IMG-LOGO
Internasional

Gara-gara Ceramah Kebencian, Swiss Cabut Suaka Muslim Libya

Sabtu 30 September 2017 15:58 WIB
Bagikan:
Gara-gara Ceramah Kebencian, Swiss Cabut Suaka Muslim Libya
Ilustrasi (© mastel.id)
Geneva, NU Online
Seorang Muslim Libya, Jumat (29/9), terpaksa kehilangan hak suakanya di Swiss setelah berkotbah yang memuat ujaran kebencian di sebuah masjid di kota Biel.

Pengadilan Administratif Federal di St. Gallen secara resmi mencabut suaka seorang penceramah bernama Abu Ramadan lantaran pidatonya yang dinilai kontoversial.

Menurut pengadilan itu, keputusan ini final dan Ramadan tidak dapat mengajukan banding atas keputusan tersebut, lapor media Swiss seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Ramadan yang berkhotbah di masjid Ar'Rahman di Biel, di kaki pegunungan Jura, diduga telah menyerukan penghancuran terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, Rusia, dan Muslim Syiah.

Pria 64 tahun itu menyangkal telah menyampaikan pidato kebencian. Ramadan merasa pidatonya yang berbahasa Arab diterjemahkan secara tidak akurat.

Ramadan saat ini tinggal di Nidau, kanton Bern dan merupakan pemegang paspor Libya. Dia memperoleh suaka di Swiss pada tahun 1998 dan secara reguler menerima manfaat jaminan sosial selama 13 tahun terakhir. (Red: Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 30 September 2017 23:0 WIB
Gereja Bersejarah Dirusak, Muslim Afrika Selatan Berbelasungkawa
Gereja Bersejarah Dirusak, Muslim Afrika Selatan Berbelasungkawa
Foto © Anadolu
Johannesburg, NU Online
Sebuah LSM Islam di Afrika Selatan mengecam aksi perusakan terhadap gereja bersejarah di kota Cape Town.

"Dewan Yudisial Muslim (MJC) turut berbelasungkawa dan mengecam keras vandalisme yang dilakukan terhadap Gereja Anglikan St. Mark," kata wakil presiden LSM tersebut, Moulana Abdul Khaliq Allie, Sabtu, seperti dikutip kantor berita Anadolu.

Menurut laporan media lokal, mahasiswa  Cape Peninsula University of Technology dicurigai telah melemparkan sebuah bom bensin ke gereja tersebut pada Rabu malam.

Gereja St. Mark, salah satu gereja tertua di Cape Town's District Six, berdiri sebagai simbol perlawanan setelah rezim apartheid yang secara paksa menyingkirkan orang-orang kulit putih dari daerah tersebut dan menghancurkan rumah mereka dari tahun 1960-an sampai 1980-an.

"Semua tempat ibadah, baik masjid, gereja, sinagog, atau kuil adalah tempat suci," kata Allie. Menurutnya, tempat ibadah harus dihormati dan dilindungi oleh semua warga negara.

Muslim Afrika Selatan dan agama-agama lain menikmati hubungan antaragama yang baik. "Komunitas Muslim berdoa agar pelaku diseret ke meja hukum," tambah Allie.

Berbicara kepada media, juru bicara kepolisian Kapten Van Wyk mengatakan seorang tersangka berusia 20 tahun telah ditangkap sehubungan dengan vandalisme tersebut. (Red: Mahbib)
Sabtu 30 September 2017 17:19 WIB
Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya
Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya
Ilustrasi (© UNHCR)
Cox's Bazar, NU Online
Selagi Antara asyik berbicara dengan seorang pria Bangladesh yang berada di sekitar pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Ukhia, Cox's Bazar, dalam Bahasa Inggris seadanya, Hafez Ullah antusias menyimak apa pun isi perbincangan kami.

Pria kurus kering itu sesekali tersenyum, terlihat jelas ingin mengutarakan sesuatu.

Begitu Antara mengakhiri perbincangan dengan si pria Bangladesh, Hafez langsung mendekat untuk menumpahkan banyak hal mengenai Rohingya, Rakhine, Myanmar dan Aung San Suu Kyi.

"Saya belum pernah bertemu dan berbicara dengan orang asing sebelum ini," kata dia setelah Antara menanyainya soal nama dan asalnya, Kamis menjelang malam 28 September kemarin.

Hafez adalah orang Rohingya. Tidak seperti umumnya pengungsi-pengungsi Rohingya lainnya, dia dapat berbicara dalam Bahasa Inggris.

Juga tidak seperti umumnya pengungsi Rohingya yang lain, Hafez termasuk pengungsi terdidik.

Memperkenalkan diri sebagai sarjana filsafat jebolan Universitas Rakhine State, Myanmar, Hafez mengaku berasal dari Maungdaw Myo. Ini adalah daerah yang menjadi episentrum konflik di Rakhine belakangan ini.

Di daerah inilah, ratusan orang yang disebut teroris oleh Myanmar tetapi patriot oleh sebagian orang Rohingya, melancarkan serangan terkoordinasi ke beberapa pos polisi dan sebuah pangkalan militer Myanmar.

Fatal bagi mereka, tentara Myanmar membalas jauh lebih fatal dari serangan mereka, sampai akhirnya memaksa lebih dari separuh penduduk Rakhine lari tunggang langgang ke daerah-daerah yang dianggap aman, terutama melintasi Sungai Naf untuk mencapai Bangladesh.  Dan Hafez adalah salah satu dari mereka.

"Saya lari ke Bangladesh bersama istri dan kedua anak saya dengan berjalan kaki berhari-hari. Tiba di sini (Ukhia) sebelum Idul Adha lalu," kata Hafez.

Dia kini bergabung dengan puluhan ribu orang Rohingya lainnya di Ukhia di dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Mengembalikan martabat

Hidup di kamp pengungsian tidak lebih memedihkan dari hidup di Maungdaw.  "Tetapi martabat kami di sana (Myanmar) lebih rendah ketimbang jadi pengungsi di sini (Bangladesh)," kata Hafez.

Hafez tidak tahu kapan dia dan ratusan ribu pengungsi Rohingya lainnya bisa kembali ke Myanmar. Bagi dia, Rakhine, Arakan atau apa pun nama tempat ini disebut, adalah tanah airnya, tak ada yang bisa menggantikan itu.  

Pada 20 September, pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, mengutarakan rangkaian janji kepada dunia dan komunitas yang hanya disebutnya dengan  nama "muslim Rakhine". Salah satu janji dia adalah merepatriasi pengungsi Rohingya ke Myanmar.

"Yang dia katakan itu bohong," kata Hafez. 

Hafez skeptis janji itu diwujudkan oleh pemimpin Myanmar peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut.

Sembilan hari lalu Suu Kyi berkata, "Kami sudah siap untuk memulai proses verifikasi (untuk repatriasi Rohingya), kapan pun itu."

Tetapi seperti umumnya pengungsi Rohingya, Hafez menilai janji itu kosong belaka. Dia menganggap apa yang dijanjikan Suu Kyi itu dilakukan di bawah aturan yang sebelumnya juga pernah dilakukan, dan terbukti tidak berdampak apa-apa. 

"Saya mengakui dia (Suu Kyi) punya niat untuk menyelesaikan masalah Rohingya, tapi sayang dia bukan penentu utama kebijakan," kata Hafez.

Bagi Hafez, penguasa nyata di Myanmar, termasuk untuk semua hal yang berkaitan dengan Rakhine dan Rohingya, adalah "tatmadaw" atau militer, yang saat ini dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing.

"Min Aung-lah yang penguasa sesungguhnya di Myanmar," kata Hafez.

Pria satu istri dua anak ini melihat Suu Kyi terborgol oleh militer. Di mata Hafez, Suu Kyi hanya suar Myanmar kepada dunia, yang sebenarnya tak punya banyak kekuasaan, apalagi sampai tingkat paling praktikal.

Oleh karena itu Hafez pesimistis dengan rencana repatriasi yang digagas Aung San Suu Kyi. 

"Masalah Rohingya tidak sebatas memberikan kartu identitas penduduk, lalu dianggap selesai. Tidak! Masalah kami di Myanmar adalah soal mengembalikan martabat yang terinjak-injak," kata Hafez meninggikan intonasi bicaranya untuk menegaskan artikulasi pesannya kepada Myanmar dan dunia.

"Kunci mengatasi masalah Rohingya adalah bagaimana Myanmar mengembalikan dan menumbuhkan harga diri orang Rohingya," ulang Hafez.

Sumpah anak Rohingya

Harga diri memang menjadi hal prinsip bagi sebagian besar orang Rohingya, apalagi setelah mereka menyeberang ke Bangladesh dunia menjadi tahu betapa terinjak-injaknya harga diri dan martabat mereka.

Terlalu banyak cerita mengenai wanita-wanita yang diperkosa, anak-anak yang terpaksa menyaksikan orang tua mereka dibunuh di depan mata mereka sendiri. 

"Sampai-sampai ada seorang anak usia 12 tahun, baru 12 tahun!...yang bersumpah di depan saya bahwa suatu saat dia akan membalaskan dendam atas kematian orang tuanya," kata Aiman Ul Alam yang menjadi pemandu sekaligus penerjemah untuk misi-misi kemanusiaan Indonesia di Cox's Bazar.

Setiap hari Aiman mengantar orang asing, termasuk wartawan-wartawan luar negeri, untuk menemui para pengungsi Rohingya, sampai jauh ke pedalaman perbatasan Myanmar-Bangladesh.  Dari sinilah Aiman mendapatkan begitu banyak cerita mengenaskan soal Rohingya.

Dan itu tak dipungkiri oleh Hafez Ullah, kendati dia mengakui hidup di tempat pengungsian juga sangat menyulitkan.

"Tapi di sini kami punya tempat berteduh, tidak ada orang yang diperkosa, tidak ada orang yang dibunuh," kata Hafez.

Sulit untuk memverifikasi pengakuan Hafez dan umumnya pengungsi Rohingya, karena pemerintah Myanmar menutup rapat-rapat Rakhine seolah ingin mencegah dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Tetapi ribuan pengakuan dan testimoni dari pengungsi terdokumentasi di mana-mana, baik di dalam maupun luar negeri.

Selama sekitar satu setengah jam berada di kamp pengungsian bersama tim Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar, Antara juga beberapa kali menjadi sasaran curhat pengungsi, tanpa tahu apa yang mereka omongkan.

Seorang di antaranya adalah perempuan berwajah teramat susah, dan tergoncang, yang terus berbicara dalam Bahasa Bengali-Rohingya.

Setelah memanggil Aiman, diketahui perempuan ini punya nama Hashina Ulfa.

"Sudah sepuluh hari di kamp ini. Suami saya dibunuh di depan mata saya sendiri dan kedua anak kami," kata Hashina. "Tolonglah kami."

Tolong, selain kata lapar, adalah yang kerap terlontar dari mulut para pengungsi Rohingya.

"Tolong, kabarkan keadaan kami ini kepada dunia, kepada negaramu, Indonesia," kata Hafez. (Antara/Mahbib)

Sabtu 30 September 2017 10:15 WIB
Bom Bunuh Diri Serang Shalat Jumat di Afganistan
Bom Bunuh Diri Serang Shalat Jumat di Afganistan
Polisi Afganistan berjaga di sekitar Masjid Hussainia (© AFP)
Kabul, NU Online
Sebuah bom bunuh diri meledak ketika prosesi shalat Jumat berlangsung di masjid Hussainia di Kabul, Afganistan. Sontak, sembahyang pun terhenti dan jamaah lari kocar-kacir. Korban meninggal dunia dilaporkan mencapai enam orang, sedangkan korban luka-luka sebanyak 20 orang.

Jenderal Salim Almas, direktur investigasi kriminal Kabul, seperti dilansir AFP, mengungkapkan bahwa pengebom adalah seorang penggembala yang saat itu sedang bersama sekawanan domba.

Si penggembala meledakkan diri sejauh 140 meter dari Masjid Hussainia, tempat yang diduga menjadi sasaran utamanya. Ia tak menjangkau masjid karena terkendala penjaga keamanan setempat.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Najib Danish mengatakan di Facebook bahwa lima warga sipil terbunuh dan 20 lainnya luka-luka. Tiga tersangka dalam kasus ini telah ditahan. Sementara di Twitter, Rumah Sakit Darurat Kabul mengumumkan bahwa mereka telah menerima 19 orang yang terluka termasuk empat anak.

Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas tragedi bom bunuh diri ini. Kelompok Taliban pun segera membantah bahwa serangan mematikan itu berasal dari anggotanya.

Pejabat Afghanistan mengutuk tindak kejahatan ini dan menyebutnya sebagai serangan sektarian besar pertama pada kelompok Pakistan Lashkar-e-Jhangvi di hari agung umat Islam. (Red: Mahbib)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG