IMG-LOGO
Humor

Jatah Daging Kurban

Senin 18 September 2017 14:31 WIB
Bagikan:
Jatah Daging Kurban
Di suatu sore Ustadz Juki yang terkenal gemar bercerita, dikelilingi oleh beberapa santri yang sedang asyik mendengarkan ceritanya. Karena suasana menjelang Hari Raya Kurban, beliaupun bercerita tentang rencana pelaksanaan pemotongan hewan kurban di pondok mereka.

Sebelum bubaran, Ustadz Juki sempat menceritakan pengalaman pahitnya pada saat Hari raya Kurban dua tahun silam. Saat itu dia mendapat bagian daging kurban yang lumayan banyak, karena kebetulan menjadi ketua panitia.

Selepas shalat Maghrib di mushalla ustadz Juki langsung pulanng ke kamarnya, dan alangkah kagetnya saat  mendapatkan daging kurban bagiannya raib.
 
Sudah beberapa orang yang dia tanyakan tentang keberadaan daging itu tapi mereka tidak ada yang tahu, dengan perasaan marah, dongkol campur gregetan ustadz Juki mencari jejak daging itu ke dapur umum. 

Semua kerumanan santri yang sedang memasak tidak ada yang luput dari sidaknya, tetapi upaya pencarian itu tidak berhasil.

Hasin, yang sedari tadi ikut mendengarkan cerita sang ustadz, menjadi teringat peristiwa dua tahun silam. 

Ketika itu ia mau berangkat shalat Maghrib di masjid, saat melewati kamar ustadz Juki, Holili menarik tangannya dan menunjuk ke arah daging yang sudah ditusuk seperti dendeng semabri berkata, “jatah kita...”.

Hasin tidak paham apa yang maksud sahabatnya itu, dengan disertai isyarat kepala, Holili kembali berucap, “ jatah kita...”.                                                                                                                      
Kali ini Hasin paham akan maksud sahabatnya itu, dengan cekatan ia mengambil daging itu lalu membawanya dan dimasak di luar dapur umum.

Mengingat peristiwa itu Hasin senyum senyum sendiri, kemudian menimpali cerita sang ustadz, “Ikhlaskan saja ustadz....”

“Ya...gimana lagi, bukan rezeki saya, dan saya sudah mengikhlaskannya...” 

“Alhamdulillah........,” kata Hasin.

“Lho, kok......?"

Pertanyaan ustadz Juki keburu dipotong oleh Hasin,  “Ya ustadz...., saya yang mengambil daging itu...”. (Hosni Rahman)
Tags:
Bagikan:
Kamis 14 September 2017 18:1 WIB
Terungkap! Kenapa Harlah Gus Dur Diperingati Dua Kali dalam Setahun
Terungkap! Kenapa Harlah Gus Dur Diperingati Dua Kali dalam Setahun
Tanggal 7 September lalu, Harlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati untuk kedua kalinya di tahun 2017. Peringatan hari lahir Gus Dur selalu menjadi perbincangan menarik di media sosial, terutama Twitter.

Jika dalam peringatan Harlah pertamanya pada 4 Agustus warganet (netizen) mengangkat tagar #HarlahGusDur, maka pada 7 September warganet menulisnya dengan tagar #UltahGusDur.

Masyarakat kerap dibikin bertanya-tanya terkait misteri tanggal lahir Gus Dur yang diperingati dua kali dalam setahun tersebut.

"#UltahGusDur hari ini? Iya. 7 Sept, hari ulang tahun yang asli. 4 Agt, hari ulang tahun yang legal," ujar putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid dalam akun twitternya pada 7 September 2017 lalu seolah berusaha menjawab apa yang menjadi pertanyaan di benak para netizen.

Perihal misteri tanggal lahir ini, ceritanya ketika itu Gus Dur ternyata tidak tahu persis tanggal berapa sebenarnya dia dilahirkan.

Berawal dari sewaktu kecil saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah sekolah dasar di Jakarta, Gus Dur ditanya, “Namamu siapa Nak?”

“Abdurrahman,” jawab Gus Dur.

“Tempat dan Tanggal Lahir?”

“Jombang.....,” saut Gus Dur terdiam beberapa saat.

“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjut Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung terlebih dahulu bulan kelahirannya.

Gus Dur hanya hafal bulan Komariahnya (hijriah), namun lupa hitungan Syamsiahnya (masehi).

Ternyata, yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam hitungan hijriah. Tetapi gurunya menganggap Gus Dur lahir bulan Agustus.

Maka sejak saat itu, Gus Dur dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Sya’ban 1359 H atau 7 September 1940. Namun seperti yang dikatakan Alissa Wahid, dua-duanya asli dan legal. (Fathoni)
Rabu 13 September 2017 22:0 WIB
Doa dan Tawa Penonton Liga Santri di Aceh
Doa dan Tawa Penonton Liga Santri di Aceh
Seorang pemain dari tim kesebelasan Pesantren Dayah Haqul Mubin, terguling-guling. Pemain berkaus oranye memegangi kaki kiri sambil meringis. Sesekali tangan kanannya mengacung, minta pertolongan.

Wasit utama minta tandu masuk. Tapi tandu tak kunjung masuk meski wasit sudah tiga kali kasih aba-aba.

"Mari, kita bantu dulu pemain yang jatuh dengan doa, sambil menunggu tandu," ajakan doa tersebut disuarakan komentator pertandingan yang juga pembaca ayat Al-Qur’an saat acara pembukaan kick off.

Penonton di kursi utama tertawa terbahak-bahak mendengar ajakan komentator itu. Tidak lama setelahnya, tim medis lengkap dengan tandu, berlari menuju pemain yang jatuh. Tapi mereka lari lagi keluar lapangan, karena pemain yang jatuh tiba-tiba berdiri dan lari kembali ke posisinya.

"Nah itu, doa sudah menolong pemain kita. Doa jangan ditertawakan," kata Saiful Bahri lewat pengeras suara. Tapi penonton malah tertawa lagi.

Pertandingan pertama, 12 September, di Sumatera Region 2 antara tim pesantren Haqul Mubin Kabupten Bener Meriah melawan Pesantren Nurul Huda Kabupaten Aceh Tengah, dimenangkan Nurul Huda, dengan skor 7-0. (Hamzah Sahal)


Sabtu 9 September 2017 9:1 WIB
Nyamar Keamanan Ditipu Tukang Ghasab
Nyamar Keamanan Ditipu Tukang Ghasab
Kehidupan di pesantren tidak hanya dipenuhi perilaku baik. Namun, juga ada kelakuan kaum bersarung yang biasa dilakukan tetapi tak pantas menjadi kebiasaan. Salah satu kelakuan tersebut adalah ghasab.

Perilaku meminjam tanpa izin pemilik barang ini sungguh keterlaluan. Bagaimana tidak, korban ghosob pasti saja merasa dirugikan dan jengkel bukan kepalang.

Kejadian ghasab tersebut ternyata juga menimpa kang Andik. Kang Andik yang tak suka menggosob sering kali justru menjadi korban dari perilaku tukang ghasab. 

Kali ini sandal kang Andik yang berhasil dibawa tukang ghasab. Kang Andik yang terpaksa butuh sandal, akhirnya mengalah dengan memberi sandal baru. Tak sekadar membeli sandal, kali ini kang Andik punya trik jitu untuk menghadapi tukang ghasab yang menjengkelkan.

"Lihat saja nanti tak akan ada yang berani mengghasab sandalku lagi," gerutu Kang Andik dalam hati. 
Tak menunggu waktu lama, langsung saja kang Andik laksanakan triknya. Sandal baru yang ia miliki. Merupakan sandal yang populer dikalangan santri. 

Dengan bermerekan Swallow sandal kang Andik ditulisi satu per satu huruf. Mulai dari huruf k, kemudian e, a, m, a, n, a, hingga n kembali. Sehingga lengkaplah susunan kata tersebut menjadi “keamanan”.

Memang kang Andik bukan pengurus keamanan. Namun, kang Andik yakin trik yang baru saja ia lakukan pasti manjur untuk menangkal tukang ghasab. 

"Tukang ghosob mana yang berani mengghasab sandal keamanan, pasti tak ada. Dan sandalku pasti aman selamanya haha," lirih kang Andik dengan puas. Ia tinggalkan sandalnya di depan kamar tanpa perasaan takut sedikitpun.

Sehari berselang ternyata dugaan kang Andik salah. Sandal yang ia taruh di depan kamar hilang dari pandangan mata. "Sialan punya keamanan masih diambil juga sama tukang ghasab," batin kang Andik heran bukan kepalang.
 
Alih-alih menatapi nasib, kang Andik yang sedih menatap ke atas langit. Namun tiba-tiba kang Andik kaget sekali. Sandal yang baru ia beli sehari lalu ternyata ada di atas genteng.

Akhirnya setelah kang Andik berpikir lama. Mencari jawaban atas kejadian ganjil yang baru saja dialami. Kang Andik tersenyum sambil berkata dalam hati.

"Pantas saja ada di atas genteng. Lha keamanan kan banyak yang gak suka. Pasti yang buang ke atas genteng salah satu dari mereka (tukang ghasab), kurang ngajar!" (Aldi Rizki Khoiruddin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG