IMG-LOGO
Opini

Bagaimana Sebaiknya Kita Menyikapi Tragedi Rohingya?

Sabtu 9 September 2017 20:30 WIB
Bagikan:
Bagaimana Sebaiknya Kita Menyikapi Tragedi Rohingya?
Ilustrasi (Reuters)
Oleh Ahmad Muntaha AM

Keprihatinan atas tragedi kemanusian yang dialami umat Islam Rohingya di Rakhine, Myanmar, terus mengalir deras. Desakan untuk menghentikan kekerasan terus digelorakan oleh berbagai komunitas dunia. Di antaranya, NU yang bekerja sama dengan pemerintah dan ormas keagamaan lainnya dalam wadah Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) yang juga terus menggalang dana untuk dikirimkan ke sana.

(Baca: Misi Kemanusiaan, LPBINU Kirim Relawan ke Myanmar)


Dalam konteks ini, relevan sekali sabda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan Hudzaifah al-Yaman:
 
مَنْ لَايَهْتَمُّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (رواه الطبراني)

“Orang yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk dari golongan mereka.” (HR. at-Thabarani. Di dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Abu Ja’far ar-Razi yang dianggap lemah oleh Muhammad bin Hamid, namun dianggap sebagai perawi terpercaya oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah dan Ibn Hibban)
    
Hati-hati

Secara lahiriah hadits ini jelas menyatakan, orang yang acuh dengan tragedi yang menimpa kaum muslimin─di antaranya tragedi yang dialami umat Islam Rohingya akhir-akhir ini─niscaya tidak termasuk bagian dari umat Islam.

Pertanyaannya, apakah berarti ia telah murtad dan keluar dari Islam karena ketidakpeduliannya?

Menjawab pertanyaan semacam ini, Syekh Abu Sa’id al-Khadimi (1113-1176 H/1701-1763 H), seorang pakar fiqih dari kalangan Hanafiyah asal kota Buxara Uzbekistan dalam Bariqah Mahmudiyyah (III/344) mengatakan:

لَعَلَّ الْمُرَادَ نَفْيُ الْكَمَالِ

“Mungkin yang dikehendaki adalah menafikan kesempurnaan bersifat dengan sifat umat Islam.”

Artinya, bukan berarti orang yang mungkin terlihat bersikap acuh otomatis keluar dari Islam, akan tetapi ia tidak bersikap sebagaimana sikan orang Islam secara sempurna yang memedulikan saudara-saudaranya. Selaras dengan penjelasan al-Hafizh Abdurra’uf al-Munawi (952-1031 H/1545-1622 M) pakar hadits asal Kairo Mesir dalam Faid al-Qadir (VI/78):

(فَلَيْسَ مِنْهُمْ)
أَيْ لَيْسَ مِنَ الْعَامِلِينَ عَلَى مَنْهَاجِهِمْ

“Sabda Nabi: ‘Ia tidak termasuk dari golongan mereka’, maksudnya tidak tergolong orang-orang yang mengamalkan metode/sikap-sikap mereka.”

Penjelasan seperti ini sangat penting, agar kesemangatan dalam menggelorakan keprihatian terhadap tragedi yang menimpa kaum Muslimin tidak keluar arah, harus hati-hati, hingga tidak serampangan menuduh murtad orang yang secara sekilas terlihat tidak menampakkan keprihatinannya secara terang-terangan.

Pentingnya Koordinasi dengan Pemerintah

Selain itu, dalam menyalurkan bantuan, penting pula berkoordinasi dengan pihak-pihak yang mengetahui betul kondisi di sana. Dalam hal ini Syaikh Abu Sa’id al-Khadumi memberi petunjuk (Bariqah Mahmudiyyah, III/344):

النَّاصِحُ فِي دِينِ اللهِ يَحْتَاجُ إلَى عِلْمٍ وَعَقْلٍ وَفِكْرٍ صَحِيحٍ وَرَوِيَّةٍ حَسَنَةٍ وَاعْتِدَالِ مِزَاجٍ وَتُؤْدَةٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيهِ هَذِهِ الْخِصَالُ فَالْخَطَأُ أَسْرَعُ إلَيْهِ مِنْ الْإِصَابَةِ

“Orang yang menghendaki kebaikan dalam agama Allah (di antaranya dengan membantu umat Islam yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan), memerlukan ilmu, akal, pikiran sehat, pertimbangan yang cermat, watak yang adil (seimbang) dan tidak terburu-buru. Bila beberapa hal ini tidak dimilikinya maka ia lebih banyak salah daripada benarnya.”

Karenanya, upaya penyaluran bantuan, baik materiil maupun tenaga kemanusiaan, untuk tragedi kemanusiaan yang dialami umat Islam Rohingya di Rakhine Myanmar harus dilakukan sesuai pertimbangan yang cermat, tidak-terburu-buru dan berkoordinasi dengan pemerintah sebagai pihak yang paling paham atas situasi dan kondisi lapangan sebenarnya. Tidak bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Wallahu a’lam.


Penulis adalah Wakil Sekretaris PW LBMNU Jawa Timur

Bagikan:
Sabtu 9 September 2017 16:33 WIB
Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji
Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji
Ilustrasi (zawya.com)
Oleh Ach. Mudzakki M

Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji tentu berharap agar hajinya mabrur, karena haji yang mabrur memiliki pahala yang besar. Menunaikan ibadah haji merupakan kesempatan istimewa bagi umat muslim, terutama bagi mereka yang berada di negara yang jauh dari Mekkah. Ongkos dan biaya yang mahal menjadikan ibadah haji identik dengan kemewahannya tersendiri.

Mari sejenak menyimak sebuah kisah menarik berkaitan dengan haji pada masa Nabi Muhammad SAW. Ada orang miskin yang ingin menunaikan ibadah haji, ia rupanya telah mengumpulkan semua biaya ibadah haji itu selama 20 tahun. Namun, ketika dalam perjalanan mulia menuju Mekkah, ia menyaksikan banyak kaum muslimin yang sedang dilanda kemiskinan di mana-mana. Tidak tega melihat saudara-saudaranya yang seiman sedang membutuhkan bantuan, ia pun kemudian mengurungkan niatnya untuk ziarah ke Mekkah. Selanjutnya ia bagi-bagikan semua hartanya kepada mereka. Persoalan itu kemudian sampai ke telinga Nabi dan Nabi pun haru mendengarnya. Selanjutnya nabi bersabda "hajimu sah dan kamu berhak masuk surga".

Dari kisah di atas menunjukkan bahwa rukun Islam kelima itu bukan hanya ibadah yang kaitannya dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga ibadah yang menuntut terwujudnya keshalehan sosial (hablum minannas). Sehingga dari perpaduan entitas tersebut mewujudkan kehidupan manusia yang baik (insan kamil).

Konsepsi Haji

Menunaikan ibadah haji merupakan bentuk ritual tahunan yang dilakukan kaum muslimin. Dilakukan dalam kondisi mampu untuk berkunjung dan melaksanakan kegiatan ibadah di tempat-tempat Arab Saudi yang dikenal dengan musim haji (bulan Dzulhijah).

Secara epistimologi haji bermakna menyengaja, menuju dan mengunjungi. Sedang menurut ishthilah fiqhiyah adalah menuju ke baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan ibadah. Menurut Ali Shariati dalam bukunya yang berjudul Haji bahwa ibadah tersebut merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang muthlaq, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak dipadankan oleh sesuatu apapun. Kepulangan yang merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Sedangkan pengertian haji mabrur, mengutip pendapat Jalaludin As Suyuti dan Muhyiddin Syarf An-Nawawi cukup kiranya untuk mendefinisikannya. Menurutnya, haji mabrur adalah haji yang diterima dan dibalas dengan pahala yang sangat besar yakni surga, yang mana, di dalamnya  tidak tercampur kemaksiatan, dan unsur-unsur riya’. Sebagaimana merujuk pada pendapat Al Qurthubi bahwa haji mabrur adalah haji yang dipenuhi seluruh ketentuanya dan dijalankan dengan sesempurna mungkin oleh pelakunya sebagaimana yang dituntut darinya.

Pergeseran Ekspresi Ibadah Haji

Namun, kesempatan mewah ini seringkali membuat orang yang mampu menunaikan ibadah haji acap kali digunakan sebagai ajang pamer. Entah caranya dengan selfie atau live video yang kemudian mengunggahnya ke media sosial. Alangkah ruginya kita melakukan amal ibadah haji dengan bersusah payah, mengerahkan banyak pengorbanan fisik dan materi, namun kemabrurannya hilang karena kesalahan motivasi atau niat, seperti riya’ (pamer), ‘ujub (membanggakan diri sendiri), takabbur (sombong), dan sebagainya.

Menurut pakar sosiologi, selfie diartikan sebagai aksi narsistik untuk mengabadikan gambar diri sendiri melalui sebuah ponsel atau kamera digital. Fenomena ini memberikan peluang bagi pelaku untuk tetap eksis dan mendokumentasikannya. Dan adanya fenomena ini juga dapat mengakibatkan banyak hujatan karena mempunyai tendensi negatif dan melanggar norma.

Seakan, praktek selfie menjadi rukun ibadah haji yang baru. praktek yang seakan tidak komplit ketika tidak menjalankanya. Ratusan bahkan ribuan jamaah haji yang terkena virus selfie. Akibatnya, praktek tersebut hanya akan mengganggu ibadah jamaah lain dan menodai nilai-nilai dari ibadah tersebut. Pada musim haji 2015 lalu, terjadi musibah yang mengakibatkan robohnya crane di masjidil haram, dan banyak dari jamaah haji yang mendokumentasikan musibah itu dengan ber-selfie dan menjadikanya latar padan akun media sosial.

Sebenarnya pendapat yang berkaitan dengan mendokumentasikan peristiwa langka dan peristiwa mewah telah lama disuarakan. Pendapat pertama dari Assim Al Hakim dari Arab Saudi adalah pendapat yang cukup tegas dan keras melarang karena hal-hal seperti itu dapat meciptakan sifat riya’ dan pamer yang merusak tujuan haji. Kemudian pendapat kedua dari seorang Profesor Hukum Syariah dari Riyadh Arab Saudi adalah diperbolehkan dalam mendokumentasikan momentum haji dengan catatan tidak untuk pamer, diperbolehkan juga ketika telah menyelesaikan ritual syarat dan rukun haji, dan diperbolehkan ketika tidak mengganggu ibadah orang lain.


Penulis tinggal di Pondok Pesantren Nailul Ula Center Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Sabtu 9 September 2017 10:0 WIB
Implementasi Perpres Pendidikan Karakter
Implementasi Perpres Pendidikan Karakter
Ilustrasi (prokalnews).
Oleh Ai Maryati Sholihah

Akhirnya Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang sekolah lima hari telah dianulir dengan hadirnya Perpres tentang Penguatan Pendidikan Karakter Nomor  87/2017. Dalam Perpres tersebut tidak disinggung soal sekolah harus apalagi mewajibkan lamanya sekolah atau berapa hari sekolah dalam seminggu. 

Ini artinya argumentasi Penguatan Karakter dengan lama di sekolah tidak menjadi satu kausalitas yang otomatis seperti yang diramalkan orang-orang sebelumnya pada Permendikbud tersebut. Apa yang perlu dikawal?

Pertama, ntuk membangun Karakter yang baik, anak didik perlu diberikan teladan yang baik. Keteladanan berawal dari pengamatan, observasi, proses dan hasil-hasil evaluasi. Itu artinya sekolah sebagai satuan pendidikan, penting mengutamakan figur pendidik dan membangun lingkungan kondusif dalam menciptakan keteladanan.
 
Bagaimana mungkin pendidikan karakter diterapkan tanpa hadirnya contoh dan keteladanan? Apakah karakter yang dimaksud buat anak didik saja? Tentu tidak, karena anak didik justru lebih mudah menyerap contoh yang sehari-hari ia temukan. 

Figuritas guru di sekolah lebih menginternal bagi mereka ketimbang orang tua di rumah. Oleh sebab itu, pendidikan karakter menjadi tantangan kematangan kualitas kompetensi Guru sebagaimana dalam UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Kematangan kompetensi tersebut meliputi, pertama, Kompetensi Pedagogik, meliputi perencanaan langkah pembelajaran dan penguasaan Guru terhadap tugas pembelajaran yang sehari-hari dilaksanakan. 

Kedua, kompetensi Kepribadian yang menitikberatkan pada pendewasaan bersikap, mengelola emosi dan memberikan pelayanan yang baik kepada anak didik dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai pendidik. Seorang Guru yang menjunjung nilai, etika, norma dan ajaran agama sehingga karakternya memiliki kepribadian yang luhur menjadi kunci keberhasilan proses pendidikan.

Ketiga, Kompetensi Profesional merupakan tolak ukur seorang Guru dalam menguasai materi secara utuh dalam menjalankan profesi Guru. Ia bertindak kreatif, mampu membangun peningkatan kapasitas dirinya sehingga sesuai dengan tuntutan zaman. Seorang Guru dituntut menguasai materi pembelajaran sekaligus memahami relasi-relasi pada tugas pokoknya agar membangun penguasaan kompetensi Guru secara profesional. 

Keempat, kompetensi kompetensi sosial, yakni Guru sebagai komunikator ulung yang bertindak secara efektif baik kepada anak didik, sesama rekan sejawat, wali murid bahkan secara sosial kemasyarakatan. Sikapnya yang empatik, berkomunikasi yang baik dan memiliki jiwa moderat dengan menyadari bahwa kita semua berada dalam keragaman dan perbedaan serta corak budaya masyarakat yang beraneka.

Kedua, Karakter yang penting ditumbuhkan dalam ranah pendidikan adalah national character building, yakni sekolah memiliki totalitas peran dalam membangun kecintaan anak pada tanah air dan bangsa. Hal ini untuk membangun semangat kebangsaan dan keindonesiaan di atas kesadaran sebagai seorang manusia yang memiliki keterikatan dengan yang Maha Kuasa. 

Jika penguatan karakter kebangsaan sudah menjadi tujuan besar dalam pendidikan, maka integritas sikap jujur, mandiri, gotong royong, kasih sayang dan persaudaraan akan menjadi bagian tak terpisahkan. 

Karakter nasionalisme menghargai seluruh capaian pembangunan bangsa sejak zaman nenek moyang, sebelum merdeka dan pasca kemerdekaan dengan menghormati jasa-jasa founding fathers serta mengembangkan sikap patriotisme yang dikembangkan dan bersumber dari sekolah.

Nilai nasionalisme bukanlah faktor tunggal dalam membangun karakter manusia seutuhnya, ia harus selaras dan saling menyempurnakan dengan sikap ketaatan beragama dan sesuai dengan local wisdom yang dimiliki bangsa indonesia.

Ketaatan beragama tentu bersumber dari ajaran agama-agama yang sudah lebih dulu membangun karakter bangsa ini untuk mampu hidup rukun dan bersatu, saling menjaga dan menghormati keberagaman dalam menjalankan aktivitas keagamaan. 

Dan kearifan lokal bersumber dari adat dan budaya yang menuntun pada terselenggaranya kehidupan yang kian beradab, harmonis dan memiliki tujuan yang sama dalam menciptakan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.

Dengan demikian jalan panjang penguatan pendidikan karakter akan sedemikian jelas terbentang dalam memandu anak-anak bangsa kian tumbuh dan berkembang dalam pusaran zaman yang kian ganas. 

Inilah peluang sekaligus tantangan yang penting untuk kita isi bersama. Beragam kemudahan di sekolah yang anak didik dapatkan hari ini selalu bersanding dengan bahayanya bagi mereka. Internet dan media merupakan ujung kemudahan fasilitas di sekolah, namun apakah kita arif menyikapinya? Tugas sekolahlah mentransformasikan ilmu tersebut kepada anak didik dengan baik.

Penulis adalah Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Jumat 8 September 2017 17:0 WIB
Sekolah untuk Semua
Sekolah untuk Semua
Ilustrasi.
Oleh A. Muchlishon Rochmat

Sejatinya fungsi sekolah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. (Howard Gardner)

Sekolah merupakan institusi dimana proses belajar dan mengajar secara formal berlangsung. Seiring dengan berkembangnya waktu, posisi sekolah menjadi sentral dan utama di masyarakat kita. Hal tersebut bisa kita lihat dari persepsi masyarakat dan kesempatan mendapatkan kerja –baik di institusi negeri maupun swasta- bahwa orang baru dianggap berpendidikan kalau dia menamatkan sekolah formal dan orang bisa mendapatkan pekerjaan kalau ia memiki selembar kertas ijazah meski terkadang tidak ada skill. Bukankah pendidikan formal merupakan salah satu jenis pendidikan saja, selain informal dan non-formal?

Seiring dengan peran pendidikan formal yang begitu vital di masyarakat, maka menjamur lah sekolah-sekolah formal itu mulai dari tingkat SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas). Sekolah-sekolah tersebut berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, karena dengan menjadi sekolah terbaik tentu akan memberikan keuntungan ‘privilege’ dan sekaligus keuntungan materi. Keduanya saling terkait. Dimana sekolah yang memiliki ‘privilege’ tentu akan mudah mendapatkan keuntungan ‘materi’. 

Dengan demikian, banyak stakeholder dan manajemen sekolah yang berbondong-bondong untuk mengembangkan manajemen sekolahnya agar menjadi sekolah terbaik seperti menerapkan konsep sekolah unggulan, sekolah model, sekolah berstandar nasional dan sekolah berstandar internasional –kedua model terakhir sudah dihapuskan.
 
Ironisnya, konsep sekolah terbaik yang dicetuskan oleh para stakeholder dan manajemen sekolah tersebut mengakar kuat di masyarakat kita. Sehingga tertanamlah di otak mereka sebuah paradigma bahwa sekolah terbaik adalah sekolah yang dihuni oleh siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif di atas rata-rata, sekolah terbaik adalah sekolah yang siswa-siswinya unggul dalam ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kimia, matematika dan lainnya. Paradigma tersebut tumbuh subur di masyarakat kita.

Kalau konsep sekolah terbaik adalah hanya untuk siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif semata, tentu sebagai akibatnya akan lahir pula konsep-konsep sekolah rendahan atau buangan. Sekolah dimana siswa-siswinya adalah orang-orang yang gagal masuk ke sekolah unggulan tersebut, sekolah dimana siswa-siswinya tidak memiliki kecerdasan kognitif, dan sekolah yang menampung orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan kognitif. 

Konsep sekolah unggulan tersebut tentu menafikan dan mengabaikan siswa-siswi yang dianggap tidak cerdas karena hanya menerima dan mengakui siswa-siswi yang cerdas kognitifnya saja. Bukankah setiap individu itu cerdas sebagaimana yang disampaikan oleh Gardner di dalam teori multiple intelligence-nya? Konsep sekolah unggulan sudah menggurita di Indonesia. 

Menurut Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan, konsep tersebut memiliki dampak negatif yang sangat luar biasa seperti mendiskriminasi kecerdasan siswa, tidak menghargai kecerdasan setiap individu, membuat individu tidak percaya diri dengan kecerdasannya –bagi mereka yang tidak lolos seleksi ke sekolah unggulan, dan lainnya. 

Konsep sekolah unggulan yang ada tersebut bukankan sekolah yang manusiawi. Karena sebagaimana yang dikatakan Gardner bahwa sejatinya fungsi sekolah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. Sekolah yang manusiawi adalah sekolah yang menerima setiap individu dengan kecerdasannya masing-masing. 

Di buku Sekolah Anak-anak Juara, Chatib menawarkan sebuah konsep sekolah unggulan yang manusiawi dan menghargai setiap kecerdasan individu. Menurutunya, ada tiga tahapan untuk mewujudkan sekolah unggulan yang manusiawi; Pertama, sekolah tanpa seleksi tes masuk. Kebanyakan sekolah ungulan yang ada adalah sekolah yang menerapkan tes standar masuk dengan begitu ketatnya, menjadikan hasil tes tersebut untuk memetakan kelas –yang pintar satu kelas dengan yang pintar dan begitu sebaliknya, dan tidak menerima siswa yang berkebutuhan khusus. 

Adapun konsep sekolah unggulan manusiawi yang ditawarkan oleh Chatib adalah sekolah yang menerima semua siswa yang mendaftar tanpa tes yang ketat–tentu dengan memperhatikan kuota ruangan kelas, menjadikan hasil tersebut sebagai database, memetakan kelas sesuai dengan gaya belajar siswa, dan menerima siswa yang berkebutuhan khusus.

Kedua, menerapkan proses belajar terbaik (the best process learning). Yang dimaksud dengan sekolah the best process learning adalah sekolah yang menerapkan metode pengajaran yang bervariasi (multiple intelligence strategy) sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Model pengajaran monoton dan satu arah tentu hanya akan membuat siswa tidak antusias dan malas untuk menyerap setiap materi yang disampaikan.
 
Maka dari itu, seorang guru harus menggunakan strategi multiple intelligence agar materi yang disampaikan bisa diserap oleh siswa dengan baik. Langkah-langkah penerapan the best process learning adalah dengan membuat lesson plan (rencana pengajaran) yang variatif dan menarik, serta tidak hanya menerapkan metode ceramah.

Terakhir, menerapkan the best output. Sekolah the best output adalah sekolah sekolah yang menerapkan metode penilaian terhadap kondisi kognitif maupun jenis kecerdasan siswa lainnya. Kalau sekolah unggulan yang ada sekarang hanya menerima kondisi kognitif siswa semata, dan menyangkal kecerdasan lainnya. 

Maka sekolah the best output menerima siswa-siswi dari berbagai kecerdasan, mulai dari siswa tipe pembelajar cepat (fast learner) hingga pembelajar lambat (slow learner) bahkan siswa yang membutuhkan siswa yang berkebutuhan khusus. Sekolah the best output juga menerapkan penilaian yang autentik yakni penilaian yang bukan menekankan pada sisi kognitif semata, tapi juga psikomotorik dan afektif secara seimbang.

Dengan demikian kita berharap bahwa konsep sekolah unggulan adalah bukan hanya untuk mereka saja yang memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi, melainkan untuk setiap individu dengan kecerdasannya masing-masing. 

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG