IMG-LOGO
Nasional

Alih-alih Nobar Pengkhianatan G30S/PKI, 250 Anak Yatim Ini Tonton Warkop DKI Reborn

Senin 2 Oktober 2017 6:45 WIB
Bagikan:
Alih-alih Nobar Pengkhianatan G30S/PKI, 250 Anak Yatim Ini Tonton Warkop DKI Reborn
250 Yatim Piatu dan Dhuafa Tonton Warkop DKI Reborn
Tangerang, NU Online
Ruangan Studio 1 di XXI Tangcity Mall, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Tangerang, Banten, dipadati anak-anak berkaos putih, Ahad (1/10). Yatiman 10 Muharram 1439 H tertulis di bagian dada kaos putih yang mereka kenakan.

Siang itu, sedikitnya 250 anak memadati ruangan yang terletak di lantai 2 mall. Sementara mata tertuju ke arah layar, sesekali terdengar tawa riuh dari mulut mereka saat film mulai diputar.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2, judul film yang ditayangkan, adalah film komedi Indonesia 2017 yang disutradarai oleh Anggy Umbara.  Film tersebut merupakan adaptasi dari film-film Warkop DKI.

Kehadiran 250 anak itu atas fasilitas NU Care-LAZISNU yang ingin berbagi kebahagiaan bagi yatim piatu dan dhuafa dalam merayakan lebaran yatim 10 Muharram.

“Salah satu keutamaan ibadah di bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim.  NU Care-LAZISNU ingin membagikan kegembiraan bagi anak-anak yatim di Muharram ini,” kata Direktru NU Care-LAZISNU, Syamsul Huda.

Tiket menonton film gratis sepenuhnya disediakan oleh Falcon Picture, produsen film tersebut. Kegiatan menonton film ini tidak bermaksud menyaingi nonton bareng (nobar) Pengkhianatan G30S/PKI yang juga dilakukan di sejumlah tempat, meskipun aksi menonton film tersebut menuai pro kontra.

Menonton film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2, menambah kegembiraan anak-anak yatim dan dhuafa yang sebelumnya dihibur penampilan dongeng oleh Kak Rizal di lokasi yang sama.

Santunan dan Kunjungan Wirausaha
Setelah menonton film, peserta lalu dibawa ke kantor Alfamart di Jl MH Thamrin Cikokol Tangerang. Di sana, peserta dikenalkan dunia wirausaha, diberi santunan uang tunai, dan satu paket alat tulis.

“Kita ajak anak-anak menikmati kebahagiaan selama sehari penuh,” tambah Syamsul.

Reza Pahlevi, Corporate Communication PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, memaparkan, pihaknya senang bekerjasama dengan NU Care-LAZISNU yang dalam merayakan Muharram mengadakan santunan kepada yatim piatu dan dhuafa.

“Alfamart dengan yatim piatu dan dhuafa, kalau mengutip sabda Nabi, ibarat dua jari yang saling berdampingan,” kata Reza.

Pihaknya berterimakasih kepada NU Care-LAZISNU yang mengakomodir kehadiran yatim dan dhuafa ke kantor Alfamart. Hal tersebut semakin menambah kepedulian Alfamart kepada yatim dan dhuafa.

Salah satu koordinator yatim, Riantoko mengungkapkan rasa syukur karena anak-anak yatim dan dhuafa tampak senang mengikuti rangkaian kegiatan hari itu.

“Kalau keseharian anak-anak ini kan jauh dari hiburan,” katanya. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Senin 2 Oktober 2017 23:1 WIB
Silaturahim Lima Ribu Pendekar, Pagar Nusa Konsolidasi di Jawa Timur
Silaturahim Lima Ribu Pendekar, Pagar Nusa Konsolidasi di Jawa Timur
Ketum Pagar Nusa Nabil Harun di tengah para pendekar
Lamongan, NU Online
Ribuan pendekar Pagar Nusa berkumpul di tiga daerah: Tuban, Babat dan Lamongan, Jawa Timur, pada Ahad (01/10). Silaturahim pendekar dan pengurus tiga Cabang Pagar Nusa, dalam rangka konsolidasi dan penguatan jaringan. 

Silaturahim ini, sekaligus agenda "Pembaiatan Pendekar dan Pelantikan Pengurus Cabang Pagar Nusa Tuban", "Silaturahim Kader dan Pendekar Pagar Nusa Cabang Babat" dan "Silaturahim Santri Pendekar-Pengurus Cabang Pagar Nusa Lamongan". Agenda ini dihadiri pimpinan daerah, Wakil Bupati, Ketua Pagar Nusa Jawa Timur, H. Faidhol Manan, sesepuh Nahdlatul Ulama, pihak kepolisian, SKPD setempat, pengurus KONI, dan pendekar-pendekar Pagar Nusa. 

Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen menegaskan pentingnya pendekar Pagar Nusa untuk bangkit dan bergerak. "Sekarang sudah saatnya Pagar Nusa bangkit, bergerak, menjadi inisiator. Tidak lagi hanya bereaksi, kita harus bergerak aktif mengkonsolidasi gerakan. Untuk apa? Mengabdi pada kiai, menjaga pesantren dan NKRI," jelas Nabil. 

Di hadapan ribuan pendekar, Nabil Haroen menegaskan pentingnya Silaturahim, meningkatkan kualitas persaudaraan dan berlatih meningkatkan skill. "Pagar Nusa tidak hanya pencak silat, di dalamnya ada Silaturahim, pengetahuan, sanad keilmuan, sekaligus juga hubungan guru murid khas pesantren. Inilah yang menjadikan kita kuat dan bersatu," jelas Nabil. 

Dalam pidatonya, Nabil mengajak agar pendekar Pagar Nusa di Jawa Timur bersatu dan saling mendukung. "Jawa Timur akan menghadapi perhelatan politik besar, pendekar-pendekar Pagar Nusa harus bersatu, solid, dan patuh pada komando. Ini semua untuk kebaikan bersama, untuk persatuan pesantren dan Nahdlatul Ulama, untuk kemaslahatan bangsa. Untuk siapa pemimpin terbaik, kita harus melihat secara jernih, menggunakan semua indra agar mendapatkan hasil terbaik juga menunggu dawuh para kiai," terang Nabil. 

Dalam agenda di tiga Pengurus Cabang, Ketua Umum Pagar Nusa menegaskan pentingnya persatuan antar pendekar Pagar Nusa. "Pada prinsipnya, pendekar Pagar Nusa harus mengutamakan maslahah, mengutamakan dawuh dari kiai-kiai untuk kepentingan bersama. Jangan sampai tercerai berai hanya karena urusan politik," tegas Nabil Haroen, yang pernah nyantri di pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. 

Pimpinan Pusat Pagar Nusa selama ini bergerak cepat dengan konsolidasi kader dan Silaturahim pendekar. Kepengurusan Pimpinan Pusat Pagar Nusa, akan diumumkan dalam waktu dekat, yang diharapkan menjadi tim solid untuk menggerakkan Pagar Nusa di seluruh Indonesia dan beberapa cabang internasional. (Red: Abdullah Alawi)

Senin 2 Oktober 2017 21:1 WIB
Gus Rozin Bangga Terhadap Talenta-talenta Muda Liga Santri
Gus Rozin Bangga Terhadap Talenta-talenta Muda Liga Santri
Jepara, NU Online
KH Abdul Ghaffar Rozin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMINU) bangga terhadap talenta-talenta muda di Liga Santri Nusantara (LSN).

Menurut dia mereka bermain secara sportif sesuai dengan regulasi yang ada. Di samping itu yang tak kalah penting adalah mengedepankan akhlak santri yakni akhlakul karimah. 

Sambutan itu disampaikan Gus Rozin dalam penutupan babak final LSN Region 1 Jateng yang berlangsung di stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara, Sabtu (30/9) sore. 

Dikemukakannya, dari tahun ke tahun peserta LSN terus bertambah. “Tahun 2015 ada 320 peserta, 2016 ada 830 dan tahun ini 1480 pesantren,” ungkapnya.

Gus Rozin yang juga Ketua Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati itu menambahkan event LSN sebagai wahana silaturrahim antar pesantren juga untuk menjaga NKRI. Ia meyakini dengan sumbangsih skill (kemampuan) yang baik dengan didukung akhlak, region-region muda akan memperkuat timnas. 

Rafli yang merupakan jebolan LSN telah memperkuat garuda muda. “Ke depan Indonesia bakal menang melawan Malaysia yang pemainnya tentu dari liga santri,” doa Gus Rozin. 

Mayjend TNI (Purn) Sunindyo, salah seorang pengamat sepakbola mengatakan dirinya tidak menyangka pemain liga santri bisa bermain dengan sportif. Menurut mantan Panglima Kodam IV Diponegoro itu sportivitas memang diajarkan di pondok. 

“Peserta liga santri adalah intelektual yang hafal alquran dan pinter main sepakbola,” tandasnya. 

Dirinya mengemukakan, santri zaman dulu memperjuangkan negara sekarang santri memperjuangkan timnas. 

KH Ubaidillah Noor Umar, Rais Syuriah PCNU Jepara menyatakan menjadi santri harus bangga karena bulan Oktober ini akan diperingati hari santri nasional (HSN) ketiga. 

“Jika santri di Indonesia diperhatikan NKRI semakin utuh dengan bersatunya pesantren-pesantren di Indonesia,” papar Mbah Ubaid.

Dalam laga final LSN Region 1 Jateng yang memperebutkan piala Bupati Jepara keluar sebagai juara I An Nur FC (Blora), disusul juara 2 Manhik United (Kendal) dan sebagai juara III Alfalah FC (Salatiga). 

Konfigurasi MOB 1000 santri dan drum band dari pesantren Balekambang Jepara juga turut memeriahkan kegiatan tersebut. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)
Senin 2 Oktober 2017 20:30 WIB
Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi
Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi
Muhammad Al-Fayyadl
Surabaya, NU Online
Hampir dapat dipastikan pada akhir bulan September, selalu ramai dibicarakan peritiwa pemberontakan Gerakan 30 September/PKI. Berbagai kalangan mengingatkan bahaya bangkitnya kembali PKI, dan pada saat yang sama mengemukakan sebaliknya. Lantas apa yang bisa dilakukan warga NU?

Bagi Muhammad Al-Fayyadl, kalangan NU (khususnya yang lahir belakangan, red) serta warga bangsa untuk segera melakukan rekonsiliasi horisontal. "Dengan demikian ketegangan yang pernah terjadi dapat segera diurai serta menemukan titik temu," katanya, Ahad (1/10).

Dan media yang dapat dijadikan sarana untuk rekonsiliasi tersebut adalah shalawat. "Karena shalawat adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari warga NU," ungkap alumni magister di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan tersebut.

Mencari solusi dengan shalawat rekonsiliasi baginya bisa menjadi salah satu jalan tengah. "Akan baik kalau ada bacaan atau amalan shalawat yang mengarah kepada rekonsiliasi," terang alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk Sumenep tersebut.

Pria yang kini tinggal di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini tidak menampik kalau peristiwa berdarah G30S PKI terus menjadi perdebatan. "Lantaran selama ini, peristiwa tersebut ditutup-tutupi," katanya. 

Bagaimana mungkin kekuasaan Soeharto dengan Orde Barunya telah mendesain sedemikian rupa kejadian tersebut sehingga yang mengemuka hanya versi pemerintah. 

"Sehingga kalau sebagian masyarakat mempersoalkan dan ujungnya menjadi pro dan kontra seperti selama ini, hal tersebut adalah hal yang wajar," ungkapnya.

Bagi Al-Fayyadl, kejadian ini memberikan banyak pelajaran kepada bangsa. "Anak bangsa harus bisa memilih dan mempelajari fase hubungan antar golongan yang pada akhirnya untuk bersama mendiskusikan perjalanan yang terjadi," katanya. 

Mereka yang terlibat dalam sebuah peristiwa masa lalu, lanjutnya, dapat bertemu untuk mendiskusikan peristiwa yang pernah terjadi secara lebih terbuka.

Di ujung penjelasannya, Al-Fayyadl mengajak kalangan terpelajar di NU untuk banyak menulis buku sejarah. Ini untuk melengkapi buku dan catatan yang sudah ada. "Yang diwariskan jangan semata sejarah lisan," sergahnya. 

Manfaat dari menulis buku adalah agar semakin banyak sudut pandang yang bisa dijadikan rujukan dalam menilai sebuah peristiwa. "Dengan demikian akan semakin banyak misteri yang bisa diungkap," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG