IMG-LOGO
Nasional

Muslim Thailand: Kami Ingin Belajar Perdamaian dari Indonesia

Jumat 15 September 2017 19:32 WIB
Bagikan:
Muslim Thailand: Kami Ingin Belajar Perdamaian dari Indonesia
Jakarta, NU Online
Kamis (15/9) siang, Wahid Fundation (WF) kedatangan lima orang tamu dari Pattani, Thailand. Kelimanya merupakan akademisi beragama Islam. Sebagian dari mereka pernah menempuh pendidikan di Indonesia, dan sebagaian lainnya di Malaysia.

Kedatangan mereka ke kantor Wahid Fundation di Jalan Taman Amir Hamzah, tak lain adalah untuk belajar cara WF megambil bagian untuk menyemaikan perdamaian di antara banyaknya agama di Indonesia. 

Mereka mengaku megenal nama WF sejak lama. WF di mata mereka merupakan sebuah lembaga yang memperjuangkan toleransi antara umat beragama. Atas dasar itulah, mereka mendatangi WF “bukan untuk studi banding, itu kurang tepat, melainkan untuk studi saja. Kami ingin studi, bagaimana peradaban antar agama di Indonesia. Wahid Foundation terkenal di mana-mana. Kami ingin studi tentang peradaban antar agama di Indonesia,” kata Abdul Hamid Ile, salah seorang rombongan yang berasan dari Pattani.

Sebagai latar belakang, Abdul Hamid menceritakan bahwa di kawasan Pattani, Thailand, telah terjadi perselisihan antara agama selama kurun waktu 13 tahun tahun terakhir. Ketidakharmonisan komunikasi antara pemeluk agama untuk duduk bersama menyelesaikan sengketa antara keagamaan menjadikan masalah lintas agama tidak kunjung selesai. Hal itu membuat ia dan teman-temannya berpikir untuk mengadopsi keberhasilan Islam di Indonesia, dalam melestarikan perdamaian antara umat beragama.

Ahmad Suaedy, yang merupakan salah satu pendiri lembaga menyambut gembira kehadiran mereka, sekaligus berterima kasih atas kunjungan ini. Suaedy, dalam kesempatan itu menjelaskan profil singkat WF yang didirikan oleh KH Abdurrahman Wahid, seorang tokoh yang terkenal karena toleransi keagamaannya. Ia, yang kerap dikenal dengan nama Gus Dur, lanjut Suaedy, merupakan cucu dari Kiai Hasyim Asy’arai, sang pendiri organisasai Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama. 

Suaedy mejelaskan bahwa sedari awal didirikan, WF memfokuskan diri pada penyebaran paham Islam yang ramah dan damai. Dalam hal itu, lanjutnya, WF mengambil sejumlah langkah setrategis, di antaranya dengan menekuni bidang penelitian.

“Wahid Foundation telah melakukan banyak penelitian terhadap kajian keislaman, tidak cuma Al-Qur’an dan Hadist, namun juga sampai kitab klasik seperti karya Al-Ghazali, Imam Syafii, dan seterusnya. Tidak berhenti di situ, WF juga mengaji kitab kajian keislaman baru termasuk juga pemikiran-pemikiran terbaru,” ujarnya.

Sembari itu, WF setiap tahunnya melakukan penelitian di bidang kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Hal itu dilakoni melalui kerja sama dengan lembaga survey terkemuka di tanah air. Hasil dari itu, setiap tahunnya dipublikasikan secara luas melalui jaringan media WF. 

Mendapat penjelasan tersebut, Dr Lukman, salah sorang ketua jurusan Prodi Islamic Studies di salah satu perguruan tinggi di Pattani, Thailand menanyakan cara WF merespon kekerasan mengatasnamakan agama di Indonesia. 

Pertanyaan itu mendapat tanggapan lanjutan dari Suaedy. Sebelum melemparkan vonis, kata anggota Ombudsman Indonesia ini, WF membedakan antara paham dan perilaku. Ia melanjutkan, jika perilaku yang terjadi adalah pemahaman maka WF akan menghormatinya. Ia menyontohkan, seseorang yang memiliki pemikiran untuk mendirikan negara islam bukan menjadi konsentrasi bagi WF. “Namun jika sudah melakukan kekerasan terhadap mereka yang tidak setuju pada idenya, maka itu menjadi perhatian kami. Kita akan memfasilitasi mereka untuk melakukan diskusi dan perdebatan, baik oral maupun tulisan,” ujarnya. 

Mengenai pandangan terhadap aksi demontrasi yang juga bernuansa religius, WF, kata Suaedy, tak gegabah dalam berkomentar. WF pada prinsipnya mendukung upaya demokrasi seperti mengungkapkan aspirasi politik. 

“Namun kami juga menyampaikan kepada pemerintah untuk membedakan dua hal: atara aspirasi dan provokasi yang mengatasnamakan agama. Pada prinsipnya begini, kami berada di tengah, tidak ingin menjadi salah satu dari dua kubu ekstrim tertentu,” katanya lagi. 

Anis Hamim, salah seorang staf senior di WF juga menambahkan, untuk menyelesaikan konflik antaragama, pemerintah memiliki sebuah lembaga bernama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang salah satu tugas utamanya adalah menjembatani komunikasi antara umat beragama di Indonesia. Walaupun terdapat banyak kekurangan hingga saat ini, kata Anis, keberadaan forum seperti FKUB ini sangat penting untuk berdiri di antara sejumlah agama yang hidup di sebuah negara.

Rupanya, hal inilah yang menjadi salah satu bahasan yang ditunggu Dr Lukman. Ia mengakui bahwa Thailand belum memiliki lembaga sejenis FKUB yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara agama di Tahiland. Menurutnya, konflik yang terjadi sepanjang kurun lima tahun terakhir menjadi bukti lemahnya sistem penyelesaian konfik lintas agama. 

“Dulu awalnya mendirikan (masjid) bebas, karena kami juga ada pimpinan Islam seperti mufti atau syaikhul islam. Namun sejak lima tahun terakhir sering terjadi penolakan dari agama mayoritas untuk kami mendirikan masjid,” kata dia. Pada kesimpulannya, ia merasa perlu bagi pemerintah Thailand, untuk membuat lembaga serupa dan menngkatkan hubungan antara agama sebagaimana yang dilakukan di Indonesia. (Red: Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Jumat 15 September 2017 21:30 WIB
Menaker Ajak Tim Komite Pelatihan Vokasi "Belajar" Vokasi ke Singapura
Menaker Ajak Tim Komite Pelatihan Vokasi
Jakarta, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri melakukan kunjungan kerja  ke Singapore Polytechnic International (SPI) di Singapura, Jumat (15/9).

"Kunjungan kerja ke SPI ini dilakukan sebagai bagian dari pengembangan konsep Grand Desain Pelatihan Vokasi Nasional yang telah disusun Kemnaker," kata Hanif di sela-sela kunjungannya.

Menaker didampingi Dirjen Binalattas Kemnaker Bambang Satrio Lelono serta Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto. Hadir pula  beberapa orang anggota tim komite pelatihan vokasional antara lain Bob Azzam, Antonius J Supit, Sari Sitalaksmi, Kun Wardhana A, Marifion, dan Sugeng Bahagijo.

Kedatangan Menaker dan tim Komite Pelatihan Vokasi disambut oleh Soh Wai Wah selaku Prinsipal dan CEO SPI beserta jajarannya.

Menaker mengatakan kunjungan ke SPI dilakukan untuk mempelajari keberhasilan negara-negara maju dalam mengelola SDM melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.

"Kita ajak tim komite vokasi yang terdiri dari pelaku industri,  anggota Kadin, Apindo, akademisi dan LSM untuk sama-sama mempelajari konsep pendidikan dan pelatihan vokasi di Singapura," kata Hanif.

Para anggota komite vokasi diminta memberi kajian, usulan dan masukan-masukan kepada pemerintah untuk mengembangkan pelatihan vokasi di Indonesia.

"Tadi kita lihat kemajuan pelatihan vokasi di Singapura didukung anggaran yang memadai, metode kurikulum yang sesuai kebutuhan industri, fasilitas peralatan canggih, instruktur dan sertifikasi yang diakui internasional. Ini yang harus kita pelajari dan tiru," kata Hanif.

Selain Singapura, negara lainnya yang patut menjadi contoh pelaksanaan pelatihan vokasi antara lain Jerman, Australia, Jepang, Austria, Korea Selatan.

Hanif menambahkan selama ini Kemnaker telah melakukan kerja sama dengan SPI dalam bidang  manajemen balai latihan kerja, strategy planning, kurikulum , metoda pedagogi, pelatihan instruktur, design thinking, akreditasi lembaga pelatihan.

"Kita teruskan kerja sama sambil terus mendorong pelatihan vokasi untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing SDM Indonesia. Ini prioritas yang pemerintah sesuai arahan Presiden Jokowi," kata Hanif.

Pelaksanaan Pelatihan vokasi dilakukan oleh BLK, LPK Swasta, Training Center Industri serta Lembaga pelatihan Kementerian atau Lembaga.

"Pengembangan dan penyiapan tenaga kerja Indonesia yang  kompeten dan  terampil harus dilakukan melalui pelatihan vokasi yang dilakukan secara massif dan fokus," kata Hanif.

Pelatihan vokasi juga  menjadi solusi dari rendahnya daya saing angkatan kerja dan pengangguran serta mismatch keterampilan dunia kerja.

"Pemerintah terus memperkuat sumber daya manusia. Peningkatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas pemerintah saat ini," ujarnya.

Perbaikan dan penyelarasan pelatihan  vokasi disesuaikan dengan kebutuhan industri serta menjamin adanya relevansi hasil lulusan dengan kebutuhan industri. Ini menjadi bukti keseriusan pemerintah. 

Dalam kunjungannya ke SPI Rombongan Kemnaker  dan komite vokasi ini mengunjuķķngi beberapa lokasi pelatihan SPI yaitu Akademi Maritim Singapura untuk melihat simulasi center, mesin kapal, dan workshop vokasi yang menjadi unggulan di Singapura. (Red. Kendi Setiawan)
Jumat 15 September 2017 20:45 WIB
Kunker Bareng ke Singapura, Menaker dan Menkeu Kompak Dukung Pelatihan Vokasi
Kunker Bareng ke Singapura, Menaker dan Menkeu Kompak Dukung Pelatihan Vokasi
Singapura, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri dan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengunjungi Institute of Technical Education (ITE) Singapore. Kunjungan kerja bersama ini dimaksudkan untuk meninjau langsung pelaksanaan pendidikan dan pelatihan vokasi yang dijalankan Singapura.

"Kita berdua berkomitmen untuk mengembangkan pendidikan dan pelatihan vokasi yang menjadi program prioritas pemerintah sesuai arahan Presiden Jokowi,: kata Menaker Hanif saat melakukan peninjauan workshop ITE di Singapura pada Jumat (15/9).

Dalam kunjungannya kedua menteri melakukan peninjauan ke pusat pelatihan maritim, workshop aerospace bidang penerbangan serta mengunjungi workshop teknik dan manufaktur yang berada di kampus ITE Singapura.

Menaker Hanif mengatakan pelatihan vokasi di Indonesia  terus ditingkatkan kualitasnya menuju ke arah yang ideal melalui program kerja yang massif, fokus dan terarah.

"Pengembangan pelatihan vokasi dilakukan dengan melibatkan pelaku industri dalam menyusun konsep kurikulum dan instruktur. Upaya ini dimaksudkan agar apa yang diajarkan pada pelatihan vokasi 'nyambung' dengan kebutuhan pasar kerja, " kata Hanif

Perbaikan fasilitas  dan sarana serta prasarana pendukung pelatihan vokasi  terus dilakukan. Kemnaker juga berharap adanya dukungan anggaran yang cukup untuk pengembangan pelatihan vokasi menjadi lebih baik.

"Kemnaker berkomitmen memperbaiki pelatihan vokasi untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing SDM Indonesia serta mempercepat pengurangan pengangguran, kata Hanif.

Pelaksanaan Pelatihan vokasi dilakukan oleh BLK, LPK Swasta, Training Center Industri serta Lembaga pelatihan Kementerian atau Lembaga. Namun untuk menjamin pelaksanaan pelatihan vokasional yang efektif membutuhkan peran serta aktif pemerintah, dunia usaha swasta akademisi dan masyarakat.

"Setiap tahun  kita dihadapkan pada 2 juta angkatan kerja baru tiap tahunnya. Ini merupakan tantangan karena mereka yang angkatan kerja baru ini tidak bisa langsung masuk pasar kerja, kata Hanif.
Apalagi dari total 130 juta angkatan kerja Indonesia, sebanyak 60% diantaranya merupakan tenaga kerja berpendidikan SD dan SMP.
Selama ini akses dan mutu pelatihan vokasional masih menjadi persoalan dan angkatan kerja kita yang didominasi pendidikan rendah lulusan SD- SMP tadi.

"Oleh karena itu, perbaikan dan penyelarasan pelatihan  vokasi disesuaikan dengaan kebutuhan industri serta menjamin adanya relevansi hasil lulusan dengan kebutuhan industri. Ini menjadi bukti keseriusan pemerintah, kata Hanif. (Red: Kendi Setiawan)

Jumat 15 September 2017 18:46 WIB
Quraish Shihab Isi Halaqah Nasional Islam Moderat di UIM
Quraish Shihab Isi Halaqah Nasional Islam Moderat di UIM
Makassar, NU Online
Universitas Islam Makassar (UIM) menggelar Halaqah Nasional Radikalisme dan Wasathiyah dengan tema Membentuk Generasi Muslim Moderat yang menghadirkan pembicara Prof HM. Quraish Shihab, Direktur Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ), Rabu (13/9) lalu di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM Makassar.

Halaqah tersebut merupakan kerja sama UIM dengan Pengurus Wilayah NU Sulawesi Selatan, Kementerian Agama Kota Makassar, Ikatan Cendikiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulsel.

Rektor Universitas Islam Makassar Majdah Agus Arfin Nu'mang dalam sambutannnya mengungkapkan rasa terima kasih kepada Prof Quraish yang telah menyempatkan diri hadir, semoga membawa keberkahan di kampus kami. 

"Mulai tahun ini UIM membuka Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, kami mohon arahan dan binaan Prof Quraish yang juga pakar tafsir Al-Qur'an," ungkap Majdah.

 "Selain itu, UIM sebagai perguruan tinggi NU menjadi pusat kajian Aswaja di Sulawesi Selatan, sehingga diharapkan melahirkan generasi muslim yang moderat," tutup Majdah.

Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anre Gurutta Sanusi Baco dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembinaan umat saat ini tidak bisa hanya bermodalkan semangat berapi-api, tetapi harus dibarengi dengan strategi, itulah yang disebut Wasathiyah atau moderat. 

Gurutta Sanusi juga bercerita tentang peran Prof Quraish dalam pembagunan UIM. "Prof Quraish banyak membantu pada masa awal berdirinya Kampus Al-Ghazali yang merupakan cikal bakal dari Universitas Islam Makassar, Gedung Rektorat UIM merupakan bantuan yang didatangkan melalui beliau," imbuh Gurutta.

Sementara itu, Prof Quraish mengungkapkan radikalisme adalah buah dari ekstrimisme. "Ekstrimisme dapat diartikan tingkat yang tertinggi, dapat pula diartikan memaksakan kehendak, maka dari itu ekstrimisme harus diobat atau dihilangkan," ungkap Prof Quraish.

"Dalam ajaran Islam mengarah kepada hal Wasathiyah, yaitu dapat menerima siapapun, muslim ataupun nonmuslim. Selain itu, yang menyebabkan orang berpaham radikal atau menyimpang dari Wasathiyah adalah karena kurangnya pengetahuan orang tersebut, inilah yang terjadi saat ini," tambah Penulis Tafsir Al-Misbah ini.

Tak lupa Prof Quraish bercerita ketika bersama Gurutta Sanusi belajar di Mesir serta memuji perkembangan UIM yang dulunya bernama Al-Ghazali. "Perkembangan pesat UIM saat ini tidak lepas keikhlasan para pencetusnya, termasuk Gurutta Sanusi Baco,” tutur Quraish Shihab.

Hadir pada acara tersebut, Kepala Balitbangda Sulsel Iqbal Samad Suhaeb, Pimpinan dan pejabat struktural UIM, Pengurus dan anggota ICATT Sulsel, Pejabat Kementerian Agama Kota Makassar, serta ratusan dosen dan mahasiswa dari beberapa kampus di Makassar. (Muh. Nur/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG