IMG-LOGO
Humor

Manusia dan Ingatan Panjang Unta

Kamis 28 September 2017 9:1 WIB
Bagikan:
Manusia dan Ingatan Panjang Unta
Sore itu Gus Dur terlihat bercengerama dengan beberapa tamu penting yang menemuinya di kediamannya di Ciganjur Jakarta Selatan.

Meskipun tamu yang menemuinya adalah orang penting, Gus Dur tidak pernah membedakan secara pelayanan. Semua tamu dari berbagai latar belakang ditemui dan dijamunya secara terhormat.

Tidak lupa, Gus Dur selalu membumbui setiap obrolannya dengan menyajikan humor-humor segar untuk mencairkan suasana menjadi lebih akrab dan hangat.

Pada kesempatan tersebut Gus Dur bercerita tentang hewan unta. Hewan yang banyak hidup di tanah Arab ini menurut Gus Dur termasuk hewan yang panjang ingatan tapi mempunyai sikap pendendam.

“Panjang ingatan unta bisa sampai berapa lama Gus?” tanya salah seorang tamu polos.

“Bisa sampai 10 tahun,” jawab Gus Dur.

“Luar biasa hewan ini. Mungkin pengaruh panjangnya perjalanan yang mereka sering lakukan di gurun,” tukas tamu lain menanggapi.

“Bisa jadi,” Gus Dur diplomatis.

Gus Dur melanjutkan ceritanya, bila ada seseorang yang memukul unta itu, maka dia akan membalasnya pada kesempatan lain.

“Walaupun kejadiannya sudah 10 tahun,” sambung Gus Dur.

“Jadi kalau ada manusia yang tidak mau akur dan pendendam setelah 10 tahun berkonflik, maka ia bukan manusia, tapi unta,” seloroh Gus Dur disambut gerrr tawa para tamunya. (Fathoni)

Disarikan dari buku "Fatwa dan Canda Gus Dur" karya KH Maman Imanulhaq (2010).
Tags:
Bagikan:
Rabu 27 September 2017 14:1 WIB
Jenderal Kok ‘Plonga-Plongo’
Jenderal Kok ‘Plonga-Plongo’
Ilustrasi.
Suatu ketika Bupati Tegal bernama Enthus Susmono satu panggung dengan Habib Syech dalam peringatan Hari Santri pada tahun 2015 lalu.

Enthus yang juga jago ndalang ini bercerita ketika dirinya mengikuti sebuah kursus di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Ia mengikuti sebuah materi geopolitik global dan pasar bebas yang dibawakan oleh seorang tentara berstatus Jenderal.

Jenderal yang dimaksud Enthus tersebut memaparkan banyak materi terkait pertarungan geopolitik, khususnya di bidang ekonomi yang menyertai proses global tersebut.

“Jika rakyat Indonesia tidak bisa mengikuti perkembangan pasar bebas dan geopolitik global, maka akan banyak rakyat yang sengsara dan negara bisa hancur,” urai Enthus menirukan sang Jenderal.

Mendengar pemaparan tersebut, nalar kritis Enthus seketika terperanjat dan tunjuk jari untuk menanggapi poin penjelasan si Jenderal di tengah forum yang diikuti oleh banyak kepala daerah tersebut.

“Tunggu dulu,” sergah Enthus dalam ceritanya di panggung peringatan Hari Santri itu.

Sampeyan kaya ora nduwe Tuhan bae (Anda seperti tidak punya Tuhan saja),” seloroh Enthus kepada sang Jenderal dengan logat ngapak-nya.

“Ulat Gendon saja yang hidupnya gak kelihatan di bawah tanah tiba-tiba kalau kita buka gemuk-gemuk kok,” jelasnya disambut tawa hadirin. Enthus ingin menegaskan bahwa mudah dan susahnya hidup manusia hanya Tuhan yang menentukan.

“Jenderal kok plonga-plongo (Jawa: ekspresi yang menunjukan tidak mengerti apa-apa),” ujar Enthus dibarengi tawa hadirin yang makin terpingkal-pingkal, tak terkecuali Habib Syech yang terlihat ikut ngakak. (Fathoni)
Sabtu 23 September 2017 14:20 WIB
Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil
Ketika Seorang Prof Diakali Anak Kecil
Penduduk Mesir pribumi banyak dikenal sebagai orang cerdik dalam bersiasat. Diperkirakan karena di antara mereka banyak yang mempunyai garis keturunan Bani Israil. Di antara kecerdikannya ini dirasakan pula oleh Prof. Nizar Ali yang sekarang menjabat sebagai Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag.

Dahulu, dalam salah satu kunjungannya ke Mesir, Prof Nizar ingin berziarah ke makam Syekh Zaki Ibrahim. Seorang penganut ajaran tasawuf, pemuka tarekat Syadziliyyah yang sangat disegani. 

Karena belum tahu lokasi makam, Prof Nizar bertanya kepada salah satu anak kecil. 

"Dik, makam Syekh Zaki Ibrahim terletak di mana ya?" tanyanya dengan bahasa Arab.

Tak segera menjawab, si anak kecil ini berlagak seperti simsar (makelar). Ia mengajukan satu syarat. Untuk menunjukkan arah yang diminta Prof Nizar, anak kecil ini meminta uang sejumlah 10 pounds atau setara sekitar Rp.25.000,-.

Khawatir dibohongi, Nizar memberikan pertanyaan untuk memastikan bahwa ia tidak akan ditipu anak-anak?

"Benar ya kau tunjukkan mana makamnya? 

Anak kecil ini pun mengiyakan dengan serius, namun ia meminta uang segera dibayar di depan terlebih dahulu. 

Setelah diterimakan dengan baik, si anak memandu para orang tua dari luar negeri Mesir ini. Ia berjalan di bagian depan. 

Yang mengagetkan bagi Nizar adalah ternyata ketika anak itu baru berjalan beberapa langkah ke depan dengan menapaki jalan yang menurun, anak itu pun dengan enteng menunjuk makam yang dimaksud oleh Prof Nizar. 

"Itu," katanya ringan sambil melempar senyum indahnya, tanda bahagia mendapat upah lumayan. 

Sangat jauh dari angan. Bayangan Prof Nizar, dengan uang 10 pounds mereka akan ditunjukkan di lokasi yang cukup jauh. Tapi ternyata hanya beberapa langkah ke depan saja. Perasaanya geli. Bukan menyesali uang yang telah ia berikan, tapi kecerdikan orang Mesir ini memang cukup jitu. Ia seolah diakali oleh anak-anak, meskipun cara mereka mengakali dengan model demikian itu sah-sah saja. (Ahmad Mundzir) 

Senin 18 September 2017 14:31 WIB
Jatah Daging Kurban
Jatah Daging Kurban
Di suatu sore Ustadz Juki yang terkenal gemar bercerita, dikelilingi oleh beberapa santri yang sedang asyik mendengarkan ceritanya. Karena suasana menjelang Hari Raya Kurban, beliaupun bercerita tentang rencana pelaksanaan pemotongan hewan kurban di pondok mereka.

Sebelum bubaran, Ustadz Juki sempat menceritakan pengalaman pahitnya pada saat Hari raya Kurban dua tahun silam. Saat itu dia mendapat bagian daging kurban yang lumayan banyak, karena kebetulan menjadi ketua panitia.

Selepas shalat Maghrib di mushalla ustadz Juki langsung pulanng ke kamarnya, dan alangkah kagetnya saat  mendapatkan daging kurban bagiannya raib.
 
Sudah beberapa orang yang dia tanyakan tentang keberadaan daging itu tapi mereka tidak ada yang tahu, dengan perasaan marah, dongkol campur gregetan ustadz Juki mencari jejak daging itu ke dapur umum. 

Semua kerumanan santri yang sedang memasak tidak ada yang luput dari sidaknya, tetapi upaya pencarian itu tidak berhasil.

Hasin, yang sedari tadi ikut mendengarkan cerita sang ustadz, menjadi teringat peristiwa dua tahun silam. 

Ketika itu ia mau berangkat shalat Maghrib di masjid, saat melewati kamar ustadz Juki, Holili menarik tangannya dan menunjuk ke arah daging yang sudah ditusuk seperti dendeng semabri berkata, “jatah kita...”.

Hasin tidak paham apa yang maksud sahabatnya itu, dengan disertai isyarat kepala, Holili kembali berucap, “ jatah kita...”.                                                                                                                      
Kali ini Hasin paham akan maksud sahabatnya itu, dengan cekatan ia mengambil daging itu lalu membawanya dan dimasak di luar dapur umum.

Mengingat peristiwa itu Hasin senyum senyum sendiri, kemudian menimpali cerita sang ustadz, “Ikhlaskan saja ustadz....”

“Ya...gimana lagi, bukan rezeki saya, dan saya sudah mengikhlaskannya...” 

“Alhamdulillah........,” kata Hasin.

“Lho, kok......?"

Pertanyaan ustadz Juki keburu dipotong oleh Hasin,  “Ya ustadz...., saya yang mengambil daging itu...”. (Hosni Rahman)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG