IMG-LOGO
Internasional

Rohingya, Etnis Paling Tertindas

Selasa 26 September 2017 23:0 WIB
Bagikan:
Rohingya, Etnis Paling Tertindas
Oleh A Muchlison Rochmat
Saya sepakat dengan Persatuan Bangsa-bangsa yang menyatakan bahwa Rohingya adalah etnis yang paling tertindas di muka bumi ini. Mereka terusir dari rumah yang telah ditempati puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.

Selasa, 26 September adalah hari keempat kami berada di Bangladesh. Pagi-pagi, kami bersiap menuju ke kamp pengungsian Rohingya yang ada di Kutupalong. Dari Cox's Bazar, tempat kami menginap, Kutupalong berjarak 60 kilometer. Diperlukan setidaknya tiga jam perjalanan dengan kendaraan mobil. Perjalanan yang cukup melelahkan, karena kami harus melalui kondisi jalan yang kurang baik, juga ada kemacetan di beberapa titik.

Di sepanjang jalan menuju kamp pengungsian, terlihat ada banyak personel militer. Senjata laras panjang menggenapi kegagahan mereka. 

Pukul 14.00 waktu setempat, kami sampai di 'pintu masuk' Kutupalong. Tak sedikit kendaraan yang diberhentikan di jalan itu, termasuk mobil yang kami tumpangi. Jantung agak berdebar saat kami digelendeng ke pos keamanan. 

Syukurlah, mereka hanya melakukan penyisiran dan pengecekan kepada siapa pun yang menuju ke kamp pengungsian. Setelah tertahan sekitar empat puluh menit, barulah kami diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. 

"Pengamanan diperketat karena ada ARSA (organisasi ekstremis Rohingya) yang bergabung ke pengungsian," kata mitra lokal kami.

Rasa haru menyelimuti hati saat menyusuri jalan kamp pengungsian. Anak-anak bertelanjang dada—bahkan tidak sedikit yang telanjang bulat; orang-orang tua berjalan tertatih-tatih; dan ibu-ibu dengan kebaya yang sangat lusuh. Mereka tumpah ruah di sepanjang jalan. Wajah mereka terlihat amat muram, semuram langit siang itu. Rasanya memang tidak sedikit pun gurat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.

Di antara para pengungsi itu, ada yang duduk-duduk di bawah pohon;  ada juga yang menyusuri jalan dengan langkah yang tak pasti. Entah apa yang mereka pikirkan. Setiap mobil yang berhenti, mereka datangi. Mungkin mereka berpikir mobil-mobil yang datang itu membawa barang bantuan.

Bagaimanapun, saat ini mereka bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan yang datang dari luar. Entah sampai kapan, mereka akan melakukan hal yang sama: menyusuri jalan dengan harapan ada bantuan datang.

Kami mencoba masuk di kamp-kamp pengungsian yang berada di areal persawahan. Setiap kamp berukuran 2x4 meter persegi itu ditempati oleh sepuluh orang. Kami melihat di dalam kamp-kamp itu ada alas dari tikar, juga beberapa potong baju berceceran.

Anak-anak dan perempuan mendominasi areal kamp. Hampir di setiap sudut yang terlihat adalah anak-anak dan para perempuan. The United Nations Population Fund (UNFPA) memperkirakan, saat ini ada sekitar 150 ribu wanita Rohingya usia produktif (15-49 tahun), 24 ribu wanita hamil dan menyusui berada dalam pengungsian.

Hujan turun saat kami bersiap kembali ke Cox's Bazar. Dari dalam mobil, kami lihat warga Rohingya tak ubahnya seperti batu karang. Mereka tidak bergeser sedikit pun. Kami melihat sekujur badan mereka basah kuyup. Apa yang mereka pikirkan sampai-sampai tidak berusaha mengamankan badan dari air hujan? 

Saya menyadari percuma saja pertanyaan itu. Tidak ada tempat untuk berteduh karena tenda-tenda pengungsian telah penuh. Ukurannya yang hanya 2x4 meter, jumlahnya tak sebanding dengan banyaknya pengungsi, tak cukup memberi tempat berteduh bagi semua pengungsi. Saya semakin tahu, mereka masih dan sangat berharap akan datangnya bantuan.

Saat menempuh perjalanan kembali ke penginapan, hati tak bisa mencegah datangnya rasa pilu. Hanya doa yang mendalam, semoga esok nasib baik menghampiri mereka. 

Penulis adalah wartawan NU Online yang ditugaskan ke pengungsian Rohingya di Bangladesh. Kegiatan dan liputan ini bekerjasama dengan NU Care-LAZISNU melalui program NU Peduli Rohingya.

Bagikan:
Selasa 26 September 2017 17:0 WIB
Liga Muslim Dunia Bangun Kerja Sama Permanen dengan Vatikan
Liga Muslim Dunia Bangun Kerja Sama Permanen dengan Vatikan
Paus Fransiskus (kanan) dan Sekjen MWL Mohammed Al-Issa (Reuters)
Jeddah, NU Online
Usai bertemu dengan, Paus Fransiskus di Kota Vatikan, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) Mohammed Al-Issa menemui kepala Dewan Kepausan Vatikan, Kardinal Jean-Laurent Tauran.

Audiensi yang terakhir ini berlangsung di hadapan sekretaris Dewan Uskup Agung Miguel Isosu dan Uskup Agung Khalid Akasha. Mereka menyepakati pembentukan sebuah komite permanen yang menghubungkan antara Vatikan, diwakili oleh Dewan Kepausan, dan Liga Muslim Dunia untuk membahas berbagai inisiatif.

Al-Issa dan rombongannya, sebagaimana dilaporkan Arab News, Selasa (26/9), mendapat sambutan positif dari para petinggi gereja Katolik. Menurut Tauran, pertemuan dengan Paus pada 20 September membuka babak baru persahabatan dan kerja sama antara Vatikan dan dunia Islam dalam menghadapi tantangan dan risiko global.

Senada, Al-Issa mengucapkan terima kasih kepada Vatikan dan Tauran. Ia memberikan apresiasi atas sikap Dewan Kepausan, yang menurutnya meningkatkan koeksistensi dan hubungan kemitraan yang lebih luas.

Al-Issa memuji pertemuan bersejarah dengan Paus. Ia juga menolak tudingan bahwa Islam terkait dengan ekstremisme dan terorisme. Menurutnya, tidak ada agama yang mendukung ekstremisme, namun tidak ada yang bebas dari unsur-unsur ekstremis.

Ia mengaku organisasi yang didirikan di Makkah pada 1962 itu sudah berkomunikasi dan bekerja sama dengan Vatikan melalui Dewan Kepausan dalam semua bidang untuk mencapai tujuan bersama, terutama langkah menebar perdamaian dan harmoni.

Delegasi Liga Muslim Dunia juga mengunjungi kantor pusat Komunitas Sant'Egidio, sebuah organisasi Katolik internasional yang berbasis di Roma. (Red: Mahbib)

Selasa 26 September 2017 13:30 WIB
Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW
Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW
Kuala Lumpur, NU Online
Pengurus Pusat  Fatayat NU memberikan orientasi kepada pengurus PCI Fatayat NU Malaysia, Senin (25/9). Orientasi bertujuan  menyemangati para pengurus PCI Fatayat NU Malaysia yang dilantik sehari sebelumnya.

“Organisasi Fatayat NU harus mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan para kader perempuan NU di Malaysia,” ujar Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Margareth Aliyatul Maimunah.

Ketua Bidang Keorganisasian PP Fatayat NU, Nadhifa mengungkapkan banyaknya jumlah tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. “Di antara mereka banyak yang terlibat permasalahan hukum,” tambahnya.

Perempuan yang juga staff ahli Mentri Ketenagakerjaan ini juga mengungkapkan dengan berbagai masalah yang dialami TKW di Malaysia, PCI Fatayat Malaysia harus dapat membantu para TKW tersebut dalam advokasi hukum.  

Sementara itu, Ketua PCI Fatayat NU Malaysia Kiki Rizki Makiya, menyampaikan tugas dan tantangan Fatayat semakin berat.

“Tetapi yang paling penting adalah tidak boleh keluar dari ideologi kita, yaitu ahlussunah wal jamaah,” ujarnya.

Pelantikan PCI Fatayat NU Malaysia mengambil moto Jadilah orang yang tangguh dan mampu struggle. Kiki menegaskan, dengan moto itu  tidak ada kalimat menyerah dan buntu dalam menyampaikan amanah. (Uswah/Kendi Setiawan)

Selasa 26 September 2017 1:40 WIB
NU Care-LAZISNU Korea Selatan Berorganisasi di Sela-sela Libur
NU Care-LAZISNU Korea Selatan Berorganisasi di Sela-sela Libur
Jakarta, NU Online
Berada jauh di negeri orang, tak menghalangi warga Indonesia di Korea Selatan aktif berorganisasi. Itulah yang dituturkan aktivis NU Care-LAZISNU Korea Selatan, Totok Pramono, Ahad (24/9).

“Kami berorganisasi di sela-sela istirahat dan hari libur,” ungkapnya.

Anak muda kelahiran Magetan Jawa Timur 25 tahun lalu itu menceritakan, melalui NU Care-LAZISNU Korea Selatan berhasil melakukan penggalangan dana untuk Rohingya.

“Penggalangan dana dimulai tanggal 4 September, kami tutup tanggal 17 September. Lalu kami sumbangkan 60 juta untuk Rohingya melalui NU Care- LAZISNU Pusat,” terangnya.

Penggalangan dilakukan lewat media sosial, juga secara langsung. Wilayah penggalangan dana tersebar di Daegu, Gimhae, Gyong Gido dan sekitarnya.

Selain bantuan untuk Rohingya, NU Care-LAZISNU Korea Selatan yang dibentuk 28 september 2014, aktif melakukan berbagai program.

“Setiap kegiatan kemanusiaan yang sekiranya kami siap membantu, kami berupaya untuk sekuat tenaga berpartisipasi,” kata Pramono.

Sebagai lembaga sosial di Korea Selatan, NU Care-LAZISNU Korea Selatan mencoba lebih aktif dan peduli dalam menangani saudara-saudara setanah air yang ada di Korea Selatan. 

“Apabila ada teman yang sakit atau mengalami kecelakaan dan memerlukan biaya yang dirasa berat jika ditanggung oleh yang bersangkutan, kami meminta ijin untuk ikut membantu pembiayaan lewat penggalangan dana,” lanjutnya.

Saat ada warga Indonesia di Korea Selatan yang meninggal dunia, dilakukan penggalangan dana santunan kepada keluarga yang ditinggalkan. Jika lokasi warga yang meninggal dunia dekat, bersama PCINU Korea Selatan, mereka turut hadir melayat dan menshalatkan.

“Kami membantu untuk pengurusan jenazah, termasuk pengkafanannya,” tambahnya lagi.

Sosialisasi ke masjid dan mushala yang ada di Korea Selatan rutin dilakukan. Hal itu bertujuan untuk silaturrahim dengan sesama pejuang TKI; mengisi kekosongan di masjid atau mushala tersebut dengan pengajian akhir pekan; serta agar masyarakat di Korea Selatan semakin mengenal NU Care-LAZISNU. (Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG