IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren
SONGSONG 1 ABAD AL-MASTHURIYAH

Alumni Perkuat Sebar Islam Ramah

Senin 25 September 2017 23:15 WIB
Bagikan:
Alumni Perkuat Sebar Islam Ramah
Pondok Pesantren Al-Mashturiyah didirikan oleh seorang tokoh Nahdhatul Ulama, KH Muhammad Masthuro atau dikenal Mama Masthuro. Ia lahir pada tahun 1901 di Kampung Cikaroya, Desa Cibolang Kaler, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. 

Pada 9 Rabiul Akhir 1338 H, bertepatan dengan 1 Januari 1920, KH Masthuro mulai mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Ahmadiyah yang merupakan cabang dari Madrasah Ahmadiyah, Sukabumi. Nama Ahmadiyah dipilihnya karena dia adalah lulusan Madrasah Ahmadiyah Sukabumi. Nama Ahmadiyah ini tidak ada hubungannya dengan nama aliran yang didirikan oleh Mirza Gulam Ahmad.

Tahun 1941, KH Masthuro mengelola madrasah dan pesantrennya secara mandiri dan terpisah dari status cabangnya. Nama madrasah pun diubah menjadi Sekolah Agama Sirojul Athfal. Siroj berarti lampu ,dan athfal berarti anak laki-laki. 

Atas saran dan hasil musyawarah pada tahun 1950, dibentuklah lembaga baru, dengan nama Sekolah Agama Sirojul Banat. Hal tersebut memungkinkan diterimanya santri perempuan untuk belajar di pesantren ini.

Perkembangan selanjutnya, secara berturut-turut, KH Masthuro mendirikan Madrasah Tsanawiyah Sirojul Athfal/Banat pada tahun 1967; dan Madrasah Aliyah Sirojul Athfal/Banat pada 1968. Di tahun yang sama, tepatnya tanggal 27 Rajab, KH Masthuro wafat. 

Tahun 1974 nama Sirojul Athfal/Banat diubah oleh para penerusnya menjadi Perguruan Islam Al-Masthuriyah yang diambil dari nama Pendiri yaitu KH Muhammad Mashturo.

Santri, Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Pada Ahad (17/09) yang lalu, digelar Silaturrrahim Akbar Alumni Al- Masthuriyah di Gedung Kesenian Pemda Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ketua Umum PP Kalam, KH Abu Bakar Siddiq yang turut hadir mengatakan santri berstatus minal mahdi ilal lahdi (menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat); hubungan santri dengan kiai adalah hubungan abadi yang penuh berkah.

Selain itu salah satu tradisi pesantren adalah haul, atau peringatan dan pertemuan. Haul itu menyambungkan sanad keberkahan dan keilmuan. Momen musyahadah ada jabat tangan dan transfer barokah. 

“Karena berguru itu harus kepada guru. Dan berapa pun lamanya jika sudah musyahadah itu tetap santri dan sumber keberkahan,” kata Kiai Siddiq.

Bupati Bogor, diwakili Camat Cibinong Bambang W, turut memberikan sambutan. Perhatian yang khusus untuk organisasi alumni ponpes dapat membuka jaringan. Ia berharap alumni dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan bisa menjadi tauladan di tengah masyarakat.

“Dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya di wilayah Bogor,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat yang diwakili Biro Kesejahteraan H Dedi Iskandar menyampaikan kewajiban alumni adalah berdakwah untuk umat, bukan karena pesanan, karena pendakwah adalah pelayan umat. 

“Alumni juga harus bertanggung jawab atas risalah yang disampaikan,” pesannya.

Komitmen Menyebarkan Islam Rahmatan lil Alamin
Para alumni juga menyampaikan kesan-kesan mereka. Salah satunya H Khoirudin Ilyas, mengungkapkan pesantren merupakan sarana mengajarkan taat kepada guru.

“Termasuk di dalamnya kita dididik untuk taat kepada guru yang memberi ilmu,” katanya.

Di dalam pesantren juga dididik mandiri kebersihan dan kesederhanaan. “Saya masih ingat satu kegiatan yang mengajarkan ketelitian dan kebersihan, yaitu kegiatan kerja bakti bebersih tiap pagi memungut sampah. Kalau sekarang biasa dilaksanakan setiap Jumat,” paparnya.

Menurutnya, falsafah dari kegiatan ini adalah mengajarkan kebersihan agar senantiasa keimanan singgah dan bersemahyam di dalam diri. Apa bila para alumni itu pandai bebersih, hal terkecil saja sudah menebar manfaat yang sangat luar biasa di masyarakat.

“Sudah berapa banyak alumni yang tersebar sejak 97 tahun Al-Masthuriyah. Kira-kira junmlah alumni itu sudah mencapai 10 juta orang. Berapa banyak alumni yang sudah mendermakan dirinya untuk masyarakat dan mengharumkan nama Al-Masthuriyah,” lanjutnya.

Pimpinan Ponpes Al-Masthuriyah KH Abdul Aziz Masthuro berpesan para  alumni itu harus selalu membaca basmillah. Hal itu merupakan suatu cara mengingat Allah. 

“Dan berpola bismillahi masya allah laa kuwwata illa billah, agar kita diberi kekuatan oleh Allah Sang pemilik Kekuatan, hingga kita menjadi makhluk yang rahmatan lil alamin,” ujarnya. (Banu/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 17 September 2017 21:3 WIB
LSN 2017
Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim
Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim
Probolinggo, NU Online
Setelah dipastikan sebagai juara Liga Santri Nasional (LSN) Regional III Jawa Timur, Persatuan Sepakbola (PS) Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menerima trofi piala penghargaan, Ahad (17/9).

Piala pengharaan juara LSN Regional III Jawa Timur ini diserahkan langsung oleh Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi kepada Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Abdul Hamid Wahid. Penyerahan yang diadakan di aula pesantren ini dihadiri pengasuh dan guru pesantren serta santri.

“Saya menyampaikan selamat atas prestasi yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid Paiton yang telah mampu meraih juara LSN Regional III Jawa Timur. Tentunya saat ini PS PP Nurul Jadid harus mempersiapkan untuk untuk mengikuti LSN tingkat Jawa Timur. Semoga prestasi ini mampu menjadi motivasi bagi santri dan pengasuh untuk terus tampil sebagai yang terbaik,” kata Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi.

Sementara Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengaku sangat bersyukur atas prestasi sepakbola yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid di mana dalam usianya yang masih seumur jagung dapat menorehkan prestasi.

“Semoga prestasi ini menjadi rangsangan untuk terus berprestasi dan mendorong kegairahan olahraga. Bukan saja olahraga prestasi tapi juga termasuk olahraga kesehatan untuk santri,” ungkapnya.

Dalam acara ini, kepala pesantren juga memberikan penghargaan kepada para pemain PSSNJ berupa beasiswa pendidikan bagi pemain terbaik dan top skor yang telah mengharumkan nama pesantren. “Jangan pernah berhenti untuk berprestasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)
Ahad 17 September 2017 4:2 WIB
Pesantren Nurul Jadid Latih Kemandirian Santri Lewat Pramuka
Pesantren Nurul Jadid Latih Kemandirian Santri Lewat Pramuka
Probolinggo, NU Online
Dalam rangka menciptakan peserta didik yang memiliki kemandirian melalui kegiatan Pramuka, maka Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo membentuk satuan pramuka yang terdiri dari santri yang berada di tiga perguruan tinggi. Meliputi IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKes Nurul Jadid.

Sebagai perwujudan dari upaya tersebut, Jum’at (15/9) diadakan peresmian dan pelantikan Racana Az-Zainiyah dan An-Nafi’iyah Gudep 19.190 dan 19.189. Kegiatan ini dilaksanakan di aula IAI Nurul Jadid Paiton.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pelepasan kontingen Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton untuk mengikuti Perwimnas (Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional) II tahun 2017 di lapangan Akmil Magelang.

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengatakan bahwa dengan peresmian Racana Az Zainiyah dan An Nafiiyah ini nantinya mampu menciptakan peserta didik yang mandiri di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

“Terkait dengan pelepasan kontingen Perwimnas, mudah-mudahan santri kami mampu memberikan yang terbaik sehingga mampu mengharumkan nama Pondok Pesantren Nurul Jadid di tingkat nasional,” katanya.

Lebih lanjut Kiai Wahid berharap agar melalui Pramuka nantinya dapat menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di satu sisi. “Serta kemandirian dan kedisiplinan siswa dan mahasiswa sekaligus civitas akademika di sisi lain,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Selasa 12 September 2017 21:4 WIB
Ini Cara Kesebelasan Jersey Sirojut Thalibin FC Tampil Syar'i
Ini Cara Kesebelasan Jersey Sirojut Thalibin FC Tampil Syar'i
Grobogan, NU Online
Jika dilihat sekilas, mungkin seragam punggawa asal Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Kabupaten Grobogan ini layaknya seragam olahraga sepakbola pada umumnya. Namun, cobalah perhatikan dengan seksama.

Di bagian celana terlihat motif garis oranye yang terputus. Alias tidak sampai pada ujung kain celana yang menjuntai ke bawah menutupi kedua lutut para pemain.

Setelah dikonfirmasi oleh NU Online, CEO SIRBIN FC Muhammad Mudrik menerangkan bahwa hal tersebut dikarenakan ada penambahan kain hitam di bagian bawah celana.

"Hal tersebut merupakan syarat yang ditetapkan oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarok selaku pengasuh pesantren, bahwa santri meskipun dalam keadaan berolahraga, tetapi juga harus tetap menjaga syariat agama dengan berusaha untuk selalu menutup auratnya," terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ketentuan tersebut telah ditetapkan sejak keikutsertaan Pesantren Sirojuth Tholibin yang pertama, yaitu tahun 2016.

Jadi penambahan kain itu bertujuan agar celana yang dikenakan para pemain tetap relevan jika dipandang dalam koridor syariat Islam. Karena telah diketahui bersama bahwa kewajiban seorang Muslim laki-laki adalah menutup auratnya, yaitu anggota tubuh  mulai dari kedua lutut hingga ke atas menuju pusar dalam keadaan apapun baik sedang berolahraga maupun dalam aktivitas yang lainnya.

Mungkin, hal ini bisa menjadi inspirasi bagi panitia LSN ke depannya. Jangan sampai di tengah geliat mendakwahkan Islam dan santri yang juga mampu berkompestisi. Hal-hal sederhana tetapi sangat intim seperti menutup aurat malah diabaikan dalam pelaksanaannya. (Ulin Nuha Karim/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG