IMG-LOGO
Pesantren

Santri Gus Mus Tolak Full Day School dengan Full Day Sarungan

Senin 21 Agustus 2017 5:1 WIB
Bagikan:
Santri Gus Mus Tolak Full Day School dengan Full Day Sarungan
Rembang, NU Online
Santri dari Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang menyampaikan pesan menolak Full Day School (FDS) yang diberlakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi. Mereka menyampaikan hal itu saat menjadi peserta karnaval Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 yang digelar Pemerintah Kabupaten Rembang pada Ahad pagi (20/8). 

Ratusan santri pondok pesantren yang diasuh Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) itu berjalan kaki dan mengkapanyekan full day sarungan, sebagai dukungan keberlangsungan aktivitas pesantren.

Menurut koordinator santri Leteh, Muhammad Ali Musthofa, keikutsertaan santri pada karnaval itu, sebagai salah satu wujud nyata jiwa patriotisme yang ditanamkan di dalam pondok pesantren.

"Semua itu untuk memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-72, sebagaimana yang diajarkan di dalam pondok pesantren," jelas Ali.

Sementara, soal full day sarungan, menurut dia, sebagai aspirasi para santri untuk menolak Peraturan Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur tentang jam belajar siswa sekolah, yaitu 8 jam setiap hari. Kebijakan itu dinilaiancaman keberlangsungan pembelajaran sekolah nonformal, seperti madrasah dan pesantren.

Menurut Ali, pondok pesantren mempunyai andil tak kalah penting dalam pembentukan karakter generasi bangsa. Jika kebijakan tersebut diterapkan di Indonesia, akan sangat merugikan generasi muda. 

Para santri Gus Mus itu juga menampilkan drama kolosal singkat dengan mengusung tema “Perjuangan Pahlawan dalam Merebut Kemerdekaan” yang dipertontonkan di hadapan para pejabat daerah.

Sayangnya, hal itu urung dilakukan, karena tidak diberikan kesempatan oleh anggota polisi yang kebetulan berada di area depan panggung kehormatan para pejabat. Santri pun merasa kecewa, karena tidak diberikan waktu seperti para peserta yang lain.

"Bagaimana ya, kalau kecewa sih kecewa, cuma yang bagaimana lagi, inilah nasib santri," kata salah satu santri yang menjadi bagian kolosal. (Ahmad Asmui/Abdullah Alawi )

Tags:
Bagikan:
Senin 21 Agustus 2017 18:3 WIB
Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo
Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo
Bekasi, NU Online
Bagi sebagian orang, jasa reparasi telepon seluler (ponsel) didominasi lulusan sekolah umum atau alumni teknologi informasi (TI). Namun tidak demikian menurut Muhammad Alauddin. Santri juga layak mengetahui sekaligus menguasainya.

Berbekal keterampilan di bidang elektronik, pria yang pernah mondok di Pesantren “Amtsilati” Darul Falah Jepara, Jawa Tengah, ini meluncurkan JaRePo (Jasa Repair Ponsel). Ia mengaku menggandrungi dunia elektronika sejak belia. Dengan hobi yang terbilang unik ini, Alauddin menjemput rejeki untuk anak dan istri.

“Saya masih ingat, sekitar kelas 4 SD sudah pegang solder. Waktu itu saya baca-baca buku pelajaran IPA kakak saya. Di situ saya temui pelajaran tentang lampu flip flop,” ujar Alauddin kepada NU Online, di konter Jarepo miliknya di bilangan Jatisari, Bekasi, Ahad (20/8).

Untuk meningkatkan kemampuan di bidang elektronik, sejak SMP Alauddin merambah radio pemancar untuk mendengarkan musik kegemarannya. Ia membeli sejumlah komponen radio lalu dirakitnya sendiri.

“Waktu itu kalau pengen ndengerin musik, musti beli radio atau tape. Tentu sekalian kasetnya. Itu mahal sekali. Sekitar 200-an ribu waktu itu. Nah, dengan modal 30 ribu saya bisa merakit sendiri radio pemancar. Akhirnya sejak itu di rumah saya full musik,” kenangnya.

Dalam menyalurkan hobinya di dunia elektronik, Alauddin mengaku sempat terkendala soal dana ketika ingin kursus. Meski demikian, kondisi tersebut tak membuatnya patah arang. Ia terus belajar otodidak. Melalui buku dan praktik, kemampuannya kian bertambah.

“Saat saya masih duduk di bangku aliyah, mulai banyak HP bertebaran di masyarakat. Lalu saya berpikir, kenapa saya nggak belajar reparasi HP aja. Kan lumayan,” pikir bapak satu anak ini.

Sejak ia merantau di Jakarta beberapa tahun silam, ia mulai menekuni dunia perponselan. Sebelum merintis Jarepo, ia telah bergulat dengan ratusan ponsel rusak. “Saya dapet nama itu (Jarepo-red) setelah googling beberapa hari. Saya memang cari nama unik yang belum ada di Indonesia,” ungkap Alauddin.

Hingga hari kedua diluncurkan, Jarepo sudah menerima sepuluh pelanggan. Selain reparasi ponsel, Alauddin juga mencipta beberapa produk andalan, yakni socket kekinian. “Pemesannya nggak hanya dari Jawa, tapi ada juga yang Luar Jawa. Pekan ini sudah terjual lebih 72 pieces,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Senin 21 Agustus 2017 13:4 WIB
HUT KE-72 RI
Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba
Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba
Jombang, NU Online
Santri putri Ribath Al-Mubtadiin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang punya cara unik dalam memeriahkan HUT Ke-72 RI. Mereka mengisi kemerdekaan RI dengan mengadakan lomba-lomba ringan seperti makan kerupuk, memindahkan air dengan tangan, membawa tepung dan beberapa lomba lainnya, Ahad (20/8).

Lomba-lomba ini khusus santri putri dan dilakukan sejak pagi pukul 06.00 WIB hingga azan zuhur datang. Lokasi lomba berada di lahan kosong barat asrama putri Al-Mubtadiin. Panitianya juga perempuan. Mereka secara kreatif melakukan persiapan sendiri dan mengatur lomba sendiri.

Pengasuh Ribath, Hj Maslachatul Ammah (Neng Laha), menyebutkan lomba-lomba kecil ini bertujuan mengisi libur santri dan meningkatkan kekompakan antarsantri. Oleh karenanya, kebanyakan perlombaan yang dilakukan di sini lebih menekankan kerja tim.

"Pengasuh berharap ini bisa menjadikan hiburan yang mendidik bagi santri putri kita. Dalam lomba-lomba ringan ini saya anjurkan untuk lebih fokus ke kerja sama kelompok," jelasnya.

Neng Laha mengaku membebaskan para santri memilih lomba yang mereka sukai dengan batasan harus ada nilai pendidikannya seperti pentingnya pemimpin, kerja sama, gotong royong, dan kesiagaan. Untuk hadiah perlombaan panitia juga menyiapkan berbagai hal unik lainnya.

Hadiah lomba bukan berupa uang tunai, melainkan makanan ringan yang dimasukan ke dalam kardus besar. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan lomba bukanlah hadiahnya melainkan proses lomba itu sendiri yang perlu dihayati. Meskipun begitu, para peserta tampak penuh ceria menjalani lomba yang disediakan panitia. Gelak tawa dan canda gurau terus mengalir deras selama proses lomba.

"Kita siapkan anggaran khusus buat lomba ini, itung-itung hiburan. Kasian anak-anak kalau libur sekolah dan ngaji hanya diisi dengan tidur di kamar," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)
Senin 21 Agustus 2017 12:1 WIB
Pesantren Bukan Lembaga Untuk Ancam Nasionalisme
Pesantren Bukan Lembaga Untuk Ancam Nasionalisme
Foto: Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Pembakaran umbul-umbul merah putih di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Rabu (16/8) lalu membuat geram Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Ikhwan KHAS). Pasalnya, kejadian ini sangat bertentangan dengan pesantren pada umumnya yang menanamkan dan memupuk nasionalisme.

“Kiai kami, Kiai Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU) dan Kiai Musthofa Aqil Siroj selalu mewanti-wanti dengan jargon hubbul wathon minal iman, mencintai negara sebagian dari iman. Sebagaimana yang diamanati oleh Mbah Wahab Chasbullah di masa lampau,” kata Ketua Ikhwan KHAS Agung Firmansyah saat membuka diskusi dengan tema Islam Merawat Kebinekaan di Jung Coffee, Rawamangun, Jakarta, Sabtu (19/8).

Sementara itu, Sekjen Ikhwan KHAS Sobih Adnan sangat berkeberatan jika istilah pesantren digunakan untuk mengancam nasionalisme. “Kami sangat berkeberatan jika istilah pesantren digunakan sebagai alat untuk mengancam kecintaan terhadap tanah air,” katanya.

Menurutnya, pesantren yang saat ini semakin eksis justru istilah tersebut malah digunakan oleh orang-orang yang dulu membidah-bidahkannya.

“Era 80-90an, memang istilah pesantren oleh beberapa kelompok ditentang. Katanya bidah. Tapi, setelah pesantren kian eksis dan kompeten, nyaris semua mendaku sebagai pesantren. Termasuk kelompok yang dulu membidah-bidahkan pesantren,” ujarnya. (Syakirnf/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG