IMG-LOGO
Pustaka

Menggeledah Gerakan Hizbut Tahrir

Sabtu 26 Agustus 2017 17:30 WIB
Bagikan:
Menggeledah Gerakan Hizbut Tahrir
Fatwa-fatwa penolakan ulama terhadap Hizbut Tahrir (HT) yang diduga terlibat dalam serangkaian teror dan kekerasan atas nama agama di belahan dunia mendapat perhatian sejumlah kalangan, baik dari agamawan, aktivis keagamaan, bahkan pengamat politik.

Dalam kenyataan sejarah yang selalu terjadi berulang kali, bahwa agama sama sekali memang tidak dapat steril dan bersih dari berbagai hasrat dan kepentingan manusiawi, sehingga dalam titik tertentu agama kerap kali ditunggangi, demi interest dari kelompok tertentu. Agama menjadi semacam legitimasi sikap polaris dan kepentingan suatu kelompok.

Walaupun Hizbut Tahrir menentang ideologinya dikait-kaitkan dengan kekerasan dan terorisme, pada kenyataannya, anggota-anggota mereka dididik dan terlibat langsung pada kekerasan tersebut. Anti-terorisme hanya lipstik dan topeng semata. 

Peristiwa 31 Juli 2006, dua bom ditemukan di kereta api Jerman. Keduanya ditemukan tersembunyi di dalam koper sementara kereta sedang bergerak. Disusul tragedi tanggal 19 Agustus, Youssef Mohammed al-Hajdib, seorang pelajar Muslim Lebanon berusia 21 tahun, ditangkap di stasiun kereta api Kiel. Dia didakwa dengan percobaan pembunuhan, termasuk organisasi teroris dan berusaha menyebabkan ledakan. Kemudian pada tanggal 25 Agustus orang kedua-seorang Suriah bernama Fadi Al-Saleh-ditangkap. Keduanya telah ditangkap di Lebanon. Salah satu tersangka yang ditahan di Lebanon, yang memakai nama kode "Hamza," ditemukan sebagai anggota Hizbut Tahrir.

Pertanyaannya, bagaimana menguji kebenaran asumsi dan stereotip negatif itu? Buku ini selain memberikan informasi penting seluk-beluk percobaan-percobaan kudeta gagal dan serangkaian teror kekerasan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir, juga menyediakan ruang dialektika-kritis bagi pembacanya, bagaimana mestinya kita menyikapi gerakan yang mengusung misi khilafah Islamiyah itu.

Mohammad Nuruzzaman, penulisnya terlihat bersemangat dan berapi-api mengeksplorasi bahasan tema dalam buku yang mempunyai ketebalan 144 halaman dan 5 sub bab ini. Hal itu kemudian mendapat apresiasi dari Ketua PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, karena dirasa buku ini sangat penting untuk dibaca masyarakat Indonesia, Gus Yaquf menganggap buku ini sebagai upaya untuk membentengi aqidah masyarakat juga sebagai bentuk upaya untuk tetap menjaga keutuhan NKRI.

Buku yang ditulis  Nuruzzaman ini menjadi salah satu karya yang berhasil memotret dan merekam agenda-agenda tersembunyi Hizbut Tahrir di seluruh penjuru dunia secara kritis dan komprehensif. Pada bab pertama, dijelaskan aspek historis, doktrin yang diajarkan oleh Mohammed Tagiuddin al-Nabhani.

Menurut Michael R Fischbach, pendirian Hizbut Tahrir al-Nabhani datang bersamaan dengan resminya Ikhwanul Muslimin. Dia menjadi kecewa dengan Ikhwanul Muslimin (Moslems Brotherhood) karena memiliki hubungan erat dengan pendirian Yordania. Jordan tidak pernah berusaha untuk melarang MB, dimana ia beroperasi dengan nama Islamic Action Front. MB telah mengirim banyak pejuang melawan Israel dan awalnya berkolusi dengan kudeta “Pejabat Bebas” di Mesir, yang berlangsung pada tanggal 23 Juli 1952. Pada bab ini Nuruzzaman juga memberikan perhatian khusus sehingga tersaji secara sistematis, runtut, dan dramatis.

Menurut Nuruzzaman, buku ini dilandasi beberapa faktor penting. Salah satunya yaitu adanya anggapan masyarakat yang menilai bahwa keputusan pembubaran HTI oleh Kementerian Hukum dan HAM adalah tindakan yang salah karena melarang dakwah Islamiyah di negaranya sendiri. Padahal secara tegas Ketua MUI, KH Maaruf Amin mengatakan, “Sekarang HTI itu dipertanyakan komitmen kebangsaannya oleh pemerintah. Karena mereka mengusung isu Khilafah. HTI memang pantas untuk dibubarkan.”  (Back Cover-Endorsement).

Pada bab kedua, Nuruzzaman membongkar keterlibatan Hizbut Tahrir dalam kekerasan dan pengeboman. Peristiwa memilukan, Asif Hanif dari Hounslow, berhasil meledakkan dirinya. Dia membunuh tiga orang dan melukai 65 lainnya. Temannya, Omar Sharif dari Derby, tidak bisa meledakkan ikat pinggangnya dan melarikan diri. Mayatnya yang membusuk ditemukan mengambang di laut 12 hari kemudian. Kedua orang tersebut dikaitkan dengan kelompok radikal Al Muhajiroun, yang berevolusi dari Hizbut Tahrir. Omar Sharif dijadikan radikal oleh HT di universitas, dan menerima surat elektronik dari kelompok tersebut sampai saat dia mencoba meledakkan dirinya. 

Hizbut Tahrir, tentu saja, mengklaim bahwa itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Perpecahan bekas Uni Soviet telah menciptakan negara-negara di Asia Tengah yang sejak pertengahan 1990-an menjadi rentan terhadap kemajuan Hizbut Tahrir dan "teologi pembebasan" militannya.

Pada bagian ketiga dalam buku ini mengungkap dilema pelarangan Hizbut Tahrir. Nuruzzaman mengatakan “Kita harus memulai dari Inggris, karena di sanalah pusat Hizbut Tahrir berdiri.” Persoalan yang dihadapi oleh Inggris dilematis. Sehingga usaha membubarkan Hizbut Tahrir tidak gampang seperti membalik telapak tangan. 

Hizbut Tahrir dilarang hampir di semua negara Arab di Timur Tengah, seperti Yordania, Suriah, Lebanon, dan Mesir. Gerakan ini dilarang di Tunisia, Libya, dan juga Turki. Mereka dianggap sebagai ancaman, dan bahkan dilarang di Arab Saudi dan juga di Pakistan, yang sudah merupakan klimaks ekstremisme. Aliran ini dilarang di semua negara bekas jajahan Soviet di Asia Tengah. Sejak Februari 2003 mereka telah dilarang di Rusia. Mereka juga telah dilarang di Jerman  karena anti-Semitisme dan keinginannya menggunakan kekuatan untuk tujuan politik. Sejak Maret 2003, mereka juga dilarang di Belanda. Sayangnya, masih saja ada negara-negara yang mengalami dilema untuk melarang keberadaan Hizbut Tahrir.  

Kesimpulan yang menarik diberikan oleh Nuruzzaman pada bab ketiga ini adalah bagaimanapun, ideologi Hizbut Tahrir dianggap berbahaya oleh para penguasa dengan sistem pemerintahan yang kontra khilafah. Ideologi itu dianggap berbahaya karena menyimpan potensi revolusi. Apabila revolusi terjadi, maka tidak tertutup kemungkinan terjadi pertumpahan darah yang mengerikan. Hampir negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir melihat percik-percik revolusi berupa kekerasan muncul ke permukaan.

Di bab keempat, diskusi tentang bagaimana fatwa-fatwa penolakan ulama dunia terhadap Hizbut Tahrir. Dalam sinopsis bukunya, Nuruzzaman memantik pembahasan fatwa-fatwa penolakan itu dengan tegas dan lantang. “Para ulama Muslim di berbagai penjuru dunia tidak setuju dengan gagasan dan misi yang dibawa oleh Hizbut Tahrir. Menurut ulama’; Asia, Timur Tengah, Eropa, bahkan Australia, Rusia, dan sekitarnya secara tegas mengatakan bahwa konsep khilafah Hizbut Tahrir bukan malah mempersatukan umat Islam tetapi malah akan memecah belah umat Islam. Apalagi Hizbut Tahrir mengharamkan demokrasi, nasionalisme, dan patriotisme. Jika Hizbut Tahrir dibiarkan jelas akan memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Pada bab terahir, Nuruzzaman mencurahkan tenaga dan pikiran untuk melakukan kajian kritis atas ideologi dan citra Hizbut Tahrir Indonesia. Ia mengaku bahwa mengkritik ideologi khilafah yang diusung Hizbut Tahrir, termasuk Hizbut Tahrir Indonesia, bukan perkara mudah. Sebab, organisasi ini mencitrakan dirinya terus-menerus sebagai organisasi yang anti-terorisme, dan diam-diam mendukung aksi kekerasan, intoleransi, dan anti-pluralisme, juga anti-demokrasi.

Pandangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atas Pancasila, memang menarik dan mengandung kontradiksi. Di satu sisi, mereka menyebut Pancasila sebagai "ideologi kufur" yang harus ditolak karena ketidaksempurnaan Pancasila dalam dirinya sendiri. Di sisi lain, mereka menerima Pancasila sebagai seperangkat falsafah (set of philosophy).

Di tahun 1990, secara eksplisit HTI  mengkafirkan Pancasila. Kemudian pada tahun 2012, HTI menghaluskan pandangannya dengan menyebut Pancasila sebagai set of philosophy: rangkaian filsafat buatan manusia. 

Ismail Yusanto mengatakan karena Pancasila mengakomodir pluralisme agama. Hal ini terdapat pada sila Persatuan Indonesia yang menjaga dan menghormati kemajemukan bangsa, salah satunya kemajemukan agama. Penghargaan atas kemajemukan agama ini bertentangan dengan prinsip HTI yang menekankan kebenaran tungal agama Islam. Kedua, karena Pancasila berisi kemajemukan ideologi-ideologi non-Islam, seperti sosialisme, demokrasi, dan nasionalisme. Padahal menurut HTI, mabda’ yang paling benar adalah mabda’ Islam. Dengan argumentasi itulah, maka Pancasila adalah "falsafah kufur" yang bertentangan dengan Islam.

Bagi Hizbut Tahrir Indonesia, Pancasila adalah gagasan filosofis yang baik. Hanya saja sebagai set of philosophy, ia tidak mencukupi (not suffictient) untuk mengatur tata pemerintahan di Indonesia. Mengapa? Selain karena jumlahnya yang hanya lima sila, Pancasila hanya merupakan gagasan filosofis yang tidak memiliki keturunan sistemik di dalam realitas politik. Turunan sistemik ini menyangkut sistem hukum yang mewujudkan keadilan sosial, sistem politik yang mendukung kerakyatan, sistem ekonomi yang mendukung kesejahteraan, dsb. Dengan tidak adanya rumusan sistem sebagai ejawentah dari Pancasila ini, maka set of philosophy tersebut tidak mencukupi dalam ketatanegaraan dan tata poitik.

Intinya, karya Nuruzzaman ini merupakan kajian komprehensif dan kritis. Secara khusus buku ini juga berusaha menggeledah gerakan Hizbut Tahrir beserta agenda tersembunyi dan implikasi politik internasionalnya. Selamat membaca


Peresensi Ahmad Ali Adhim

Info Buku
Judul  : Catatan Hitam Hizbut Tahrir
Penulis  : Mohammad Nuruzzaman
Penerbit : Belibis Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal : 144 Halaman
ISBN : 978-602-6940-62-9

Bagikan:
Sabtu 26 Agustus 2017 10:1 WIB
Khilafah Produk Sejarah, Bukan Syariah
Khilafah Produk Sejarah, Bukan Syariah
Moh. Sholeh pernah menjabat sebagai ketua PMII Jakarta Pusat (1997-1998), pada tahun 2000-2002 ia Fungsionaris PB PMII, ia pun banyak berkecimpung sebagai peneliti di Komisi VIII DPR RI dan Indonesia Politician Index, Jakarta. Penelitian nya yang ia ajukan untuk memenuhi syarat kelulusan S2 Konsentrasi Pemikiran Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya menghasilkan buku ini. Buku ini terasa unik juga diakronik. Karena Ia memaparkan sejarah kelembagaan kekuasaan dan politik Islam, secara jernih, runtut dan renyah.

Terasa unik karena ia memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap relasi antara agama dan politik, dalam pengantarnya ia mengatakan bahwa dalam perspektif tali-temali agama dan politik, terdapat dua pertanyaan mendasar, yaitu agama dalam arti what does religion do for other? Dan what is religion? Menurut Moh Sholeh, secara empirik bagi umat Islam terdapat tiga paradigm terkait dengan relasi Islam dan Politik. 

Pertama, Integrated Paradigm, yang menyatakan bahwa wilayah agama merupakan lembaga keagamaan sekaligus lembaga politik. Pemerintah Negara diselenggarakan atas dasar kedaulatan ilahi (divine sovereignty), secara faktual model ini dijalankan di Iran. Kedua Symbiotic Paradigm,yaitu pandangan yang menyatakan bahwa agama dan Negara berhubungan secara simbiotik, dalam arti berhubungan secara timbal balik dan saling membutuhkan. Dalam hal ini Negara membutuhkan agama sebagai pijakan kekuatan moral sehingga dapat menjadi alat mekanisme kontrolnya.
 
Di antara ulama yang pemikirannya bias digolongkan dalam model ini adalah Imam al-Mawardi. Ulama lain yang pemikirannya masuk kedalam paradigm ini adalah Imam al-Ghazali. Ketiga, Secularistic Paradigm, yang memandang relasi antara agama dan dan Negara harus terpisah. Pandangan inilah yang menolak dengan tegas Paradigm Integrated maupun symbiotic. Dalam pandangan secularistic paradigm tugas Nabi Muhammad SAW tak lebih dari tugas kenabian bukannya kekuasaan (innaha nubuwah la mulk) sebagaimana nabi terdahulu.

Masih dalam pandangan secularistic paradigm, Moh. Sholeh menjelasaskan bahwa urusan keduniaan Nabi SAW diserahkan kepada umatnya (antum a’lamu bi umuri dunyakum), termasuk urusan politik. Lebih jauh secularistic paradigm ini menyatakan bahwa islam tidak memiliki kaitan apapun dengan sistema kekhalifahan, sehingga sistem kekhalifahan adalah tergolong urusan duniawi murni. Secara umum pendukung secularistic paradigm ini selalu menyuarakan bahwa belief is one thing, and politics is another. Pandangan atas secularisticparadigm ini diusung oleh Al-Syaikh Ali Abdu al-Raziq.

Sejarah membuktikan bahwa setelah Rasulullah Muhammad SAW kembali keharibaan-Nya, persoalan yang muncul justru bukan masalah aqidah, melainkan politik. Saya sangat setuju dengan Penulis Buku ini, agama dan Negara sebagai inti politik merupakan dua institusi yang mempunyai pengaruh besar dan kuat bagi manusia. Hanya untuk agama dan Negara, terkadang manusia rela mengorbankan dirinya, baik harta maupun nyawa. Tentu dengan motif yang relatif pula, baik dalam rangka mendapatkan gelar syahid dalam pandangan agama, atau mendapat gelar pahlawan dalam pandangan Negara.

Dalam buku ini seolah-olah Moh. Sholeh ingin mengajak kita untuk mengingat kembali bahwa dalam sejarah, khilafah dikenal sebagai institusi politik Islam pengganti atau penerus Rasulullah SAW sebagai pembuat hukum dalam urusan agama dan politik. Terlepas dari secara etimologis kata khilafah yang berarti perwakilan atau pengganti. Konsep Khilafah yang sampai pada generasi kita ini apakah murni untuk mendapat gelar Syahid? Pahlawan? Atau memang sudah bergeser pada kepentingan lain? Moh. Sholeh menguraikan mengenai itu semua, termasuk bagaimana suksesi gerakan Khilafah melalui Revolusi, Sistem Negara Islam Klasik: Akar Teori Khilafah, termasuk pergulatan Formulasi Teori Khilafah. 

Lebih jauh lagi, dalam buku ini membahas bab-bab yang tidak terjangkau oleh penulis lain, yang menyoroti dan mengkritisi gerkan Khilafah, Moh. Sholeh menyuguhkan beberapa bab khusus mengenai bentuk-bentuk Negar dalam Islam, diantaranya ada; Khilafah, Mulk, Daulah, Imamah. Bab yang tidak kalah menarik adalah ketika ia bercerita tentang berbagai macam Organisasi Pengusung Restorasi Khilafah. Dengan bahasa yang sangat mengalir, saya dibuat tercengang oleh Moh. Sholeh, karena ia mengungkapkan data bahwa bukan hanya Hizbut Tahrir Islami saja yang mengusung Restorasi Khilafah, Ada empat organisasi yang disebutkan oleh Dosen Universitas Islam Attahiriyah Jakarta ini. bahkan organisasi ini benar-benar diluar dugaan saya.

Karya Moh. Sholeh ini dapat kita pakai sebagai petunjuk memahami pernak pernik seputar Khilafah, mulai dari kisah dramatis Musthafa Kaml Attaruk, Ali Abdul Raziq, Hassan Al-Banna, Muhammad Bin Abdul Wahhab, Wahabisme, Saudi Arabia dan Tanah Kaum Salafi. Hingga pola Suksesi dalam Institusi Negara Khilafah dari Khulafa’ al-Rasyidin sampai periode Turki Usmani. Setelah Istana Publishing Yogyakarta menerbitkan dalam buku ini, masihkah secara buru-buru kita mengklaim bahwa Khilafah adalah ancaman untuk Negara Indonesia? Sedangkan dari Judul bukunya saja sudah sangat jelas bahwa “Khalifah Sebagai Produk Sejarah, Bukan Produk Syari’ah.”

Buku ini menyuguhkan ulasan mendetail, runtut dan diutarakan dengan sangat apik oleh Moh. Sholeh mengenai perjalanan Khilafah di Era Modern, dari Kongres ke Kongres; Kongres awal, efek Libia dan Iran, Kongres-kongres kelompok, hingga konferensi Khilafah di Jakarta pada tahun 2007. Termasuk diakronik karena dalam buku ini juga membahas tentang Khilafah, Sekularisme dan Nation State; Pengalaman Bangsa-bangsa Muslim musal persinggungan. Mulai dari Turki Usmani, Arab, Mesir, Aljazair, Iran, Asia Selatan, Indonesia Hingga Malaysia.

Karena kehati-hatian (penulis) dalam mengutip pendapat para ulama, ahli dan kelompok-kelompok yang berbeda pendapat memaknai kesejatian khilafah, saya kira karena itulah buku ini sangat demokratis dan memberi tawaran yang sangat istimewa kepada Para pendukung dan pengikut Khilafah di Indonesia yang barangkali ingin kembali mencintai Negaranya sendiri? 

Sebagaimana realitas empirik menunjukkan bahwa masih banyak diantara Umat Islam yang menyadari bahwa tatanan masyarakat Madinah yang didirikan oleh Muhammad SAW adalah identik dengan “Negara” yang plural secara suku dan keyakinan agama. Mereka terdiri dari suku-suku Arab Islam, baik dari Makkah dan Madinah, serta suku-suku di luar keduanya. Masyarakat Madinah juga terdiri dari suku-suku Yahudi, Nasrani, Majusi, bahkan mereka masih musyrik. Sebagai landasan Negara baru tersebut, saat itu Rasulullah SAW memproklamasikan “Konstitusi Dasar” yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Mitsaq Madinah” atau piagam Madinah. 

Perlu kita ingat lagi, bahwa dengan Piagam Madinah yang terdiri dari 47 pasal itu. Nabi SAW telah meletakkan sendi-sendi kehidupan Nation State untuk masyarakat yang majemuk secara etnis dan agama yang mana secara jelas inti pasal-pasal Piagam Madinah dilukis dengan tinta baru dalam buku Ini. Lebih lanjut, mukaddimah Piagam Madinah tersebut menegaskan bahwa semua penduduk Madinah yang bersifat majemuk itu adalah satu bangsa (innaha ummah wahidah).

Berdasarkan oenegasan itu pula para kiai di Indonesia berpendapat bahwa bangsa dibangun dan didirikan tidak berdasarkan agama saja (based on religion), tetapi berdasarkan pluralitas (based on plurality). Berdasarkan piagam tersebut mereka meyakini bahwa NKRI yang berdasarkan UUD 1945 adalah upaya final bagi umat Islam dalam rangka mendirikan sebuah Negara. 

Hadirnya buku yang berani mengungkap sejarah seperti ini tidak bisa dihindarkan dari ruang public kita, terutama untuk generasi yang kurang memahami sejarah Islam dan Politik dunia. Karena setelah Rasulullah wafat, yang pertama menjadi agenda perbincangan umat Islam adalah peroalan politik tentang suksesi beserta agenda kelompok-kelompok yang muncul setelah itu.

Kembali pada pertanyaan awal, apakah setelah resmi dibubarkan oleh Menteri Hukum dan HAM di Indonesia, masihkah saudara kita Hizbut Tahrir Indonesia tetap menolak pluralisme, kebhinekaan, dan kesaktian Pancasila? Ingin menjadi Pemberontak di Negaranya sendiri? Atau ingin menjadi Syahid di Hadapan Allah? Jika HTI tetap memegang teguh prinsip Khilafah Islamiyahnya, bias jadi hal itu karena HTI menganggap bahwa Khilafah Islamiyah merupakan Produk Syariah, bukan Produk Sejarah.

Upaya Penulis buku yang pernah menimba ilmu di Pesantren al-Basyariyah, Darul Hikam, Darunnajah dan Pesantren Tegalsari Ponorogo ini patut diapresiai. Semoga buku dengan ketebalan 236 halaman ini bisa memperkaya pengalaman kita. Aamiin

Identitas buku:
Judul Buku : Khilafah Sebagai Produk Sejarah, Bukan Syariah
Penulis : Moh. Sholeh 
Penerbit : Istana Publishing, Yogyakarta
ISBN : 978-602-60586-5-2
Ketebalan : 236 Halaman
Cetakan : Pertama, 2017
Peresensi : Ahmad Ali Adhim, Santri Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta.

Jumat 18 Agustus 2017 19:30 WIB
Cara Mudah Memahami Intisari Al-Qur’an
Cara Mudah Memahami Intisari Al-Qur’an
Bagi sebagian orang, memahami kandungan al-Qur’an masih terasa sulit dan bahkan tidak tahu sama sekali. Islam menganjurkan dan mewajibkan umatnya untuk mengamalkan pesan yang terkandung dalam al-Qur’an, tapi bagaimana cara umatnya untuk menyerap pesan-pesan al-Qur’an, sedang mereka tidak mempunyai kemampuan dan keahlian, tidak pernah mengenal ilmu-ilmu alat (nahwu-sharraf) sebagai pintu masuk untuk membuka pemahaman tentang al-Qur’an.
Untung saja ada terjemahan al-Qur’an versi bahasa Indonesia, sehingga sebagian orang bisa membaca arti al-Qur’an walaupun tidak sampai pada pemahaman secara terperinci. Ahsin Sakho Muhammad, seorang pakar dalam bidang ilmu-ilmu al-Qur’an mencoba membantu para penyuka al-Qur’an agar mereka lebih mengerti dan paham tentang kandungan al-Qur’an lewat bukunya yang berjudul Oase Al-Qur’an: Penyejuk Kehidupan.
Dalam buku ini dijelaskan tentang kreteria, kelompok, dan golongan orang-orang yang disayang Allah, benar-benar menjadi hamba-Nya yang memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat. Pada surah al-Ahzab ayat 35 misalnya, di sana tertera 10 kelompok yang akan mendapat ampunan dan berhak memegang tiket ke surga. Di antaranya adalah orang yang senang bersedekah kepada yang membutuhkan, ikhlas karena Allah tanpa mengharap pujian dan balasan. Kelompok lain yang mempunyai tiket ke surga adalah mereka yang gemar berpuasa, baik puasa sunnah dan apalagi puasa wajib (halaman 46).
Sikap kedua kelompok tersebut selayaknya memang harus tertanam dalam diri setiap Muslim. Keduanya mencakup hubungan horizontal dengan sesama dan hubungan vertikal dengan Allah. Menolong sesama, terutama kepada para kerabat dan tetangga sekitar, merupakan salah satu langkah yang sangat baik untuk menciptakan kehidupan yang harmonis, damai, dan sejahtera. 

Orang-orang yang sering menolong dan membantu tetangga dekatnya akan lebih disenangi dari pada mereka yang enggan mengulurkan tangan. Penilaian dan respons masyarakat pun akan berbeda, sehingga orang yang suka menolong dan hidup bersosial bisa dikatakan mempunyai peluang untuk hidup lebih nyaman di tengah-tengah masyarakat di bandingkan mereka yang hidup secara individualis.
Begitupun dengan orang-orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, mereka juga mempunyai peluang untuk hidup bahagia di alam akhirat kelak. Mendekatkan diri kepada Allah bisa ditempuh dengan berbagai hal, salah satunya bisa dengan memperbanyak puasa sunnah seperti yang dilakukan oleh para sufi. Menurut sebagian sufi, puasa yang dilakukan secara terus-menerus pada akhirnya akan dapat menghilangkan nafsu yang jelek, yang ada hanyalah kesucian hati dan kejernihan pikiran. Jika sudah demikian, kebahagiaan itu tidak hanya terjadi di akhirat kelak, tetapi sudah mulai hadir sejak di dunia.

Kedua sikap terpuji di atas juga tertera dalam surah al-Baqarah ayat 1-5, di sana dijelaskan tentang lima sifat yang mencakup hubungan kita dengan Allah, dan hubungan kita terhadap sesama. Pertama, aspek akidah (iman terhadap hal-hal gaib, kitab-kitab suci, dan hari akhir); kedua, syariah (hubungan vertikal dengan Allah [shalat] dan hubungan horizontal dengan sesama [infak]).

Aspek akidah dan syariah yang tercantum dalam surah al-Baqarah: 1-5 ini oleh penulis disebut sebagai inti ajaran Islam (halaman 32). Siapapun yang berhasil melaksanakan kedua aspek tersebut dengan baik dan ikhlas, ia mempunyai peluang untuk menjadi hamba Allah yang akan hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam buku ini kita akan menemukan beberapa potongan ayat yang bisa menenteramkan suasana hati, menjernihkan pikiran, serta menyejukkan kehidupan. Kita diajak untuk menjadi seorang mukmin yang cerdas secara mental, sosial, moral, dan spiritual, sehingga bisa menyejukkan hati sendiri maupun orang lain. 

Setiap bab hanya berisi satu pokok bahasan, yang didahului dengan beberapa potongan ayat al-Qur’an dan kemudian diberi poin-poin penting yang dikandung oleh ayat tersebut. Poin-poin tersebut tidak terlalu panjang, ringkas, dan padat, langsung pada inti maksud dari ayat yang bersangkutan, sehingga hal demikian tidak terlalu membingungkan bagi mereka yang awam dalam bidang ilmu-ilmu al-Qur’an.

Data Buku
Judul : Oase Al-Qur’an: Penyejuk Kehidupan
Penulis : Dr KH Ahsin Sakho Muhammad
Penerbit : Qaf
Cetakan : 1, 2016
ISBN : 978-602-1337-35-6
Tebal : 346 Halaman
Peresensi: Saiful Fawait, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Sumenep, Jawa Timur.
Jumat 11 Agustus 2017 15:0 WIB
Memahami Ilmu Tauhid dengan Mudah bersama Kiai Sholeh Darat
Memahami Ilmu Tauhid dengan Mudah bersama Kiai Sholeh Darat
Apabila kita membaca berbagai karya Kiai Sholeh Darat (1920-1903), akan tampak metodologi beliau dalam menulis: menyajikan yang berat dengan ulasan yang ringan. Kiai Sholeh Darat tidak mau bermonolog di hadapan pembacanya, melainkan memilih berdialog dengan berusaha memahamkan para pembaca karya-karyanya.

Karena Kiai Sholeh Darat adalah “Koki Intelektual”, maka ketika mengolah karyanya, beliau mengambil bahan baku yang pas dan cocok untuk diolah, diracik sedemikian rupa agar sesuai dengan selera lokal, dan disajikan dengan pola pikir masyarakat awam. Silahkan dicermati berbagai karyanya, niscaya akan ketemu pola seperti ini.

Karya-karya Kiai Sholeh Darat sebagian ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa pasaran, bukan bahasa Jawa Kromo Inggil ala keraton. Hal ini bisa dimaklumi, sebab jangkauan dakwahnya lebih ke masyarakat awam. Visi edukatif ini beliau tulis dalam pengantar salah satu karya populernya, Majmu’ah As-Syari’ah al-Kafiyah li al-‘Awam.

Dalam kitab ini, beliau menulis, “….kerono arah supoyo pahamo wong-wong amsal ingsun awam kang ora ngerti boso Arab mugo-mugo dadi manfaat biso ngelakoni kabeh kang sinebut ing njeroni iki tarjamah. (agar masyarakat awam yang tidak mengerti bahasa Arab bisa paham dan semoga bermanfaat (serta) bisa mengamalkan semua yang disebutkan dalam terjemahan ini)."

Meskipun demikian, dakwah Kiai Sholeh bukan hanya menjangkau kalangan awam saja. Para priyayi yang menduduki posisi prestisius di kasawan pesisir Jawa juga menjadi murid setianya. Yang paling masyhur tentu saja Raden Ajeng Kartini. Perempuan ini meminta Kiai Sholeh agar memberikan ulasan lebih mendalam mengenai makna ayat-ayat Al-Qur’an. Sebuah permintaan yang dikabulkan Kiai Sholeh dengan cara menulis Faidh al-Rahman, sebuah tarfsir Al-Qur’an yang kemudian dihadiahkan kepada Kartini pada saat pernikahannya dengan Bupati Rembang.

Lahir di Jepara, 1820, berguru kepada para ulama di Makkah dan mengembangkan kiprah keilmuannya di kota suci ini, namun panggilan nuraninya dan siasat “culik” yang dilakukan oleh Kiai Hadi Girikusumo pada akhirnya melabuhkan Kiai Sholeh Darat di Semarang, di mana beliau mengembangkan kajian keilmuan hingga akhir hayatnya, 1903.

Salah satu karyanya, Syarah Hikam, memberi penjelasan atas aforisme indah di dalam kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah As-Sakandari. Di tangan Kiai Sholeh Darat, ulasan tasawuf dalam kitab ini disajikan dengan indah dan mudah dicerna, bahkan oleh orang awam sekalipun.

Tak berbeda dengan ulasan dalam Syarah Hikam, Kiai Sholeh juga menyajikan ulasan mengenai hal-ihwal teologi (tauhid) yang enak dinikmati melalui karyanya, Tarjamah Sabil a-‘Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid. Kitab berbahasa Jawa ini merupakan syarah atas kitab Jauharah at-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani (w. 1631) yang berbentuk nadzam 144 bait. Ulama ahli hadits ini bermadzhab Maliki dan memiliki keahlian di bidang teologi dan tasawuf.

Meskipun terhitung pendek, tetapi kitab Jauharah at-Tauhid ini mencakup berbagai aspek perihal tauhid, bahkan juga tasawuf.
Tak heran jika Kiai Sholeh Darat menyisihkan waktunya untuk menuntaskan karya ini. Dalam masalah tauhid, kitab ini membahas lima puluh akidah ahlussunnah wal jama’ah.

Lima puluh akidah ini wajib diketahui oleh masyarakat awam secara terperinci dan wajib mengetahui dalilnya secara global. Menurut Kiai Sholeh Darat, orang awam cukup mengetahui dalil ijmaliy (dalil umum), tidak wajib mengetahui dalil tafshily (dalil terperinci), sebagaimana yang tertera dalam kitab Umm al-Barahin (hlm. 23).

Selain itu, buku ini juga mengulas hal yang wajib diketahui oleh umat Islam, seperti hisab, syafaat Rasulullah, sirath al-mustaqim, ruh, kebangkitan dari alam kubur, surga dan neraka, dan lain-lainnya.

Dalam ranah tasawuf, buku ini juga mengulas perilaku yang harus dimiliki seorang muslim seperti tawakal, memuliakan keturunan Rasulullah, juga mengenai tazkiyat an-nafs seperti ujub, riya’, takabbur, dengki, dan sebagainya. Yang menarik, dalam bab “77 Cabang Iman”, sekali lagi, Kiai Sholeh darat memberi penekanan mengenai pentingnya mengajar orang awam menggunakan bahasa lokal, seperti Melayu dan Jawa.

Kiai Sholeh memberikan contoh seorang cendekia bernama Syekh Ismail al-Minangkabawi yang mengajarkan kitab Sabil al-Muhtadin karya Syekh Arsyad Al-Banjari yang berbahasa Melayu di Makkah. “Orang yang menjadi guru tidak boleh sombong, tidak mau mengajarkan kitab terjemahan (bahasa Ajam/ selain bahasa Arab) karena khawatir dianggap bodoh, merasa senang jika orangh lain terlihat bodoh dan dia terlihat alim. Orang yang punya pemikiran seperti inia dalah orang gila.” (hlm. 61).

Visi edukatif Kiai Sholeh Darat terpantul melalui ulasan dari buku ini yang sangat gampang dicerna. Nadzam berbahasa Arab dikarang oleh Syekh Ibrahim al-Laqqani, kemudian diterjemahkan dan diulas dalam bahasa Jawa oleh Kiai Sholeh Darat yang mengambilnya berdasarkan materi yang diambil dari Hasyiyah As-Syaikh al-‘Allamah Ibrahim al-Bajuri yang berjudul Tuhfat al-Murid. Kemudian, lebih dari satu abad berikutnya karya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Sahifa. Melalui buku ini kita bisa belajar teologi dan tasawuf dengan indah dan mudah.

Peresensi: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr PCNU Surabaya)

Info buku
Judul : Tarjamah Tauhid Sabilul ‘Abid ‘Ala Jauharah at-Tauhid
Halaman : 456 hlm; 14, 8 x 21 cm
Penerbit : Sahifa
Cetakan : cet. 1, Mei 2017

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG