IMG-LOGO
Trending Now:
Tokoh

Kiai Maja, Ahli Strategi dan Perang Gerilya dari Pesantren

Sabtu 19 Agustus 2017 14:21 WIB
Bagikan:
Kiai Maja, Ahli Strategi dan Perang Gerilya dari Pesantren
Kiai Maja lahir pada tahun 1792 (ada pula yang menyebut 1782) di Desa Mojo, Pajang, dekat Delanggu, Surakarta, dengan nama Bagus Khalifah. Ayahnya, Iman Abdul Ngarif, adalah seorang ulama terkenal yang dianugerahi tanah perdikan di Desa Baderan dan Mojo, Pajang. Ibunya, Raden Ayu Mursilah, adalah adik perempuan Sultan Hamengku Buwono III dan masih bersaudara sepupu dengan Pangeran Diponegoro. Kiai Maja kemudian mewarisi kedua desa perdikan tersebut dari ayahnya, termasuk pesantren, sehingga kemudian dikenal dengan nama salah satu desa ini.

Kiai Maja tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar pesantren dan komunitas santri yang sangat disegani di Kraton Surakarta maupun Yogyakarta. Banyak putra-putri bangsawan Solo yang nyantri di pesantrennya. Kiai Maja juga menikah dengan Raden Ayu Mangkubumi, istri dari Pangeran Mangkubumi, paman Diponegoro, yang sudah diceraikan. 

Ketika Perang Jawa berkecamuk, beliau mendukung sepenuhnya, termasuk memobilisasi para sanak keluarga dan sebagian besar pengikutnya di Pajang. Kontribusi Kiai Maja dalam peperangan sangatlah besar. Seorang mata-mata berkulit Jawa dikirim khusus oleh Belanda untuk mengetahui rahasia kesuksesan pasukan Diponegoro dalam beberpa pertempuran. Temuan mata-mata Kompeni yang menyusup ke dalam pasukan Diponegoro itu sangatlah mengejutkan: rahasia kekuatan Diponegoro ada pada diri seorang kiai pesantren bernama Kiai Maja, pemikir stategis dan jenderal perang gerilya Diponegoro -- yang selevel Napoleon, Mao Tse Tung dan Che Guevara.

Selama hidupnya Kiai Maja dikenal sebagai seorang ulama yang mobilitasnya sangat tinggi. Mengikuti tradisi santri kelana, Kiai Maja punya banyak relasi dan jaringan dengan pusat-pusat keagamaan dan politik di Jawa hingga ke Bali. Beliau pernah menjadi penghubung antara Kraton Surakarta dan Kerajaan Buleleng di Bali. Jaringan orang-orang pesantren dengan Bali, meski berbeda agama dan kepercayaan, sudah terbangun sejak abad 18. Dibuktikan dari adanya ikatan politik dan kebudayaan di antara mereka, misalnya perlindungan bagi kalangan santri yang lari ke Bali untuk menghindari penangkapan Kompeni hingga pemberian kebebasan beragama bagi komunitas-komunitas Muslim di pesisir utara Bali. 

Saking gerahnya pemerintah kolonial Inggris, penguasa Jawa saat itu, Kiai Maja sempat ditangkap pada Juli 1812. Pembatasan kemudian diberlakukan kepada orang-orang pesantren yang sebelumnya bisa leluasa keluar-masuk kraton. Mobilitas Kiai Maja dan jejaringnya ini, yang tidak dimiliki Diponegoro, kemudian menjadi obyek penjinakan Belanda untuk mematahkan perlawanan orang-orang Jawa.

Berkat kelicikan Belanda, pada tahun 12 November 1828 Kiai Maja ditangkap di Desa Kembang Arum, utara Yogyakarta. Ini menandai titik balik perjuangan Diponegoro, sampai akhirnya redup pada 1830. Pasukan Kiai Maja lalu digiring ke Klaten, sambil menyanyikan bersama-sama lagu-lagu keagamaan yang menunjukkan tanda kemenangan. Mereka lalu dibawa ke Batavia, ditahan hingga setahun lamanya. 

Di awal 1830, Kiai Maja bersama lebih dari 60 orang pendampingnya dibuang ke Minahasa. Isteri beliau menyusul setahun kemudian. Kebanyakan pendampingnya itu punya posisi strategis dalam bidang kemiliteran dan keagamaan dalam pasukan Diponegoro, dari gelar tumenggung, dipati, basah hingga kiai. Mereka tiba di Tondano dan mendirikan Kampung Jawa, yang hingga kini masih bertahan dengan tradisi Ahlussunnah wal-Jma’ahnya. Dari sumber-sumber terkini, Kiai Maja disebut sebagai “Mbah Guru”atau “Kiai Guru”. Sang kiai wafat pada 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun.

Pandangan nasionalismenya, “Amrih mashlahate kawulanίng Allah sedaya sarta amrίh karaharjane negari lestarίne agamί Islam” (Berjuang untuk kepentingan kemaslahatan para hamba Allah semua, untuk kesejahteraan negeri, serta untuk kepentingan kelestarian agama Islam), adalah salah satu warisan penting Kiai Maja selaku ideolog Perang Diponegoro kepada generasi berikut bangsa ini. 

Teks ini tercantum dalam satu manuskrip yang tersimpan pada keluarga Kiai Maja di Jakarta. Manuskrip berbahasa Jawa huruf pegon ini ditulis oleh Kiai Maja sendiri selama pembuangannya di Tondano, Minahasa, sekitar awal tahun 1833.

Allah yarhamhu......

Buku De java Oorlog ini menghimpun laporan gerilya dan surat gerilya Kiai Mojo. Tapi sayang surat-surat perang gerilya dan adu strategi Kiai Maja ini dalam Perang Diponegoro sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.. bukan lagi dalam versi aslinya dalam bahasa Jawa... Jadi kaum santri harus juga belajar bahasa Belanda untuk ngerti buku panduan perang gerilya arahan kiai hebat Jenderal Kiai Maja melawan penjajah --- hingga kini.... (Ahmad Baso)

Bagikan:
Selasa 8 Agustus 2017 12:2 WIB
Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang
Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang
Foto: Ilustrasi
Oleh Nur Ahmad
Martin van Bruinessen menyebutkan bahwa di kalangan para kiai muda sezamannya, Kiai Soleh Darat Semarang (1830-1903 M) terkenal dengan julukan Al-Ghazālī As-Ṣhagīr (Imam Al-Ghazzali Kecil), (Lihat Bruinessen, “Saleh Darat,” dalam Dictionnaire Biographique Des Savants et Grandes Figures Du Monde Musulman Périphérique, Du XIXe Siècle À Nos Jours, ed. Marc Gaborieau et al., vol. 2 (Paris: CNRS-EHESS 1998: 25-26.) Menurut penulis, yang telah meneliti karya-karyanya untuk studi skripsi dan tesis, hal ini adalah “wajar” baginya. Sebagaimana telah dilakukan Imam Al-Ghazali (w 505 H), Kiai Soleh menekankan aspek ketunggalan yang tak terpisahkan antara syariah dan tarekat di dalam menjalankan Islam.

Selain itu, Imam Al-Ghazali selalu menjadi rujukan utama dalam seluruh karya Pegon Kiai Soleh. Lalu, faktor-faktor apa yang melahirkan ide penyatuan antara dimensi syariah (ritual) dan tarekat (mistik)?

Kiai Soleh mengindikasikan bahwa ia menyadari debat yang terjadi antara kiai ahli syariah dan ahli tarekat di masanya. (Soleh As-Samarani, Sabīl Al-‘Abīd: 210)  Di sana terlihat jelas ia berusaha kuat mencegah orang-orang di zamannya yang secara berlebihan mencerca (condemn) para penganut tarekat. (Soleh As-Samarani, Minhājul Atqiyā’: 210). Meskipun begitu tidak ada catatan bahwa ia dibaiat (initiated) dalam salah satu tarekat. Bahkan walaupun jika secara lahirnya seorang guru tarekat itu bodoh hal-hal fikih, dalam hal mengajarkan praktik tarekat mereka mendapat legitimasi kuat karena telah menerima ajaran tersebut dari guru ke guru bersambung hingga Rasulullah SAW. Posisi ini berbeda dari koleganya di Mekkah, Kiai Nawawi Banten, yang digambarkan oleh salah satu disertasi dengan sikap netralnya terhadap organisasi tarekat. (Sri Mulyati, 1992: 38).

Faktor lain yang mendorong lahirnya sikap harmonisasi syariah-tarekat adalah usahanya untuk melindungi masyarakat awam dari kesesatan ajaran dari sebagian komunitas Jawa yang mengabaikan ajaran syariah dan mempelajari tarekat semata. Dalam konteks inilah kita membaca larangan Kiai Soleh terhadap masyarakat awam membaca suluk-suluk yang disusun oleh ahli tarekat-mistik Jawa, terutama yang mengajarkan untuk meninggalkan sembahyang wajib lima waktu. (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27). Ajaran ini juga dikhawatirkan Kiai Soleh mengantarkan seseorang memercayai bahwa jiwa mereka adalah Tuhan itu sendiri, salah satu pemahaman yang dinilai keliru dari waḥdatul wujūd. (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 26).

Oleh sebab itu, beliau menilai penting sekali menjauhkan masyarakat awam dari mengkaji kitab-kitab waḥdatul wujūd, misalnya Tuḥfatul Mursālah and Al-Insānul Kamīl.  (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27). Tampaknya hal ini bukan karena isinya, karena ia tidak membicarakan konten, tapi dampaknya terhadap orang-orang awam. Dalam konteks ini ia berfatwa bahwa mencuri dan berzina jauh lebih baik daripada mengkaji yang diperuntukkan bagi para elit (khawwāṣ) (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27) . Jika para awam keliru dalam memahami kitab-kitab itu, maka mereka bisa tersesat jauh di mana mereka yakin menuju yang kebenaran. Kerusakan akal! Sedangkan jika mereka terjerumus ke perzinahan atau pencurian, kekeliruan itu terjadi adalah di ranah kerusakan moral.

Faktor paling penting dari lahirnya tendensi ini adalah sederhana. Hakikat Islam itu mencakup bagian kulit (exterior) dan bagian dalam (interior). Bagian terdalam dari yang terdalam ini adalah haqīqah. Seluruhnya tidak dapat dipisahkan. Bagi Kiai Soleh mereka diibaratkan seperti perahu, lautan, dan mutiara yang menjadi simbol bagi hubungan antara Islām, Īmān and Iḥsān.   (Soleh As-Samarani, Minhājul Atqiyā’: 43-45).

Konsep ini meniscayakan tingkatan makna dalam setiap ritual ibadah. Ambil sebagai contoh ajaran beliau tentang sembahyang. Selagi mendukung pentingnya aturan-aturan praktikal dalam shalat, Kiai Soleh menekankan agar orang yang shalat (mushalli) merefleksikan dirinya dalam setiap gerakan shalat. Soleh as-Samarani, Faṣālatan (Singapore: Matba’ Haji Muhammad Amin, 1897). Lebih lanjut beliau mengajarkan bahwa sangat penting seseorang sebelum shalat berwudhu untuk mensucikan “kotoran” badan dan batin. (Soleh As-Samarani, Laṭā’if al-Ṭahārah wa Asrār al-Ṣalāh dan Faṣālatan: 2).

Simpulannya adalah Kiai Soleh benar-benar sadar akan kondisi masyarakat awam di masa itu yang membutuhkan “ortodoksi” dalam melaksanakan ibadah. Ortodoksi ini bukan seperti yang dikesankan oleh sebagian peneliti muda bahwa ia dipengaruhi oleh Wahhabisme, tetapi ia dimotivasi oleh keterikatan erat dirinya dengan ajaran-ajaran Imam Al-Ghazali.

Ditambah lagi, ia juga didorong oleh kenyataan ajaran-ajaran yang menyimpang dari sebagian komunitas Jawa dalam memahami waḥdatul wujūd, yaitu dengan memutus tali rantai Islām, Īmān and Iḥsān. Kiai Soleh menekankan kembali bahwa ketiganya tidak terpisahkan satu sama lain.


*) Wakil Sekretaris PCINU Belanda. Kini ia tengah mengejar master di Vrije University Amsterdam dengan tesis Ajaran Tasawuf Kiai Soleh Darat.

Senin 7 Agustus 2017 15:30 WIB
KH Abdul Adhim Cholil, Pejuang Islam Aswaja dari Sumenep
KH Abdul Adhim Cholil, Pejuang Islam Aswaja dari Sumenep
KH Abdul Adhim Cholil Sumenep.
Sejarah sering bertindak tidak adil. Ia merekam jejak perjuangan orang-orang kota. Sejarah seperti enggan meliput perjuangan tokoh-tokoh pinggiran yang tinggal di daerah-daerah pedalaman. Buku sejarah mana yang mencatat kiprah para kiai yang berjuang di pulau-pulau terpencil dan terbelakang. Padahal, kita memiliki ribuan kiai kampung yang konsisten berjuang di leval paling bawah, menopang tegaknya IslamAhlus Sunnah Waljamaah.

Publik Islam misalnya tak banyak mengenal nama KH Abdul Adhim Cholil (1930-1992). Padahal, beliau memiliki jasa besar dalam bidang dakwah dan pendidikan Islam. Dia salah satu kiai yang gigih menyebarkan Islam rahmatan lil alamin hingga ke pulau-pulau terpencil di Sumenep Kepulauan Madura. Jangan tanya berapa lama dia duduk di sadel sepeda motor apalagi sofa mobil-mobil mewah. Tapi, tanyalah berapa lama dia duduk di pelana kuda. Berapa ratus kali ia mual karena terlalu lama berada di perahu untuk mengunjungi umat Islam yang tinggal di pulau-pulau terisolir. 

Jangan tanya juga, keuntungan finansial yang bisa dicapai seperti umumnya para muballigh sekarang. Alih-alih mendapat apresiasi dan penghormatan, dalam banyak peristiwa Kiai Abdul Adhim bahkan mendapat hinaan dan cacian. Namun, semua cacian beliau hadapi dengan kesabaran. Ia selalu teringat dawuh gurunya, KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, “jika tak mau repot, jangan berjuang. Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan”. Dawuh gurunya itulah yang terpatri dalam hatinya sehingga dia tak berputus asa ketika mendakwahkan Islam ke mana-mana. 

Mantan Ketua MUI Arjasa Kangean, KH A. Ghazali Ahmadi, sering menceritakan suka duka dakwah perjuangan Kiai Abdul Adhim saat itu. Alkisah, ketika berdakwah ke berbagai desa, Kiai Abdul Adhim kerap membawa bekal sendiri. Di tasnya, tersedia nasi putih lengkap dengan lauk pauk kesukaannya. Ini, menurut Kiai Ghazali, karena tak setiap masyarakat yang dikunjungi Kiai Abdul Adhim menyediakan makanan buat para pendakwah Islam yang datang. Turun dari kuda yang ditungganginya, Kiai Abdul Adhim mengikat kudanya sendiri dan memberinya makan, sehingga selesai ceramah dan hendak pulang, sang kuda sudah siap menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. 

Waktu terus berjalan. Hari berlalu, bulan bertukar, dan tahun pun berganti. Ghirah keislaman masyarakat kepulauan naik. Kecintaan mereka terhadap ilmu-ilmu keislaman mulai tumbuh. Semangat ingin belajar Islam lebih dalam menyebar. Sebagian masyarakat meminta agar Kiai Abdul Adhim segera mendirikan lembaga pendidikan. Pelan tapi pasti, Kiai Abdul Adhim pun merintis pendirian pesantren. Tepat pada tanggal 1 Januari 1967, persis di jantung kota Kecamatan Arjasa Kangean Sumenep, berdirilah Pondok Pesantren Al Hidayah. 

Masyarakat Kangean antusias menyambut kehadiran pesantren ini. Mereka datang bergotong royong membangun madrasah dan asrama pesantren. Ada yang menyumbang kayu, semen, bata, di samping tentu saja dana. Tak tanggung-tanggung, KH Syarfuddin Abdus Shomad (sahabat setia Kiai Abdul Adhim) menurunkan ratusan santri dan puluhan masyarakat binaannya untuk membantu pembangunan PP Al Hidayah. Tinggal di tempat yang sulit air, Kiai Syarfuddin mengerahkan para santrinya untuk mengirim air ke kediaman Kiai Abdul Adhim.

Dengan wadah-wadah kecil di pundak dan di kepala, santri-santri itu berjalan kaki menapaki pematang-pematang sawah, membawa air dalam jarak tempuh 2 km.Demikian setia Kiai Syarfuddin pada Kiai Abdul Adhim. Tak hanya air, Kiai Syarfuddin pun mengikhlaskan para santrinya sekiranya mereka mau melanjutkan ngaji pada Kiai Abdul Adhim. 

Dukungan masyarakat yang cukup besar menyebabkan PP Alhidayah bisa tumbuh dan berkembang pesat. Santrinya datang dari berbagai desa bahkan dari pulau-pulau terpencil yang dulu menjadi sasaran dakwah Kiai Abdul Adhim. Maka, di era kepemimpinan Kiai Abdul Adhim ini, berdirilah Madrasah Ibtida’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Bahkan, jumlah siswa madrasah di PP Al Hidayah ini tak kalah dengan jumlah siswa di sekolah-sekolah negeri yang sudah lebih dulu ada. Ini menunjukkan kepercayaan tinggi masyarakat pada Kiai Abdul Adhim sehingga mereka mempercayakan anaknya untuk dididik Kiai Abdul Adhim Cholil. 

Namun, seiring dengan makin bertambahnya ustadz-ustadz muda yang baru pulang mondok di Jawa, Kiai Abdul Adhim mulai mengurangi volume dakwahnya. Bukan hanya memberi kesempatan pada yang lebih belia, Kiai Abdul Adhim pun ikut mempromosikan tokoh-tokoh muda seperti KH Qasdussabil dan belakangan KH Ghazali Ahmadi. Majelis-majelis pengajian yang biasanya diisi Kiai Abdul Adhim didelegasikan ke Kiai Qasdussabil. Melaui tangan dingin Kiai Abdul Adhim, Kiai Qasdussabil yang memang alim itu mendapatkan panggung besar untuk berkiprah di masyarakat Kangean. 

Sambil menokohkan kiai-kiai muda, Kiai Abdul Adhim terus membenahi pesantrennya. Kiai Abdul Adhim mulai jarang pergi ke luar desa, karena waktunya sudah banyak dihabiskan untuk mengurus pembangunan pesantren, mengajarkan kitab kuning, membacakan sejumlah kitab fiqih ke para santri. Ia menjadi imam shalat sendiri buat para santrinya. Mendidik para santrinya untuk membiasakan shalat tahajjud. Beliau termasuk kiai yang mulazamah membaca wirid-wirid tertentu yang diijazahkan gurunya,yaitu Kiai Syamsul Arifin dan Kiai As’ad Syamsul Arifin, seperti  hizbul bahar, hizbun nashar, doa Sayyidina Ukasyah, dan lain-lain. 

Begitu besar jasa Kiai Abdul Adhim dalam “mengislamkan” masyarakat kepulauan Kangean Sumenep. Kini para santri tempaan Kiai Abdul Adhim sudah tersebar di mana-mana. Mengikuti jejak Kiai Abdul Adhim, tak jarang dari mereka yang menekuni dunia dakwah. Ada juga santri Kiai Abdul Adhim yang mendirikan madrasah dan pesantren terutama di desa-desa terpencil. Semoga pahala amal jariah ini senantiasa mengalir pada Almarhum KH Abdul Adhim Cholil. 

Akhirnya, kita hanya bisa mengenang jejak perjuangan Kiai Abdul Adhim, dan Allah SWT jualahyang akan membalas semua amal saleh beliau. Amin, ya mujibas sa’ilin.

Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan MUI Pusat, Dosen program Pascasarjana UNU Jakarta, dan Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Senin 31 Juli 2017 19:30 WIB
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad, Ulama Sumenep yang Istiqomah di Jalur Kultural
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad, Ulama Sumenep yang Istiqomah di Jalur Kultural
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad.
Jika sebagian pengamat berkata bahwa mayoritas para kiai pesantren sudah terserap dalam dunia politik praktis, maka anggapan itu tak sepenuhnya benar. Beberapa bulan terakhir, saya lumayan rajin beranjangsana berjumpa dengan banyak kiai pesantren yang masih konsisten di jalur pendidikan. Mereka sibuk melakukan kerja-kerja sosial, mengedukasi masyarakat, tak terpesona dengan hiruk pikuk perebutan politik kekuasaan. Para kiai yang berjuang di jalur kultural, membimbing umat Islam, umat Nabi Muhammad SAW. 

Mari kita berkunjung ke pulau Madura. Dari Pelabuhan Kalianget Sumenep, kita bergerak ke timur. Dengan menaiki kapal laut selama tiga jam, maka kita akan tiba di gugusan pulau-pulau nan indah. Dari deretan pulau-pulau itu, Pulau Kangean adalah yang terbesar. Di tengah pulau itu ada seorang kiai sepuh. Usianya sudah mencapai 92 tahun. Di kelilingi ratusan santri. Sang kiai masih istiqomah menjadi imam shalat berjemaah lima waktu. Membimbing para santri membaca kitab-kitab Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Beliau adalah KH Syarfuddin Abdus Shomad, lahir pada 1925, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Huda Duko Lao’ Arjasa Kangean Sumenep Madura, Jawa Timur. Silsilahnya adalah Kiai Syarfuddin ibn Kiai Abdus Shomad ibn Kiai Daud ibn Kiai Damsyiah ibn Kiai Abdul Bari. Menurut Kiai Syarfuddin, Kiai Abdul Bari adalah murid Sunan Giri yang diutus untuk menyebarkan Islam hingga ke Pulau Kangean. 

Melanjutkan khittah perjuangan leluhurnya, Kiai Syarfuddin tak bosan membimbing masyarakat agar mereka mengerti pokok-pokok ajaran Islam. Hari-harinya penuh dengan aktivitas peribadatan, dari habis subuh hingga malam. Di samping mengerjakan yang wajib, beliau sangat rajin mengerjakan perkara-perkara sunnah. Bahkan, doa-doa di setiap basuhan dan usapan dalam wudhu’ seperti dianjurkan Imam Ghazali, beliau amalkan. 

Tak mudah menemukan sosok kiai seistiqomah Kiai Syarfuddin. Coba perhatikan aktivitas kesehariannya. Selesai shalat subuh, Kiai Syarfuddin memanjangkan wiridnya hingga matahari terbit di ufuk timur. Berlanjut dengan membaca kitab-kitab utama buat para santri seperti kitab Bidayatul Hidayah dan Fathul Qarib. Selesai melaksanakan shalat dhuha 8 rakaat, sang kiai mengajar di madrasah hingga menjelang shalat zuhur. 

Tidur qailulah sebentar, lalu menjadi imam shalat zuhur. Usai shalat, Kiai Syarfuddin memberi pengajian kitab yang lebih tinggi seperti kitab Mutammimah dan Ibnu Aqil. Usai menjadi imam shalat ashar, kembali ke madrasah hingga menjelang maghrib. Usai shalat maghrib, menerima setoran bacaan al-Qur’an para santri hingga Isya’. Usai shalat Isya’, menerima para tamu dari berbagai desa hingga larut malam. Habis Isya’, pada malam Selasa dan Jum’at, beliau membaca Kitab Kifayatul Atqiya’.

Sementara pada hari libur pesantren, seperti Hari Jum’at, waktu Kiai Syarfuddin sepenuhnya didedikasikan buat masyarakat. Menyelesaikan soal-soal kemasyarakatan, mulai dari kasus-kasus keluarga hingga kasus kriminal. Konflik-konflik keluarga bisa mudah ditangani karena kepercayaan tinggi masyarakat kepada beliau. Begitu juga, kasus kriminal seperti carok yang kerap terjadi bisa dilerai dan diselesaikan sehingga tak berujung pada kematian salah satu pihak. Pada hari-hari tertentu, beliau kerap terjun sendiri memimpin kerja gotong royong memperbaiki jalan yang rusak, menata bendungan perairan sawah yang jebol, dan lain-lain.

Begitulah hari-hari Kiai Syarfuddin yang dijalaninya selama puluhan tahun. Mencengangkan, beliau menjalani aktivitas pembelajaran dan kerja kemasyarakatan itu dalam keadaan berpuasa. Ia meneladani para orang tuanya yang berpuasa sepanjang masa. Ketika ditanya, “bukankah puasa dahr itu dilarang?”. Kiai Syarfuddin menjawab, “saya sebenarnya mengikuti puasa Nabi Daud. Bedanya, jika hari ini diniati berpuasa, maka besoknya sekalipun tidak makan dan minum tidak diniati berpuasa”. Beliau mengisahkan, “pernah dicoba beberapa kali, sehari berpuasa dan sehari berikutnya makan, maka justru jatuh sakit”. 

Sejak tahun 1973 sepulang dari menjalankan ibadah haji, Kiai Syarfuddin memilih tidak makan dan tidak minum di siang hari. Alias berpuasa sepanjang masa, kecuali pada hari-hari yang betul-betul diharamkan berpuasa seperti pada dua hari raya. Itu pun beliau hanya meminum segelas air mineral saja, sekedar membatalkan puasa. Walau aktivitas beliau bergerak sejak terbit matahari hingga larut malam, tak tampak guratan kelelahan di wajahnya. Padahal, di samping berpuasa, Kiai Syarfuddin adalah salah seorang kiai yang istiqomah qiyamul lail. Mungkin berkah puasa dan tahajud juga, beliau sangat jarang sakit.

Melihat kemampuan fisik Kiai Syarfuddin yang kuat itu membantu saya memahami stamina fisik Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang sangat prima. Jika disebut dalam sejarah bahwa Perang Badar berlangsung ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa, maka itu bukan mitos belaka. Jika dikisahkan bahwa Nabi SAW dan para Sahabatnya pernah melakukan perjalanan darat dari Madinah ke Tabuk (jarak seribu kilometer), maka itu bukan sesuatu yang mustahil. Keimanan yang kuat akan kebenaran ajaran Islam bisa menambah kekuatan dan stamina umat Islam dalam mendakwahkan ajaran Islam. Kiai Syarfuddin sudah membuktikan itu.

Belakangan memang tipe ulama seperti Kiai Syarfuddin ini sudah kian berkurang, yaitu ulama yang tak hanya cakap memberi mau’idah hasanah melainkan juga sanggup menjadi uswah hasanah. Di tengah usianya yang sudah sepuh ini, kita berdoa: semoga Kiai Syarfuddin selalu sehat wal afiat, panjang umur seperti ayahandanya dan para kakek buyutnya yang usianya bisa seratusan tahun lebih. Kita juga berharap akan tumbuhnya kiai-kiai istiqomah seperti Kiai Syarfuddin Abdus Shomad. Amin ya mujibas sa’ilin.

Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Dosen Program Pascasarjana UNU Jakarta, Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG