IMG-LOGO
Tokoh

Pesan Cinta KH Ali Maksum untuk NU

Kamis 21 September 2017 16:0 WIB
Bagikan:
Pesan Cinta KH Ali Maksum untuk NU
KH Ali Maksum.
Diawali dari ketidak sengajaan bertemu kembali dengan karya KH Ali Maksum, dengan judul “Ajakan Suci”. Inisiatif menulis pesan cinta dari beliau untuk Nahdlatul Ulama (NU) pun muncul seketika. Karena banyak hal menarik yang harus diketahui oleh warga NU. “Mungkin” buku ini tidak mudah untuk ditemukan. Dengan itu, saya mencoba menarasikan pemikiran-pemikiran beliau, khususnya ungkapan/pesan cinta beliau terhadap NU.

KH Ali Maksum lahir pada tanggal 2 Maret 1915 di desa Soditan Lasem, Rembang. Beliau putra pertama dari KH Maksum bin KH Ahmad Abdul Karim dengan Ny. Hj. Nuriyah binti KH Muhammad Zein Lasem. Seperti sama-sama kita ketahui, beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Dan salah satu maestro yang menjadikan Pesantren Al-Munawwir hidup kembali setelah peninggalan KH Munawwir. Selain itu, KH Ali Maksum adalah Rais Aam Syuriah PBNU periode 1980-1984. Ada beberapapesan cinta beliau dalam buku tersebut;

Pertama, beliau mengingatkan kepada kita semua, bahwa sebagai warga NU kita harus belajar dari sejarah kejayaan NU. Kata beliau, kejayaan NU bukanlah hal mustahil untuk kita capai, asalkan kita mau belajar dari perjalanan NU (pasang surut NU, asam garam NU) semenjak NU lahir sampai pada saat ini. Beliau menggambarkan tahun 1967-1969 adalah pamor luar biasa bagi NU. Namun, 1970-1982 adalah kondisi yang tidak menentu, karena ada kesalahpahaman dengan pemerintah, sehingga saling curiga itu muncul, dan NU tidak bisa mengikuti pola pembangunan Nasional.

Namun, diplomasi dan ikhtiar PBNU terus digalangkan agar NU ikut andil membangun Indonesia. Dan di sini, beliau sangat berharap bahwa usaha itu tidak sia-sia dan kedepannya NU akan menjadi idola segalanya, dan kebanggaan bangsa, ini adalah keharusan sejarah. Angin segar itu muncul pada muktamar semarang tahun 1979, hasil dari muktamar tersebut sesuai dengan cita-cita pembangunan nasional. Namun, dalam praksisnya “mlempem”, seoalah-olah NU masa bodoh dengan pembangunan bangsa ini.

Beliau menyadari hal ini, tidak bisa dipungkiri kata beliau, setiap momen pembangunan selalu ada kejutan dari kultur masyarakat yang berkembang, susah ditebak. Menurut beliau, berorganisasi pada masa sekarang memang harus tabah dengan kebesaran jiwa. Yang penting, laku organisasi terus mengalirkan kemanfaatan, dan itu bisa dilakukan oleh NU. 

Sikap NU mengakui Pancasila dan UUD 45 dalam pasal 3 anggaran dasar merupakan sebuah bentuk perwujudan nasionalisme NU. Pesan cinta beliau dalam hal ini adalah warga NU dan seluruh generasi penerus NU harus terus menerus konsisten merawat bangsa Indonesia, memagari pancasila tetap sebagai falsafah dan dasar negara. Selain itu, tetap konsisten mengibarkan paham Ahlussunah wal jama’ah sebagai benteng pertahanan dari pemahaman-pemahaman radikal/ekstrem.

Kedua, dalam buku tersebut KH Ali Maksum menjelaskan ada 5 bekal perjuangan yang harus dimiliki oleh seluruh warga NU; (1) ats-Tsiqatu bi Nahdlatil Ulama, setiap warga NU harus mempercayai NU sebagai tuntunan hidup yang sesuai. Tidak semerta-merta timbul secara sikap batin semata, melainkan realisasi yang bersifat lahir pula, (2) al-Ma’rifat wal Istiqan bi NU, warga NU harus memahami NU secara keseluruhan, NU adalah ilmu, NU harus dipelajari, tidak hanya berproses secara alamiah. Agar keyakinan itu tumbuh secara sungguh-sungguh. (3) al-amalu bi Ta’limi NU, warga NU harus mengamalkan ajaran dan tuntunan NU. 

Tuntunan NU adalah tuntunan Islam yang berlandaskan al-Quran dan Hadits, yang dinarasikan menurut bimbingan madzhab. Tidak melulu menuruti akal yang kadang dominan terhadap nafsu. Namun, peran akal mempunyai porsi seluas-luasnya tapi dengan bimbingan yang tertib dan sempurna.

Sedangkan yang ke (4) al-Jihadu fi Sabili NU, artinya memperjuangkan NU agar tetap jaya dan berkembang pesat, dengan bimbingan dan restu para ulama, dan (5) ash-Shabru fi Sabili NU, sabar dalam ber-NU, baik sabar dalam melakukan tugas, dan sabar dari bujuk rayu yang tidak senada dengan ajaran-ajaran NU serta bujuk rayu duniawi.

Ketiga, pesan cinta KH Ali Maksum ini mengharapkan agar NU menyebarkan kemaslahatan dunia, beliau mengonsepkan hal tersebut dengan mengutip kitab Adabud Dunya wad Din, oleh Imam al-Mawardi, yang menyebutkan ada 6 hal yang harus dipenuhi untuk mencapai kemaslahatan dunia, (1) agama yang dianut (mempunyai agama), (2) penguasa kokoh dan berwibawa, (3) keadilan yang merata, (4) keamanan semesta, (5) kemakmuran sandang pangan, dan (6) pengharapan masa depan yang jauh atau wawasan dan cita-cita ke depan. Beliau mengatakan semua ini harus dikemas dengan sikap Aswaja yang tidak memisah-misahkan iman, islam, dan ihsan, dengan kata lain antara keyakinan, pelaksanaan, dan peningkatan kualitas menjadi satu kesatuan. 

Keempat, dalam pesan cinta ini, KH Ali Maksum berharap bahwa NU harus terus membangun citra dirinya, dengan konsisten pada jalur perjuangan bangsa dan agama. NU harus banyak belajar dari sejarah hidupnya, NU dalam kondisi dan posisi apapun atau segenting apapun, NU harus lebih dewasa, arif dan bijaksana, dan beliau juga berpesan, jangan lupakan satu hal, sebuah organisasi adalah estafet dari generasi ke generasi. Maka dari itu NU harus memikirkan masalah regenerasi, agar kualitas-kualitas generasi NU selanjutnya, sekarang atau di masa yang akan datang terjaga dan mampu membawa NU pada kejayaan yang manfaat.

Kelima, KH Ali Maksum meyakini bahwa jati diri NU tidak bisa digoyahkan, NU kokoh dan tangguh. Beliau gambarkan seperti ini, kepribadian NU meliputi akidah, prinsip perjuangan, sistem dan pengaturan organisasi. Tidak bisa dielakkan, setiap organisasi apapun, tidak terkecuali NU di dalam tubuh organisasinya pernah terjadi konflik dan riak-riak perpecahan sebagai akibat hentakan situasi dan cekaman-cekaman keadaan, tetapi yang demikian itu tidak dapat bertahan lama. Ia segera hancur dengan sendirinya.

Hal ini berkat ketabahan kita dalam Ngrungkebi (memegang serius) prinsip-prinsip yang murni berkaitan dengan keimanan dan tawakal kita kepada Allah. NU merupakan wadah perjuangan bagi ulama untuk mengabdi kepada Islam wal Muslimin dan mengabdi kepada bangsa/negara.

Dalam ikatan terbatas ini, sebenarnya tidak cukup untuk menjabarkan secara keseluruhan pesan cinta KH Ali Maksum kepada NU, apalagi pemikiran-pemikiran beliau untuk kejayaan NU. Namun, kelima poin yang disampaikan di atas sudah merupakan inti atau gambaran besar dari kecintaan beliau terhadap NU (khususnya inspirasi buat kita). 

Dan jika pesan-pesan cinta beliau diamalkan oleh warga NU, tentu dan sudah pasti wewangi NU akan terus menjalar tanpa terputus, dan kejayaan NU yang dicita-citakan beliau akan benar-benar terwujud secara sempurna.Bagi beliau, kejayaan NU merupakan sebuah kewajiban sejarah. Terkahir saya katakan, “Sosok beliau patut untuk diteladani.”

Aswab Mahasin, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.
Tags:
Bagikan:
Senin 18 September 2017 18:1 WIB
Tiga Habib Satu Kiai Anjurkan Ajengan Syuja’i Masuk NU
Tiga Habib Satu Kiai Anjurkan Ajengan Syuja’i Masuk NU
Mama Ciharashas (bertongkat) hendak berhaji tahun 1983
Mama Ajengan KH Ahmad Syuja’i Ciharashas (selajutnya Mama Ciharashas), Cianjur, Jawa Barat, kurang mendapat perhatian dalam sejarah NU. Padahal ia, melalui pesantrennya, adalah pemasok kiai-kiai yang menjadi pengurus NU di Priangan Barat. 

Jika ditelusuri, Rais Syuriah PCNU di Priangan Barat adalah didikan Mama Ciharashas. Sebut misalnya Rais Syuriyah PCNU Sukabumi KH  Mahmud Mudrikah Hanafi (Pengasuh Siqoyatur Rohmah, Selajambu), almaghfurlah KH Zezen Zainal Abidin (Pengasuh Pesantren Az-Zainiyah, Nagrog), KH Abdullah Mukhtar (Pengasuh An-Nidzom Panjalu), Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung KH Tajuddin Syubki dan lain-lain. 

Mama Ciharashas pun masuk NU tidak sagawayah (sembarangan). Ia dianjurkan aktif di NU oleh tiga habib jempolan dan satu kiai. Tak heran, sejak masih santri KH Ahmad Syatibi Gentur (Mama Kaler), Mama Ciharashas sudah memiliki Kartanu.  
 
Menurut santri mama Ciharashas, KH Abdul Aziz Hidayatullah, pada buku Riwayat Hidup KH Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas) bin Haji Ghojali Singapraja, Mama Ciharashas dianjurkan masuk dan aktif di NU oleh KH Mansur Jembatan Lima, Jakarta (Guru Mansur). Bahkan Guru Mansur menganjurkan harus punya KARTANO (sekarang Kartanu). 

Begitu pula setelah Mama Ciharashas mendirikan Pesantren Asy-Syuja’i, banyak dukungan dari masyayikh agar menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Anjuran itu didukung Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung. 

“Ketika Habib Utsman Al-Idrus, menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, dengan pendirian yang teguh, dilandasi ilmu agama yang kuat dan mendalam, serta desakan para masyayikh, maka dengan keputusan bulat, Mama Ciharashas menjadi Pengurus PCNU Kabupaten Cianjur,” ungkap buku itu yang diterbitkan dalam rangka Haul Mama Ciharashas pada 1434/2013.  

Kemudian Mama Ciharashas diangkat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, hingga akhir hayatnya pada 20 Dzulqadah 1403 H atau 28 Agustus 1983 M.

Guru-guru Mama Ciharashas
Mama Ciharashas lahir di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi 15 Juni 1910 M. Ia merupakan putra dari pasangan KH Gojali SIngapraja dan Ny. Hj. Hafsah. Pendidikan formal Mama Ciharashas sampai pada sekolah desa dan Vervolg School (sekolah Belanda) pada 1926-1927. Pendidikan selanjutnya ia dapatkan di berbagai pondok pesantren. 

Beberapa pesantren yang tempat berguru Mama Ciharashas adalah Pesantren Sumursari Garut dari tahun 1927-1928, kemudian nyantri ke Pesantren Gentur yang diasuh KH Mama Ajengan Ahmad Syatibi (Mama Kaler) dan Mama Ajengan KH Ahmad Kurtubi (Mama Kidul) mulai tahun 1929-1938. 

Kemudian ia berguru kepada KH Raden Husen (Mama Ciajag) bin KH Ahyad Cianjur, KH DJunaidi Tangerang, serta kepada para habib, di antaranya Habib Ali Al-Attas, Bungur, Cikini, Jakarta, Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi. (Abdullah Alawi)

Kamis 24 Agustus 2017 5:1 WIB
KH Ma’ruf Mangunwiyoto, Pemimpin Barisan Kyai Jawa Tengah
KH Ma’ruf Mangunwiyoto, Pemimpin Barisan Kyai Jawa Tengah
Kiai Ma'ruf dan istrinya
Sebelumnya telah diterangkan tentang kiprah Barisan Kyai, sebuah kelompok pasukan yang terdiri dari para kiai sepuh. (baca: Usia Uzur Tak Jadi Halangan Untuk Ikut Berjuang)

Pada zaman perang kemerdekaan, peran mereka begitu besar. Selain diharapkan nasihat-nasihatnya dalam peperangan untuk membakar semangat para pejuang, sebagian dari mereka juga ada yang memanggul senjata, ikut berperang di front terdepan.

Di Jawa Tengah, Barisan Kyai ini dipimpin oleh seorang ulama dari Kota Surakarta yang bernama KH Ma’ruf Mangunwiyoto. Gelar Mangunwiyoto ini didapatkannya setelah ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum Surakarta dan diangkat menjadi guru.

Kiai Ma’ruf dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri NU di Kota Solo. Hal ini diungkapkan KH Saifudin Zuhri, seorang Tokoh NU yang juga pernah nyantri di Kota Solo pada tahun 1930-an, dalam buku “Berangkat dari Pesantren” (2013). 

Menurut dia, sosok Kiai Ma’ruf yang menjadi pengasuh pesantren di daerah Jenengan Surakarta juga dikenal sebagai seorang ulama besar, khususnya dalam bidang hadist.

Kealiman yang dimiliki oleh Kiai Ma’ruf, juga sedikit banyak ia dapatkan dari faktor nasab. Kiai Ma’ruf berasal dari keturunan seorang ulama besar, yakni Kiai Abdul Mu’id bin Kiai M Tohir bin Nyai Syamsiah binti Kiai Imam Rozi Tempursari Klaten Jawa Tengah.

Kakek buyut Kiai Ma’ruf, yakni Kiai Imam Rozi Tempursari merupakan seorang ulama yang juga menjadi seorang panglima (Manggala Yudha) perang pasukan Pangeran Diponegoro, yang bergelar Singa Manjat.

Darah pejuang dari para leluhurnya ini lah barangkali yang menjadi semangat Kiai Ma’ruf bersama sejumlah kiai lain, seperti KH Abdurrahman KH R Moh Adnan, Kiai Abdul Karim Tasyrif, Kiai Martoikoro, Kiai Asnawi, Kiai Amir Thohar dan ulama lain di Barisan Kyai untuk ikut berjuang melawan penjajah. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)

Ahad 20 Agustus 2017 16:1 WIB
Kealiman Syekh Muhammad Ahyad Bogor Bergema di Masjidil Haram
Kealiman Syekh Muhammad Ahyad Bogor Bergema di Masjidil Haram
Muhammad Ahyad Al-Bughuri dikenal sebagai ulama yang multi dalam menguasai berbagai disiplin keilmuan. Meskipun sudah diangkat menjadi pengajar di Masjidil Haram, Ahyad masih mengaji kepada Masyayikh Haramain, khususnya Syekh Muhtar ibn Atharid al-Bughuri. Ketika Syekh Mukhtar wafat, Ahyad diminta untuk menggantikan posisinya dalam mengajar berbagai disiplin keilmuan di Masjidil Haram. Halaqahnya terbilang besar. Ada sekitar 300 thalabah yang setia mendengarkan butiran ilmu darinya. Selain mengajar di Masjidil Haram, Ahyad juga mengajar di Masjid an-Nabawi dan memimpin majlis dzikir di Makkah.

Muhammad Ahyad lahir di Bogor, Jawa Barat pada malam Rabu tanggal 21 Ramadhan 1302 (1884). Ia adalah putra dari Kiai Muhammad Idris ibn Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri. 

Dalam mendidikan putra-putrinya, Kiai Idris sangat mengutamakan pengajaran agama dibanding dengan yang lainnya. Ketika sendi-sendi ajaran Islam sudah tertanam baik, maka Kiai Idris memerintahkan anaknya seperti Ahyad untuk mengkaji pelajaran umum supaya antara ilmu agama dan umum dapat selaras dan seimbang. Mulanya Ahyad menerima didikan ilmu agama dari ayahnya dan ulama-ulama yang ada di daerahnya. Dasar-dasar ilmu agama Islam seperti membaca Al-Qur’an, Nahwu, Sharaf, Fiqih, Hadist, dan lain-lain dikuasainya dengan baik. Metode menghafal, sorogon, dan bandongan selalu menjadi makanan keseharian Ahyad ketika masih dalam prosesi belajar di kampung halamannya.

Untuk sekolah umum, Kiai Idris memasukkan Ahyad di Volk School hingga tamat di Meer Uietgebreid Leger Orderwijs (MULO), yakni sebuah sekolah yang jenjangnya setingkat dengan SMP. Di sekolah buatan Belanda ini, Ahyad dapat menguasai bahasa Belanda, Matematika, Biografi, dan ilmu umum lainnya.

Pada tahun 1899, saat umur Ahyad 15 tahun, ia berangkat ke Haramain untuk mematangkan keilmuannya kepada ulama yang menggelar halaqah di Masjidil Haram. Rihlah ini sudah menjadi idamannya sejak kecil, sebab ayahnya sering bercerita tentang kelebihan belajar di Haramain dibanding dengan yang lainnya. Terlebih di sana, sang ayah mempunyai sahabat yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, yaitu Syekh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri. Kegiatan belajar mengajar di Haramain sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan yang ada di Hindia Belanda (Indonesia). Kompeni selalu mengawasi setiap kegiatan agama Islam yang dianggapnya berbahaya semenjak terjadinya perlawanan para Kiai Banten pada 1888 yang dikenal dengan pemberontakan Cilegon. Pemberontakan ini terjadi sebab kompeni telah menghina sebagian ajaran Islam dan kelakuannya yang selalu menyensarakan rakyat petani.

Setibanya di Haramain, Ahyad ikut bergabung dengan halaqah Masyayikh Haramain, baik yang ada di Masjidil Haram, Masjid an-Nabawi, dan di kediaman mereka. Di antara guru Ahyad ketika belajar di Haramain adalah Syekh Muhtar ibn Atharid al-Bughuri, Syekh Baqir ibn Muhammad Nur al-Jukjawi, Syekh Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani, Syekh Abbas bin Muhammad bin Ahmad Ridwan (putra Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani), dan Syekh Muhammad Abdul Hayyi al-Kittani. Kepada ulama Haramain ini, terlebih Syekh Mukhar yang menjadi umdah-nya (guru sandaran utamanya), Ahyad mendalami ilmu Fiqih Syafii, Tafsir, Hadist, Ushul, Faraidh, Falak, Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan Arûdh. Jika sudah menghatamkan satu disiplin ilmu dari awal hingga akhir, maka Syekh Mukhtar akan membacakan sanad atau silsilah keilmuan kitab tersebut kepada santri-santrinya termasuk Ahyad. 

Dengan penuh ketekunan dan kesungguhan, Ahyad mempelajari apa yang transmisikan oleh Masyayikh Haramain. Ia kelihatan lebih menonjol dibandingkan dengan yang lainnya. Karena kealiman yang tersemat dalam dirinya, Syekh Mukhtar mengusulkan kepada Masyayikh Masjidil Haram agar mengikut sertakan Ahyad dalam mengajar di tempat yang penuh dengan keberkahan tersebut. Usulan tersebut diterima. Akhirnya Ahyad diberi amanah untuk ikut mengajar di Masjidil Haram pada 1346 H (1927), tepatnya di Bab al-Nabi Muhammad SAW Adapun waktunya adalah sebelum shalat Dzuhur, sesudah shalat Shubuh, sesudah shalat Magrib, dan sesudah shalat Isya. Untuk materi yang diajarkan adalah bermula tentang seputar Faraidh dan Fiqih asy-Syafii.

Meskipun Ahyad sudah diangkat menjadi pengajar di Masjidil Haram, ia tetap merasa masih haus dengan kajian keilmuan. Ia sering mendatangi halaqah Masyayikh Haramain, terlebih Syekh Mukhtar hingga akhir hayatnya (1930). Ketika Syekh Mukhar wafat, maka Ahyad diamanahi untuk menggantikan posisinya sebagai pengajar di Masjidil Haram yang mempunyai tanggung jawab banyak dalam mengajar berbagai disiplin ilmu, sebab ia adalah Masyayikh Haramain yang halaqahnya paling ramai dihadiri di Masjidil Haram, yaitu ada sekitar 400 thalabah dari penjuru dunia, khususnya kalangan Jawah (Asia Tenggara/ Melayu).

Ketika tugas Syekh Mukhtar dilimpahkan kepada Ahyad, maka kebanyakan santri-santrinya pindah belajar kepadanya. Halaqah Ahyad meskipun tidak seramai dengan halaqah Syekh Mukhtar, namun terbilang besar sebab dihadiri sekitar 300 thalabah. Di antara santrinya yang menjadi ulama besar adalah Syaik Husein al-Palimbani, Syekh Abdul Qodir ibn Muthalib al-Mindili, Syekh Sodiq ibn Muhammad al-Jawi, Syekh Zakaria Bela, Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani, Sayyid Muhsin ibn Ali al-Musawa, Sayyid Hamid ibn Alawi al-Kaff, Syekh Zain ibn Abdullah al-Baweani, dan Syekh Abdul Karim al-Banjari.

Saat mengajar santri-santrinya, Ahyad sering mempraktikkan sebagian amalan ibadah yang perlu untuk dipraktikkan, seperti tayamum, maka Ahyad mengambil debu suci untuk bertayamum yang dikerjakan di hadapan santri-santrinya yang sesusai dengan apa yang ia pelajari dari guru-gurunya hingga sanadnya muttasil sampai Rasulullah SAW. Praktikum juga dilakukan Ahyad ketika mengajar Falak dengan pedoman kitab karya Syekh Mukhtar yang berjudul al-Rubu’ al-Mujayyab.

Untuk mengetahui nama bintang-bintang yang ada di langit, Ahyad mengajak santri-santrinya supaya mengamati langsung dengan mata telanjang atas pemandangan langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang beraneka ragam. Metode mengajar Ahyad ini, yakni teori dan praktikum telah diwarisi oleh santri-santrinya, salah satunya adalah Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani yang sering mengajak santrinya untuk mengamati bintang-bintang di padang pasir ketika matahari tenggelam hingga waktu fajar menyongsong. Dikenalkanlah nama-nama bintang dan planet satu persatu dan tanda-tanda yang melekat padanya.

Mengenai sumbangsih Ahyad dalam mengajar ilmu di Masjidil Haram, Syekh Yasin al-Fadani berkata, “Kitab-kitab yang diajarkan oleh Syekh Muhammad Ahyad Al-Bughuri di Masjidil Haram seperti halnya Jâmi al-Tirmidzî, Iqna’ li al-Khatîb al-Syarbinî, Umdatu al-Abrâr fi al-Manâsiki al-Hajji wa al-Umrah, Syarah ibn Aqîl ala al-Fiyah ibn Malik, Mandzumâtu al-Qawâ’idu al-Fiqhiyyah, al-Mawâhibu al-Staniyyah Syarh Mandzumâtu al-Qawâ’idu al-Fiqhiyyah, dan Risâlah Adab wa al-Bahats.”

Saat mengajar di Masjidil Haram, banyak thalabah yang terkesan dengan materi yang disampaikan Ahyad. Mereka merasakan betul bagaimana petuah keilmuan Ahyad merasuk dalam hati sanubari. Tiada bosan-bosan mereka menghadiri majlis Ahyad. Karena merasa masih haus dengan keilmuan Ahyad, maka sebagian thalabah, khususnya yang dari Melayu, Indonesia-Malaysia meminta jadwal tambahan agar Ahyad berkenan membuka majlis taklim di kediamannya. Akhirnya permintaan itupun disanggupinya.

Gema kealiman Ahyad yang menjadi bahan pembicaraan ahlu al-ilmi di kalangan ulama dan thalabah Makkah terdengar hingga ke Madinah al-Munawarah, tempat yang pernah disinggahinya dalam menuntut ilmu kepada ulama terkemuka di sana, yaitu Syekh Abbas bin Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani dan Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani. Oleh sang guru yang merupakan ulama terhormat di Madinah, Ahyad diminta untuk ikut serta mengajar di Masjid an-Nabawi. Dengan penuh ketaatan, Ahyad menjalankan titah yang diperintahkan gurunya.

Amanah yang diemban Ahyad selama berkiprah di Haramain tidak hanya mengajar, akan tetapi ia juga aktif memimpin majlis dzikir dan menyampaikan mawaid yang dahulunya dipimpin oleh gurunya, Syekh Mukhtar Atharid. Majlis dzikir peninggalan Syekh Mukhtar ini jamaahnya mayoritas mengikuti tarekat Qadiriyah wa al-Naqsabandiyah. Ahyad menerima baiatan tarekat tersebut dari Syekh Mukhtar dan ia juga diangkat menjadi khalifahnya (penggantinya).

Hampir semua tugas yang diemban Syekh Mukhtar dilimpahkan kepada Ahyad, sebab selain dirinya adalah santri kesayangannya, ia juga adalah menantu Syekh Mukhtar. Ketika membina rumah tangga dengan putri Syekh Mukhtar, Ahyad dikarunia keturunan 7, di antaranya adalah Muhammad Thayyib, Idris, Sa’dullah, dan Abdullah.

Dalam sumbangsih masalah keilmuan yang dituangkan ke dalam karya tulis, Ahyad pernah mengarang beberapa kitab di antaranya adalah, Ta’lîqat alâ Kitab Jâmi al-Tirmidzî, Hasiyah alâ al-Kitab Umdati al-Abrâr fi Manâsiki al-Hajji wa al-I’timâr li Sayyid Ali al-Wanâ’i, Ta’liqatu ala Nadzmi al-Qawâ’idi al-Fiqhiyyati, dan Tsabat bi Asânidihi. Karya-karya ini dan beberapa kitab koleksi pribadinya, banyak yang diwakafkan di Madrasah Dar al-Ulum supaya bisa bermanfaat lebih luas.

Dalam kesehariannya, Ahyad sering menggunakan waktunya untuk kemanfaatan, seperti mengajar, belajar, beribadah, dan mengarang sebuah kitab. Aktifitas mulianya ini dijalani hingga ia kembali ke Rahmatullah pada malam Sabtu tanggal 9 bulan Shafar 1372 (1952) dengan usia kurang lebih 70 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la. (Amirul Ulum)


Penulis adlaah dosen Sejarah Islam Nusantara di STIBI Syeikh Jangkung

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG