IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menyegarkan Kembali Semangat Ber-NU


Sabtu 23 September 2017 15:30 WIB
Bagikan:
Menyegarkan Kembali Semangat Ber-NU
Mulai 2010, pengaderan menjadi salah satu program prioritas NU mengingat adanya tantangan baru yang dihadapi terkait dengan situasi yang berubah. Hingga kini, proses pengaderan terus berjalan dengan massif. Pada era awal 2010 lalu itu, pengaderan bersifat nasional dengan peserta dari perwakilan tingkat provinsi. Para kader terlatih di tingkat provinsi ini kemudian menjadi instruktur yang bertugas melakukan pengaderan di tingkat bawahnya. 

Dengan demikian pengaderan bisa dilakukan secara berjenjang dan terstruktur secara rapi. Di Jawa Timur dan beberapa daerah di Jawa Tengah, pengaderan tersebut sudah mencapai level MWCNU atau badan otonom di level cabang. Program ini terus diperluas bagi pengurus atau warga yang belum sempat mengikutinya, mengingat terbatasnya kuota dalam satu kali pengaderan dan besarnya minat untuk mengikuti proses tersebut.

Disiplin dan kemandirian menjadi penekanan program ini. Selama proses pengaderan yang berlangsung sekitar tiga hari, seluruh peserta harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Jika tidak memenuhi unsur kehadiran, mereka dianggap gugur atau tidak lulus dalam pengaderan ini. Kemandirian berarti bahwa penyelenggaraan kegiatan ini sepenuhnya ditanggung oleh peserta sendiri. Karena itu, mereka harus membayar biaya tertentu agar bisa mengikuti kegiatan ini. Hal ini sekaligus untuk menguji, seberapa jauh mereka berani berkorban untuk kepentingan organisasi sebelum meminta orang lain untuk berkorban. Hal ini sekaligus menunjukkan, komitmen mereka bagi NU bukan sekedar wacana, tetapi juga terbukti dengan aksi nyata. 

Setelah kegiatan pengaderan selesai di kelas, dilanjutkan dengan program lanjutan yang disesuaikan dengan masing-masing daerah. Salah satu program yang paling massif dan cukup berhasil adalah penggalangan dana Koin NU untuk mendorong kemandirian operasional organisasi. Kesuksesan program penggalangan dana ini menjadikan banyak daerah ingin mengetahui cara-cara mengorganisir warga NU dengan lebih baik. 

Urgensi pengaderan dalam era kekinian adalah semakin beragamnya gerakan keagamaan di Indonesia. Zaman dahulu, identitas Islam di Indonesia dengan mudah dapat dipilah-pilah dengan tegas antara satu kelompok dengan kelompok lain. Kini, banyak sekali varian gerakannya. Mereka yang mengklaim sebagai gerakan aswaja juga berjibun. Bahkan ada kelompok-kelompok kecil merasa sebagai pemilik sah kebenaran tafsir agama. Warga NU perlu tahu apa membedakan antara NU dengan organisasi lainnya atau apa beda Aswaja an Nahdliyah dengan klaim aswaja lainnya. Dari sini mulai dikenalkan apa itu NU yang sebenarnya, ajaran keagamaannya, ciri khususnya, pandangannya terhadap nasionalisme, dan hal-hal lainnya. Semuanya dikupas secara tuntas. 

Para peserta merasa mendapat pencerahan setelah mengikuti pengaderan ini. Dari obrolan dengan NU Online, mereka mendapat pemahaman baru tentang NU dan merasa dikuatkan ideologi ke-NU-annya. Selama ini sebagian besar mereka mengenal NU karena menjalankan amaliyah NU. Kini mereka dikenalkan mengapa harus mengikuti NU bukan hanya secara amaliyah saja, tetapi juga harus meningkat dalam gerakan organisasi. 

Mereka yang ikut pengaderan ini bukan hanya remaja atau pemuda, tetapi juga warga NU dengan kategori senior, termasuk para syuriyah NU di beberapa daerah. Mereka rela meninggalkan kesibukannya selama bebeapa hari untuk mendapatkan penyegaran tentang ke-NU-an setelah selama ini disibukkan mengajar mengajar mengaji atau mencari nafkah. Ini secara jelas menunjukkan ghirah untuk ber-NU sangat besar.

Tentu saja, keberhasilan pengaderan yang terlihat dari antusiame warga NU di berbagai level untuk mengikuti karena metode kesesuaian materi yang dibutuhkan, metode pengajaran yang pas dan terutama dampak yang dihasilkan setelah pengaderan berupa aktivitas NU yang lebih hidup di daerah-daerah yang yang pengurusnya sudah dilakukan penyegaran. Promosi dengan cara getok tular menjadi saran yang efektif di lingkungan NU. 

Keberhasilan proses pengaderan di kantong-kantong NU harus dilanjutkan di daerah-daerah lain di mana komunitas NU masih perlu diperkuat dan dikembangkan. Daerah-daerah di luar Jawa yang amaliyah ibadahnya berciri khas NU tetapi belum mengidentifikasi diri secara kuat sebagai warga NU bisa menjadi prioritas. Tantangan yang ada kini adalah, menjalankan amaliyah saja tidak cukup jika tidak disertai dengan jamiyah yang kuat. Kata-kata bijak yang sudah dipahami secara luas, mereka yang bisa mengorganisir diri dengan kuat akan menjadi pemenang. 

Melalui pengaderan ini, penguatan jamiyah NU akan terus berlangsung, menyesuaikan diri dengan zaman baru dengan tantangan barunya. Karakter generasi millennial yang terlahir di zaman internet ini tentu sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Merekalah yang akan menjadi pemimpin NU pada era 20-30 mendatang. Kemampuan untuk meader dan menanamkan ideologi NU hari ini akan menentukan masa depan NU. (Ahmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG