IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

“Jalan Dakwah Pesantren” Gambarkan Santri dan Kiai Apa Adanya

Ahad 30 Juli 2017 2:10 WIB
Bagikan:
“Jalan Dakwah Pesantren” Gambarkan Santri dan Kiai Apa Adanya
Jepara, NU Online
Pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara menyelenggarakan pemutaran dan bedah film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” berlangsung di aula Gedung Serba Guna MA Hasyim Asyari, Bangsri Jepara, Kamis (27/7) malam. 

Dalam pemutaran film berdurasi 38 menit itu dihadiri oleh ratusan santri dan menghadirkan 3 narasumber: Hamzah Sahal (inisiator film), Hj. Hindun Anisah (pengasuh pesantren Hasyim Asyari) dan Ahmad Sahil (ketua Lakpesdam NU Cabang Jepara) dan sebagai moderator Syariful Wai, mantan aktivis PP Lakpesdam. 

Ahmad Sahil ketua Lakpesdam NU Cabang Jepara dalam paparannya menyampaikan film dokumenter itu menggambarkan pesantren apa adanya. 

“Film ini ialah film riil yang memberi pembelajaran bahwa pesantren telah melahirkan tokoh besar Gus Dur,” kata kiai muda yang disapa Gus Sahil ini. 

Gus Sahil putra KH Miftah Abu berkomentar dalam film yang disupport oleh Kementerian Agama RI lantaran menampilkan sosok KH Abdurrahman Wahid. 

Kepada ratusan santri ia mengatakan bahwa sosok kiai di pesantren berjuang 24 jam tanpa lelah. Kiai, ulama, baginya, adalah sosok yang istimewa. “Basyarun la kal basyar, manusia tapi tidak seperti manusia biasa,” sebutnya. 

Kiai muda asal desa Karangrandu itu menyontohkan saat selepas kiai minum. Sisanya menjadi rebutan santri. Sandal kiai juga menjadi rebutan untuk ditata. Itu keistimewaan kiai, katanya.  

Hj. Hindun Anisah, selaku shahibul bait menyatakan usai nonton film dirinya jadi ingat saat menjadi santri yang tumbuh dengan kecerdasan serta mental tahan banting. 

Perempuan yang akrab dipanggil Neng Hindun itu mengapresiasi bahwa film menunjukkan eksistensi kitab kuning yang merupakan keunggulan pesantren. 

Kitab kuning kata istri KH Nuruddin Amin, bisa menjadi simbol anti-Islam radikal. 

“Saya sering pesan kepada alumni pondok ini bawalah kitab kuning selalu bersamamu,” pesan Neng Hindun yang juga salah satu aktris film ini.  

Ternyata pesan itu pernah dipraktikkan oleh santrinya. Sehingga saat melihat di kamar ada kitab kuning orang yang mau mengajak santri gabung di aliran radikal tidak jadi mengajaknya. 

“Kitab kuning ampuh untuk mengurangi serangan Islam bukan NU, Islam radikal,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

  

Tags:
Bagikan:
Jumat 28 Juli 2017 0:41 WIB
RMINU Sumedang Perkuat Peran Pesantren untuk NKRI
RMINU Sumedang Perkuat Peran Pesantren untuk NKRI
Sumedang, NU Online 
Dalam rangka memperkuat peran pondok pesantren untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama  (RMINU) Kabupaten Sumedang melaksanakan halaqah kiai pimpinan pesantren NU se-Kabupaten Sumedang pada Rabu (26/7).

Halaqah yang dihadiri oleh 70 kiai yang mewakili pondok pesantren yang ada di Sumedang ini bertempat di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Desa Sukamantri, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Ketua RMINU Kabupaten Sumedang Masrur Jaelani mengatakan bahwa pondok pesantren jauh sebelum merdeka sudah berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Pesantren mampu mendorong para santri dan masyarakat untuk selalu membela dan mencintai tanah air. 

“Saat ini Indonesia sudah merdeka. Tugas pondok pesantren tatap harus berperan menunjukkan eksistensinya dalam membangun NKRI. Pesantren di Sumedang harus betul-betul bisa berkontribusi dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI,” katanya.

Hal ini, kata dia, senada dengan NU yang dari dulu sampai sekarang tetap konsisten mendukung supaya NKRI tetap utuh, aman, sentosa, dan masyarakat bisa tenang dalam hidup berbangsa, bernegara, serta aman dalam beribadah.

Sementara Ketua PCNU Sumedang KH Sa'dulloh berharap agar para pimpinan pesantren tetap bersama dan bersatu dalam mengisi pembangunan nasional melalui peningkatan kualitas pendidikan di pesantren. Selain itu pesantren juga harus mampu menangkal radikalisme dan melawan paham-paham yang ingin menghancurkan NKRI dan Pancasila. 

“PCNU Sumedang melalui RMI NU mendorong dan memohon kepada pemerintah untuk ikut berperan membantu pesantren dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarananya untuk menunjang perbaikan kualitas pendidikan di pesantren. Karena pesantren, kiai, dan para santrinya merupakan kekuatan yang melindungi NKRI dan pancasila sejak zaman awal kemerdekaan,” tutup KH Sa'dulloh. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)

Rabu 26 Juli 2017 18:19 WIB
Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan
Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan
Jombang, NU Online
Tingkat konsumsi masyarakat terhadap protein masih memprihatinkan. Karenanya, diperlukan peran berbagai kalangan agar menambah konsumsi protein  lewat makan ikan menjadi salah satu tradisi di masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid. Dalam pandangan Gus Sholah, sapan akrabnya, peran tersebut dapat diambil  d oleh santri untuk turut berperan aktif mengkampanyekan budaya makan ikan di tengah masyarakat.

Salah satu caranya, kata Gus Sholah, adalah dengan meningkatkan budidaya perikanan air tawar berbasis pesantren. Dengan meningkatnya budaya makan ikan, diharapkan akan turut meningkatkan konsumsi protein masyarakat.

Hal itu disampaikan Gus Sholah saat membuka Pelatihan Pembesaran Ikan Lele dengan Sistem Bioflok di Gedung Diklat Pesantren Tebuireng II di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Jombang, Senin (24/7) awal pekan ini. Pelatihan yang diikuti peserta dari beberapa pesantren di Jombang ini merupakan kerjasama antara Pesantren Tebuireng dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan menghadirkan instruktur dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi.

Gus Sholah menuturkan, pelatihan yang telah diikuti empat angkatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada pertengahan November 2016 lalu. "Saat itu, Bu Susi mengajak Pesantren Tebuireng untuk turut berperan aktif membantu pemerintah dalam kampanye budaya makan ikan dan menantang para santri untuk merintis usaha budidaya ikan air tawar," ungkap Gus Sholah.

Usai pembukaan pelatihan untuk angkatan ketiga dan keempat tersebut, para peserta juga diajak mengikuti panen perdana hasil kegiatan peserta pelatihan angkatan sebelumnya. Panen perdana dipimpin oleh Nyai Hj. Farida Salahuddin (istri Gus Sholah) didampingi beberapa pejabat dari BPPP Banyuwangi dan Dinas Perikanan Jombang.

Kepada para santri, Nyai Farida berpesan agar kepercayaan sekaligus tantangan yang diberikan oleh KKP dapat dijaga dengan baik dan amanah. "Minimal, hasil budidaya ikan lele ini nanti harus bisa memenuhi kebutuhan Jasa Boga di Pesantren Tebuireng. Jadi, pondok tidak perlu lagi memesan ikan lele dari luar," harapnya.

Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan, ikan lele yang dipanen secara perdana merupakan hasil budidaya peserta pelatihan angkatan pertama dan kedua. "Secara keseluruhan, sudah ada 120 orang yang ikut pelatihan. Mereka berasal dari Pesantren Tebuireng dan sembilan pesantren lainnya," ungkap pria kelahiran Banten ini.

Saat ini, tutur Lukman, Pesantren Tebuireng sedang menyiapkan 24 buah kolam lele berdiameter tiga meter bantuan dari KKP. "Mulai awal Agustus, akan ada 40 kolam yang dikelola untuk usaha budidaya ikan lele," ujarnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Ahad 23 Juli 2017 21:26 WIB
Menteri Khofifah Dorong Pesantren Perangi Narkoba
Menteri Khofifah Dorong Pesantren Perangi Narkoba
Mojokerto, NU Online
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendorong kepada pesantren yang ada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur untuk bersama-sama memerangi bahaya narkoba yang saat ini sudah cukup meresahkan.

"Kewaspadaan harus terus ditingkatkan, mulai dari lingkungan yang paling kecil seperti dari lingkungan keluarga, termasuk juga dari pesantren ini," katanya sebagaimana dilaporkan Antaranews.com saat mengunjungi Pondok Pesantren Ummul Muminin di Mojokerto, Jawa Timur, Ahad (23/7).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU itu mengemukakan, perlindungan keluarga terhadap bahaya narkoba memang harus terus dilakukan dan jangan sampai lengah.

"Jangan sampai masyarakat lengah, kemudian setelah kebobolan baru kemudian bergerak lagi," ujarnya.

Menurutnya, sekitar tiga tahun yang lalu terdapat narkoba jenis baru yakni berupa sabu-sabu berjenis crocodile di mana penggunanya akan mengalami hal-hal yang cukup mengerikan," katanya.

Salah satunya, kata dia, ujung jari dari penggunanya ini akan mengalami kehitaman kemudian terlepas dengan sendirinya.

"Begitu juga dengan tulang-tulangnya juga akan mengalami kehitaman, kering dan akhirnya akan terlepas sendiri," ucapnya.

Dari data yang ada, kata dia, saat ini terdapat 40 sampai dengan 50 orang per harinya yang meninggal dunia akibat mengkonsumsi narkoba.

"Saat ini terdapat 5,9 juta yang terindikasi sebagai pengguna narkoba dari jumlah tersebut terdapat pengguna aktif dan juga pengguna yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba," ujarnya.

Dalam kesempatan itu dirinya mengatakan, saat ini terorisme adalah bukan mereka yang membawa senjata atau juga membawa bom.

"Tetapi narkoba juga merupakan teror yang cukup luar biasa, karena membuat orang menjadi ketagihan, dan setelah ketagihan orang tersebut akan meninggal dunia," ujarnya.

Selama kunjungannya ke Mojokerto dirinya juga menyempatkan diri untuk memberikan bantuan nontunai program keluarga harapan di Kabupaten Mojokerto. (Red: Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG