IMG-LOGO
Nasional

Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati

Selasa 1 Agustus 2017 17:3 WIB
Bagikan:
Abuya Muhtadi: NKRI Bukan Harga Mati
Foto: Ilustrasi
Cilegon, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abuya Muhtadi bin Abuya Dimyati mengimbau seluruh masyarakat Cilegon untuk waspada atas propaganda gerakan kelompok-kelompok radikal anti-Pancasila. Menurutnya, sekarang ini banyak kelompok yang memaksakan pengaruhnya di tengah masyarakat untuk menolak dasar negara Indonesia melalui berbagai media.

Imbauan ini disampaikan Abuya Muhtadi dalam seminar kebangsaan yang diinisiasi PMII dan PCNU Cilegon di aula DPRD Kota Cilegon, Senin (31/7).

Abuya Muhtadi mengimbau seluruh masyarakat Cilegon untuk tidak ikut-ikutan organisasi dengan paham luar negeri dan ideologi imporan seperti HTI yang menentang Pancasila.

Ia berpesan kepada semua yang hadir untuk tetap setia dan turut menjaga NKRI dan Pancasila. Menurutnya, NKRI bukan harga mati tetapi harga hidup untuk dunia dan akhirat.

Abuya juga menyanyikan lagu Garuda Pancasila bersama para peserta seminar yang hadir.

Tampak ratusan peserta dari perwakilan pimpinan pondok pesantren, wakil walikota, Ketua DPRD, Kasdim Kodim 0623/Cilegon, dan Rais Syuriyah PCINU Federasi Rusia juga Dosen di kampus FT. Untirta Cilegon, Agus Pramono.

Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan deklarasi “Kami Indonesia, Kami Pancasila,” dan dibubuhi tanda tangan Abuya beserta unsur pimpinan daerah, NU, PMII dan unsur pimpinan pondok pesantren di sekitar Kota Cilegon.

Selain diskusi, mereka juga menggelar istighotsah untuk keselamatan bangsa Indonesia. (Andra Imam Putra/Alhafiz K)
Bagikan:
Selasa 1 Agustus 2017 22:29 WIB
Dzikir Kebangsaan, Jokowi: Kita Teguhkan Kerja Bersama Ulama Umara
Dzikir Kebangsaan, Jokowi: Kita Teguhkan Kerja Bersama Ulama Umara
Jakarta, NU Online
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan, dzikir kebangsaan merupakan pembuka acara dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-72. Ia berharap, acara ini bisa memperteguh semangat persatuan dan kerja bersama antara ulama dan umara.

"Melalui peringatan kemerdekaan yang ke-72 ini kita meneguhkan komitmen kita untuk menjaga persatuan, menjaga kerukunan, dan toleransi, serta kerja bersama kerja beriringan antara ulama dan umara untuk kemajuan negara kita Indonesia," kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam Majelis Dzikir Hubbul Wathon, Selasa (1/8) di Istana Negara. 

Selain itu, ia menyatakan bahwa dzikir kebangsaan ini dimaksudkan untuk mendoakan para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

"Di hari yang berbahagia ini kita membacakan doa bagi para pejuang, para pendiri bangsa, para kiai, para alim ulama, para habaib serta para tokoh agama, dan tokoh-tokoh daerah dari seluruh Indonesia yang telah berjasa besar bagi bangsa dan negara kita Indonesia," terangnya. 

Dzikir kebangsaan kali ini mengambil tema Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia. Acara ini terselenggara atas kerjasama Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) dan Istana Presiden RI Jakarta. 

Acara ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan  di Istana Kepresidenan, Jakarta. Ada ratusan ulama dan ribuan jamaah dari berbagai pelosok di Indonesia yang turut hadir dalam acara ini. (Muchlishon Rochmat/Zunus)
Selasa 1 Agustus 2017 22:0 WIB
Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah
Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah
Foto: Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) dalam doa di Istana Negara memuji Allah SWT atas nikmat kemerdekaan yang dikaruniakan kepada Bangsa Indonesia. Mbah Moen menyebut kemerdekaan Indonesia dari negara penjajah merupakan sebuah nikmat besar Allah yang patut disyukuri oleh anak bangsa Indonesia.

“Ya ilâhana, Agustus syahrul mu‘azzham ‘indanâ wa syahrul mu‘azzham ‘indaka (Agustus adalah bulan agung bagi kami dan bulan agung bagi-Mu),” kata Mbah Moen dalam salah satu rangkaian doanya pada majelis zikir Hubbul Wathan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (1/8) malam.

Pada bulan Agustus Kaukirim utusan-Mu. Pada bulan Agustus ini Kauberikan pada kami nikmat hurriyah (kemerdekaan) wal istiqlal (berdikari). Kami sudah merdeka 72 tahun lalu, kata Mbah Moen dalam doanya.

Mbah Moen juga meminta kepada Allah SWT untuk memberikan kekuatan kepada para pemimpin Republik Indonesia.

“Ya Allah, keberagaman Indonesia adalah nikmat-Mu. Semua ini meski berbeda-beda pada hakikatnya adalah satu, sesuai dengan firman-Mu li ta‘ârafû (untuk saling memahami). Kami berbeda-beda suku, ratusan bahasa, dan berbeda agama,” tegas Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang.

Ia juga memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa.

Doa Mbah Moen ini diamini oleh ratusan jamaah yang hadir. Tampak puluhan ulama dan kiai dari pelbagai daerah di Indonesia, Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, dan jajaran kabinet. Zikir ini diadakan dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada bulan Agustus. (Alhafiz K)
Selasa 1 Agustus 2017 19:2 WIB
Operasional Metode Ilhaqul Masail dan Taqrir Jamai Rumusan Mendesak
Operasional Metode Ilhaqul Masail dan Taqrir Jamai Rumusan Mendesak
Foto: Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) KH Mahbub Maafi Ramdlan mengatakan, pengurus ranting hingga pengurus wilayah NU terutama para aktivis bahtsul masail menunggu PBNU untuk membuat semacam pedoman atas metode ilhaqul masail bi nazhairiha dan taqrir jamai. Selama ini, aktivis bahtsul masail belum memiliki panduan khusus soal ini.

“Ini penting untuk segera dirumuskan agar aktivis bahtsul masail memiliki pedoman dan petunjuk teknis dalam memutuskan masalah-masalah aktual dengan metode ilhaq dan taqrir jamai,” kata Kiai Mahbub kepada NU Online, Selasa (1/8) pagi.

Ilhaqul masail bi nazhairiha dan taqrir jamai adalah metode penetapan hukum agama di lingkungan NU. Keduanya ditetapkan sebagai metode penetapan hukum agama pada Munas Alim Ulama NU 1992 di Lampung.

“Tetapi sudah 25 tahun konsep ini masih mengambang,” kata Kiai Mahbub.

Menurutnya, Munas Alim Ulama NU 2017 di Nusa Tenggara Barat ini merupakan kesempatan PBNU untuk segera merealisasikan permintaan pengurus-pengurus NU di bawah perihal operasional metode ilhaqul masail bi nazhairiha dan taqrir jamai.

LBM PBNU melalui Komisi Maudhuiyah, kata Kiai Mahbub, tengah mengusulkan kepada pengurus harian PBNU untuk mengangkat metode ilhaqul masail bi nazhairiha dan taqrir jamai sebagai salah satu pembahasan bahtsul masail pada forum Munas Alim Ulama NU 2017 di Nusa Tenggara Barat.

LBM PBNU Komisi Maudhuiyah kini sedang mempersiapkan draf operasional metode ilhaq dan taqrir jamai. Komisi ini juga terus melakukan kajian intensif dan riset pustaka dalam rangka penguatan penyusunan draf ini.

“Kita tinggal menunggu persetujuan forum Syuriyah PBNU.” (Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG