IMG-LOGO
Tokoh

KH Ma’ruf Mangunwiyoto, Pemimpin Barisan Kyai Jawa Tengah

Kamis 24 Agustus 2017 5:1 WIB
Bagikan:
KH Ma’ruf Mangunwiyoto, Pemimpin Barisan Kyai Jawa Tengah
Kiai Ma'ruf dan istrinya
Sebelumnya telah diterangkan tentang kiprah Barisan Kyai, sebuah kelompok pasukan yang terdiri dari para kiai sepuh. (baca: Usia Uzur Tak Jadi Halangan Untuk Ikut Berjuang)

Pada zaman perang kemerdekaan, peran mereka begitu besar. Selain diharapkan nasihat-nasihatnya dalam peperangan untuk membakar semangat para pejuang, sebagian dari mereka juga ada yang memanggul senjata, ikut berperang di front terdepan.

Di Jawa Tengah, Barisan Kyai ini dipimpin oleh seorang ulama dari Kota Surakarta yang bernama KH Ma’ruf Mangunwiyoto. Gelar Mangunwiyoto ini didapatkannya setelah ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum Surakarta dan diangkat menjadi guru.

Kiai Ma’ruf dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri NU di Kota Solo. Hal ini diungkapkan KH Saifudin Zuhri, seorang Tokoh NU yang juga pernah nyantri di Kota Solo pada tahun 1930-an, dalam buku “Berangkat dari Pesantren” (2013). 

Menurut dia, sosok Kiai Ma’ruf yang menjadi pengasuh pesantren di daerah Jenengan Surakarta juga dikenal sebagai seorang ulama besar, khususnya dalam bidang hadist.

Kealiman yang dimiliki oleh Kiai Ma’ruf, juga sedikit banyak ia dapatkan dari faktor nasab. Kiai Ma’ruf berasal dari keturunan seorang ulama besar, yakni Kiai Abdul Mu’id bin Kiai M Tohir bin Nyai Syamsiah binti Kiai Imam Rozi Tempursari Klaten Jawa Tengah.

Kakek buyut Kiai Ma’ruf, yakni Kiai Imam Rozi Tempursari merupakan seorang ulama yang juga menjadi seorang panglima (Manggala Yudha) perang pasukan Pangeran Diponegoro, yang bergelar Singa Manjat.

Darah pejuang dari para leluhurnya ini lah barangkali yang menjadi semangat Kiai Ma’ruf bersama sejumlah kiai lain, seperti KH Abdurrahman KH R Moh Adnan, Kiai Abdul Karim Tasyrif, Kiai Martoikoro, Kiai Asnawi, Kiai Amir Thohar dan ulama lain di Barisan Kyai untuk ikut berjuang melawan penjajah. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)

Bagikan:
Ahad 20 Agustus 2017 16:1 WIB
Kealiman Syekh Muhammad Ahyad Bogor Bergema di Masjidil Haram
Kealiman Syekh Muhammad Ahyad Bogor Bergema di Masjidil Haram
Muhammad Ahyad Al-Bughuri dikenal sebagai ulama yang multi dalam menguasai berbagai disiplin keilmuan. Meskipun sudah diangkat menjadi pengajar di Masjidil Haram, Ahyad masih mengaji kepada Masyayikh Haramain, khususnya Syekh Muhtar ibn Atharid al-Bughuri. Ketika Syekh Mukhtar wafat, Ahyad diminta untuk menggantikan posisinya dalam mengajar berbagai disiplin keilmuan di Masjidil Haram. Halaqahnya terbilang besar. Ada sekitar 300 thalabah yang setia mendengarkan butiran ilmu darinya. Selain mengajar di Masjidil Haram, Ahyad juga mengajar di Masjid an-Nabawi dan memimpin majlis dzikir di Makkah.

Muhammad Ahyad lahir di Bogor, Jawa Barat pada malam Rabu tanggal 21 Ramadhan 1302 (1884). Ia adalah putra dari Kiai Muhammad Idris ibn Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri. 

Dalam mendidikan putra-putrinya, Kiai Idris sangat mengutamakan pengajaran agama dibanding dengan yang lainnya. Ketika sendi-sendi ajaran Islam sudah tertanam baik, maka Kiai Idris memerintahkan anaknya seperti Ahyad untuk mengkaji pelajaran umum supaya antara ilmu agama dan umum dapat selaras dan seimbang. Mulanya Ahyad menerima didikan ilmu agama dari ayahnya dan ulama-ulama yang ada di daerahnya. Dasar-dasar ilmu agama Islam seperti membaca Al-Qur’an, Nahwu, Sharaf, Fiqih, Hadist, dan lain-lain dikuasainya dengan baik. Metode menghafal, sorogon, dan bandongan selalu menjadi makanan keseharian Ahyad ketika masih dalam prosesi belajar di kampung halamannya.

Untuk sekolah umum, Kiai Idris memasukkan Ahyad di Volk School hingga tamat di Meer Uietgebreid Leger Orderwijs (MULO), yakni sebuah sekolah yang jenjangnya setingkat dengan SMP. Di sekolah buatan Belanda ini, Ahyad dapat menguasai bahasa Belanda, Matematika, Biografi, dan ilmu umum lainnya.

Pada tahun 1899, saat umur Ahyad 15 tahun, ia berangkat ke Haramain untuk mematangkan keilmuannya kepada ulama yang menggelar halaqah di Masjidil Haram. Rihlah ini sudah menjadi idamannya sejak kecil, sebab ayahnya sering bercerita tentang kelebihan belajar di Haramain dibanding dengan yang lainnya. Terlebih di sana, sang ayah mempunyai sahabat yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, yaitu Syekh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri. Kegiatan belajar mengajar di Haramain sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan yang ada di Hindia Belanda (Indonesia). Kompeni selalu mengawasi setiap kegiatan agama Islam yang dianggapnya berbahaya semenjak terjadinya perlawanan para Kiai Banten pada 1888 yang dikenal dengan pemberontakan Cilegon. Pemberontakan ini terjadi sebab kompeni telah menghina sebagian ajaran Islam dan kelakuannya yang selalu menyensarakan rakyat petani.

Setibanya di Haramain, Ahyad ikut bergabung dengan halaqah Masyayikh Haramain, baik yang ada di Masjidil Haram, Masjid an-Nabawi, dan di kediaman mereka. Di antara guru Ahyad ketika belajar di Haramain adalah Syekh Muhtar ibn Atharid al-Bughuri, Syekh Baqir ibn Muhammad Nur al-Jukjawi, Syekh Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani, Syekh Abbas bin Muhammad bin Ahmad Ridwan (putra Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani), dan Syekh Muhammad Abdul Hayyi al-Kittani. Kepada ulama Haramain ini, terlebih Syekh Mukhar yang menjadi umdah-nya (guru sandaran utamanya), Ahyad mendalami ilmu Fiqih Syafii, Tafsir, Hadist, Ushul, Faraidh, Falak, Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan Arûdh. Jika sudah menghatamkan satu disiplin ilmu dari awal hingga akhir, maka Syekh Mukhtar akan membacakan sanad atau silsilah keilmuan kitab tersebut kepada santri-santrinya termasuk Ahyad. 

Dengan penuh ketekunan dan kesungguhan, Ahyad mempelajari apa yang transmisikan oleh Masyayikh Haramain. Ia kelihatan lebih menonjol dibandingkan dengan yang lainnya. Karena kealiman yang tersemat dalam dirinya, Syekh Mukhtar mengusulkan kepada Masyayikh Masjidil Haram agar mengikut sertakan Ahyad dalam mengajar di tempat yang penuh dengan keberkahan tersebut. Usulan tersebut diterima. Akhirnya Ahyad diberi amanah untuk ikut mengajar di Masjidil Haram pada 1346 H (1927), tepatnya di Bab al-Nabi Muhammad SAW Adapun waktunya adalah sebelum shalat Dzuhur, sesudah shalat Shubuh, sesudah shalat Magrib, dan sesudah shalat Isya. Untuk materi yang diajarkan adalah bermula tentang seputar Faraidh dan Fiqih asy-Syafii.

Meskipun Ahyad sudah diangkat menjadi pengajar di Masjidil Haram, ia tetap merasa masih haus dengan kajian keilmuan. Ia sering mendatangi halaqah Masyayikh Haramain, terlebih Syekh Mukhtar hingga akhir hayatnya (1930). Ketika Syekh Mukhar wafat, maka Ahyad diamanahi untuk menggantikan posisinya sebagai pengajar di Masjidil Haram yang mempunyai tanggung jawab banyak dalam mengajar berbagai disiplin ilmu, sebab ia adalah Masyayikh Haramain yang halaqahnya paling ramai dihadiri di Masjidil Haram, yaitu ada sekitar 400 thalabah dari penjuru dunia, khususnya kalangan Jawah (Asia Tenggara/ Melayu).

Ketika tugas Syekh Mukhtar dilimpahkan kepada Ahyad, maka kebanyakan santri-santrinya pindah belajar kepadanya. Halaqah Ahyad meskipun tidak seramai dengan halaqah Syekh Mukhtar, namun terbilang besar sebab dihadiri sekitar 300 thalabah. Di antara santrinya yang menjadi ulama besar adalah Syaik Husein al-Palimbani, Syekh Abdul Qodir ibn Muthalib al-Mindili, Syekh Sodiq ibn Muhammad al-Jawi, Syekh Zakaria Bela, Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani, Sayyid Muhsin ibn Ali al-Musawa, Sayyid Hamid ibn Alawi al-Kaff, Syekh Zain ibn Abdullah al-Baweani, dan Syekh Abdul Karim al-Banjari.

Saat mengajar santri-santrinya, Ahyad sering mempraktikkan sebagian amalan ibadah yang perlu untuk dipraktikkan, seperti tayamum, maka Ahyad mengambil debu suci untuk bertayamum yang dikerjakan di hadapan santri-santrinya yang sesusai dengan apa yang ia pelajari dari guru-gurunya hingga sanadnya muttasil sampai Rasulullah SAW. Praktikum juga dilakukan Ahyad ketika mengajar Falak dengan pedoman kitab karya Syekh Mukhtar yang berjudul al-Rubu’ al-Mujayyab.

Untuk mengetahui nama bintang-bintang yang ada di langit, Ahyad mengajak santri-santrinya supaya mengamati langsung dengan mata telanjang atas pemandangan langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang beraneka ragam. Metode mengajar Ahyad ini, yakni teori dan praktikum telah diwarisi oleh santri-santrinya, salah satunya adalah Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani yang sering mengajak santrinya untuk mengamati bintang-bintang di padang pasir ketika matahari tenggelam hingga waktu fajar menyongsong. Dikenalkanlah nama-nama bintang dan planet satu persatu dan tanda-tanda yang melekat padanya.

Mengenai sumbangsih Ahyad dalam mengajar ilmu di Masjidil Haram, Syekh Yasin al-Fadani berkata, “Kitab-kitab yang diajarkan oleh Syekh Muhammad Ahyad Al-Bughuri di Masjidil Haram seperti halnya Jâmi al-Tirmidzî, Iqna’ li al-Khatîb al-Syarbinî, Umdatu al-Abrâr fi al-Manâsiki al-Hajji wa al-Umrah, Syarah ibn Aqîl ala al-Fiyah ibn Malik, Mandzumâtu al-Qawâ’idu al-Fiqhiyyah, al-Mawâhibu al-Staniyyah Syarh Mandzumâtu al-Qawâ’idu al-Fiqhiyyah, dan Risâlah Adab wa al-Bahats.”

Saat mengajar di Masjidil Haram, banyak thalabah yang terkesan dengan materi yang disampaikan Ahyad. Mereka merasakan betul bagaimana petuah keilmuan Ahyad merasuk dalam hati sanubari. Tiada bosan-bosan mereka menghadiri majlis Ahyad. Karena merasa masih haus dengan keilmuan Ahyad, maka sebagian thalabah, khususnya yang dari Melayu, Indonesia-Malaysia meminta jadwal tambahan agar Ahyad berkenan membuka majlis taklim di kediamannya. Akhirnya permintaan itupun disanggupinya.

Gema kealiman Ahyad yang menjadi bahan pembicaraan ahlu al-ilmi di kalangan ulama dan thalabah Makkah terdengar hingga ke Madinah al-Munawarah, tempat yang pernah disinggahinya dalam menuntut ilmu kepada ulama terkemuka di sana, yaitu Syekh Abbas bin Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani dan Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani. Oleh sang guru yang merupakan ulama terhormat di Madinah, Ahyad diminta untuk ikut serta mengajar di Masjid an-Nabawi. Dengan penuh ketaatan, Ahyad menjalankan titah yang diperintahkan gurunya.

Amanah yang diemban Ahyad selama berkiprah di Haramain tidak hanya mengajar, akan tetapi ia juga aktif memimpin majlis dzikir dan menyampaikan mawaid yang dahulunya dipimpin oleh gurunya, Syekh Mukhtar Atharid. Majlis dzikir peninggalan Syekh Mukhtar ini jamaahnya mayoritas mengikuti tarekat Qadiriyah wa al-Naqsabandiyah. Ahyad menerima baiatan tarekat tersebut dari Syekh Mukhtar dan ia juga diangkat menjadi khalifahnya (penggantinya).

Hampir semua tugas yang diemban Syekh Mukhtar dilimpahkan kepada Ahyad, sebab selain dirinya adalah santri kesayangannya, ia juga adalah menantu Syekh Mukhtar. Ketika membina rumah tangga dengan putri Syekh Mukhtar, Ahyad dikarunia keturunan 7, di antaranya adalah Muhammad Thayyib, Idris, Sa’dullah, dan Abdullah.

Dalam sumbangsih masalah keilmuan yang dituangkan ke dalam karya tulis, Ahyad pernah mengarang beberapa kitab di antaranya adalah, Ta’lîqat alâ Kitab Jâmi al-Tirmidzî, Hasiyah alâ al-Kitab Umdati al-Abrâr fi Manâsiki al-Hajji wa al-I’timâr li Sayyid Ali al-Wanâ’i, Ta’liqatu ala Nadzmi al-Qawâ’idi al-Fiqhiyyati, dan Tsabat bi Asânidihi. Karya-karya ini dan beberapa kitab koleksi pribadinya, banyak yang diwakafkan di Madrasah Dar al-Ulum supaya bisa bermanfaat lebih luas.

Dalam kesehariannya, Ahyad sering menggunakan waktunya untuk kemanfaatan, seperti mengajar, belajar, beribadah, dan mengarang sebuah kitab. Aktifitas mulianya ini dijalani hingga ia kembali ke Rahmatullah pada malam Sabtu tanggal 9 bulan Shafar 1372 (1952) dengan usia kurang lebih 70 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la. (Amirul Ulum)


Penulis adlaah dosen Sejarah Islam Nusantara di STIBI Syeikh Jangkung

Sabtu 19 Agustus 2017 14:21 WIB
Kiai Maja, Ahli Strategi dan Perang Gerilya dari Pesantren
Kiai Maja, Ahli Strategi dan Perang Gerilya dari Pesantren
Kiai Maja lahir pada tahun 1792 (ada pula yang menyebut 1782) di Desa Mojo, Pajang, dekat Delanggu, Surakarta, dengan nama Bagus Khalifah. Ayahnya, Iman Abdul Ngarif, adalah seorang ulama terkenal yang dianugerahi tanah perdikan di Desa Baderan dan Mojo, Pajang. Ibunya, Raden Ayu Mursilah, adalah adik perempuan Sultan Hamengku Buwono III dan masih bersaudara sepupu dengan Pangeran Diponegoro. Kiai Maja kemudian mewarisi kedua desa perdikan tersebut dari ayahnya, termasuk pesantren, sehingga kemudian dikenal dengan nama salah satu desa ini.

Kiai Maja tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar pesantren dan komunitas santri yang sangat disegani di Kraton Surakarta maupun Yogyakarta. Banyak putra-putri bangsawan Solo yang nyantri di pesantrennya. Kiai Maja juga menikah dengan Raden Ayu Mangkubumi, istri dari Pangeran Mangkubumi, paman Diponegoro, yang sudah diceraikan. 

Ketika Perang Jawa berkecamuk, beliau mendukung sepenuhnya, termasuk memobilisasi para sanak keluarga dan sebagian besar pengikutnya di Pajang. Kontribusi Kiai Maja dalam peperangan sangatlah besar. Seorang mata-mata berkulit Jawa dikirim khusus oleh Belanda untuk mengetahui rahasia kesuksesan pasukan Diponegoro dalam beberpa pertempuran. Temuan mata-mata Kompeni yang menyusup ke dalam pasukan Diponegoro itu sangatlah mengejutkan: rahasia kekuatan Diponegoro ada pada diri seorang kiai pesantren bernama Kiai Maja, pemikir stategis dan jenderal perang gerilya Diponegoro -- yang selevel Napoleon, Mao Tse Tung dan Che Guevara.

Selama hidupnya Kiai Maja dikenal sebagai seorang ulama yang mobilitasnya sangat tinggi. Mengikuti tradisi santri kelana, Kiai Maja punya banyak relasi dan jaringan dengan pusat-pusat keagamaan dan politik di Jawa hingga ke Bali. Beliau pernah menjadi penghubung antara Kraton Surakarta dan Kerajaan Buleleng di Bali. Jaringan orang-orang pesantren dengan Bali, meski berbeda agama dan kepercayaan, sudah terbangun sejak abad 18. Dibuktikan dari adanya ikatan politik dan kebudayaan di antara mereka, misalnya perlindungan bagi kalangan santri yang lari ke Bali untuk menghindari penangkapan Kompeni hingga pemberian kebebasan beragama bagi komunitas-komunitas Muslim di pesisir utara Bali. 

Saking gerahnya pemerintah kolonial Inggris, penguasa Jawa saat itu, Kiai Maja sempat ditangkap pada Juli 1812. Pembatasan kemudian diberlakukan kepada orang-orang pesantren yang sebelumnya bisa leluasa keluar-masuk kraton. Mobilitas Kiai Maja dan jejaringnya ini, yang tidak dimiliki Diponegoro, kemudian menjadi obyek penjinakan Belanda untuk mematahkan perlawanan orang-orang Jawa.

Berkat kelicikan Belanda, pada tahun 12 November 1828 Kiai Maja ditangkap di Desa Kembang Arum, utara Yogyakarta. Ini menandai titik balik perjuangan Diponegoro, sampai akhirnya redup pada 1830. Pasukan Kiai Maja lalu digiring ke Klaten, sambil menyanyikan bersama-sama lagu-lagu keagamaan yang menunjukkan tanda kemenangan. Mereka lalu dibawa ke Batavia, ditahan hingga setahun lamanya. 

Di awal 1830, Kiai Maja bersama lebih dari 60 orang pendampingnya dibuang ke Minahasa. Isteri beliau menyusul setahun kemudian. Kebanyakan pendampingnya itu punya posisi strategis dalam bidang kemiliteran dan keagamaan dalam pasukan Diponegoro, dari gelar tumenggung, dipati, basah hingga kiai. Mereka tiba di Tondano dan mendirikan Kampung Jawa, yang hingga kini masih bertahan dengan tradisi Ahlussunnah wal-Jma’ahnya. Dari sumber-sumber terkini, Kiai Maja disebut sebagai “Mbah Guru”atau “Kiai Guru”. Sang kiai wafat pada 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun.

Pandangan nasionalismenya, “Amrih mashlahate kawulanίng Allah sedaya sarta amrίh karaharjane negari lestarίne agamί Islam” (Berjuang untuk kepentingan kemaslahatan para hamba Allah semua, untuk kesejahteraan negeri, serta untuk kepentingan kelestarian agama Islam), adalah salah satu warisan penting Kiai Maja selaku ideolog Perang Diponegoro kepada generasi berikut bangsa ini. 

Teks ini tercantum dalam satu manuskrip yang tersimpan pada keluarga Kiai Maja di Jakarta. Manuskrip berbahasa Jawa huruf pegon ini ditulis oleh Kiai Maja sendiri selama pembuangannya di Tondano, Minahasa, sekitar awal tahun 1833.

Allah yarhamhu......

Buku De java Oorlog ini menghimpun laporan gerilya dan surat gerilya Kiai Mojo. Tapi sayang surat-surat perang gerilya dan adu strategi Kiai Maja ini dalam Perang Diponegoro sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.. bukan lagi dalam versi aslinya dalam bahasa Jawa... Jadi kaum santri harus juga belajar bahasa Belanda untuk ngerti buku panduan perang gerilya arahan kiai hebat Jenderal Kiai Maja melawan penjajah --- hingga kini.... (Ahmad Baso)

Selasa 8 Agustus 2017 12:2 WIB
Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang
Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang
Foto: Ilustrasi
Oleh Nur Ahmad
Martin van Bruinessen menyebutkan bahwa di kalangan para kiai muda sezamannya, Kiai Soleh Darat Semarang (1830-1903 M) terkenal dengan julukan Al-Ghazālī As-Ṣhagīr (Imam Al-Ghazzali Kecil), (Lihat Bruinessen, “Saleh Darat,” dalam Dictionnaire Biographique Des Savants et Grandes Figures Du Monde Musulman Périphérique, Du XIXe Siècle À Nos Jours, ed. Marc Gaborieau et al., vol. 2 (Paris: CNRS-EHESS 1998: 25-26.) Menurut penulis, yang telah meneliti karya-karyanya untuk studi skripsi dan tesis, hal ini adalah “wajar” baginya. Sebagaimana telah dilakukan Imam Al-Ghazali (w 505 H), Kiai Soleh menekankan aspek ketunggalan yang tak terpisahkan antara syariah dan tarekat di dalam menjalankan Islam.

Selain itu, Imam Al-Ghazali selalu menjadi rujukan utama dalam seluruh karya Pegon Kiai Soleh. Lalu, faktor-faktor apa yang melahirkan ide penyatuan antara dimensi syariah (ritual) dan tarekat (mistik)?

Kiai Soleh mengindikasikan bahwa ia menyadari debat yang terjadi antara kiai ahli syariah dan ahli tarekat di masanya. (Soleh As-Samarani, Sabīl Al-‘Abīd: 210)  Di sana terlihat jelas ia berusaha kuat mencegah orang-orang di zamannya yang secara berlebihan mencerca (condemn) para penganut tarekat. (Soleh As-Samarani, Minhājul Atqiyā’: 210). Meskipun begitu tidak ada catatan bahwa ia dibaiat (initiated) dalam salah satu tarekat. Bahkan walaupun jika secara lahirnya seorang guru tarekat itu bodoh hal-hal fikih, dalam hal mengajarkan praktik tarekat mereka mendapat legitimasi kuat karena telah menerima ajaran tersebut dari guru ke guru bersambung hingga Rasulullah SAW. Posisi ini berbeda dari koleganya di Mekkah, Kiai Nawawi Banten, yang digambarkan oleh salah satu disertasi dengan sikap netralnya terhadap organisasi tarekat. (Sri Mulyati, 1992: 38).

Faktor lain yang mendorong lahirnya sikap harmonisasi syariah-tarekat adalah usahanya untuk melindungi masyarakat awam dari kesesatan ajaran dari sebagian komunitas Jawa yang mengabaikan ajaran syariah dan mempelajari tarekat semata. Dalam konteks inilah kita membaca larangan Kiai Soleh terhadap masyarakat awam membaca suluk-suluk yang disusun oleh ahli tarekat-mistik Jawa, terutama yang mengajarkan untuk meninggalkan sembahyang wajib lima waktu. (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27). Ajaran ini juga dikhawatirkan Kiai Soleh mengantarkan seseorang memercayai bahwa jiwa mereka adalah Tuhan itu sendiri, salah satu pemahaman yang dinilai keliru dari waḥdatul wujūd. (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 26).

Oleh sebab itu, beliau menilai penting sekali menjauhkan masyarakat awam dari mengkaji kitab-kitab waḥdatul wujūd, misalnya Tuḥfatul Mursālah and Al-Insānul Kamīl.  (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27). Tampaknya hal ini bukan karena isinya, karena ia tidak membicarakan konten, tapi dampaknya terhadap orang-orang awam. Dalam konteks ini ia berfatwa bahwa mencuri dan berzina jauh lebih baik daripada mengkaji yang diperuntukkan bagi para elit (khawwāṣ) (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27) . Jika para awam keliru dalam memahami kitab-kitab itu, maka mereka bisa tersesat jauh di mana mereka yakin menuju yang kebenaran. Kerusakan akal! Sedangkan jika mereka terjerumus ke perzinahan atau pencurian, kekeliruan itu terjadi adalah di ranah kerusakan moral.

Faktor paling penting dari lahirnya tendensi ini adalah sederhana. Hakikat Islam itu mencakup bagian kulit (exterior) dan bagian dalam (interior). Bagian terdalam dari yang terdalam ini adalah haqīqah. Seluruhnya tidak dapat dipisahkan. Bagi Kiai Soleh mereka diibaratkan seperti perahu, lautan, dan mutiara yang menjadi simbol bagi hubungan antara Islām, Īmān and Iḥsān.   (Soleh As-Samarani, Minhājul Atqiyā’: 43-45).

Konsep ini meniscayakan tingkatan makna dalam setiap ritual ibadah. Ambil sebagai contoh ajaran beliau tentang sembahyang. Selagi mendukung pentingnya aturan-aturan praktikal dalam shalat, Kiai Soleh menekankan agar orang yang shalat (mushalli) merefleksikan dirinya dalam setiap gerakan shalat. Soleh as-Samarani, Faṣālatan (Singapore: Matba’ Haji Muhammad Amin, 1897). Lebih lanjut beliau mengajarkan bahwa sangat penting seseorang sebelum shalat berwudhu untuk mensucikan “kotoran” badan dan batin. (Soleh As-Samarani, Laṭā’if al-Ṭahārah wa Asrār al-Ṣalāh dan Faṣālatan: 2).

Simpulannya adalah Kiai Soleh benar-benar sadar akan kondisi masyarakat awam di masa itu yang membutuhkan “ortodoksi” dalam melaksanakan ibadah. Ortodoksi ini bukan seperti yang dikesankan oleh sebagian peneliti muda bahwa ia dipengaruhi oleh Wahhabisme, tetapi ia dimotivasi oleh keterikatan erat dirinya dengan ajaran-ajaran Imam Al-Ghazali.

Ditambah lagi, ia juga didorong oleh kenyataan ajaran-ajaran yang menyimpang dari sebagian komunitas Jawa dalam memahami waḥdatul wujūd, yaitu dengan memutus tali rantai Islām, Īmān and Iḥsān. Kiai Soleh menekankan kembali bahwa ketiganya tidak terpisahkan satu sama lain.


*) Wakil Sekretaris PCINU Belanda. Kini ia tengah mengejar master di Vrije University Amsterdam dengan tesis Ajaran Tasawuf Kiai Soleh Darat.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG