IMG-LOGO
Nasional

Jangan Dilemahkan, Keberadaan KPK Fardlu ‘Ain bagi Indonesia

Sabtu 9 September 2017 20:15 WIB
Bagikan:
Jangan Dilemahkan, Keberadaan KPK Fardlu ‘Ain bagi Indonesia
Agus Rahardjo (kiri) saat sowan ke KH Hasan Mutawakkil Alallah
Probolinggo, NU Online
Bagi Indonesia keberadaan lembaga antirasuah seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah fardlu 'ain, wajib keberadaanya demi terciptanya tujuan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Karena korupsi telah menjadi penghalang bagi terwujudnya kesejahteraan suatu bangsa, wajib bagi kita untuk menghilangkan penghalang kemaslahatan itu dengan melakukan pemberantasan korupsi yang oleh konstitusi utamanya dimandatkan kepada KPK.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah saat menerima kunjungan Ketua KPK RI Agus Rahardjo di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genghong, Probolinggo.

Kiai Mutawakkil bahkan meminta para santri dan warga NU untuk terus mendukung dan mendoakan KPK agar tetap istiqamah memberantas korupsi. "Tidak boleh ada yang melemahkan KPK, karena keberadaannya konstitusional dan harus kita kawal bersama," katanya.

Sementara itu, Agus Rahardjo saat menyampaikan arahan di hadapan para mahasiswa baru Sekolah Tinggi ilmu Hukum Zainul Hasan di sela-sela kunjungan, menyatakan optimis pemberantasan korupsi di Indonesia kian membaik dengan optimalnya peran KPK.

Peringkat pemberantasan korupsi dalam 10 tahun terakhir, terus meningkat dari angka 17 menjadi 36 di tahun ini. Sebuah peningkatan yang harus terus dipacu, dan salah satunya dengan keterlibatan masyarakat termasuk kalangan santri dan pondok pesantren.

Lebih lanjut, Agus Rahardjo mengajak para santri dan masyarakat luas untuk melaporkan kepada KPK apabila menemukan praktik korupsi di daerah masing-masing.

"Selain penindakan, KPK memiliki mandat pencegahan korupsi yang ini harus bekerja sama dengan semua pihak, termasuk dengan pesantren dan Nahdlatul Ulama," lanjutnya.

Selain ke Pesantren Genggong, Ketua KPK juga slayurahim ke PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo, PP Sidogiri Pasuruan, setelah sebelumnya juga sowan pesantren Tebuireng dan Lirboyo. (Red: Mahbib)


Tags:
Bagikan:
Sabtu 9 September 2017 18:30 WIB
Tutup Seleknas ASC Ke-12, Menaker: Pelatihan Vokasi Pilar Kebijakan Pemerataan Ekonomi
Tutup Seleknas ASC Ke-12, Menaker: Pelatihan Vokasi Pilar Kebijakan Pemerataan Ekonomi
Bekasi, NU Online
Gelaran seleksi nasional ASEAN Skills Competition (Seleknas ASC) ke-12 resmi di tutup. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri mengaskan kembali pentingnya pelatihan vokasi sebagai salah satu pilar utama kebijakan pemerataan ekonomi.

"Dengan pelatihan vokasi diharapkan kebutuhan tenaga kerja terampil sebanyak 113 juta sebagai syarat Indonesia menjadi Negara ekonomi terbesar ke-7 dapat terwujud," ujar Hanif saat menutup Seleknas ASC ke-12 di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (9/9).

Menaker tidak  pentingnya dukungan dari kalangan usaha untuk bersama-sama menyiapkan tenaga kerja kompeten melalui pelatihan vokasi. Sebab, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dunia usaha dan Serikat Pekerja.

"Harus ada keterlibatan swasta dalam pelatihan vokasi seperti di negara-negara Eropa dan Skandinavia," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemnaker bulan Februari 2017, jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai angka 131, 55 juta orang, dimana sekitar 60 persennya  merupakan lulusan SD-SMP. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7 juta orang masuk kategori pengangguran. Tingkat pengangguran paling besar berasal dari lulusan SD kebawah sebanyak 27,57 persen, lulusan SMA 22,17 persen dan lulusan SMK 19,74 persen. 

Menyikapi hal tersebut, Menaker mengungkapkan, pemerintah telah mengeluarkan regulasi mengenai pendidikan vokasi yang disahkan, yaitu Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Pendidikan Kejuruan dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia.

"Upaya-upaya tersebut merupakan bagian penting dalam menyiapkan angkatan kerja yang mampu bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN," papar Menaker.
 
Menaker meyakini dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia dan potensi sumber daya alam yang ada, memiliki peluang dan potensi besar untuk dapat menjadi bangsa yang maju dalam persaingan MEA maupun global. (Red: Kendi Setiawan)

Sabtu 9 September 2017 17:15 WIB
ASEAN Skills Competition Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kerja Muda Indonesia
ASEAN Skills Competition Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kerja Muda Indonesia
Bekasi, NU Onine
Melalui ajang ASEAN Skills Competition (ASC) pemerintah berupaya untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja muda Indonesia hingga mampu mencapai standar kompetensi di tingkat ASEAN. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri berharap, penyelenggaraan ASC di tahun-tahun mendatang semakin berkualitas dan kredibel baik dari segi penyelenggara, peserta, maupun kompetitornya. 

"Saya ucapkan selamat kepada pemenang ASEAN Skills Competition yang akan mewakili indonesia pada Oktober 2018 di Thailand," ujar Hanif saat menutup Seleknas ASC ke-12 di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (9/9).

Dalam kurun waktu 10 bulan kedepan, para pemenang seleksi nasional ASC ke-12 akan mendapatkan pelatihan yang intensif sebelum mengikuti gelarasn ASC. Ajang ASC merupakan pembuktian bahwa dunia kompetensi merupakan dunia yang penuh dengan persaingan. 

"Ini merupaka suatu pertarungan bagaimana daya saing SDM bisa terus  dipertarungkan baik di ajang nasional maupun ditingkat regional ASEAN," katanya.

Menurut Menaker, baik pendidikan maupun pelatihan vokasi selama ini di pandang sebelah mata. Padahal realitanya banyak sarjana yang tidak memiliki keterampilan dan menganggur.

"Soal keterampilan dan kompetensi ini ibarat mata uang dalam persaingan global," ungkap menaker. 

Jika SDM indonesia tidak memiliki kompetensi tidak akan bisa bersaing dan kesempatan untuk menang. Angkatan kerja muda Indonesai harus berada diatas standard pasar kerja. 

"Kenapa harus diatas standard, karena kalau diatas standard maka anda pasti menang. Kalau anda sesuai standar, anda bisa menang, tapi kalau anda di bawah standar anda pasti kalah," papar Menaker.

Menaker berharap generasi mileneal indonesia menjadi generasi yang diatas standar pasar kerja sehingga tenaga kerja Indonesia bisa bersaing negara lain. Sudah saatnya Indonesia meninggalkan sumber daya alam sebagai tumpuan untuk melakukan pembangunan. 

"Karena selain persoalan lingkungan, kita juga tahu bahwa terus mengekploitasi alam akan mengakibatkan ketidak adilan antar generasi," lanjut Menaker. 

Ia menambahkan, saat ini dan kedepannya Indonesia harus menjadikan pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai prioritas agarterfokus pada pembangunan SDM sebagaimana sudah di prioritaskan oleh Presiden Joko Widodo. 

"Oleh karena itu skema baik pendidikan maupun pelatihan vokasi harus terus kita gaungkan. harus terus kita edukasikan juga kepada masyarakat. Bahwa mengirim anak ke tempat pelatihan kerja juga dapat membekali mereka dengan keterampilan dan kompetensi yang akhirnya bisa masuk ke pasar kerja," pungkas Menaker. (Red: Kendi Setiawan) 

Sabtu 9 September 2017 16:3 WIB
LD PBNU Latih Ratusan Da’i untuk Dakwah di Dunia Maya
LD PBNU Latih Ratusan Da’i untuk Dakwah di Dunia Maya
Bandung, NU Online 
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU mengadakan pelatihan bertajuk Halaqah Da’i Cyber di hotel Asrillia, Kota Bandung, Jawa Barat, (9/9). Kegiatan tersebut diikuti perwakilan Lembaga Dakwah dari tiap kabupaten atau Cabang NU.

Ketua panitia kegiatan itu, Muhammad Immamduddin mengatakan, berdasarkan data dari Kementerian Teknologi dan Indformmatika, di Indonesia ada sekitar 137 juta orang pengguna ponsel aktif yang terhubung dengan internet. 

Dengan demikian, ada sekitar 137 orang yang memiliki kemungkinan untuk memproduksi konten di media sosial, dan sebaliknya sekitar 137 juta orang yang mengkonsumsi konten itu. Namun, persoalannya, tidak semua konten itu positif. 

“Konten intoleransi yang masuk ke internet lebih hebat dari konten positif,” katanya. 

Ia mencontohkan pengaruh media sosial yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Waktu itu, ada seorang warga keturunan yang suka mendengar azan melalui pengeras suara. Ia menemui pengurus masjid dan terjadi perdebatan agak panas.

“Kemudian, dua jam setelah itu ada status yang bahasannya sangat provokatif dan dua jam kemudian, ada sembilan Wihara dibakar,” katanya. “Di internet semua tersedia, bahkan banyak negatifnya. Terutama yang memojokkan NU,” tambahnya.  

Menurut dia, fenomena tersebut menjadi keperihatinan LD PBNU sehingga mengumpulkan pengurus LD NU dari Cabang-cabang untuk membahas bagaimana caranya mengimbangi konten negatif dengan konten positif. 

“Kita kumpul di sini untuk membangkitkan para da’i untuk dakwah dimedia sosial. Kita kok yang punya konten. Mereka dakwah yang dadakan malah menguasai media. Ini saatnya, bagaimana dakwahnya di medsos,” jelasnya. 

Pada pembukaan kegiatan itu, Ketua LD PBNU KH Maman Imanulhaq mengatakan dengan pelatihan itu LD PBNU ingin mmenegaskan bahwa Islam harus menjadi energi, spirit perdamaian, bukan untuk membenci. (Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG