IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Pesantren Nurul Jadid Latih Kemandirian Santri Lewat Pramuka

Ahad 17 September 2017 4:2 WIB
Bagikan:
Pesantren Nurul Jadid Latih Kemandirian Santri Lewat Pramuka
Probolinggo, NU Online
Dalam rangka menciptakan peserta didik yang memiliki kemandirian melalui kegiatan Pramuka, maka Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo membentuk satuan pramuka yang terdiri dari santri yang berada di tiga perguruan tinggi. Meliputi IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKes Nurul Jadid.

Sebagai perwujudan dari upaya tersebut, Jum’at (15/9) diadakan peresmian dan pelantikan Racana Az-Zainiyah dan An-Nafi’iyah Gudep 19.190 dan 19.189. Kegiatan ini dilaksanakan di aula IAI Nurul Jadid Paiton.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pelepasan kontingen Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton untuk mengikuti Perwimnas (Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional) II tahun 2017 di lapangan Akmil Magelang.

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengatakan bahwa dengan peresmian Racana Az Zainiyah dan An Nafiiyah ini nantinya mampu menciptakan peserta didik yang mandiri di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

“Terkait dengan pelepasan kontingen Perwimnas, mudah-mudahan santri kami mampu memberikan yang terbaik sehingga mampu mengharumkan nama Pondok Pesantren Nurul Jadid di tingkat nasional,” katanya.

Lebih lanjut Kiai Wahid berharap agar melalui Pramuka nantinya dapat menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di satu sisi. “Serta kemandirian dan kedisiplinan siswa dan mahasiswa sekaligus civitas akademika di sisi lain,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Bagikan:
Ahad 17 September 2017 21:3 WIB
LSN 2017
Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim
Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim
Probolinggo, NU Online
Setelah dipastikan sebagai juara Liga Santri Nasional (LSN) Regional III Jawa Timur, Persatuan Sepakbola (PS) Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menerima trofi piala penghargaan, Ahad (17/9).

Piala pengharaan juara LSN Regional III Jawa Timur ini diserahkan langsung oleh Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi kepada Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Abdul Hamid Wahid. Penyerahan yang diadakan di aula pesantren ini dihadiri pengasuh dan guru pesantren serta santri.

“Saya menyampaikan selamat atas prestasi yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid Paiton yang telah mampu meraih juara LSN Regional III Jawa Timur. Tentunya saat ini PS PP Nurul Jadid harus mempersiapkan untuk untuk mengikuti LSN tingkat Jawa Timur. Semoga prestasi ini mampu menjadi motivasi bagi santri dan pengasuh untuk terus tampil sebagai yang terbaik,” kata Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi.

Sementara Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengaku sangat bersyukur atas prestasi sepakbola yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid di mana dalam usianya yang masih seumur jagung dapat menorehkan prestasi.

“Semoga prestasi ini menjadi rangsangan untuk terus berprestasi dan mendorong kegairahan olahraga. Bukan saja olahraga prestasi tapi juga termasuk olahraga kesehatan untuk santri,” ungkapnya.

Dalam acara ini, kepala pesantren juga memberikan penghargaan kepada para pemain PSSNJ berupa beasiswa pendidikan bagi pemain terbaik dan top skor yang telah mengharumkan nama pesantren. “Jangan pernah berhenti untuk berprestasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)
Selasa 12 September 2017 21:4 WIB
Ini Cara Kesebelasan Jersey Sirojut Thalibin FC Tampil Syar'i
Ini Cara Kesebelasan Jersey Sirojut Thalibin FC Tampil Syar'i
Grobogan, NU Online
Jika dilihat sekilas, mungkin seragam punggawa asal Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Kabupaten Grobogan ini layaknya seragam olahraga sepakbola pada umumnya. Namun, cobalah perhatikan dengan seksama.

Di bagian celana terlihat motif garis oranye yang terputus. Alias tidak sampai pada ujung kain celana yang menjuntai ke bawah menutupi kedua lutut para pemain.

Setelah dikonfirmasi oleh NU Online, CEO SIRBIN FC Muhammad Mudrik menerangkan bahwa hal tersebut dikarenakan ada penambahan kain hitam di bagian bawah celana.

"Hal tersebut merupakan syarat yang ditetapkan oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarok selaku pengasuh pesantren, bahwa santri meskipun dalam keadaan berolahraga, tetapi juga harus tetap menjaga syariat agama dengan berusaha untuk selalu menutup auratnya," terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ketentuan tersebut telah ditetapkan sejak keikutsertaan Pesantren Sirojuth Tholibin yang pertama, yaitu tahun 2016.

Jadi penambahan kain itu bertujuan agar celana yang dikenakan para pemain tetap relevan jika dipandang dalam koridor syariat Islam. Karena telah diketahui bersama bahwa kewajiban seorang Muslim laki-laki adalah menutup auratnya, yaitu anggota tubuh  mulai dari kedua lutut hingga ke atas menuju pusar dalam keadaan apapun baik sedang berolahraga maupun dalam aktivitas yang lainnya.

Mungkin, hal ini bisa menjadi inspirasi bagi panitia LSN ke depannya. Jangan sampai di tengah geliat mendakwahkan Islam dan santri yang juga mampu berkompestisi. Hal-hal sederhana tetapi sangat intim seperti menutup aurat malah diabaikan dalam pelaksanaannya. (Ulin Nuha Karim/Alhafiz K)

Senin 11 September 2017 14:1 WIB
Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi
Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi
Santri putri Baitul Arqom selepas mengaji (dok. NU Online)
Bandung, NU Online 
Lembaga Dakwah PBNU bersilaturahim kepada pesantren tua di kabupaten dan kota Bandung Jumat lalu (8/9). Pesantren pertama yang dikunjungi adalah Baitul Arqom, Lemburawi, Kecamatan Pacet. Pesantren tersebut didirikan KH Muhammad Fakih (Mama Fakih) bin KH Muhammmad Salim sekitar tahun 1922. 

Rombongan diterima salah seorang pengasuh pesantren tersebut, KH Athoillah. Setelah rehat dan berbincang, kemudian berziarah ke kompleks pemakaman keluarga pesantren. Di kompleks pemakaman, Kiai Athoilah mengatakan, nasab leluhurnya masih bersambung dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Mama Faqih merupakan keturunan ke-17 dari wali Cirebon tersebut. 

Saat ini Baitul Arqom memiliki sekitar 1.500 santri. Mayoritas berasal dari kabupaten-kabupaten di Jawa Barat. Namun, hampir dari setiap provinsi, dari Aceh hingga Papua, ada yang mondok di pesantren itu. Jika ditambahkan dengan mahasiswa dan mahasiswi di STAI pesantren, bisa mencapai 2.500 orang. 

Menurut Kiai Athoillah, salah satu faktor adanya santri dari berbagai wilayah adalah karena jejaring para kiai pendahulu yang merupakan dai keliling ke daerah-daerah. KH Ali Imron dan KH Yusuf Salim adalah dai populer yang tak henti-hentinya menyebarkan ajaran Islam. 

KH Yusuf Salim sering berdakwah hingga ke luar Jawa. Selepas berdakwah itulah, ada orang tua yang menitipkan anaknya di Baitul Arqom.

Terispirasi dari Sahabat Nabi
Sebagaimana umumnya pesantren tua, kiai pendiri hampir tidak menamakan pesantren secara khusus. Pesantren hanya dikenal dengan nama kampungnya. Di Jawa Barat misalnya dikenal Pesantren Gentur (sebuh tempat di Cianjur) Gunung Puyuh (di Sukabumi).

Di Jawa juga seperti itu, pesantren Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari  lebih dikenal nama kampung tempat pesantren itu berdiri, Tebuireng. Baitul Arqom, masa kepemimpinan Mama Faqih hanya dikenal sebagai Pesantren Lemburawi. 

Pada tahun 1964, Mama Faqih wafat meninggalkan sembilan keturunan, buah pernikahannya dengan Hj. Maryamah. Putra-putrinya adalah Hj. Anisah Mabruroh, H. Rd Sofwan, Hj.Nyimas Qona’ah, KH Ali Imron, KH Taufiq Abdul Hakim, Hj. Neng Kholishoh Kamilah, Neng Endah Zainab, KH Yusuf Salim Faqih, KH Madani Sulaiman. Kepemimpinan Pesantren Lemburawi dillanjutkan menantu Mama Faqih, KH Ubaidillah. 

Pada tahun 1970, Pesantren Lemburawi berubah nama menjadi Baitul Arqom Al-Islami. Menurut KH Athoillah, nama itu terinspirasi dari nama sahabat Nabi Muhammad SAW, Arqom bin Arqom. Sahabat Arqom tergolong beriman pada masa awal Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah Islam. 

Pada masa sulit dengan dakwah sembunyi-sembunyi itu, Arqom merelakan rumahnya menjadi, untuk istilah sekarang semacam basecamp untuk berdakwah Nabi Muhammmad dengan sahabat-sahabat. Baitul Arqom sama dengan rumahnya Arqom dengan fungsi pusat dakwah. 

KH Ubaidillah wafat 11 Februari 1986. Karena ia tidak memiliki keturunan, kepemimpinan pesantren dilanjutkan putra keempat Mama Faqih, KH Ali Imron. Pada masa dia, pesantren dikelola bersama saudara dan keponakanya, KH Taufiq Abdul Hakim, KH Yusuf Salim, Kiyai Madani Sulaiman, KH Sulaeman Ma’ruf,  KH Abdul Khobir Hasan, KH Fuad Musthofa Hanan, dan para asatidz lainya.

KH Ali Imron adalah menantu KH Ruhiat, tokoh NU Tasikmalaya, pendiri Pondok Pesantren Cipasung. Dengan demikian, KH Ali Imron merupakan adik ipar dari KH Ilyas Ruhiat, Rais ‘Aam PBNU (1994-1999) masa Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. 

KH Ali Imron wafat pada Juni 2005. Kepemimpinan Baitul Arqom dilanjutkan KH Yusuf Salim yang wafat pada Juli 2009. Kini, Pesantren Baitul Arqom, pesantren pusat dakwah itu, dilanjutkan kiai-kiai muda dari keturunan Mama Faqih. Salah seorang di antaranya KH Athoillah. (Abdullah Alawi)       
  

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG