IMG-LOGO
Daerah

Ketua PCNU Surabaya: Pemerintah Telat Keluarkan Perppu Ormas

Ahad 30 Juli 2017 0:3 WIB
Bagikan:
Ketua PCNU Surabaya: Pemerintah Telat Keluarkan Perppu Ormas
Surabaya, NU Online
Pemerintah RI dinilai telat mengeluarkan Perppu No 2 tahun 2017 tentang Ormas. Tetapi, itu lebih baik daripada tidak. Sejak awal ideologi yang diusung HTI bertentangan dengan ideologi negara. Mestinya pemerintah tidak boleh menerbitkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM nomor AHU-0028.60.10.2014 tentang pengesahan pendirian badan hukum perkumpulan HTI.

Demikian disampaikan Ketua PCNU Surabaya H Muhibbin Zuhri dalam seminar Perppu Ormas dan Keutuhan NKRI. Seminar ini digelar di Graha Astranawa Gayungsari, Surabaya.

"Pemerintah sepertinya kecolongan sehingga mau menerima dan mencatat HTI sebagai ormas yang diakui keberadaannya di Indonesia. Baru setelah HTI berkembang pesat dan ketahuan ideologi yang dikembangkan mengancam keutuhan NKRI, pemerintah kelabakan sehingga perlu mengambil langkah taktis membubarkannya," kata Muhibbin di depan para peserta seminar yang digelar oleh Harian Umum Duta Masyarakat ini.

Dosen UIN Sunan Ampel ini menegaskan, langkah pemerintah ini sudah tepat, tapi jangan sampai Perppu tersebut justru menjadi anasir abuse of power. Dalam kaidah fiqh, menolak kemudharatan jauh lebih diutamakan ketimbang menciptakan kemaslahatan. Rumah besar NKRI ini harus diselamatkan.

Padahal, para pendiri bangsa ini sudah memilih bentuk nation state dan Pancasila sebagai dasar negara itu melalui kesepakatan (mu‘ahadah), seperti yang dicontohkan Rasulullah saat membangun Madinah melalui sohifatul Madinah yang prinsip dasarnya mengedepankan umatan wahidah (kebangsaan) dan kemakmuran.

HTI itu ormas baru yang tak punya etika untuk hidup di Indonesia, karena tak mau mengikuti sistem yang berlaku. "Indonesia ini sudah syar'i karena itu siapa yang ada di Indonesia dan turut menyepakati NKRI, maka wajib menjaga konsensus nasional ini di atas kepentingan primordial," tegas Muhibbin.

Selain Muhibbin sebagai narasumber, hadir Ketua Pusat Studi KH Mas Mansur UM Surabaya Sholikul Huda, dan pemerhati masalah sosial Satria Dharma. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Bagikan:
Ahad 30 Juli 2017 20:2 WIB
PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award
PCNU Ponorogo Rencanakan MWCNU Award
Ponorogo, NU Online
Penghargaan NU Award tahun 2017 yang diterima PCNU Ponorogo dari PWNU Jawa Timur beberapa waktu lalu menyisakan kebanggaan tersendiri. Tahun ini PCNU Ponorogo memperoleh tiga penghargaan, yaitu pengelolaan jamiyah menempati peringkat keempat, pengelolaan Rumah Sakit NU mendapat peringkat ketiga, sedangkan pengelolaan ekonomi keumatan menyabet peringkat pertama.

Penghargaan terakhir tidak lepas dari keberhasilan PCNU mendirikan Bintang Swalayan yang dimotori Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) dan keikutsertaan aktif MWCNU, lembaga dan banom NU. Sebagai bentuk rasa syukur, pihak PCNU mengundang seluruh pimpinan lembaga dan MWCNU mengadakan tasyakuran di aula kantor PCNU, Sabtu (29/7).

“Tasyakuran atas diterimanya NU Award tahun 2017 dari PWNU Jawa Timur ini merupakan penghargaan yang prestisius bagi PCNU ponorogo. Makanya rahmat Allah ini wajib kita syukuri, lain syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna azabi lasyadid,” kata Ketua PCNU Ponorogo Fatchul Aziz.

Perhelatan NU Award tingkat provinsi juga mengilhami PCNU untuk menggelar even serupa untuk tingkat kabupaten tahun depan. Keinginan ini diumumkan secara resmi oleh PCNU di hadapan para pengurus MWCNU yang hadir. Rencana ini disambut baik oleh para pengurus MWCNU.

“Kami MWCNU sangat mendukung rencana PCNU menyelenggarakan NU Award tingkat Kabupaten tahun 2018 mendatang. Kesempatan ini tentu memicu semangat kami untuk menata organisasi hingga tingkat ranting,” kata Ketua MWCNU Mlarak Gus Syukron.

Akselerasi Sertifikasi Tanah Wakaf
Tasyakuran NU Award juga dimanfaatkan untuk koordinasi percepatan sertifikasi tanah NU. Pada kesempatan ini pihak BPN Ponorogo menyosialisasikan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Sebelumnya PCNU ponorogo telah mengadakan MOU dengan BPN Kabupaten Ponorogo tentang percepatan sertifikasi tanah wakaf milik NU. Penandatanganan MOU disaksikan langsung oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Jalil di Malang beberapa bulan lalu.

“Sebagai langkah awal, pada tahun anggaran 2017 ini disepakati sertifikasi 1.000 bidang tanah wakaf milik NU,” kata Fatchul Aziz.

Tindak lanjut sosialisasi tersebut, Senin (31/7) giliran Kepala BPN Ponorogo mengundang PCNU dan MWCNU di kantornya. Mereka akan membicarakan kesepakatan teknis antara Tim BPN dengan Tim Wakaf NU Ponorogo.

“Kami berkomitmen penuh untuk menangani wakaf NU. Tujuannya adalah percepatan penyelesaian sertifikat tanah wakaf Nadlir NU,” kata Fatchul Aziz menandaskan komitmen BPN Ponorogo. (Idam Mustofa/Alhafiz K)

Ahad 30 Juli 2017 18:4 WIB
Ini Wasiat Untuk Pengurus NU dari Ranting hingga PBNU
Ini Wasiat Untuk Pengurus NU dari Ranting hingga PBNU
Surabaya, NU Online
Pengurus MWCNU Bubutan Surabaya menggelar pelantikan sekaligus Haul ke-55 KH Ridlwan Abdullah, Pencipta Lambang NU. Setelah dibacakan SK PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PCNU Surabaya KH Sulaiman Nur mengambil sumpah. Prosesi pelantikan dilaksanakan di Gedung Negara Indonesia Jl Bubutan (29/7).

Setelah dilantik para pengurus MWC NU Bubutan mendapatkan motivasi dari Katib Syuriah PWNU Jatim KH Syarifuddin Syarif. Kiai asal Brebes ini mengatakan, sebagai pengurus NU di semua tingkatan yang dicari hanyalah ridha Allah dan berkah para ulama.

"Di NU itu tidak ada banyarannya, meskipun menjadi pengurus cabang, wilayah, bahkan PBNU. Tidak ada bayarannya," tegas Kiai Syafruddin.

Nahdlatul Ulama sejak berdiri hingga sekarang memiliki tantangan yang luar biasa. Tantangan itu tidak sama. Setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Belum lagi NU harus menghadapi tantangan yang tidak kelihatan. "Peran kiai dan bu nyai saat ini sudah diambil oleh kiai Google dan bu nyai Youtube," kata Kiai Syafruddin.

Semua orang saat ini dengan mudahnya mengakses internet. Seolah tanpa skat antara mereka dengan dunia maya. Semua konten keagamaan sudah tersedia di google. Mau tanya apa pasti akan muncul. Entah itu salah atau benar. "Maka dari itu, itu tugas besar dan berat yang harus dihadapi secara bersamaan," pinta alumnus Ponpes Zainul Hasan Genggong ini.

Yang lebih dasar lagi, para kiai dan ulama diminta untuk menjaga agama. Agama harus tetap berada di jalan yang lurus. Tidak boleh agama ditarik ke kanan yang notabene radikal dan ditarik ke kiri yang notabene liberal. "Agama harus kita jaga, siapa lagi yang akan menjaga agama kalau bukan organisasi ulama ini," terangnya.

Kedua, pengurus harus sering silaturrahmi dengan jamaah. Acara halal bihalal ini salah satu cara untuk menyapa dan silaturrahmi antara jam'iyah dan jamaah. "Halal bihalal ini juga sebagai ajang silaturrahmi antara yang hidup dengan para pendahulu kita," ungkapnya.

Halal bihalal PCNU Surabaya ini juga digelar haul ke-55 KH Ridlwan Abdullah. Acara ini dihadiri pengurus lengkap PCNU Surabaya, pengurus Muslimat Surabaya, dan Muslimat Bubutan. Hadir pula para pejabat Pemkot Surabaya. (Rof Maulana/Alhafiz K)
Ahad 30 Juli 2017 17:1 WIB
Pergunu Ngada NTT Bukukan Sejarah Kerajaan Islam Riung
Pergunu Ngada NTT Bukukan Sejarah Kerajaan Islam Riung
Ngada, NU Online
Sejarah kebesaran kerajaan Islam Riung telah kita jumpai dalam beberapa literatur Islam Nusantara, apalagi jika dikaitkan dengan sejarah Islam Goa Sulawesi. Sadar akan pentingnya sejarah Islam, melalui inisiatif Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur sedang proses mengkondisikan untuk dibukukan sejarah kerajaan Islam pertama di Bumi Flores, NTT.

Ketua PC Pergunu Kabupaten Ngada-NTT, Moh. Thamrin, A.P. Sila  menuturkan dalam menyambut utusan PP Pergunu, Aris Adi Leksono, bahwa pada masa lampau kebesaran kerajaan Islam Riung cukup diperhitungkan di Bumi Flores, kerajaan ini berdiri sejak penjajahan Belanda atas prakarsa dari kerajaan Islam Goa Sulawesi. Kerajaan ini merupakan asal usul Islam masuk ke tanah Riung Ngada-NTT. 

Lebih lanjut, Bapa Thamrin menjelaskan bahwa para pembawa Islam ke Ngada adalah pelarian muslim dari Sulawesi, terutama dari kerajaan Goa. Meraka berlayar sampai Ngada kemudian berinteraksi dengan masyarakat sekitar dengan damai, meskipun saat itu sudah berkembang agama Kristen. 

Lambat laun mereka membangun keluarga, berinteraksi dagang, dan lain sebagainya dengan penduduk setempat, dengan sendirinya Islam besar dan berkembang di Riung-Ngada.

"Islam yang berkembang di Ngada penuh toleransi dan kedamaian, sehingga mudah diterima penduduk setempat, meskipun sudah berkembang agama Kristen. Para pelarian kerajaan Goa mampu berinteraksi dengan arif dan bijaksana dengan penduduk Ngada saat itu,” tutur Thamrin, Guru yang merintis MI dan MTs dibawah binaan Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kabupaten Ngada.

Sementara itu,  kerukunan dan toleransi para pemeluk Kristen dan Islam di Ngada bisa disaksikan pada situs tua masjid Nurul Jannah dan Gereja Kristen Katolik yang berdiri sejajar di tanah yang sama. Keduanya merupakan bangunan tertua di tanah Riung sejak masa kerajaan Goa dan kerajaan Islam Riung. 

Selain itu, juga telah terjalin kesepakatan turun menurun bahwa jika terjadi konflik atau perselisihan antar agama, tas dan budaya, maka tidak boleh ada orang luar ikut campur menyelesaikan. Karena para pemuka agama dan adat pasti mampu menyelesaikan.

Sebagai informasi, penulis buku sejarah kerajaan Islam Riung adalah Ketua PC Pergunu Riung, yang merupakan Cucu salah satu Raja kerajaan Islam Riung. (Red: Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG