IMG-LOGO
Tokoh

KH Abdul Adhim Cholil, Pejuang Islam Aswaja dari Sumenep

Senin 7 Agustus 2017 15:30 WIB
Bagikan:
KH Abdul Adhim Cholil, Pejuang Islam Aswaja dari Sumenep
KH Abdul Adhim Cholil Sumenep.
Sejarah sering bertindak tidak adil. Ia merekam jejak perjuangan orang-orang kota. Sejarah seperti enggan meliput perjuangan tokoh-tokoh pinggiran yang tinggal di daerah-daerah pedalaman. Buku sejarah mana yang mencatat kiprah para kiai yang berjuang di pulau-pulau terpencil dan terbelakang. Padahal, kita memiliki ribuan kiai kampung yang konsisten berjuang di leval paling bawah, menopang tegaknya IslamAhlus Sunnah Waljamaah.

Publik Islam misalnya tak banyak mengenal nama KH Abdul Adhim Cholil (1930-1992). Padahal, beliau memiliki jasa besar dalam bidang dakwah dan pendidikan Islam. Dia salah satu kiai yang gigih menyebarkan Islam rahmatan lil alamin hingga ke pulau-pulau terpencil di Sumenep Kepulauan Madura. Jangan tanya berapa lama dia duduk di sadel sepeda motor apalagi sofa mobil-mobil mewah. Tapi, tanyalah berapa lama dia duduk di pelana kuda. Berapa ratus kali ia mual karena terlalu lama berada di perahu untuk mengunjungi umat Islam yang tinggal di pulau-pulau terisolir. 

Jangan tanya juga, keuntungan finansial yang bisa dicapai seperti umumnya para muballigh sekarang. Alih-alih mendapat apresiasi dan penghormatan, dalam banyak peristiwa Kiai Abdul Adhim bahkan mendapat hinaan dan cacian. Namun, semua cacian beliau hadapi dengan kesabaran. Ia selalu teringat dawuh gurunya, KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, “jika tak mau repot, jangan berjuang. Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan”. Dawuh gurunya itulah yang terpatri dalam hatinya sehingga dia tak berputus asa ketika mendakwahkan Islam ke mana-mana. 

Mantan Ketua MUI Arjasa Kangean, KH A. Ghazali Ahmadi, sering menceritakan suka duka dakwah perjuangan Kiai Abdul Adhim saat itu. Alkisah, ketika berdakwah ke berbagai desa, Kiai Abdul Adhim kerap membawa bekal sendiri. Di tasnya, tersedia nasi putih lengkap dengan lauk pauk kesukaannya. Ini, menurut Kiai Ghazali, karena tak setiap masyarakat yang dikunjungi Kiai Abdul Adhim menyediakan makanan buat para pendakwah Islam yang datang. Turun dari kuda yang ditungganginya, Kiai Abdul Adhim mengikat kudanya sendiri dan memberinya makan, sehingga selesai ceramah dan hendak pulang, sang kuda sudah siap menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. 

Waktu terus berjalan. Hari berlalu, bulan bertukar, dan tahun pun berganti. Ghirah keislaman masyarakat kepulauan naik. Kecintaan mereka terhadap ilmu-ilmu keislaman mulai tumbuh. Semangat ingin belajar Islam lebih dalam menyebar. Sebagian masyarakat meminta agar Kiai Abdul Adhim segera mendirikan lembaga pendidikan. Pelan tapi pasti, Kiai Abdul Adhim pun merintis pendirian pesantren. Tepat pada tanggal 1 Januari 1967, persis di jantung kota Kecamatan Arjasa Kangean Sumenep, berdirilah Pondok Pesantren Al Hidayah. 

Masyarakat Kangean antusias menyambut kehadiran pesantren ini. Mereka datang bergotong royong membangun madrasah dan asrama pesantren. Ada yang menyumbang kayu, semen, bata, di samping tentu saja dana. Tak tanggung-tanggung, KH Syarfuddin Abdus Shomad (sahabat setia Kiai Abdul Adhim) menurunkan ratusan santri dan puluhan masyarakat binaannya untuk membantu pembangunan PP Al Hidayah. Tinggal di tempat yang sulit air, Kiai Syarfuddin mengerahkan para santrinya untuk mengirim air ke kediaman Kiai Abdul Adhim.

Dengan wadah-wadah kecil di pundak dan di kepala, santri-santri itu berjalan kaki menapaki pematang-pematang sawah, membawa air dalam jarak tempuh 2 km.Demikian setia Kiai Syarfuddin pada Kiai Abdul Adhim. Tak hanya air, Kiai Syarfuddin pun mengikhlaskan para santrinya sekiranya mereka mau melanjutkan ngaji pada Kiai Abdul Adhim. 

Dukungan masyarakat yang cukup besar menyebabkan PP Alhidayah bisa tumbuh dan berkembang pesat. Santrinya datang dari berbagai desa bahkan dari pulau-pulau terpencil yang dulu menjadi sasaran dakwah Kiai Abdul Adhim. Maka, di era kepemimpinan Kiai Abdul Adhim ini, berdirilah Madrasah Ibtida’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Bahkan, jumlah siswa madrasah di PP Al Hidayah ini tak kalah dengan jumlah siswa di sekolah-sekolah negeri yang sudah lebih dulu ada. Ini menunjukkan kepercayaan tinggi masyarakat pada Kiai Abdul Adhim sehingga mereka mempercayakan anaknya untuk dididik Kiai Abdul Adhim Cholil. 

Namun, seiring dengan makin bertambahnya ustadz-ustadz muda yang baru pulang mondok di Jawa, Kiai Abdul Adhim mulai mengurangi volume dakwahnya. Bukan hanya memberi kesempatan pada yang lebih belia, Kiai Abdul Adhim pun ikut mempromosikan tokoh-tokoh muda seperti KH Qasdussabil dan belakangan KH Ghazali Ahmadi. Majelis-majelis pengajian yang biasanya diisi Kiai Abdul Adhim didelegasikan ke Kiai Qasdussabil. Melaui tangan dingin Kiai Abdul Adhim, Kiai Qasdussabil yang memang alim itu mendapatkan panggung besar untuk berkiprah di masyarakat Kangean. 

Sambil menokohkan kiai-kiai muda, Kiai Abdul Adhim terus membenahi pesantrennya. Kiai Abdul Adhim mulai jarang pergi ke luar desa, karena waktunya sudah banyak dihabiskan untuk mengurus pembangunan pesantren, mengajarkan kitab kuning, membacakan sejumlah kitab fiqih ke para santri. Ia menjadi imam shalat sendiri buat para santrinya. Mendidik para santrinya untuk membiasakan shalat tahajjud. Beliau termasuk kiai yang mulazamah membaca wirid-wirid tertentu yang diijazahkan gurunya,yaitu Kiai Syamsul Arifin dan Kiai As’ad Syamsul Arifin, seperti  hizbul bahar, hizbun nashar, doa Sayyidina Ukasyah, dan lain-lain. 

Begitu besar jasa Kiai Abdul Adhim dalam “mengislamkan” masyarakat kepulauan Kangean Sumenep. Kini para santri tempaan Kiai Abdul Adhim sudah tersebar di mana-mana. Mengikuti jejak Kiai Abdul Adhim, tak jarang dari mereka yang menekuni dunia dakwah. Ada juga santri Kiai Abdul Adhim yang mendirikan madrasah dan pesantren terutama di desa-desa terpencil. Semoga pahala amal jariah ini senantiasa mengalir pada Almarhum KH Abdul Adhim Cholil. 

Akhirnya, kita hanya bisa mengenang jejak perjuangan Kiai Abdul Adhim, dan Allah SWT jualahyang akan membalas semua amal saleh beliau. Amin, ya mujibas sa’ilin.

Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan MUI Pusat, Dosen program Pascasarjana UNU Jakarta, dan Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tags:
Bagikan:
Senin 31 Juli 2017 19:30 WIB
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad, Ulama Sumenep yang Istiqomah di Jalur Kultural
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad, Ulama Sumenep yang Istiqomah di Jalur Kultural
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad.
Jika sebagian pengamat berkata bahwa mayoritas para kiai pesantren sudah terserap dalam dunia politik praktis, maka anggapan itu tak sepenuhnya benar. Beberapa bulan terakhir, saya lumayan rajin beranjangsana berjumpa dengan banyak kiai pesantren yang masih konsisten di jalur pendidikan. Mereka sibuk melakukan kerja-kerja sosial, mengedukasi masyarakat, tak terpesona dengan hiruk pikuk perebutan politik kekuasaan. Para kiai yang berjuang di jalur kultural, membimbing umat Islam, umat Nabi Muhammad SAW. 

Mari kita berkunjung ke pulau Madura. Dari Pelabuhan Kalianget Sumenep, kita bergerak ke timur. Dengan menaiki kapal laut selama tiga jam, maka kita akan tiba di gugusan pulau-pulau nan indah. Dari deretan pulau-pulau itu, Pulau Kangean adalah yang terbesar. Di tengah pulau itu ada seorang kiai sepuh. Usianya sudah mencapai 92 tahun. Di kelilingi ratusan santri. Sang kiai masih istiqomah menjadi imam shalat berjemaah lima waktu. Membimbing para santri membaca kitab-kitab Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Beliau adalah KH Syarfuddin Abdus Shomad, lahir pada 1925, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Huda Duko Lao’ Arjasa Kangean Sumenep Madura, Jawa Timur. Silsilahnya adalah Kiai Syarfuddin ibn Kiai Abdus Shomad ibn Kiai Daud ibn Kiai Damsyiah ibn Kiai Abdul Bari. Menurut Kiai Syarfuddin, Kiai Abdul Bari adalah murid Sunan Giri yang diutus untuk menyebarkan Islam hingga ke Pulau Kangean. 

Melanjutkan khittah perjuangan leluhurnya, Kiai Syarfuddin tak bosan membimbing masyarakat agar mereka mengerti pokok-pokok ajaran Islam. Hari-harinya penuh dengan aktivitas peribadatan, dari habis subuh hingga malam. Di samping mengerjakan yang wajib, beliau sangat rajin mengerjakan perkara-perkara sunnah. Bahkan, doa-doa di setiap basuhan dan usapan dalam wudhu’ seperti dianjurkan Imam Ghazali, beliau amalkan. 

Tak mudah menemukan sosok kiai seistiqomah Kiai Syarfuddin. Coba perhatikan aktivitas kesehariannya. Selesai shalat subuh, Kiai Syarfuddin memanjangkan wiridnya hingga matahari terbit di ufuk timur. Berlanjut dengan membaca kitab-kitab utama buat para santri seperti kitab Bidayatul Hidayah dan Fathul Qarib. Selesai melaksanakan shalat dhuha 8 rakaat, sang kiai mengajar di madrasah hingga menjelang shalat zuhur. 

Tidur qailulah sebentar, lalu menjadi imam shalat zuhur. Usai shalat, Kiai Syarfuddin memberi pengajian kitab yang lebih tinggi seperti kitab Mutammimah dan Ibnu Aqil. Usai menjadi imam shalat ashar, kembali ke madrasah hingga menjelang maghrib. Usai shalat maghrib, menerima setoran bacaan al-Qur’an para santri hingga Isya’. Usai shalat Isya’, menerima para tamu dari berbagai desa hingga larut malam. Habis Isya’, pada malam Selasa dan Jum’at, beliau membaca Kitab Kifayatul Atqiya’.

Sementara pada hari libur pesantren, seperti Hari Jum’at, waktu Kiai Syarfuddin sepenuhnya didedikasikan buat masyarakat. Menyelesaikan soal-soal kemasyarakatan, mulai dari kasus-kasus keluarga hingga kasus kriminal. Konflik-konflik keluarga bisa mudah ditangani karena kepercayaan tinggi masyarakat kepada beliau. Begitu juga, kasus kriminal seperti carok yang kerap terjadi bisa dilerai dan diselesaikan sehingga tak berujung pada kematian salah satu pihak. Pada hari-hari tertentu, beliau kerap terjun sendiri memimpin kerja gotong royong memperbaiki jalan yang rusak, menata bendungan perairan sawah yang jebol, dan lain-lain.

Begitulah hari-hari Kiai Syarfuddin yang dijalaninya selama puluhan tahun. Mencengangkan, beliau menjalani aktivitas pembelajaran dan kerja kemasyarakatan itu dalam keadaan berpuasa. Ia meneladani para orang tuanya yang berpuasa sepanjang masa. Ketika ditanya, “bukankah puasa dahr itu dilarang?”. Kiai Syarfuddin menjawab, “saya sebenarnya mengikuti puasa Nabi Daud. Bedanya, jika hari ini diniati berpuasa, maka besoknya sekalipun tidak makan dan minum tidak diniati berpuasa”. Beliau mengisahkan, “pernah dicoba beberapa kali, sehari berpuasa dan sehari berikutnya makan, maka justru jatuh sakit”. 

Sejak tahun 1973 sepulang dari menjalankan ibadah haji, Kiai Syarfuddin memilih tidak makan dan tidak minum di siang hari. Alias berpuasa sepanjang masa, kecuali pada hari-hari yang betul-betul diharamkan berpuasa seperti pada dua hari raya. Itu pun beliau hanya meminum segelas air mineral saja, sekedar membatalkan puasa. Walau aktivitas beliau bergerak sejak terbit matahari hingga larut malam, tak tampak guratan kelelahan di wajahnya. Padahal, di samping berpuasa, Kiai Syarfuddin adalah salah seorang kiai yang istiqomah qiyamul lail. Mungkin berkah puasa dan tahajud juga, beliau sangat jarang sakit.

Melihat kemampuan fisik Kiai Syarfuddin yang kuat itu membantu saya memahami stamina fisik Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang sangat prima. Jika disebut dalam sejarah bahwa Perang Badar berlangsung ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa, maka itu bukan mitos belaka. Jika dikisahkan bahwa Nabi SAW dan para Sahabatnya pernah melakukan perjalanan darat dari Madinah ke Tabuk (jarak seribu kilometer), maka itu bukan sesuatu yang mustahil. Keimanan yang kuat akan kebenaran ajaran Islam bisa menambah kekuatan dan stamina umat Islam dalam mendakwahkan ajaran Islam. Kiai Syarfuddin sudah membuktikan itu.

Belakangan memang tipe ulama seperti Kiai Syarfuddin ini sudah kian berkurang, yaitu ulama yang tak hanya cakap memberi mau’idah hasanah melainkan juga sanggup menjadi uswah hasanah. Di tengah usianya yang sudah sepuh ini, kita berdoa: semoga Kiai Syarfuddin selalu sehat wal afiat, panjang umur seperti ayahandanya dan para kakek buyutnya yang usianya bisa seratusan tahun lebih. Kita juga berharap akan tumbuhnya kiai-kiai istiqomah seperti Kiai Syarfuddin Abdus Shomad. Amin ya mujibas sa’ilin.

Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Dosen Program Pascasarjana UNU Jakarta, Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selasa 25 Juli 2017 12:48 WIB
Ajengan Haur Kuning dan Enam Wasiatnya
Ajengan Haur Kuning dan Enam Wasiatnya
Pendiri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning, KH Saefuddin Zuhri selalu menitipkan NU melalui pondok pesantren. Bagi dia, nilai-nilai Ahlussunnah wal-Jamaah NU tidak akan berdiri tegak secara benar, kecuali bersandar pada nilai-nilai pendidikan di pondok pesantren. 

Tak heran kemudian, sang ajengan itu mewasiatkan kepada anak-cucunya untuk menjalani pendidikan di pondok pesantren dan tidak boleh berhenti mengaji. 

Ajengan Saefuddin telah memberikan contoh ketika masa mudanya. Ia tergolong santri yang haus ilmu pengetahun dengan menjadi santri kelana. Ia pernah nyantri di Pesantren Cibeuti, Cilendek, Ciharashas, Bantar Gedang, Keresek, Sayuran, Sadang, Sagaranten, dan Sirnasari.  

Menurut salah seorang putranya, KH Busyrol Karim, Ajengan KH Saefuddin Zuhri mewasiatkan enam hal kepada anak cucu dan santri-santrinya. Wasiat itu disampaikannya saat pertemuan alumni pondok pesantren setahun sebelum ia meninggal. 

Pertama, wajib mempertahankan aqidah, syariah, akhlak Ahlussunah wal Jama'ah. 


Kedua, wajib shalat berjamaah awal waktu di masjid. 


Ketiga, ulah eureun ngaji (jangan berhenti mengaji, red).


Keempat, anak, incu (cucu) wajib dipasantrenkeun (menjalani pendidikan pondok pesantren) 


Kelima kudu jadi NU (harus menjadi NU). 


Keenam, hate ulah nyantel kana dunya, sing nyantel ka akherat (hati jangan tertaut pada urusan duniawi, tapi kepada urusan akhirat, red). 


Dalam catatan seorang santrinya, Husni Mubarok, di akhir hayatnya, Ajengan Saefuddin Zuhri juga menyampaikan pesan tentang pentingnya shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menyampaikan hal itu kepada para santri dan masyarakat sekitar yang turut mengaji ketika membahas kitab Nashoihud Diniyyah, Jumat 30 Agustus 2013.

Ajengan Saefuddin memberikan berpesan tentang pentingnya shalawat melalui syair dalam kitab Marqotul Mahabbah dan langsung diikuti oleh seluruh jamaah pengajian.

Inilah syairnya:

الاايهاالاخوان صلوا وسلم # على المصطفى فى كل وقت وساعة

He sakabeh dulur-dulur urang sing getol tadakur (wahai seluruh saudara, kalian harus rajin tadzakur)

Maca shalawat jeung salam ka Nabi nu langkung masyhur (membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad yang sangat masyhur)

فان صلاة الهاشمي محمد # تنجي من الاهوال يوم القيامة

Saenyana sholawat teh eta nu jadi wasilah (sesungguhnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad adalah jalan)

Salamet tina pakewuh riweuhna poe kiamah (selamat dari bencana pada hari kiamat)

Seusai pengajian, ajengan kemudian berjamaah Isya seperti biasanya. Kemudian ia shalat shunat ba’diyah. Namun, ketika bangun dari ruku’ menuju i’tidal, ia jatuh ke belakang tepat di pangkuan seorang santri. Ia sempat akan dibawa salah seorang dewan santri, tapi ketika keluar masjid menuju rumah, kiai ahli ilmu alat itu mengembuskan napas terakhirnya.

Kiai yang kala itu menjadi musytasyar PCNU Kabupaten Tasikmalaya pada subuh hari itu sempat mengumpulkan seluruh santri dan memberikan 3 amanat, yaitu sing pinter ngaji dua (harus pintar ngaji dan berdoa), sing alus akhlaq (harus berakhlak baik, dan ketiga, getol ibadahm (rajin beribadah).

Ajengan Saefuddin meninggalkan 4 putra dan 3 putri serta ribuan santri pada usia 75 tahun. Kini tampuk kepemimpinan pesantren dilanjutkan putra tertuanya, KH Busyrol Karim. (Abdullah Alawi)

Ahad 23 Juli 2017 17:3 WIB
KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an
KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an
Di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, masyhur dengan pondok pesantren penghafal Al-Qur’an. Nama-nama pondok Al-Muayyad, Al-Qur’aniyy, begitu tersohor hingga ke luar daerah. Bila waktu subuh maupun maghrib, dari pondok tersebut, sering pula kita dengarkan lantunan syahdu para santri yang tengah mendaras Kalamullah. Belum lagi ditambah para ustaz serta ustazah di langgar maupun masjid, yang selalu setia menemani para santri mengaji Kitab Suci.

Di daerah penghasil batik itu, terdapat sejumlah tokoh ulama ahlul-Qur’an. Siapa yang tidak kenal KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan, KH Ahmad Musthofa (Mbah Daris), KH Ahmad Asy’ari, KH Asfari (Mbah Bei), dan masih banyak lagi nama yang kiranya dapat disebutkan.

Termasuk di dalamnya, yakni KH Muhammad Tolhah bin Sulaiman, seorang ulama Ahlul-Qur’an yang tinggal di daerah Tegalsari, Kelurahan Bumi, Laweyan. Pribadi yang memiliki sifat lemah lembut ini dikenang sebagai sosok yang rendah hati.

“Beliau Bicaranya halus, tidak pernah ingin jadi yang di depan,” kenang Ketua Yayasan Ta’mirul Masjid Tegalsari, KH Idris Shofawi, saat ditemui As-Shofwah di kediamannya, belum lama ini (16/5).

Kiai Idris juga masih ingat pesan singkat yang diberikan KH Muhammad Sulaiman, kala dirinya hendak pergi haji, tahun 1991 silam. “Dadiya lemah, lemah diidak meneng tapi akeh manfaate (Jadilah seperti tanah, yang diam meski selalu diinjak, di sisi lain memiliki banyak manfaat,-red.)

Produktif Menulis
Di sela-sela kesibukannya mengajar, KH Muhammad Sulaiman juga produktif dalam menghasilkan karya tulisan. Salah satu yang cukup populer yakni kitab tafsir al-Quran berbahasa Arab : Jami’ul Bayaan. Sebuah ringkasan dari berbagai kitab tafsir, yang konon populer dan dicetak hingga ke luar negeri.

Selain kitab tafsir tersebut, Mbah Muhammad yang pernah berguru kepada KH Dimyathi Tremas, KHR Munawwir Krapyak, dan lainnya itu menulis beberapa buku antara lain : Khulasoh Min Shuwaril Qur’an (1992), Asmaul Husna dan Syarahnya (1991), Bukti Al-Quran Sebagai Wahyu (1989).

Ia juga memiliki jadwal rutin mengajar di Masjid Tegalsari, yakni pengajian Tafsir Jalalain (Selasa pagi) serta Shahih Bukhari, di serambi masjid. Sepeninggalnya, rutinan ini dilanjutkan KH Naharussurur, kemudian estafet berpindah sampai ke KH Abdul Halim Naharussur yang berjalan hingga sekarang.

Begitulah, sosok kiai panutan umat ini, tutup usia pada Sabtu Pon 28 Shofar 1412 H atau bertepatan dengan 7 September 1991 pukul 13.30 WIB di RS Kasih Ibu. Jenazahnya dikebumikan keesokan harinya, di Makam Pulo Laweyan, berdekatan dengan makam KH Ahmad Shofawi. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG