IMG-LOGO
Daerah

Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA

Sabtu 2 September 2017 4:3 WIB
Bagikan:
Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA
Buleleng, NU Online
Desa Pengastulan, Kecataman Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali memiliki sejarah yang agak berbeda dengan daerah lain di Bali. Jika di tempat lain hubungan keharmonisan antara Islam dan Hindu berjalan cukup harmonis, di Desa yang berada di Kabupaten Buleleng ini dikenal sebagai desa yang seringkali terjadi letupan konflik berlatar SARA.

Walau demikian, konflik yang terjadi tidak sampai meluas dan hanya terlokalisir di Desa Pengastulan. Karena sesungguhnya latar konflik tidak ansih karena agama, melainkan kesalahpahaman-kesalahpahaman antar anak muda yang kebetulan berbeda agama. 

Terakhir, konflik kembali memanas pada bulan puasa. Dan ini lagi lagi karena gesekan pemuda yang karena masalah sepele, namun dibawa dan diprovokasi menjadi konflik agama. Kondisi seperti ini tentunya tidak mengenakan bagi masyarakat Pengastulan baik Islam maupun Hindu, yang selalu dibayangi konflik terus menerus.

Untuk itu, keberadaan Gerakan Pemuda Ansor yang belum lama dibentuk di Desa Pengastulan ini terus melakukan komunikasi dua arah untuk meminimalisir kesalahpahaman.

Hal ini ditegaskan Mursalin, Ketua Ranting GP Ansor Pengastulan ketika ia dan puluhan anggota Banser turut mengamankan Upacara Ngaben, Rabu (30/8). "Kami akan terus berkomunikasi dan bekerja sama seperti ini," tegasnya.

Mursalin melanjutkan, selama ini gesekan kerap terulang karena tidak adanya tindakan nyata kedua belah pihak untuk benar benar bersatu. "Simbolitas semacam ini sungguh sangat berarti, dimana kami yang Muslim juga turut andil pada kegiatan saudara kita yang beragama Hindu, dan kerjasama seperti ini belum pernah terjadi sejak dulu" terangnya.

Setelah terbentuknya GP Ansor ini, Mursalin mengaku agak mudah berkomunikasi dengan semua pihak.  Kemudahan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari nama besar NU dan Gus Dur. 

"Ketika kami berkoodinasi dan membawa nama NU, mereka sangat respek, dan menerima dengan hangat," ungkapnya.

Kondisi yang sudah cendrung membaik ini, akan dimanfaatkan GP Ansor untuk merajut persaudaraan sesama masyarakat Desa Pengastulan. "Kami tidak ingin ada lagi gesekan, karena sekali terjadi lagi, maka yang rugi adalah kita bersama," tegasnya.

Untuk diketahui, keberadaan Islam di Desa Pengastulan terbilang cukup lama, yang telah ada sejak abad ke 17. Dari empat dusun yang ada, Islam terisolir di satu dusun bernama Dusun Kauman, dengan jumlah pemeluk Islam sekitar 25 persen dari 4468 jumlah keseluruhan penduduk Desa Pengastulan. (Abraham Iboy/Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 2 September 2017 23:1 WIB
Bibit Bahaya Radikalisme Nyata Adanya di Indonesia
Bibit Bahaya Radikalisme Nyata Adanya di Indonesia
Jombang, NU Online
Anggota DPR RI Hj. Ida Fauziyah mensosialisasikan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, NKRI, UUD NKRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika di aula Graha Gus Dur, Sabtu (2/9).

Dalam paparannya, Ketua FPKB DPR RI itu mengingatkan kepada segenap peserta kegiatan sosialisasi empat pilar terkait bahaya radikalisme di negara Indonesia ini. Mereka (radikalisme, red) kata dia, memang benar-benar nyata keberadaannya.

"Bibit-bibit radikalisme nyata-nyata ada di Indonesia ini, mereka yang terus menerus menggugat keberadaan Pancasila. Keberadaan mereka bukan karena adanya proyek dan lain semacamnya," tegasnya.

Bahkan, hasil survei yang dilakukan lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang) yang dimiliki Kemenag, radikalisme telah menyasar banyak kalangan, termasuk dari usia anak-anak hingga dewasa. Mereka berhasil memasukkan ideologinya kepada sejumlah kalangan itu.

Dampaknya, imbuh Ida Fauziyah, beberapa kalangan tersebut sudah beranggapan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi dijadikan salah satu pilar negara, dan harus diganti dengan konsep khilafah yang mereka usung.

"Sekarang banyak orang mempertanyakan, bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan dasar negara Indonesia, hasil survei Litbang, 10% ada di bibit SMA, mereka mengatakan Pancasila tidak relevan perlu diganti khilafah," ujarnya.

Untuk itu, pesannya, kader PKB penting untuk lebih menanamkan kembali terkait pemahaman empat pilar dalam berbangsa dan bernegara. Di samping itu, setiap langkah kader PKB harus mengedepankan visi misi yang berdasar dari ideologi kebangsaan dan kenegaraan tersebut.

"Kader PKB harus memiliki visi dan misi yang berdasar dari ideologi kebangsaan yang selesai. Terlebih kader yang menduduki di pemerintahan, baik di legislatif maupun di eksekutif," harapnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Sabtu 2 September 2017 21:3 WIB
Ansor Surakarta Rayakan Idul Adha dengan Bagikan Air
Ansor Surakarta Rayakan Idul Adha dengan Bagikan Air
Solo, NU Online
Momentum Idul Adha pada umumnya dirayakan dengan cara saling berbagi dalam bentuk daging kurban. Daging yang disembelih kemudian dibagikan kepada semua warga, terlebih kepada mereka yang tergolong sebagai kaum papa.

Namun, cara kader Gerakan Pemuda Ansor Kota Surakarta lain. Mereka memilih untuk berbagi air bersih untuk masyarakat di Kemalang Klaten. Sebab, hujan yang tak kunjung turun membuat sejumlah daerah mengalami kekeringan air, termasuk daerah yang terletak di sekitar Lereng Merapi itu.

“Rencananya besok, setelah acara makan bersama masakan tengkleng, kita akan memberangkatkan tim dari Ansor dan Banser untuk kegiatan bakti sosial penyaluran air bersih di daerah Kemalang,” terang Ketua PC GP Ansor Surakarta H Arif Syarifudin, Sabtu (2/9).

Ditambahkan Arif, pihaknya telah menyiapkan 5 tangki air bersih. “Semoga di sana air dapat bermanfaat untuk warga,” kata dia.

Sementara itu, sehari sebelumnya GP Ansor Sawit Boyolali memeriahkan Idul Adha dengan mengadakan acara takbir keliling yang diikuti 70 unit mobil dan motor.

Kasatkoryon Sawit Triyanto mengatakan peserta takbir keliling tak hanya dari GP Ansor, termasuk dari Polsek Sawit juga ikut memeriahkan.

“Rute dimulai dari Lapangan Gombang, dan juga berakhir di sana. Kita harapakan dari kegiatan takbir keliling ini, semakin mengenalkan Ansor dan NU khususnya di daerah Sawit Boyolali,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Sabtu 2 September 2017 20:2 WIB
Tundukan Al-Qona’ah, Nurulhuda FC Juarai LSN Sub-Region Garut
Tundukan Al-Qona’ah, Nurulhuda FC Juarai LSN Sub-Region Garut
Garut, NU Online
Puncak perhelatan Liga Santri Nusantara Sub-Region Garut Jabar III ditutup dengan partai final yang mempertemukan Nurulhuda FC Cisurupan dan kesebelasan Pondok Pesantren Al-Qona’ah Cikajang Sabtu (2/9). Pertandingan kedua kesebelasan yang menjuarai masing-masing grup tersebut berlangsung sengit dan diwarnai dengan adu serang dan asah strategi.

Dalam 20 menit awal pertandingan, Pondok Pesantren Al-Qona’ah berhasil mendikte permainan Nurulhuda FC dan terus melakukan penetrasi ke arah gawang Nurulhuda. Alhasil, sebelum peluit babak pertama ditiup Al-Qona’ah berhasil memimpin 1-0 atas Nurulhuda FC.

Di babak kedua, Nurulhuda FC mengubah strategi permainan dengan memainkan atraksi yang ofensif. Strategi tersebut tampaknya berhasil mengendorkan gelombang serang Al-Qona’ah yang menjadi lebih fokus pada lini pertahanan. 

Strategi yang dimainkan oleh Nurulhuda FC ini efektif. Al-Qona’ah mulai kedodoran semenjak menit awal babak kedua. Alhasil, pada menit ke-49 gelandang serang Nurulhuda FC, Nanda, berhasil menyarangkan gol ke gawang Al-Qona'ah.

Di menit-menit berikutnya pertandingan berlangsung lebih menegangkan. Aksi jual-beli serangan mewarnai jalannya pertandingan wakil Sub Region Garut di partai final Region III nantinya. Setelah 20 menit gol pertama, akhirnya striker Nurulhuda FC Nada Pratama berhasil menggandakan gol ke gawang Al-Qona'ah. Skor ini tidak berubah hingga peluit akhir dibunyikan.

Ditemui usai pertandingan, Direktur Teknik Nurulhuda FC, H. Aceng Amrulloh menyambut baik kemenangan timnya. "Kematangan mental, kesabaran dan fokus adalah kunci kemenangan kami. Al-Qona’ah adalah tim kuat dan posisi kami tidak mudah karena gol cepat yang mereka ciptakan. Kami bersyukur di tahun pertama mengikuti LSN bisa menjadi juara Sub Region. Selanjutnya kami akan fokus untuk memenangkan partai final region di Ciamis," aku Aceng dengan simringah.

Sementara itu, KH Cecep Jayakarama pengasuh muda Pesantren Nurulhuda Cisurupan mengatakan bahwa kemenangan ini patut disyukuri. Dia juga mengapresiasi kerja keras SSB Nurulhuda dan Nurulhuda FC yang menyiapkan kesebelasan dengan baik.

"Sudah saatnya para santri menunjukkan talenta dan berkontribusi positif untuk kemajuan negara ini termasuk di bidang sepakbola. Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di negeri ini. Sudah lahir ribuan tahun sebelum republik ini berdiri. Sudah saatnya mengisi semua lini, termasuk olahraga dan sepakbola," ujar Ajengan Cecep.

Selain menjuarai Sub-Region Garut, pemain Nurulhuda FC Nada Pratama juga meraih top scorer dengan raihan 11 gol. Sementara itu keluar sebagai pemain terbaik adalah Hasan dari Kesebelasan Al-Qona’ah Cikajang.

Partai final ini dihadiri oleh Koordinator Sub-region Garut H. Subhan Fahmi dan Pengurus Cabang NU Kabupaten Garut KH Mujib selaku Plt. Tanfidziyah dan H. Deni Ranggajaya, Sekretaris PCNU. (Ali/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG