IMG-LOGO
Pesantren

Menhub Ajak Santri Turut Bangun Sektor Transportasi

Rabu 27 September 2017 20:2 WIB
Bagikan:
Menhub Ajak Santri Turut Bangun Sektor Transportasi
Tegal, NU Online
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengajak para santri di lingkungan Pondok Pesantren Ma'hadut Tholabah, Babakan, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal untuk ikut membangun sektor transportasi di Indonesia. 

Upaya membangun sektor transportasi tersebut bisa dilakukan para santri melalui program diklat vokasi maupun jenjang pendidikan melalui sekolah-sekolah di bawah Kemenhub.

"Kita punya program Diklat Pemberdayaan Masyarakat, dimana kita memberikan diklat vokasi gratis untuk 48.335 orang. Kita alokasikan 262 orang bagi para santri pondok pesantren," jelas Menhub saat bersilaturahmi di kompleks Ponpes Ma'hadut Tholabah Babakan, Lebaksiu Tegal, Sabtu (23/9).

Lebih lanjut Menhub memberikan gambaran terkait diklat vokasi tersebut. Setelah lulus, para santri nanti bisa bekerja di kapal, kereta api, dan bandara. 

"Jadi segera manfaatkan (diklat vokasi), karena itu gratis, tinggal pilih saja ada yang 7 hari, ada yang 14 hari," lanjut Menhub.

Menhub juga menerangkan terdapat lembaga pendidikan dan pelatihan di bawah Kemenhub yang ada di Jawa Tengah yang dapat menampung lulusan SLTA dari pondok pesantren.
 
"Di sini kita punya beberapa sekolah, ada Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal yang melaksanakan diklat vokasi transportasi darat dan Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang dengan program diklat transportasi laut," lanjutnya.

Untuk Diklat di PKTJ Tegal dan PIP Semarang, Menhub mengatakan akan memberikan alokasi khusus. Meski demikian, Menhub mengatakan para santri harus mengikuti tes kompetensi terlebih dahulu. 

"Kita memang kasih alokasi kuota, tapi tetap harus ikut tes kompetensi, karena kita tidak ingin sekolah kita tidak baik. Lebih dari itu, nanti kita cari yang pinter-pinter, nanti kita tes untuk jadi nakhoda, pilot, masinis, dengan pendidikan 3 sampai 4 tahun," bebernya.

Menhub berharap para santri dari pondok pesantren yang sudah berumur 101 tahun itu, dapat memanfaatkan kesempatan menjadi insan transportasi dan bersama-sama membangun sektor transportasi Indonesia. 

"Saya tunggu para santri bergabung menjadi insan transportasi dan bersama-sama membangun sektor transportasi untuk Indonesia yang lebih maju," ujar Menhub.

Pengasuh Ponpes Ma'hadut Tholabah Babakan, KH Muhammad Isa Baedhowi menyambut baik kedatangan Menteri Perhubungan. Dia berharap kedepan, santri bisa mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah Perhubungan.

"Mungkin ada yang ingin jadi masinis, Nahkoda, pilot atau jadi menteri," ungkapnya.

Selain sejumlah pejabat Kemenhub, silaturahmi juga dihadiri oleh Dirjen Kementerian LHK, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tegal Abdul Honi, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Ma'hadut Tholabah Kiai Hamam Isa Mufti, Pengasuh Pondok Putra Kiai Mohammad Syafii Baidlowi, dan Pengasuh Pondok Putri, Kiai Nasichun Isa Mufti. (Hasan/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 26 September 2017 19:0 WIB
Festival Kajen Meriahkan Haul Mbah Ahmad Mutamakkin
Festival Kajen Meriahkan Haul Mbah Ahmad Mutamakkin
Pati, NU Online
Memperingati Haul Syekh Ahmad Mutamakkin, Ma'had Ali Nahdlatul Ulama Kajen menggelar Festival Kajen. Festival Kajen dilaksanakan  24 September-15 Oktober 2017. 

Tradisi Haul Syeh Ahmad Mutamakkin yang jatuh pada taggal 10 Muharram merupakan kegiatan budaya tahunan yang biasa diselenggarakan masyarakat Desa Kajen Margoyoso Pati dan sekitarnya untuk mengenang Syekh Ahmad Mutamakkin atau dikenal dengan nama Mbah Mutamakkin, sebagai simbol dakwah dan keilmuan di kota santri tersebut.

Salah satu kegiatan yang digelar pada rangkaian Festival Kajen adalah bahtsul masail tingkat santri, Senin (25/9). Kegiatan tersebut dihadiri santri-santri dari berbagai pesantren di Kajen dan para ulama pengurus MWC NU Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Rais Syuriah MWC NU Margoyoso, KH Suhaili mengatakan, bahtsul masail merupakan tradisi NU yang masih berjalan dengan baik di semua tingkat kepengurusan. Selain untuk menjawab berbagai masalah waqi'iyah, bahtsul masail juga menjadi media belajar para santri. 

“Tidak kurang dari 50 pesantren ada di Kajen, baik yang besar maupun yang kecil. Kiranya dapat membuat kegiatan rutin seperti bahtsul masail sehingga menjadi media silaturahim dan media keilmuan antar pesantren di Kajen,” harap Kiai Suhaili.

Selain bahstul masail, agenda lainnya adalah bazar buku murah, launching Mutamakkin Institut, bedah teks Pakem Kajen: Mbah Mutamakkin dalam Senandung Puisi Jawa, Bedah Buku Infografis Masjid Kajen sekaligus launching Museum Heritage Kajen, Suluk Laras Jagad, Bedah Buku Surat dari Bawah Air. Festival akan ditutup denga kegiatan Bedah Film Narasi Kajen Jilid II.

Ma'had Ali Nahdlatul Ulama Kajen berdiri tahun 2014, merupakan lembaga pengajian kitab kuning semi klasikal yang didirikan oleh Pengurus Syuriah MWC Margoyoso Pati. Mah’ad bertujuan mewadahi santri paska menempuh pendidikan aliyah terutama yang ingin mendalami kitab-kitab kuning dan ilmu keagamaan melalui jalur informal.

Ma'had Ali NU Kajen juga memberikan pembelajaran dengan spesialisasi ilmu fikih. Dewan pengajar di Ma’had Ali NU Kajen adalah para pengurus Syuriah MWC NU Margoyoso. Kegiatan pengajian dan pembelajaran bertempat di gedung serba guna Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPBA) di Pesantren Raudlatul Ulum Kajen. (M Niam Sutaman/Kendi Setiawan)

Selasa 26 September 2017 7:5 WIB
Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017
Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017
Banyuwangi, NU Online
Rasa syukur dan terima kasih terucap di bibir M Sholeh Mubarok selepas terpilih sebagai juara pertama pemilihan duta kang santri (kategori laki-laki), saat dimintai keterangan NU Online Banyuwangi via telpon, Senin (25/9) pagi.

"Alhamdulillah. Saya bersyukur terutama kepada Allah SWT dan kepada segenap panitia, guru, dan dewan juri pemilihan duta kang dan mbak santri tahun 2017. Karena saya menjadi juara pertama pemilihan duta kang santri," kata Sholeh.

Santri yang masih menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Darussalam ini mengatakan, dengan menjadi juara tahun ini menjadi sebuah tantangan dan spirit untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

"Juara kali ini bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memacu saya menjadi lebih berprestasi kembali. Menjadi lebih giat untuk belajar di pesantren. Karena di atas langit masih ada langit. Saya siap untuk menjadi yang lebih baik," tutur santri semester tiga, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

Selain itu, menurut Sholeh, segala bentuk takdir dan kelebihan butuh diimbangi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah.

"Kosong. Jika banyaknya kelebihan dan ilmu yang dimiliki seseorang tanpa dihiasi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah. Karena ini saling berkaitan. Tidak dapat dipisahkan. Bukankah akhlaq, perhiasan bagi seseorang yang memiliki ilmu?" tutur santri yang mondok di Pesantren Darussalam, Tegalsari selama empat tahun.

Dalam hal penyampaian manfaat dan keilmuan di masyarakat luas, Sholeh menegaskan butuh wadah organisasi sebagai wasilah.

"Organisasi ideal bagi saya adalah terlibat dalam Nahdlatul Ulama. Karena NU memiliki kelengkapan di setiap lembaga dan badan otonomnya. Juga ditambah organisasi sosial kemasyarakatan ini memiliki basis massa terbesar di Indonesia, bahkan di dunia," jelas santri yang juga aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Terkait dengan hal yang persiapan materi pelajaran yang dibutuhkan untuk pemilihan duta kang dan mbak santri, Sholeh lebih banyak belajar masalah wawasan kebangsaan, sejarah, dan ke-NUan.

"Firasat saya benar. Ternyata banyak teman-teman santri yang berguguran karena minimnya wawasan kebangsaan, sejarah, dan keorganisasian, khususnya terkait ke-NUan. Ini adalah cambuk bagi santri-santri sudah saatnya untuk bangkit dengan keseimbangan ilmu-ilmu yang kontekstual. Bukan hanya unggul dalam keilmuan khas pesantren," tegasnya.

Hadiah yang diberikan oleh panitia akan digunakan untuk hal-hal kebaikan yang dapat meringankan dan membuat tersenyum kedua orang tuanya.

"Uang pembinaan ini akan saya gunakan untuk melunasi biaya administrasi kuliah yang masih kurang. Saya ingin meringankan beban kedua orang tua saya. Pun sudah waktunya untuk melatih hidup mandiri, tanpa bersandar di balik punggung kedua orang tua," kata Sholeh.

"Semoga ini memberikan kemanfaatan dan keberkahan untuk diri saya dan orang tua menjadi lebih baik ke depannya," harap santri yang berusia 20 tahun ini. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Senin 25 September 2017 23:15 WIB
SONGSONG 1 ABAD AL-MASTHURIYAH
Alumni Perkuat Sebar Islam Ramah
Alumni Perkuat Sebar Islam Ramah
Pondok Pesantren Al-Mashturiyah didirikan oleh seorang tokoh Nahdhatul Ulama, KH Muhammad Masthuro atau dikenal Mama Masthuro. Ia lahir pada tahun 1901 di Kampung Cikaroya, Desa Cibolang Kaler, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. 

Pada 9 Rabiul Akhir 1338 H, bertepatan dengan 1 Januari 1920, KH Masthuro mulai mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Ahmadiyah yang merupakan cabang dari Madrasah Ahmadiyah, Sukabumi. Nama Ahmadiyah dipilihnya karena dia adalah lulusan Madrasah Ahmadiyah Sukabumi. Nama Ahmadiyah ini tidak ada hubungannya dengan nama aliran yang didirikan oleh Mirza Gulam Ahmad.

Tahun 1941, KH Masthuro mengelola madrasah dan pesantrennya secara mandiri dan terpisah dari status cabangnya. Nama madrasah pun diubah menjadi Sekolah Agama Sirojul Athfal. Siroj berarti lampu ,dan athfal berarti anak laki-laki. 

Atas saran dan hasil musyawarah pada tahun 1950, dibentuklah lembaga baru, dengan nama Sekolah Agama Sirojul Banat. Hal tersebut memungkinkan diterimanya santri perempuan untuk belajar di pesantren ini.

Perkembangan selanjutnya, secara berturut-turut, KH Masthuro mendirikan Madrasah Tsanawiyah Sirojul Athfal/Banat pada tahun 1967; dan Madrasah Aliyah Sirojul Athfal/Banat pada 1968. Di tahun yang sama, tepatnya tanggal 27 Rajab, KH Masthuro wafat. 

Tahun 1974 nama Sirojul Athfal/Banat diubah oleh para penerusnya menjadi Perguruan Islam Al-Masthuriyah yang diambil dari nama Pendiri yaitu KH Muhammad Mashturo.

Santri, Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Pada Ahad (17/09) yang lalu, digelar Silaturrrahim Akbar Alumni Al- Masthuriyah di Gedung Kesenian Pemda Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ketua Umum PP Kalam, KH Abu Bakar Siddiq yang turut hadir mengatakan santri berstatus minal mahdi ilal lahdi (menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat); hubungan santri dengan kiai adalah hubungan abadi yang penuh berkah.

Selain itu salah satu tradisi pesantren adalah haul, atau peringatan dan pertemuan. Haul itu menyambungkan sanad keberkahan dan keilmuan. Momen musyahadah ada jabat tangan dan transfer barokah. 

“Karena berguru itu harus kepada guru. Dan berapa pun lamanya jika sudah musyahadah itu tetap santri dan sumber keberkahan,” kata Kiai Siddiq.

Bupati Bogor, diwakili Camat Cibinong Bambang W, turut memberikan sambutan. Perhatian yang khusus untuk organisasi alumni ponpes dapat membuka jaringan. Ia berharap alumni dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan bisa menjadi tauladan di tengah masyarakat.

“Dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya di wilayah Bogor,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat yang diwakili Biro Kesejahteraan H Dedi Iskandar menyampaikan kewajiban alumni adalah berdakwah untuk umat, bukan karena pesanan, karena pendakwah adalah pelayan umat. 

“Alumni juga harus bertanggung jawab atas risalah yang disampaikan,” pesannya.

Komitmen Menyebarkan Islam Rahmatan lil Alamin
Para alumni juga menyampaikan kesan-kesan mereka. Salah satunya H Khoirudin Ilyas, mengungkapkan pesantren merupakan sarana mengajarkan taat kepada guru.

“Termasuk di dalamnya kita dididik untuk taat kepada guru yang memberi ilmu,” katanya.

Di dalam pesantren juga dididik mandiri kebersihan dan kesederhanaan. “Saya masih ingat satu kegiatan yang mengajarkan ketelitian dan kebersihan, yaitu kegiatan kerja bakti bebersih tiap pagi memungut sampah. Kalau sekarang biasa dilaksanakan setiap Jumat,” paparnya.

Menurutnya, falsafah dari kegiatan ini adalah mengajarkan kebersihan agar senantiasa keimanan singgah dan bersemahyam di dalam diri. Apa bila para alumni itu pandai bebersih, hal terkecil saja sudah menebar manfaat yang sangat luar biasa di masyarakat.

“Sudah berapa banyak alumni yang tersebar sejak 97 tahun Al-Masthuriyah. Kira-kira junmlah alumni itu sudah mencapai 10 juta orang. Berapa banyak alumni yang sudah mendermakan dirinya untuk masyarakat dan mengharumkan nama Al-Masthuriyah,” lanjutnya.

Pimpinan Ponpes Al-Masthuriyah KH Abdul Aziz Masthuro berpesan para  alumni itu harus selalu membaca basmillah. Hal itu merupakan suatu cara mengingat Allah. 

“Dan berpola bismillahi masya allah laa kuwwata illa billah, agar kita diberi kekuatan oleh Allah Sang pemilik Kekuatan, hingga kita menjadi makhluk yang rahmatan lil alamin,” ujarnya. (Banu/Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG