::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi

Rabu, 04 Oktober 2017 20:07 Nasional

Bagikan

Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi
Jakarta, NU Online
Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STAINU Jakarta bersama Omah Aksoro akan memperingati haul Ketua Umum pertama Pengurus Besar PMII H. Mahbub Djunaidi di kampus UNUSIA Jl. Taman Amir Hamzah 05, Jakarta, Kamis (5/10).

Pada haul ke-22 ini, panitia mempersembahkan Mahbubian Ngejazz dengan mengundang Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi untuk membaca manakib H. Mahbub Djunaidi. Sementara Syahrizal Syarif, Sulton Fatoni, Dwi Winarno, Fatkhu Yasin, Fariz Alniezar, dan Amsar A. Dulmanan akan membacakan esai-esai Mahbub Djunaidi.

Adapun Jazz Performance akan dibawakan Yuri Mahatma Mahbub Djunaidi, Isfandri Mahbub Djunaidi, dan Lingga Binangkit  ‘Band’, lalu ada penampilan Beben Jazz & komunitas  Jazz Kemayoran. 

Pada kesempatan itu akan diselingi pula dengan peluncuran buku Bung; Memoar Mahbub Djunaidi karya putranya, Isfandiari Mahbub Djunaidi.

“Jadi, nanti esai-esai Pak Mahbub, termasuk manaqibnya, itu kita dibacakan di sana kemudian ditambah permainan musik jazz dari putra-putra beliau,” kata penanggung jawab acara Fariz Alniezar saat ditemui NU Online di lantai 3 PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (4/10).

Menurut Fariz, gagasan hal yang dikemas dengan penampilan jazz sebetulnya sudah didiskusikan setahun lalu dengan para penikmat esai-esai seusai haul Mahbub ke-21. 

“Ada kepikiran mau bikin event Mas Yuri ditandemkan dengan Mas Isfan, tapi karena ada kendala teknis jadi, wngak jadi. Nah, konsep itu kita adopsi untuk kita ambil tema tahun ini,” urai pria berkacamata ini.

Fariz menjelaskan, balutan musik jazz pada haul ini ingin menyampaikan pesan tentang nilai demokrasi yang ditulis Mahbub di salah satu kolomnya tahun 75 di Tempo. 

“Jadi kalau pengen melihat demokrasi ya melihat musik jazz. Masing-masing bisa mengakomodir kepentingan pribadi tanpa menyalahi prinsip-prinsip aturan bermusik, tanpa menyalahi hak-hak orang lain, tanpa mengganggu  pemain-pemain lain yang penting harmoninya dapat,” terangnya. 

Kegiatan itu dimulai setelah dhuhur untuk mengakomodir sahabat-sahabat PMII Jakarta dengan disediakan panggung apresiasi. Setelah maghrib dilanjut pembacaan tahlil. Lalu puncaknya selepas salat isya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)