IMG-LOGO
Pesantren

Naik Mobil Golf Nuris, Presiden Jokowi Letakkan Batu Pertama Asrama Putri

Senin 14 Agustus 2017 11:3 WIB
Bagikan:
Naik Mobil Golf Nuris, Presiden Jokowi Letakkan Batu Pertama Asrama Putri
Jember, NU Online
Presiden Joko Widodo meletakkan batu pertama pembangunan asrama putri di Pesantrren Nurul  Islam (Nuris), Kelurahan Antirogo, Kecamatan Subersari, Jember, Sabtu (1/8). Peletakan batu pertama ini merupakan acara yang kedua Presiden Jokowi dalam  kenjungannya di Pesantren Nuris.

Begitu turun dari mobil kepresidenan, Jokowi langsung menuju ruang dalam kediaman pengasuh, KH Muhyiddin Abdusshomad. Di situ sudah menunggu puluhan kiai yang ingin menyampaikan aspirasi soal Full Day School (FDS).

Setelah itu, Jokowi menuju lokasi peletakan  batu pertama dengan naik mobil golf buatan anak-anak SMK Nuris, didampingi KH Muhyiddin dan Bupati Jember Faida.

Yang menarik, Kiai Muhyiddin memberi nama asrama putri itu sama dengan nama ibunda Presiden Jokowi, yaitu Hj Sujiatmi Notomiharjo.

"Kami berterima kasih diperkenankan memberi nama asrama putri Pesantren Nurul Islam dengan nama Ibunda presiden tercinta, Hj Sujiatmi Notomiharjo. Ia adalah perempuan salehah yang sukses mengantar putranya dari rakyat biasa bisa menjadi presiden," ucapnya di Masjid Baitunnur.

Di masjid ini, Jokowi bertemu dengan ribuan santri Nuris. Di situ ia memberikan tiga sepeda gunung bagi santri yang bisa menjawab pertanyaannya seputar pluralitas dan keragaman budaya bangsa. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Bagikan:
Senin 14 Agustus 2017 7:5 WIB
Santri Pesantren Zaha Genggong Raih Juara Santri Entrepreneur
Santri Pesantren Zaha Genggong Raih Juara Santri Entrepreneur
Probolinggo, NU Online
Santri Pondok Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan, Hairul Hakiki sukses meraih juara 1 dalam even Santri Entrepreneur tahun 2017 yang digelar oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo. Dalam lomba ini, Hairul menampilkan produk furniture dari tong bekas.

Juara 2 diraih oleh Ibnu Awal dari Pesantren Darul Mukhlasin Kecamatan Tegalsiwalan dengan produk batik tulis. Juara 3 diraih Icromatul Wardani dari Pesantren Syekh Abdul Qodir Al-Jailani Kecamatan Kraksaan dengan produk benda bekas menjadi benda berharga.

Para pemenang ini mendapatkan hadiah berupa trofi, piagam penghargaan dan uang pembinaan yang diserahkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Probolinggo H Asy’ari dalam seminar koperasi di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Kamis (10/8) siang.

Selain dihadiri oleh para pengasuh pesantren dan santri, kegiatan ini juga dihadiri oleh ratusan pelaku gerakan koperasi di Kabupaten Probolinggo. Mereka berkumpul untuk mengikuti seminar yang dihadiri narasumber Penasehat Dekopin Wilayah Jawa Timur Slamet Sutanto.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono mengatakan, kegiatan digelar dalam rangka untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakat. Kegiatan ini melibatkan para santri dari pesantren di Probolinggo.

“Kegiatan santri enterpreneur ini merupakan salah satu upaya dalam menunjukkan eksistensi pesantren di Probolinggo, terutama di bidang kewirausahaan (entrepreneurship),” katanya.

Sementara H Asy’ari berharap agar kegiatan santri enterpreneur ini bisa terus meningkatkan semangat generasi muda dalam upaya menumbuhkan inovasi dan prestasi di kalangan pesantren di Probolinggo.

“Kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk memberikan bekal keterampilan supaya nantinya santri memiliki jiwa wirausaha. Hal ini dibutuhkan supaya santri tidak hanya bisa akademik saja tetapi juga diajarkan bagaimana berusaha mengembangkan kreativitasnya sehingga setelah keluar dari pesantren memiliki jiwa untuk berusaha,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Rabu 9 Agustus 2017 20:45 WIB
12 Pastor Manca Negara Kunjungi Pesantren Tebuireng
12 Pastor Manca Negara Kunjungi Pesantren Tebuireng

Jombang, NU Online
Sejumlah pastor Serikat Jesuit yang berasal dari beberapa negara berkunjung ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu (9/8). Kunjungan tersebut merupakan rangkaian acara pertemuan rutin pastor yang tergabung dalam Jesuits Among Muslims (JAM) yang tahun ini digelar di Indonesia.

Dalam kunjungannya ke pesantren yang dipimpin KH Salahudin Wahid itu, Delegasi berjumlah 12 orang pastor yang dipimpin Romo Franz Magnis-Suseno SJ tersebut menyempatkan diri berziarah ke makam Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 

Dalam dialog yang berlangsung akrab dan dibalut nuansa kekeluargaan, anggota delegasi yang berasal dari Jerman, Perancis, Nigeria, Turki, India, Spanyol dan Roma itu menanyakan banyak hal tentang Islam dan pesantren.

"Salah satu pastor dari Jerman bahkan bertanya, apakah seorang nonmuslim bisa diterima belajar di pesantren," tutur Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng KH Abdul Ghofar di Dalem Kasepuhan Tebuireng.

Mereka juga melontarkan pertanyaan terkait pola rekrutmen santri dan keberadaan santri perempuan. "Apakah di Pesantren Tebuireng juga ada santri perempuan dan bagaimana pola relasi keseharian mereka dengan santri putra," imbuh Gus Ghofar menirukan pertanyan pastur asal Nigeria.

Yang tidak kalah menarik, dalam kesempatan tersebut, Romo Ignatius Ismartono SJ, salah satu anggota delegasi, menanyakan tingginya selera humor kaum santri dan warga Nahdlatul Ulama.

"Apakah di pesantren ada kurikulum atau faktor khusus yang membuat selera humor santri sedemikian tinggi?" tanya pria kelahiran Yogyakarta itu.

Pertanyaan itu tentu saja mengundang tawa seluruh peserta dialog. Bukannya mendapat jawaban serius, pertanyaan Romo Ismartono justru memancing peserta dialog berbagi kisah humor yang banyak diceritakan oleh Gus Dur semasa hidupnya.

Sebelum meninggalkan Pesantren Tebuireng, para pastor itu sempat berkeliling di kawasan makam Gus Dur dan makam KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan pahlawan nasional. Paa pastor juga melihat langsung salah satu kamar santri dan berdialog dengan salah satu pembina santri.

Tampak ikut dalam rombongan tersebut, Romo Gregorius Sutomo SJ (seorang pastor yang berhasil menyelesaikan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Wakil Rektor II Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Muhsin Kasmin dan beberapa mudir di lingkungan Pesantren Tebuireng.(Muslim Abdurrahman).

Kamis 3 Agustus 2017 20:0 WIB
Pesantren Mamba’us Sholihin Bintan Berdiri Berkat Semangat Alumni
Pesantren Mamba’us Sholihin Bintan Berdiri Berkat Semangat Alumni
Berkat inisiatif dan semangat para alumni Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin Gresik yang tinggal di Batam Bintan Kepulauan Riau, pada tahun 2013 dirintislah Pesantren Mamba’us Solihin Bintan. Saat itu ada sekitar 20 orang dari Himpunan Alumni Mamba’us Sholihin (HIMAM) yang punya keinginan kuat untuk mendirikan sebuah pondok pesantren.
 
Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin Bintan terletak di Kampung Bugis, Tanjung Uban Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Menempati lahan seluas 3,5 hektar, lokasinya berada sekitar 1 kilometer dari pusat kota Tanjung Uban, Bintan Utara. Pondok Pesantren tersebut menjadi cabang ketujuh dari Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin Pusat yang berada di Kota Gresik Jawa Timur yang diasuh oleh KH Masbuhin Faqih.

Memadukan beberapa aspek keilmuan, yaitu penguasaan bahasa asing (Bahasa Arab  dan Inggris), kutub at-turats (kajian kitab kuning), dan tartil Al-Qur’an, Pesantren Mamba’us Sholihin Bintan mempunyai motto Alim, Shalih dan Kafi.

Artinya adalah bahwa, santri-santri yang lulus dari pesantren diharapkan menjadi orang yang alim di bidang agama, taat beribadah, serta serba bisa di segala bidang untuk menjawab tuntutan perekembangan zaman.

Para pengasuh Pondok Pesantren Mamba’us Solihin Bintan percaya bahwa pesantren adalah benteng pembangunan akhlak dan pusat pendidikan karakter bangsa. Bagi pesantren, pembangunan akhlak santri di atas segala-galanya. Variabel terbesar keberhasilan pendidikan di pesantren adalah akhlak. Kerananya pola pembinaan selama 24 jam diterapkan di pesantren tersebut.

Dalam aktivitas sehari-hari, para santri dididik, dibimbing dan ditempa mulai dari bangun tidur untuk shalat tahajud, shalat shubuh dan dzikir berjamaah. Selain itu juga dilakukan kursus penguatan bahasa, shalat dhuha, sekolah formal, sekolah diniyyah dan mengaji dengan pengasuh pondok.

Berkiblat kepada pondok pesantren pusat sebagai pondok bahasa, di pondok pesantren ini para santriwan dan santriwati juga dibimbing serta diwajibkan untuk menggunakan Bahasa Arab dan Inggris  dalam percakapan sehari-hari.

Di bidang keahlian, santri-santri juga dibekali dengan keterampilan berpidato, kesenian hadhrah, kaligrafi, dan komputer.

Saat ini, Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin Bintan diasuh oleh Kiai Ahmad Nukhan. Ponpes Mamba’us Sholihin membatasi hanya menerima santri setingkat SMP dan wajib tinggal di asrama (pondok). Tahun ajaran baru ini, terjadi peningkatan jumlah santri sekitar 200 persen dari tahun sebelumnya.

Sejak perkembangannya hingga saat ini, banyak para alim, shalih, juga habaib dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri yang menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin. Kedatangan mereka untuk memberikan dukungan dan doa restu. 

Hal ini memperkuat terwujudnya harapan  bahwa Ponpes Mamba’us Sholihin Bintan menjadi berkah, benteng Islam ahlus sunnah wal jama'ah as-sufiyah al-maturidiyah annahdliyah di tanah Melayu dan daerah perbatasan. (Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG