IMG-LOGO
Nasional

Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi

Rabu 4 Oktober 2017 20:7 WIB
Bagikan:
Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi
Jakarta, NU Online
Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STAINU Jakarta bersama Omah Aksoro akan memperingati haul Ketua Umum pertama Pengurus Besar PMII H. Mahbub Djunaidi di kampus UNUSIA Jl. Taman Amir Hamzah 05, Jakarta, Kamis (5/10).

Pada haul ke-22 ini, panitia mempersembahkan Mahbubian Ngejazz dengan mengundang Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi untuk membaca manakib H. Mahbub Djunaidi. Sementara Syahrizal Syarif, Sulton Fatoni, Dwi Winarno, Fatkhu Yasin, Fariz Alniezar, dan Amsar A. Dulmanan akan membacakan esai-esai Mahbub Djunaidi.

Adapun Jazz Performance akan dibawakan Yuri Mahatma Mahbub Djunaidi, Isfandri Mahbub Djunaidi, dan Lingga Binangkit  ‘Band’, lalu ada penampilan Beben Jazz & komunitas  Jazz Kemayoran. 

Pada kesempatan itu akan diselingi pula dengan peluncuran buku Bung; Memoar Mahbub Djunaidi karya putranya, Isfandiari Mahbub Djunaidi.

“Jadi, nanti esai-esai Pak Mahbub, termasuk manaqibnya, itu kita dibacakan di sana kemudian ditambah permainan musik jazz dari putra-putra beliau,” kata penanggung jawab acara Fariz Alniezar saat ditemui NU Online di lantai 3 PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (4/10).

Menurut Fariz, gagasan hal yang dikemas dengan penampilan jazz sebetulnya sudah didiskusikan setahun lalu dengan para penikmat esai-esai seusai haul Mahbub ke-21. 

“Ada kepikiran mau bikin event Mas Yuri ditandemkan dengan Mas Isfan, tapi karena ada kendala teknis jadi, wngak jadi. Nah, konsep itu kita adopsi untuk kita ambil tema tahun ini,” urai pria berkacamata ini.

Fariz menjelaskan, balutan musik jazz pada haul ini ingin menyampaikan pesan tentang nilai demokrasi yang ditulis Mahbub di salah satu kolomnya tahun 75 di Tempo. 

“Jadi kalau pengen melihat demokrasi ya melihat musik jazz. Masing-masing bisa mengakomodir kepentingan pribadi tanpa menyalahi prinsip-prinsip aturan bermusik, tanpa menyalahi hak-hak orang lain, tanpa mengganggu  pemain-pemain lain yang penting harmoninya dapat,” terangnya. 

Kegiatan itu dimulai setelah dhuhur untuk mengakomodir sahabat-sahabat PMII Jakarta dengan disediakan panggung apresiasi. Setelah maghrib dilanjut pembacaan tahlil. Lalu puncaknya selepas salat isya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)


Tags:
Bagikan:
Rabu 4 Oktober 2017 22:0 WIB
Di Bawah Guyuran Hujan, Presiden Sapa Penduduk Desa Muruy
Di Bawah Guyuran Hujan, Presiden Sapa Penduduk Desa Muruy
Presiden bersama warga Desa Muruy, Menes, Pandeglang, Rabu (4/10)
Pandeglang, NU Online
Hujan deras mengguyur saat Presiden RI Joko Widodo berkunjung ke Desa Muruy, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Rabu (4/10). Namun, derasnya hujan tak mengurungkan niat orang nomor satu di Indonesia ini untuk berdialog dengan warga. Dalam waktu yang sama, Presiden Joko Widodo juga nekat untuk mengecek langsung pembangunan embung di desa setempat.

Embung Ranca Anis, begitu warga setempat menyebutnya. Di pelataran embung berkedalaman 2,5 meter dengan luas 30x30 meter ini Presiden Joko Widodo berinteraksi langsung dengan warga. Embung yang dibangun menggunakan dana desa sebesar Rp203 juta Tahun 2017 ini mampu mengairi 60 hektar area pertanian.

"Dalam tiga tahun ini telah dikucurkan dana desa ke daerah-daerah, ke desa-desa, sebesar Rp 127 Triliun. Yang pertama Rp20 Triliun, yang kedua Rp47 Triliun, yang ketiga Rp60 Triliun. Itu besar sekali, saya titip," ujarnya kepada warga.

Kedatangan Presiden Joko Widodo di Kabupaten Pandeglang ini untuk meninjau implementasi dana desa. Sekaligus, memastikan bahwa seluruh warga terlibat aktif mengawasi penggunaannya. Ia juga meminta seluruh kepala desa untuk berhati-hati dalam mengelola dana desa.

"Sampai tahun ini, ada kurang lebih 900 desa yang punya masalah. Hati-hati. Kepala desanya ditangkep. Saya tidak menakut-nakuti, (ditangkap) karena menyelewengkan dana desa. Saya titip, hati-hati menggunakan dana ini," ujarnya.

Presiden Joko Widodo menjelaskan, tahun 2015 sebagai tahun pertama dikucurkannya dana desa, masing-masing desa mendapatkan kurang lebih Rp300 juta per tahun. Selanjutnya di Tahun kedua kurang lebih Rp600 juta per tahun, kemudian sekitar Rp800 juta per tahun di tahun ketiga.

"Hati-hati, gedeee (besar) ini. Kalau tidak memberikan peningkatan pada kesejahteraan desa, pasti ada yang salah. Pasti ada sesuatu," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo saat mendampingi Presiden Joko Widodo mengatakan, dalam dua tahun berjalannya dana desa, anggaran tersebut lebih banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang memang masih banyak dibutuhkan oleh desa.

Menurutnya, infrastruktur tersebut ada yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi seperti halnya jalan, tapi ada juga yang tidak langsung memberikan pengaruh bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi melainkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, seperti turap penahan longsor, MCK, dan sebagainya.

"Tugas kita adalah terus meningkatkan keberhasilan dana desa ini dengan cara transparansi," ujarnya. (Red. Kendi Setiawan)




Rabu 4 Oktober 2017 21:15 WIB
HARI SANTRI 2017
Jadwal Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dan Upacara Bendera Hari Santri
Jadwal Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dan Upacara Bendera Hari Santri
Jakarta, NU Online
Dalam memperingati hari bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu Hari Santri, PBNU menginstruksikan kepada seluruh warga NU dan pengurus NU di berbagai tingkatan untuk menggelar 1 miliar shalawat nariyah dan upacara bendera.

Untuk pembacaan shalawat nariyah (info pembagian jumlah bacaan silakan klik www.harisantri.id) dilakukan pada Sabtu, 21 Oktober 2017/1 Shafar 1439 H. Adapun waktunya dilaksanakan pada pukul 19.30-22.30 WIB/WITA/WIT.

“Sedangkan upacara bendera dilaksanakan pada 22 Oktober 2017 pada pukul 09.00 WIB/WITA/WIT serentak di sekolah, madrasah, dan pondok pesantren di seluruh Indonesia,” jelas Kiai Said yang juga menjelaskan bahwa tema Hari Santri 2017 yaitu Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI.

Instruksi tersebut tertuang dalam surat resmi Nomor 1551?C.I.34/10/2017 tentang Instruksi Hari Santri 2017. Pembacaan shalawat nariyah sejumlah 1 miliar juga dilaksanakan pada peringatan hari santri 2016 lalu.

Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini menjelaskan, kegiatan pembacaan 1 miliar shalawat nariyah ini dalam rangka pertama, mengharap berkah dan sekaligus memohon pertolongan kepada Allah agar bangsa Indonesia selamat dari ancaman apapun. 

“Ini penting dilakukan agar kita tetap senantiasa hidup damai dan semoga negara ini menjadi apa yang disebut sebagai baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur,” tutur pria kelahiran Cirebon ini.

Kedua, imbuhnya, dalam momentum pembacaan 1 miliar shalawat Nariyah ini, PBNU ingin mengenang dan sekaligus mendoakan para pahlawan yang gugur dan tulus membela kedaulatan tanah air. 

“Jasa mereka, utamanya para ulama, selain harus kita kenang, yang tidak kalah penting adalah harus kita teladani,” tegas Helmy. (Fathoni)
Rabu 4 Oktober 2017 20:41 WIB
HARI SANTRI 2017
Ini Tema yang Diusung PBNU pada Hari Santri 2017
Ini Tema yang Diusung PBNU pada Hari Santri 2017
Upacara Hari Santri 2016 lalu di Monas.
Jakarta, NU Online
Hari Santri Nasional, sejak ditetapkan sebagai hari nasional pada 2015 lalu melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, peringatan hari santri dimanfaatkan oleh seluruh warga NU dan rakyat secara umum untuk mengenang dan meneladani perjuangan para ulama dan santri.

Pengakuan negara ini menunjukkan bahwa perjuangan kalangan pesantren dan rakyat Indonesia melalui fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 berhasil mengusir penjajah.

“Untuk mengenang, meneladani, dan melanjutkan perjuangan ulama dan santri, peringatan Hari Santri 2017 mengusung tema Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melalui keterangan resmi pada Rabu (4/10) di Jakarta.

Melalui tema peneguhan peran santri tersebut, Guru Besar Ilmu Tasawuf ini ingin menegaskan posisi strategis santri bagi bangsa dan negara, baik di bidang ilmu agama, sosial, kemasyarakatan, dan lain-lain.

Sesuai karakter kiai pesantren yang tidak berhenti memberikan inspirasi dan inovasi, santri pada zaman modern seperti sekarang ini juga diharapkan mampu berkiprah di segala bidang dan di semua lini kehidupan. (Fathoni)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG