IMG-LOGO
Daerah

Naik Tangga Pedang, Kader NU Kibarkan Bendera Merah Putih dan NU

Senin 21 Agustus 2017 11:31 WIB
Bagikan:
Naik Tangga Pedang, Kader NU Kibarkan Bendera Merah Putih dan NU
Jember, NU Online
Syukuran HUT RI yang ke-72 di di lapangan Desa Rowoindah, Kecamaman Ajung, Kabupaten Jember, Sabtu (19/8) malam, agak beda dengan yang lain. Acara yang digelar oleh MWCNU Ajung bekerja sama dengan Ranting NU Rowoindah itu menampilkan atraksi yang cukup menguji nyali. Yaitu dua kader NU menaiki 11 tangga pedang untuk mengibarkan bendera. 

Sebelas pedang yang baru diasah tersebut, ditancapkan di sebuah bambu berdiri setinggi 7 meter, dengan posisi mata pedang berada di atas. Ujung pedang yang menyembul dan pangkal pedang yang tersisa itulah yang dijadikan tempat berpijak kaki.

Adegan pertama dilakukan oleh Ulin Nuha. Dengan diiringi nyanyian lagu Indonesia Raya. Ia dengan tenangnya menaiki tangga pedang itu hingga mencapai puncak, dan mengibarkan bendera merah putih.

Berikutnya, Ahmad Misbah melakukan hal serupa. Dengan diiringi bacaan shalawat NU, ia berhasil melewati 11 tangga pedang, dan mengibarkan bendera NU di puncak tangga. 

"Alhamdulillah anak-anak bisa melakukannya dengan baik. Tak ada luka sedikit pun di kakinya. Itu namanya atraksi standen," ungkap Ketua MWCNU Ajung, Gus Rahim kepada NU Online usai acara.

Sementara itu, ketua panitia, Nurhadi mengungkapkan, pengibaran bendera NU dan bendera merah putih memang dilakukan berurutan, agar masyarakat tahu bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran NU. 

"Masyarakat harus paham bahwa NU mempunyai peran yang tidak kecil dalam memerdekaan Indonesia," jelasnya.

Atraksi standen tersebut ditampilkan saat jeda dari tausyiah yang disampaikan oleh Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin dan dan KH Hamid Hasbullah. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)
 

Bagikan:
Senin 21 Agustus 2017 20:5 WIB
Kearifan Lokal Ikut Tereduksi Bila Madrasah Sepi
Kearifan Lokal Ikut Tereduksi Bila Madrasah Sepi
Salatiga, NU Online
Sekitar enam ribu warga di Wilayah Kabupaten Semarang ikut dalam aksi penolakan kebijakan Full Day School (FDS) yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017. Warga tumpah ruah memenuhi halaman Kantor Bupati Semarang di Ungaran, Jumat (18/8).

Mereka kemudian ditemui langsung oleh Bupati Semarang H Mundjirin beserta Wakil Bupati Ngesti Nugraha.

Menurut Koordinator Aksi KH Zaenal Muttaqin mengatakan, madrasah diniyah dan pondok pesantren sebagai budaya pendidikan Nusantara akan hilang seiring pemberlakuan FDS.

“Hilangnya madin dan pesantren, kemudian dapat mengakibatkan munculnya budaya-budaya yang akan mereduksi kearifan dan keragaman pendidikan lokal,” tegas Zaenal.

Ia mencontohkan, kasus yang sudah terjadi di daerahnya di mana sejak diberlakukan FDS, banyak TPQ dan madin yang mulai ditinggalkan muridnya.

"Korbannya madrasah diniyah banyak yang sudah gulung tikar, TPQ di Ungaran saja sudah banyak yang tutup. Di lingkungan saya juga ada pondok yang santrinya sebagian dari SMA, SMP dan SD negeri yang dulunya pagi sekolah sore atau malamnya di madin atau ponpes sekarang tidak mondok lagi," kata Zaenal yang juga Ketua RMI Kabupaten Semarang itu.

Turut hadir dalam acara tersebut Rais Syuriyah (Plt) PCNU Kabupaten Semarang KH Fatkhurrahman Thohir, Ketua PCNU Semarang (Plt) KH Abdul Gofar. Dalam aksi tersebut warga juga mengadakan istighotsah untuk mendoakan keselamatan bangsa ini. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Senin 21 Agustus 2017 17:0 WIB
Muslimat NU Jepara Berkomitmen Kuatkan Ekonomi Umat
Muslimat NU Jepara Berkomitmen Kuatkan Ekonomi Umat
Jepara, NU Online
Ekonomi yang mandiri digadang menjadi penyemangat bagi para aktivis Muslimat NU Jepara dalam berjuang untuk umat. Mewujudkan hal itu ratusan kader Muslimat NU Jepara antusias mengikuti seminar yang diadakan oleh Bank Indonesia di Hotel Jepara Indah, Sabtu (19/8).

Hadir sebagai pembicara, Anggota Komisi XI DPR RI F-PKB, Fathan Subchi, Manajer Fungsi Pelaksana Bank Indonesia Jawa Tengah, Abdul Rohman. Hadir pula Pimpinan Bank Jateng Kabupaten Jepara, Heri Supriyanto, dan Dinas Koperasi dan UKM Nakertrans Jepara, Nasukha.

Kata Fathan, Muslimat NU harus diberdayakan utamanya dalam bidang pengembangan ekonomi agar perjuangannya menegakkan agama bisa kuat dan solid. Pemerintah perlu terjun secara langsung membina Muslimat agar memiliki jiwa entrepreneur yang mantap. 

"Jiwa enterpreneur harus diasah dengan terjun langsung dalam usaha riil demi mewujudkan kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi akan berdampak pada kuat dan solidnya muslimat jepara dalam mewujudkan islam yang ramatan lil alamin,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu politisi asal Kabupaten Demak itu juga mengapresiasi atas berdirinya Koperasi Annisa yang dikelola Muslimat NU Jepara. Menurutnya itu bisa menjadi inspirasi bagi Muslimat yang lain untuk berjuang menyejahterakan umat.

"Saya dengar Muslimat Jepara memiliki Koperasi Annisa dan usaha catering. Itu bisa jadi modal dan inspirasi bagi muslimat yg lain untuk berwirausaha," ujar Fathan.

Sementara itu, Manager fungsi pelaksana Bank Indonesia Jawa Tengah, Abdul Rohman menyampaikan bahwa peran UMKM dalam menopang ekonomi nasional sangatlah besar. UMKM juga merupakan penyelamat jitu bagi ekonomi Indonesia sekaligus solusi saat terjadi krisis moneter.

"Alasan Bank Indonesia mendukung program ini dan ikut membangun UMKM adalah untuk menjaga stabilitas moneter," ujar Rohman.

Adanya acara ini juga menjadi awal dari hubungan yang kuat antara Bank Indonesia dengan Muslimat NU Jepara dalam membangun jaringan. Acara bertajuk Peran Bank Indonesia dalam Akses Keuangan dan Pengembangan UMKM di Indonesia itu diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan sekaligus bukti kerja sama BI dengan Muslimat NU Jepara. (M. Farid/Fathoni)
Senin 21 Agustus 2017 16:1 WIB
Merdeka Itu Jika FDS Digagalkan
Merdeka Itu Jika FDS Digagalkan
Banyumas,NU Online 
Karnaval kemerdekaan yang digelar Pemerintah Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (20/8) diwarnai dengan aksi penolakan terhadap full day school (FDS).

Aksi penolakan FDS tersebut dilakukan sejumlah badan otonom NU yang tergabung dalam Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kecamatan Ajibarang. Salah seorang peserta mengacungkan tulisan “Merdeka itu jika FDS digagalkan.”

Kordinator GMNU Ajibarang Slamet Ibnu Ansori mengatakan, biasanya karnaval itu identik dengan memamerkan sebuah kemajuan, kali ini kita pamerkan sebuah aksi penolakan.

"Karnaval itu pameran, ya kita tunjukan kita sedang menolak full day school karena full day school sudah jelas mengkerdilkan NU, mematikan madrasah diniyah (madin) dan pondok pesantren," lanjutnya. 

Selain aksi penolakan full day school, pada kesempatan itu juga mereka meanyatakan mendukung Perppu No 2 Tahun 2017 tentang keormasan, dan mendesak pemerintah membubarkan ormas anti-Pancasila serta menumpas paham radikal (radikalisme). 

Tarno, Sekertaris GP Ansor Ajibarang, menambahkan radikalisme adalah paham yang sangat berbahaya bagi keutuhan Indonesia, harus ditumpas habis hingga ke akar-akarnya. 

"Full day school bisa memicu radikalisme yang sangat berbahaya, ya kita harus tolak dua-duanya," katanya. 

Karnaval mengelilingi Kecamatan Ajibarang itu dipusatkan di depan kantor kecamatan. Kegiatan itu diikuti pemerintah desa, sekolah-sekolah serta organisasi masyarakat yang ada di kecamatan itu. (Kifayatul Akhyar/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG