IMG-LOGO
Daerah

Cerita Kesaktian Bendera dan Stiker NU

Selasa 29 Agustus 2017 12:2 WIB
Bagikan:
Cerita Kesaktian Bendera dan Stiker NU
Tangerang Selatan, NU Online 
Bendera Nahdlatul Ulama (NU) terpancang di pagar besi  bercat putih yang agak memudar di sebuah rumah, di kawasan Legoso, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Rumah yang didominasi warna krem berlantai marmer dengan halaman kecil ini adalah sekretariat Ikatan Keluarga Mahasiswa Raudhatul Ulum (Ikamaru) wilayah Jakarta dan Sekitarnya. Ikamaru adalah organisasi yang mewadahi para santri alumni pesantren itu, yang menempuh studi di kampus-kampus yang tersebar di seluruh Jabodetabek.

Pada Ahad (27/8) sore hingga malam, putra dan putri Ikamaru bersama pegiat lain berkumpul di sekretariatnya mengikuti acara Pungkasan Wulan Nyarung dengan agenda Khotmil Qur’an bi al ndhor dan bincang santai bertema “Semua (Ber)korban pada Waktunya”. Kegiatan ini rutin diadakan setiap Ahad akhir bulan oleh Nyarung.id, sebuah website yang menjadi saluran para santri dalam merawat tradisi pesantren.

Mengenai keberadaan bendera NU di sekretariat Ikamaru itu sudah ada sejak pertama kali mereka mengontrak rumah di jalan Lurah Disah No.27 Legoso, Tangsel itu. Hal ini tak lepas dari kultur para santri Ponpes Raudlatul Ulum yang lekat dengan tradisi NU. Tradisi tersebut terus mereka hidupkan hingga saat merantau dan bertahan hidup di Ibukota. Di antaranya, setiap Kamis sore atau malam Jumat, mulai pukul 16.00, mereka rutin menggelar acara pembacaan Yasin dan Tahlil, dilanjutkan dengan pembacaan salawat dan kitab Albarzanji hingga berakhir sekitar pukul 22.00. 

Tak hanya itu, mereka juga rutin menggelar pengajian kitab-kitab kuning, seperti Ta’limul Muta’alim, Bidayatul Hidayah, Kifayatul Akhyar, Tafsir Yasin dan lain-lain setiap malam Sabtu dan Ahad. Hingga saat ini, pengajian tersebut dipandu oleh Ustadz Purnomo, alumnus Raudlatul Ulum yang juga magister di Institut Ilmu al-Quran, Ciputat. Kegiatan itu diikuti oleh seluruh anggota Ikamaru dari seluruh Jabodetabek.

Masih terkait dengan logo NU di Ikamaru, Slamet Widodo, salah satu lulusan UIN Jakarta yang juga anggota Ikamaru, menceritakannya. Menurut dia, atribut NU, baik bendera maupun sekadar stiker, seakan wajib terpasang di sekretariat, terutama sejak peristiwa beberapa waktu lalu, sekitar Oktober 2015. 

“Karena bendera dan stiker NU itu “sakti”. Kita terhindar dari kecurigaan tetangga,” katanya.

Kala itu, lanjutnya, anak-anak Ikamaru baru pindah tempat sekretariat di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan. Seperti biasa, tiap malam Jumat mereka menggelar pembacan Yasin dan Tahlil dilanjutkan dengan al-Barzanji lengkap dengan iringan hadroh. 

Sehari setelahnya, Slamet Widodo yang hendak membeli sesuatu di warung samping sekretariat mendapat teguran atau tepatnya dicurigai sebagai kelompok teroris. Karena memang masa itu tengah merebak isu seputar kelompok radikal seperti ISIS dan sebagainya. 

“Waktu saya ke warung samping, saya dipanggil sama Pak RT. Saya ditanya, ‘Mas (orang yang tinggal di rumah kontrakan) ini kelompok apa? Bukan teroris, kan?’ Saya kaget dan saya jawab, ‘bukan Pak. Kami anak-anak NU’. Soalnya kalau saya jawab Raudlatul Ulum nanti dia malah tambah nggak tahu,” ujar Widodo.

Setelah saya jawab kita dari NU, lanjut Widodo, pak RT langsung paham. Dia bilang, ‘oh NU. Maaf sebelumnya, kita kan nggak tahu. Soalnya sekarang lagi rame teroris. Kalau NU mah kita paham,’ kata Pak RT. 

Gara-gara itu, Widodo langsung mencari stiker logo NU, kemudian menempelnya di kaca jendela depan sekretariatnya. Setelah kejadian itu, RT dan warga setempat pun merasa tenang. Mereka bahkan selalu mengundang anak-anak Ikamaru ketika warga atau RT setempat menggelar yasinan, tahlilan atau tasyakuran. (MSW/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 29 Agustus 2017 21:21 WIB
Bupati Inhu: Adakah yang Lebih Berjasa Selain NU dan Ulama?
Bupati Inhu: Adakah yang Lebih Berjasa Selain NU dan Ulama?
Bupati Inhu Yopi Arianto (kedua dari kanan)
Indragiri Hulu, NU Online 
Bupati Indragiri Hulu (Inhu) H. Yopi Arianto mengatakan organisasi Nahdlatul Ulama dan para ulama sangat berjasa pada negeri ini. Ia melontarkan hal itu pada pada pembukaan Liga Santri Nusantara Region V Riau-Kepri di Indragiri Hulu.  

“Kalau kita ngaku sebagai orang Indonesia dan cinta NKRI, saya ingin tanya kepada hadirin sekalian, apakah ada yang lebih berjasa dibandingkan dengan Nahdlatul Ulama dan ulama?" tanyanya di tengah 10 ribuan massa yang memadati Stadion Nara Singa Rengat 27 Agustus lalu.

Labih laniut Yopi menandaskan "Dari sejarah, kita belajar bahwa negeri ini merdeka dari darah dan airmata ulama, bukan pemberian gratis dari penjajah seperti negara sebelah," selorohnya yang disambut gelak tawa hadirin. 

Yopi melanjutkan, tidak akan ada peristiwa 10 November 1945 yang kemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun bila KH Hasyim Asy'ari tidak pernah mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. "Catat itu!" tegasnya.

Yopi selanjutnya mengungkapkan keprihatinannya terhadap prestasi olahraga Indonesia di kancah regional dan internasional. "Kalau dahulu para ulama berjuang merebut kemerdekaan, tugas kita hari ini sebagai kaum santri adalah mengisinya. Salah satunya melalui prestasi olahraga. Bahwa olahraga adalah bagian dari marwah Bangsa yang harus diperjuangkan. Termasuk didalamnya sepakbola. LSN adalah jawaban dari pesantren untuk prestasi sepakbola di masa mendatang."

Seperti diketahui, perhelatan Liga Santri Nusantara Region V Provinsi Riau dipusatkan di Kabupaten Indragiri Hulu mengingat beberapa faktor, diantaranya adalah dukungan stakeholder daerah dan kesiapan infrastruktur olahraga dan fasilitas pendukung lainnya. Di Riau, LSN diikuti oleh 16 pesantren/kesebelasan dan di Kepulauan Riau juga diikuti oleh 16 kesebelasan. Riau dan Kepri tergabung dalam region yang sama, yakni Region Sumatra V. (Ali/Abdullah Alawi)

Selasa 29 Agustus 2017 21:8 WIB
PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu
PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu
Indragiri Hulu, NU Online 
Liga Santri Nusantara Region V Provinsi Riau secara resmi dibuka Bupati Indragiri Hulu H. Yopi Arianto di Stadion Nara Singa Rengat 27 Agustus lalu. Acara ini dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 23.30 dihadiri oleh sekira 10.000 orang. Kick off dimeriahkan drumb band dari pesantren setempat yang diikuti oleh defile dari kafilah-kafilah perwakilan 16 pesantren se-Provinsi Riau yang mengikuti Liga Santri. 

Di antara pesantren-pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Salafiyah Babussalam, Pondok Pesantren Syamsyudildin, Pondok Pesantren Nurul Huda, Pondok Pesantren Darul Huda, Pondok Pesantren Al Majdiyah, Pondok Pesantren Khairul Ummah, Pondok Pesantren Al Ihsan, Pondok Pesantren Al Munawwarah, Pondok Pesantren Al Hidayah, Pondok Pesantren Darun Nahda, Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Pondok Pesantren Jabal Nur, Pondok Pesantren Al Kautsar, Pondok Pesantren Tebuireng 4, Pondok Pesantren Baqiyyatussya'diyyah, dan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah.

Dalam sambutannya, Ketua PSSI Asprov Riau menyebut bahwa pembukaan LSN Region V Riau-Kepri ini meriah sekali dan sudah setara perhelatan SEA Games. "Bayangkan, Indragiri Hilir ini jauh dari ibukota provinsi, tetapi lihatlah ia berani menyelenggarakan event sepakbola di malam hari. Kalau bukan infrastruktur memadai, ini tidak akan terjadi. Inilah istimewanya Liga Santri," ujar Chaidir Ketua Pengprov PSSI Riau.

Sementara itu, Bupati Indragiri Hulu dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Kemenpora dan PBNU atas terselenggaranya Liga Santri. "Pembibitan sepakbola kita harus dimulai sejak dini. Liga Santri ini membantu PSSI untuk menyelenggarakan kompetisi sepakbola di Usia-16. Ini sangat strategis mengingat belum ada kompetisi yang masif dan teratruktur di usia ini," tutur Yopi.

Labih lanjut Yopi mengungkapkan kebanggaannya pada NU. "Sebagai kepala daerah saya sangat bangga kepada NU. Bukan saja karena saya seorang Nahdliyin, tetapi karena sejarah berdirinya negara ini tidak bisa dipisahkan dari keringat, darah dan airmata para kiai, santri dan pesantren yang merupakan basis gerakan dari jam’iyah Nahdlatul Ulama," kata Yopi berapi-api.

Tampak hadir dalam acara tersebut adalah Kadispora Provinsi Riau Doni Aprialdi, perwakilan Kapolda Riau, Kapolres Inhu, Forkompuda Provinsi Riau, Jajaran PWNU Provinsi Riau, Jajaran PCNU Inhu dan pengurus MWC NU se-Kabuoten Inhu. Selain itu perhelatan ini juga diikuti oleh seluruh pesantren dan madrasah di Inhu.

Sementara itu dari Panitia Nasional LSN diwakili oleh jajaran direksi, antara lain Cornelius Ariyanto Wibisono, Ade Abdul Aziz, dan Irham Saifuddin. Acara tersebut langsung dikoordinasikan oleh Koordinator Region V Riau-Kepri Ribhan Dwi Jayana. (Ali/Abdullah Alawi)

Selasa 29 Agustus 2017 19:11 WIB
Ketua DPRD Lampung: FDS Kebijakan Tidak Pro Rakyat
Ketua DPRD Lampung: FDS Kebijakan Tidak Pro Rakyat
Bandar Lampung, NU Online
Saat bergabung dan menyampaikan orasi pada Rapat Akbar Tolak Full Day School (FDS), Ketua DPRD Provinsi Lampung Dedi Afrizal menegaskan bahwa kebijakan Menteri Pendidikan tentang FDS tidak sesuai dengan kondisi rakyat Indonesia.

"Kebijakan FDS yang dikeluarkan menteri tidak pro rakyat," tegasnya di depan puluhan ribu warga Lampung yang memenuhi lapangan Korpri kantor Gubernuran Pemerintah Provinsi Lampung, Selasa (29/8).

Kebijakan FDS, lanjutnya, merupakan upaya menggeser kultur dan budaya di Indonesia yang sudah ratusan tahun dibentuk dan diwariskan oleh para ulama dan pendiri bangsa Indonesia. Pesantren dan madrasah diniyyah yang sudah hadir dan nyata-nyata memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia akan tergeser dengan kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, pihaknya akan menempuh berbagai upaya pembatalan kebijakan tersebut. Salah satu upaya mendukung pembatalan kebijakan FDS ini adalah dengan melayangkan surat tertulis kepada pihak-pihak yang terkait.

Sementara itu Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Bajuri mengingatkan, jika kebijakan FDS tetap dilaksanakan, maka paham-paham radikal akan semakin subur tumbuh di lembaga pendidikan formal. Ini tentunya akan merusak para generasi muda yang pada akhirnya akan mengancam kesatuan NKRI.

Pada Rapat Akbar tersebut juga disampaikan berbagai pandangan tentang bahayanya kebijakan FDS di antaranya dari Ketua Lembaga dan Banom PWNU Lampung. 

Selain orasi, dalam Rapat Akbar tersebut juga dilakukan istighotsah dan doa untuk keselamatan bangsa serta kokohnya NKRI. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG