IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren

Senin 21 Agustus 2017 3:1 WIB
Bagikan:
Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren
Probolinggo, NU Online
Dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan tinggi (Dikti), Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo melakukan kunjungan ilmiah ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Ahad (20/8).

Kunjungan ke pesantren yang juga mengelola lembaga Dikti Universitas KH Wahab Chasbullah (Unwaha) ini diikuti oleh tiga pimpinan tiga perguruan tinggi yang berada di Pesantren Nurul Jadid, yakni Rektor IAI Nurul Jadid, Ketua STT Nurul Jadid dan Ketua STIKes Nurul Jadid Paiton.

Rombongan diterima oleh Dr. Fathullah Malik, selaku Wakil Rektor 1 Universitas KH. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang beserta segenap jajaran. Selanjutnya mereka melakukan dialog seputar perkembangan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang. 

“Kunjungan ini bertujuan untuk mengembangkan lembaga tinggi di Pesantren Nurul Jadid Paiton menjadi universitas yang berbasis pesantren,” kata Kepala Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Hamid Wahid.

Menurut Kiai Hamid, kedatangannya ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum tidak lain adalah untuk menimba ilmu terkait dengan merger perguruan tinggi yang ada di pesantren menjadi universitas di bawah naungan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dan Dikti) Republik Indonesia. 

“Kami tidak bisa menunggu lagi, karena perguruan tinggi pesaing juga sudah berkompetisi untuk meningkatkan mutu PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam). Mumpung ada peluang dari Kemenristek dan Dikti, maka kita mencoba ambil peluang menjadi universitas. Dengan model beberapa program studi di lembaga kami, Insya Allah kami bisa apabila disertasi kesungguhan, ikhtiar dan doa,” tegasnya.

Sementara Wakil Rektor 1 Unwaha Jombang Dr. Fathullah Malik menyampaikan bahwa antara Pesantren Nurul Jadid dan Pesantren Bahrul Ulum sekilas memiliki budaya yang sama. Yakni, lembaga pendidikan tinggi yang berada di pondok pesantren dan perguruan tinggi yang berasaskan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau berbasis Nahdliyin.

“Universitas yang kita miliki ini merupakan cita-cita dari KH. Wahab Chasbullah yang sangat visioner. Tentunya tidak mudah untuk mewujudkan universitas ini, diperlukan  ketelatenan dan usaha keras untuk mewujudkan ini semua,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Senin 21 Agustus 2017 18:3 WIB
Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo
Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo
Bekasi, NU Online
Bagi sebagian orang, jasa reparasi telepon seluler (ponsel) didominasi lulusan sekolah umum atau alumni teknologi informasi (TI). Namun tidak demikian menurut Muhammad Alauddin. Santri juga layak mengetahui sekaligus menguasainya.

Berbekal keterampilan di bidang elektronik, pria yang pernah mondok di Pesantren “Amtsilati” Darul Falah Jepara, Jawa Tengah, ini meluncurkan JaRePo (Jasa Repair Ponsel). Ia mengaku menggandrungi dunia elektronika sejak belia. Dengan hobi yang terbilang unik ini, Alauddin menjemput rejeki untuk anak dan istri.

“Saya masih ingat, sekitar kelas 4 SD sudah pegang solder. Waktu itu saya baca-baca buku pelajaran IPA kakak saya. Di situ saya temui pelajaran tentang lampu flip flop,” ujar Alauddin kepada NU Online, di konter Jarepo miliknya di bilangan Jatisari, Bekasi, Ahad (20/8).

Untuk meningkatkan kemampuan di bidang elektronik, sejak SMP Alauddin merambah radio pemancar untuk mendengarkan musik kegemarannya. Ia membeli sejumlah komponen radio lalu dirakitnya sendiri.

“Waktu itu kalau pengen ndengerin musik, musti beli radio atau tape. Tentu sekalian kasetnya. Itu mahal sekali. Sekitar 200-an ribu waktu itu. Nah, dengan modal 30 ribu saya bisa merakit sendiri radio pemancar. Akhirnya sejak itu di rumah saya full musik,” kenangnya.

Dalam menyalurkan hobinya di dunia elektronik, Alauddin mengaku sempat terkendala soal dana ketika ingin kursus. Meski demikian, kondisi tersebut tak membuatnya patah arang. Ia terus belajar otodidak. Melalui buku dan praktik, kemampuannya kian bertambah.

“Saat saya masih duduk di bangku aliyah, mulai banyak HP bertebaran di masyarakat. Lalu saya berpikir, kenapa saya nggak belajar reparasi HP aja. Kan lumayan,” pikir bapak satu anak ini.

Sejak ia merantau di Jakarta beberapa tahun silam, ia mulai menekuni dunia perponselan. Sebelum merintis Jarepo, ia telah bergulat dengan ratusan ponsel rusak. “Saya dapet nama itu (Jarepo-red) setelah googling beberapa hari. Saya memang cari nama unik yang belum ada di Indonesia,” ungkap Alauddin.

Hingga hari kedua diluncurkan, Jarepo sudah menerima sepuluh pelanggan. Selain reparasi ponsel, Alauddin juga mencipta beberapa produk andalan, yakni socket kekinian. “Pemesannya nggak hanya dari Jawa, tapi ada juga yang Luar Jawa. Pekan ini sudah terjual lebih 72 pieces,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Senin 21 Agustus 2017 13:4 WIB
HUT KE-72 RI
Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba
Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba
Jombang, NU Online
Santri putri Ribath Al-Mubtadiin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang punya cara unik dalam memeriahkan HUT Ke-72 RI. Mereka mengisi kemerdekaan RI dengan mengadakan lomba-lomba ringan seperti makan kerupuk, memindahkan air dengan tangan, membawa tepung dan beberapa lomba lainnya, Ahad (20/8).

Lomba-lomba ini khusus santri putri dan dilakukan sejak pagi pukul 06.00 WIB hingga azan zuhur datang. Lokasi lomba berada di lahan kosong barat asrama putri Al-Mubtadiin. Panitianya juga perempuan. Mereka secara kreatif melakukan persiapan sendiri dan mengatur lomba sendiri.

Pengasuh Ribath, Hj Maslachatul Ammah (Neng Laha), menyebutkan lomba-lomba kecil ini bertujuan mengisi libur santri dan meningkatkan kekompakan antarsantri. Oleh karenanya, kebanyakan perlombaan yang dilakukan di sini lebih menekankan kerja tim.

"Pengasuh berharap ini bisa menjadikan hiburan yang mendidik bagi santri putri kita. Dalam lomba-lomba ringan ini saya anjurkan untuk lebih fokus ke kerja sama kelompok," jelasnya.

Neng Laha mengaku membebaskan para santri memilih lomba yang mereka sukai dengan batasan harus ada nilai pendidikannya seperti pentingnya pemimpin, kerja sama, gotong royong, dan kesiagaan. Untuk hadiah perlombaan panitia juga menyiapkan berbagai hal unik lainnya.

Hadiah lomba bukan berupa uang tunai, melainkan makanan ringan yang dimasukan ke dalam kardus besar. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan lomba bukanlah hadiahnya melainkan proses lomba itu sendiri yang perlu dihayati. Meskipun begitu, para peserta tampak penuh ceria menjalani lomba yang disediakan panitia. Gelak tawa dan canda gurau terus mengalir deras selama proses lomba.

"Kita siapkan anggaran khusus buat lomba ini, itung-itung hiburan. Kasian anak-anak kalau libur sekolah dan ngaji hanya diisi dengan tidur di kamar," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)
Senin 21 Agustus 2017 12:1 WIB
Pesantren Bukan Lembaga Untuk Ancam Nasionalisme
Pesantren Bukan Lembaga Untuk Ancam Nasionalisme
Foto: Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Pembakaran umbul-umbul merah putih di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Rabu (16/8) lalu membuat geram Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Ikhwan KHAS). Pasalnya, kejadian ini sangat bertentangan dengan pesantren pada umumnya yang menanamkan dan memupuk nasionalisme.

“Kiai kami, Kiai Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU) dan Kiai Musthofa Aqil Siroj selalu mewanti-wanti dengan jargon hubbul wathon minal iman, mencintai negara sebagian dari iman. Sebagaimana yang diamanati oleh Mbah Wahab Chasbullah di masa lampau,” kata Ketua Ikhwan KHAS Agung Firmansyah saat membuka diskusi dengan tema Islam Merawat Kebinekaan di Jung Coffee, Rawamangun, Jakarta, Sabtu (19/8).

Sementara itu, Sekjen Ikhwan KHAS Sobih Adnan sangat berkeberatan jika istilah pesantren digunakan untuk mengancam nasionalisme. “Kami sangat berkeberatan jika istilah pesantren digunakan sebagai alat untuk mengancam kecintaan terhadap tanah air,” katanya.

Menurutnya, pesantren yang saat ini semakin eksis justru istilah tersebut malah digunakan oleh orang-orang yang dulu membidah-bidahkannya.

“Era 80-90an, memang istilah pesantren oleh beberapa kelompok ditentang. Katanya bidah. Tapi, setelah pesantren kian eksis dan kompeten, nyaris semua mendaku sebagai pesantren. Termasuk kelompok yang dulu membidah-bidahkan pesantren,” ujarnya. (Syakirnf/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG