IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017

Selasa 26 September 2017 7:5 WIB
Bagikan:
Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017
Banyuwangi, NU Online
Rasa syukur dan terima kasih terucap di bibir M Sholeh Mubarok selepas terpilih sebagai juara pertama pemilihan duta kang santri (kategori laki-laki), saat dimintai keterangan NU Online Banyuwangi via telpon, Senin (25/9) pagi.

"Alhamdulillah. Saya bersyukur terutama kepada Allah SWT dan kepada segenap panitia, guru, dan dewan juri pemilihan duta kang dan mbak santri tahun 2017. Karena saya menjadi juara pertama pemilihan duta kang santri," kata Sholeh.

Santri yang masih menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Darussalam ini mengatakan, dengan menjadi juara tahun ini menjadi sebuah tantangan dan spirit untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

"Juara kali ini bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memacu saya menjadi lebih berprestasi kembali. Menjadi lebih giat untuk belajar di pesantren. Karena di atas langit masih ada langit. Saya siap untuk menjadi yang lebih baik," tutur santri semester tiga, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

Selain itu, menurut Sholeh, segala bentuk takdir dan kelebihan butuh diimbangi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah.

"Kosong. Jika banyaknya kelebihan dan ilmu yang dimiliki seseorang tanpa dihiasi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah. Karena ini saling berkaitan. Tidak dapat dipisahkan. Bukankah akhlaq, perhiasan bagi seseorang yang memiliki ilmu?" tutur santri yang mondok di Pesantren Darussalam, Tegalsari selama empat tahun.

Dalam hal penyampaian manfaat dan keilmuan di masyarakat luas, Sholeh menegaskan butuh wadah organisasi sebagai wasilah.

"Organisasi ideal bagi saya adalah terlibat dalam Nahdlatul Ulama. Karena NU memiliki kelengkapan di setiap lembaga dan badan otonomnya. Juga ditambah organisasi sosial kemasyarakatan ini memiliki basis massa terbesar di Indonesia, bahkan di dunia," jelas santri yang juga aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Terkait dengan hal yang persiapan materi pelajaran yang dibutuhkan untuk pemilihan duta kang dan mbak santri, Sholeh lebih banyak belajar masalah wawasan kebangsaan, sejarah, dan ke-NUan.

"Firasat saya benar. Ternyata banyak teman-teman santri yang berguguran karena minimnya wawasan kebangsaan, sejarah, dan keorganisasian, khususnya terkait ke-NUan. Ini adalah cambuk bagi santri-santri sudah saatnya untuk bangkit dengan keseimbangan ilmu-ilmu yang kontekstual. Bukan hanya unggul dalam keilmuan khas pesantren," tegasnya.

Hadiah yang diberikan oleh panitia akan digunakan untuk hal-hal kebaikan yang dapat meringankan dan membuat tersenyum kedua orang tuanya.

"Uang pembinaan ini akan saya gunakan untuk melunasi biaya administrasi kuliah yang masih kurang. Saya ingin meringankan beban kedua orang tua saya. Pun sudah waktunya untuk melatih hidup mandiri, tanpa bersandar di balik punggung kedua orang tua," kata Sholeh.

"Semoga ini memberikan kemanfaatan dan keberkahan untuk diri saya dan orang tua menjadi lebih baik ke depannya," harap santri yang berusia 20 tahun ini. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Bagikan:
Selasa 26 September 2017 19:0 WIB
Festival Kajen Meriahkan Haul Mbah Ahmad Mutamakkin
Festival Kajen Meriahkan Haul Mbah Ahmad Mutamakkin
Pati, NU Online
Memperingati Haul Syekh Ahmad Mutamakkin, Ma'had Ali Nahdlatul Ulama Kajen menggelar Festival Kajen. Festival Kajen dilaksanakan  24 September-15 Oktober 2017. 

Tradisi Haul Syeh Ahmad Mutamakkin yang jatuh pada taggal 10 Muharram merupakan kegiatan budaya tahunan yang biasa diselenggarakan masyarakat Desa Kajen Margoyoso Pati dan sekitarnya untuk mengenang Syekh Ahmad Mutamakkin atau dikenal dengan nama Mbah Mutamakkin, sebagai simbol dakwah dan keilmuan di kota santri tersebut.

Salah satu kegiatan yang digelar pada rangkaian Festival Kajen adalah bahtsul masail tingkat santri, Senin (25/9). Kegiatan tersebut dihadiri santri-santri dari berbagai pesantren di Kajen dan para ulama pengurus MWC NU Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Rais Syuriah MWC NU Margoyoso, KH Suhaili mengatakan, bahtsul masail merupakan tradisi NU yang masih berjalan dengan baik di semua tingkat kepengurusan. Selain untuk menjawab berbagai masalah waqi'iyah, bahtsul masail juga menjadi media belajar para santri. 

“Tidak kurang dari 50 pesantren ada di Kajen, baik yang besar maupun yang kecil. Kiranya dapat membuat kegiatan rutin seperti bahtsul masail sehingga menjadi media silaturahim dan media keilmuan antar pesantren di Kajen,” harap Kiai Suhaili.

Selain bahstul masail, agenda lainnya adalah bazar buku murah, launching Mutamakkin Institut, bedah teks Pakem Kajen: Mbah Mutamakkin dalam Senandung Puisi Jawa, Bedah Buku Infografis Masjid Kajen sekaligus launching Museum Heritage Kajen, Suluk Laras Jagad, Bedah Buku Surat dari Bawah Air. Festival akan ditutup denga kegiatan Bedah Film Narasi Kajen Jilid II.

Ma'had Ali Nahdlatul Ulama Kajen berdiri tahun 2014, merupakan lembaga pengajian kitab kuning semi klasikal yang didirikan oleh Pengurus Syuriah MWC Margoyoso Pati. Mah’ad bertujuan mewadahi santri paska menempuh pendidikan aliyah terutama yang ingin mendalami kitab-kitab kuning dan ilmu keagamaan melalui jalur informal.

Ma'had Ali NU Kajen juga memberikan pembelajaran dengan spesialisasi ilmu fikih. Dewan pengajar di Ma’had Ali NU Kajen adalah para pengurus Syuriah MWC NU Margoyoso. Kegiatan pengajian dan pembelajaran bertempat di gedung serba guna Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPBA) di Pesantren Raudlatul Ulum Kajen. (M Niam Sutaman/Kendi Setiawan)

Senin 25 September 2017 23:15 WIB
SONGSONG 1 ABAD AL-MASTHURIYAH
Alumni Perkuat Sebar Islam Ramah
Alumni Perkuat Sebar Islam Ramah
Pondok Pesantren Al-Mashturiyah didirikan oleh seorang tokoh Nahdhatul Ulama, KH Muhammad Masthuro atau dikenal Mama Masthuro. Ia lahir pada tahun 1901 di Kampung Cikaroya, Desa Cibolang Kaler, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. 

Pada 9 Rabiul Akhir 1338 H, bertepatan dengan 1 Januari 1920, KH Masthuro mulai mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Ahmadiyah yang merupakan cabang dari Madrasah Ahmadiyah, Sukabumi. Nama Ahmadiyah dipilihnya karena dia adalah lulusan Madrasah Ahmadiyah Sukabumi. Nama Ahmadiyah ini tidak ada hubungannya dengan nama aliran yang didirikan oleh Mirza Gulam Ahmad.

Tahun 1941, KH Masthuro mengelola madrasah dan pesantrennya secara mandiri dan terpisah dari status cabangnya. Nama madrasah pun diubah menjadi Sekolah Agama Sirojul Athfal. Siroj berarti lampu ,dan athfal berarti anak laki-laki. 

Atas saran dan hasil musyawarah pada tahun 1950, dibentuklah lembaga baru, dengan nama Sekolah Agama Sirojul Banat. Hal tersebut memungkinkan diterimanya santri perempuan untuk belajar di pesantren ini.

Perkembangan selanjutnya, secara berturut-turut, KH Masthuro mendirikan Madrasah Tsanawiyah Sirojul Athfal/Banat pada tahun 1967; dan Madrasah Aliyah Sirojul Athfal/Banat pada 1968. Di tahun yang sama, tepatnya tanggal 27 Rajab, KH Masthuro wafat. 

Tahun 1974 nama Sirojul Athfal/Banat diubah oleh para penerusnya menjadi Perguruan Islam Al-Masthuriyah yang diambil dari nama Pendiri yaitu KH Muhammad Mashturo.

Santri, Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Pada Ahad (17/09) yang lalu, digelar Silaturrrahim Akbar Alumni Al- Masthuriyah di Gedung Kesenian Pemda Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ketua Umum PP Kalam, KH Abu Bakar Siddiq yang turut hadir mengatakan santri berstatus minal mahdi ilal lahdi (menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat); hubungan santri dengan kiai adalah hubungan abadi yang penuh berkah.

Selain itu salah satu tradisi pesantren adalah haul, atau peringatan dan pertemuan. Haul itu menyambungkan sanad keberkahan dan keilmuan. Momen musyahadah ada jabat tangan dan transfer barokah. 

“Karena berguru itu harus kepada guru. Dan berapa pun lamanya jika sudah musyahadah itu tetap santri dan sumber keberkahan,” kata Kiai Siddiq.

Bupati Bogor, diwakili Camat Cibinong Bambang W, turut memberikan sambutan. Perhatian yang khusus untuk organisasi alumni ponpes dapat membuka jaringan. Ia berharap alumni dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan bisa menjadi tauladan di tengah masyarakat.

“Dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya di wilayah Bogor,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat yang diwakili Biro Kesejahteraan H Dedi Iskandar menyampaikan kewajiban alumni adalah berdakwah untuk umat, bukan karena pesanan, karena pendakwah adalah pelayan umat. 

“Alumni juga harus bertanggung jawab atas risalah yang disampaikan,” pesannya.

Komitmen Menyebarkan Islam Rahmatan lil Alamin
Para alumni juga menyampaikan kesan-kesan mereka. Salah satunya H Khoirudin Ilyas, mengungkapkan pesantren merupakan sarana mengajarkan taat kepada guru.

“Termasuk di dalamnya kita dididik untuk taat kepada guru yang memberi ilmu,” katanya.

Di dalam pesantren juga dididik mandiri kebersihan dan kesederhanaan. “Saya masih ingat satu kegiatan yang mengajarkan ketelitian dan kebersihan, yaitu kegiatan kerja bakti bebersih tiap pagi memungut sampah. Kalau sekarang biasa dilaksanakan setiap Jumat,” paparnya.

Menurutnya, falsafah dari kegiatan ini adalah mengajarkan kebersihan agar senantiasa keimanan singgah dan bersemahyam di dalam diri. Apa bila para alumni itu pandai bebersih, hal terkecil saja sudah menebar manfaat yang sangat luar biasa di masyarakat.

“Sudah berapa banyak alumni yang tersebar sejak 97 tahun Al-Masthuriyah. Kira-kira junmlah alumni itu sudah mencapai 10 juta orang. Berapa banyak alumni yang sudah mendermakan dirinya untuk masyarakat dan mengharumkan nama Al-Masthuriyah,” lanjutnya.

Pimpinan Ponpes Al-Masthuriyah KH Abdul Aziz Masthuro berpesan para  alumni itu harus selalu membaca basmillah. Hal itu merupakan suatu cara mengingat Allah. 

“Dan berpola bismillahi masya allah laa kuwwata illa billah, agar kita diberi kekuatan oleh Allah Sang pemilik Kekuatan, hingga kita menjadi makhluk yang rahmatan lil alamin,” ujarnya. (Banu/Kendi Setiawan)

Ahad 17 September 2017 21:3 WIB
LSN 2017
Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim
Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim
Probolinggo, NU Online
Setelah dipastikan sebagai juara Liga Santri Nasional (LSN) Regional III Jawa Timur, Persatuan Sepakbola (PS) Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menerima trofi piala penghargaan, Ahad (17/9).

Piala pengharaan juara LSN Regional III Jawa Timur ini diserahkan langsung oleh Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi kepada Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Abdul Hamid Wahid. Penyerahan yang diadakan di aula pesantren ini dihadiri pengasuh dan guru pesantren serta santri.

“Saya menyampaikan selamat atas prestasi yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid Paiton yang telah mampu meraih juara LSN Regional III Jawa Timur. Tentunya saat ini PS PP Nurul Jadid harus mempersiapkan untuk untuk mengikuti LSN tingkat Jawa Timur. Semoga prestasi ini mampu menjadi motivasi bagi santri dan pengasuh untuk terus tampil sebagai yang terbaik,” kata Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi.

Sementara Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengaku sangat bersyukur atas prestasi sepakbola yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid di mana dalam usianya yang masih seumur jagung dapat menorehkan prestasi.

“Semoga prestasi ini menjadi rangsangan untuk terus berprestasi dan mendorong kegairahan olahraga. Bukan saja olahraga prestasi tapi juga termasuk olahraga kesehatan untuk santri,” ungkapnya.

Dalam acara ini, kepala pesantren juga memberikan penghargaan kepada para pemain PSSNJ berupa beasiswa pendidikan bagi pemain terbaik dan top skor yang telah mengharumkan nama pesantren. “Jangan pernah berhenti untuk berprestasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG