awwal, kompleks Pondok Pesantren Mambaul Huda Desa Talokwohmojo Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora dipadati ribuan jamaah. Pasalnya, hari itu merupakan puncak peringatan haul KH Zainal Abidin. Almarhum dikenal sebagai pendiri Mambaul Huda, pondok pesantren tertua di Kabupaten Blora Jawa Tengah. 

KH Zainal Abidin adalah putra bungsu Longko Pati, tokoh agama asal Nganguk Pati yang kemudian hijrah ke Blora. Di tempat baru, tepatnya di Desa Banjarwaru Kecamatan Ngawen, Zainal Abidin dilahirkan. 

Pada zamannya, sosok KH Zainal Abidin tampak menonjol dalam hal pengetahuan agama. Tak pelak, tokoh dari Desa Talokwohmojo tertarik untuk menikahkan putrinya Nyai Kaminah dengan pemuda Zainal. 

Selanjutnya, sang mertua mewakafkan sebidang tanah untuk keperluan syiar Islam. Maka, pada 1900 dibangunlah sebuah 'langgar' alias musala kecil untuk pengajian Alquran dan kitab kuning oleh KH Zainal Abidin. Selain itu, sejak 1908 Almarhum KH Zainal Abidin juga dikenal sebagai mursyid Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah. Sanad tarekat diperolehnya dari KH Ahmad Rowobayan Padangan Bojonegoro.  

"Sejak saat itu beliau resmi mendapat izin mengajar dan membaiat santri-santri tarekat," ujar K Munir, salah satu cucu almarhum.

KH Zainal Abidin tercatat dua kali menikah. Dari istri pertama Nyai Kaminah, almarhum dikaruniai delapan orang anak. Sedangkan dari istri kedua Nyai Ruqayah, beliau dikaruniai lima orang anak. 

Almaghfurlah KH Zainal Abidin wafat pada 1922, dikebumikan di lingkungan pesantren Talokwohmojo. Sepeninggal almarhum, kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KHA Hasan dari tahun 1922 hingga 1942. 

Sepeninggal Kiai Hasan tahun 1942, estafeta kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH Ismail. Sebelum mengurus pesantren, kiai yang merupakan murid kinasih KH Kholil Kasingan Rembang ini sempat berguru kepada Syekh Hasyim Asyari di Tebuireng. 

Semasa kepemimpinan KH Ismail (1942-1956), pesantren Mambaul Huda mengalami perkembangan cukup pesat. Santri dari luar daerah mulai berdatangan. 

Sepeninggal KH Ismail, pengasuh pesantren dilanjutkan oleh KH Nachrowi. Sejak saat itu, pengasuh santri syariat dan santri tarekat mulai dipisahkan. KH Nachrowi mengasuh santri tarekat, sedangkan santri syariat dipercayakan pada KH Abbas bin Zainal Abidin. 

KH Abbas meninggal dunia pada 1976. Sepuluh tahun kemudian KH Nachrowi menyusul menghadap Sang Ilahi. KH Nachrowi mengasuh pesantren selama 34 tahun, yakni dari tahyn 1965 hingga 1980.

Konon nama Mambaul Huda muncul di masa duet kepemimpin KH Nachrowi dan KH Abbas. Sepeninggal KH Nachrowi, pengasuh santri tarekat berturut-turut dilanjutkan oleh KH Musthofa Nachrowi dan KH Labib bin Musthofa.

Adapun urutan pengasuh santri syariat setelah KH Ismail adalah KH Abbas bin Zainal Abidin. "Saat ini diteruskan oleh KH Ali Ridlo dan KH Idrus," ujar K Munir, Sekretaris Desa Talokwohmojo.

Markas Perjuangan
Di masa silam, Pesantren Mambaul Huda adalah salah satu tempat berhimpunnya ulama dan pejuang. Saat pemberontakan PKI tahun 1948, misalnya, Mambaul Huda menjadi tempat bernaungnya rakyat maupun pejabat. 

Betapa tidak? Akhir September 1948 Blora dikuasai PKI Muso yang hendak membentuk pemerintahan baru. Bahkan, Bupati Blora dan sejumlah tokoh pun menjadi korban kebiadaban PKI saat itu. 

Semasa agresi Belanda II tahun 1949 Mambaul Huda menjadi markas pertahanan tentara dan para sukarelawan pejuang. (Akhmad Saefudin, penulis Buku 17 Ulama Banyumas)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG