Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

NU Muda; Kaum Progresif dan Sekularisme Baru

NU Muda; Kaum Progresif dan Sekularisme Baru

PETA KAUM MUDA NU PROGRESIF

Cetakan : 1, 2004
Tebal  : xviii + 248 halaman

  Semenjak dasawarsa&<>nbsp; 1980-an dan 1990-an, pemikiran kalangan muda NU telah menjadi mainstream utama dalam jagat pemikiran kontemporer di tanah air. Berbagai gelagat pemikiran mereka telah menghiasai ragam pemikiran kontemporer, yang tidak hanya, mencengangkan para kiai pesantren sebagai bapak mereka, namun juga para pengamat asing yang selama ini menganggap NU sebagai organisasi kaum tradisional. Tesis Deliar Noor yang mengkategorikan NU sebagai kaum tradisionalis seolah patah, bahkan berbalik seratus delapan puluh derajat. Karena yang disinyalir Deliar Noor sebagai kaum modernis sekarang ini malah diambang “degradasi”, dan lambat laun pemikiran mereka ‘tersalip’ oleh progresifitas anak muda yang mulai menjelajahi berbagai ruang-ruang diluar mainstream kepesantrenan.


Buku “NU Muda” yang ditulis oleh pengamat NU, Laode Ida, ini adalah buku yang sangat menarik dalam memotret kaum muda NU yang progresif, yang secara tidak langsung mematahkan tesis Deliar Noor tersebut. Tipologi kaum muda progesif yang diungkap oleh Laode Ida merupakan hasil analisis  terhadap beragam pemikiran yang menjamur dikalangan  muda NU.

Ada tiga tilopogi kaum progresif yang dibidik  Laode Ida. Pertama, kaum progresif-transformis, yakni mereka yang secara intern mengupayakan penyadaran terhadap subyek [orang-orang NU] dengan harapan subyeklah yang akan mengubah dirinya sendiri serta melakukan perubahan dalam komunitas yang lebih luas. Mereka ingin melakukan pencerahan   agar NU tidak terjebak dalam persoalan politik pragmatis, sehingga nantinya NU dapat mentransformasikan programnya dalam berbagai hal dan berbagai wilayah kehidupan. Model seperti ini banyak dilakukan oleh P3M, Lakpesdam, dan LP3ES.

Kedua, progresif-radikalis. Yakni mereka memperjuangkan kesetaraan [egalitarian] dengan menjungjung tinggi atau bersdandar pada bilai-nilai HAM dan kultur dasar komunitas. Kelompok ini sering disebut sebagai ‘virus pemikiran dan gerakan kiti atau sekuler’ dan sering kali disebut sebagai tipikal kelompok kiri asal NU. LKiS adalah salah satu contoh model berfikir yang demikian. Ketiga, progresif-moderat, yakni mereka yeng memiliki ide-ide tentang perubahan tetapi tidak memiliki  ideologi  yang jelas dan konsisten diperjuangkan. Mereka tidak mau total sebagaimana kedua kelompok pertama, karena mereka ingin berada ditengah-tengah terhadap arus yang ada.

Ketiganya itu telah menjadi corak berfikir kalangan  muda, sehinga menjadi begitu radikal, progrsif, liberal dan pluralis. Mereka banyak bergabung dalam organisasi dan LSM yang mampu menampung cara berfikir mereka. Contohnya,  Mereka dengan khazanah berfikir yang mensinergikan antar kitab kuning dengan keilmuan modern-kontemporer mampu membuat genre baru pemikiran yang setiap saat bisa meresahkan kalangan kia sepuh.   Masdar, Said Aqil, bahkan Gus Dur merupakan contoh betapa anak muda telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pemikiran NU sekarang.


Bahkan dalam konteks nasional, pemikiran generasi muda telah menjadi model berfikir yang melampaui pemikiran kaum modernis. Mereka yang tadinya dikatakan konservatif, setalah bersentuhan dnegan pemikiran kontemporer, mampu melampaui nalar berfikir kaum modern yang selama ini telah kehilangan pijakan yang kuat terhadap tradisi. Sementara kalangan muda NU sangat dengan sumber tradisi, sehingga  mampu mengantarkan mereka kedalam pemikiran kontemporer dewasa ini.

Dalam pandangan Martin Van Brunessan, pengantar buku ini, lahirnya tiga tipologi gerakan progresif NU itu tidak bisa dilepaskan dari sosok “mahaguru” Abdurrahman Wahid  [Gus Dur]. Selah Gus Dur menduduki Ketua Umum  PBNU, ia mengajak “berlari” kaum muda NU yang selama tertidur ditengah selimut yang mempesona. Berbagai ide pemikiran brilian yang dilontarkan, Gus Dur mampu membangun jaringan pemikiran terhadap berbagai komunitas lintas sektoral, sehingga nama NU yang selama ini dianggap tradisonalis seolah patah. Bahkan watak tradisinalis NU ternyata berpotens

Pustaka Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya