IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said Bimbing Pemuda Asal Lamtim Masuk Islam di PBNU

Selasa 10 Oktober 2017 19:10 WIB
Bagikan:
Kiai Said Bimbing Pemuda Asal Lamtim Masuk Islam di PBNU
Jakarta, NU Online  
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membimbing seorang pemuda asal Lampung Timur atas nama Panca Windu Sugara memeluk agama Islam. Kiai Said membimbing Panca membacakan dua kalimat syahadat di gedung PBNU, Jakarta, selepas maghrib, Selasa (10/10). 

Menurut Kiai Said, memeluk agama Islam itu gampang dimulai dengan membaca syahadat, meyakini tiada tuhan selain Allah. Allah tidak ada bapak, tidak ada ibu, tidak punya anak dan diperanakkan. Serta Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian, pemeluk Islam harus belajar shalat dan puasa,  

Pada kesempatan itu, Kiai Said menjelaskan bahwa agama Islam memiliki kitab suci bernama Al-Qur’an. Kitab suci ini telah 15 abad tidak berubah satu titik pun. 

“Original hingga sekarang karena dihafal jutaan orang di seluruh dunia. Kalau ada kesalahan sedikit saja oleh percetakan, akan diketahui orang. Ketahuan walaupun satu huruf,” tegasnya.  

Al-Qur’an, menurut dia, bisa dihafal oleh orang mana pun. Orang Mesir, Indonesia, Amerika, Eropa, China, India. Itu keistimewaannya juga. Orang untuk menghafal selembar makalah bahasa Arab saja setengah mati susahnya, tapi Al-Qur’an dimudahkan Allah.

“Al-Qur’an bacanya ada aturannya, iramanya; tidak ada kitab suci seperti itu,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta, Selatan itu. 

Panca mengaku, memeluk agama Islam tidak ada paksaan sama sekali. Dan ia mengaku ingin memeluk Islam di PBNU agar lebih mantap. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 10 Oktober 2017 20:1 WIB
Baju Adat Membalut Para Kontingen di Pentas PAI 2017
Baju Adat Membalut Para Kontingen di Pentas PAI 2017
Kontingen Kalbar di Pentas PAI 2017.
Banda Aceh, NU Online
Tujuan mewujudkan semangat nasionalisme dalam bingkai religiusitas dalam Pekan Keterampilan dan Seni (Pentas) Pendidikan Agama Islam (PAI) VIII tahun 2017 di Banda Aceh diwujudkan melalui balutan pakaian adat dari 34 provinsi yang dikenakan oleh para kontingen.

Peragaan pakaian adat dari masing-masing perserta tersebut ditampilkan dalam proses defile kontingen, Senin (9/10) sesaat setelah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka kegiatan Pentas PAI.

Arif Rahman, salah satu kontingen asal Kalimantan Barat (Kalbar) mengungkapkan kebanggannya bisa mewakili daerahnya dalam menampilkan baju khas Kalbar.

Bersama rekannya Heba Rakasiwi, Arif yang merupakan murid SMA Al-Fityan Pontianak mengenakan baju adat Melayu dari Kalimantan di tengah antusiasmenya mengikuti lomba dalam Pentas PAI.

“Senang dan bangga bisa mewakili daerah saya untuk mengenakan baju adat,” ujar Arif.

Kontingen lain dari Jawa Tengah, Zulfah Ayu Pramitha yang mengenakan baju adat Jawa tak kalah bahagianya bisa maju di depan Menteri Agama mewakili daerahnya mengenakan pakaian adat.

“Identitas budaya harus menjadi kebanggaan generasi muda,” pesan siswi SMA Negeri 2 Kota Semarang ini.

Dalam proses defile, masing-masing provinsi menampilkan 10 orang siswa dengan 2 orang mengenakan pakaian adat, sedangkan 8 orang mengenakan baju seragam rapi.

Dalam kegiatan bertema Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan ini, Kementerian Agama berupaya memberikan kesadaran berbangsa kepada para siswa dengan menampilkan sejumlah atraksi budaya Aceh di antaranya Tari Saman, Tari Pameula Jamee, Rapai Aceh (sejenis rebana), dan penampilan khas daerah Aceh lainnya.

Tarian Peumulia Jamee akan menjadi tari pembuka pada pembukaan yang akan dibawakan oleh siswa-siswi berasal dari berbagai daerah di Aceh. Pembukaan dipusatkan di lapangan Taman Shulthanah Shafiatuddin Banda Aceh.

Menurut Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama, Imam Safei, kesadaran akan kebergaman Indonesia penting dipahami oleh peserta didik di sekolah.

“Pentas PAI ini berupaya menguatkan karakter keagamaan lewat sejumlah keterampilan dan seni Islam, juga memperkuat kesadaran akan kemajemukan Indonesia sehingga timbul rasa cinta tanah air,” ujar Imam Safei.

Kegiatan diikuti oleh 907 peserta dari unsur SD, SMP, SMA, dan SMK yang akan berkompetisi memperebutkan prestasi tertinggi di Pentas PAI Nasional tahun 2017 ini.

Di antara bidang yang dilombakan yaitu, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Cerdas Cermat PAI, Kaligrafi Islam, Seni Nasyid, Debat PAI, dan Kreasi Busana Muslim.

Selain dihadiri oleh Kepala Kanwil se-Indonesia, kegiatan yang pertama kali digelar di luar Pulau Jawa ini dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Gubernur Provinsi Aceh Irwandi Yusuf di Taman Sulthanah Shafiatuddin Banda Aceh. (Fathoni)
Selasa 10 Oktober 2017 19:3 WIB
Kasatkornas: Banser Harus Sigap Jalankan Tugas Kemanusiaan
Kasatkornas: Banser Harus Sigap Jalankan Tugas Kemanusiaan
Denpasar, NU Online 
Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isneini mengapresiasi puluhan kader inti Pemuda Ansor Jawa Tengah meningkatkan kapasitas pencegahan penanggulangan bencana agar bisa semakin sigap saat menjalankan tugas kemanusiaaan.

Berdasarkan data khusus disampaikan Kepala Satuan Khusus Nasional Banser Siaga Bencana, Chabibullah, ujar Alfa di Denpasar, Selasa (10/10), 70 persen dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah berpotensi terjadi bencana alam.

"Sehingga pelatihan untuk peningkatan kapasitas penanggulangan bencana alam bagi kader seperti kemarin itu sangat diperlukan," ujar Alfa yang bersiap memantau kegiatan kemanusiaan Banser bagi pengungsi Gunung Agung.

Sebanyak 60 kader Banser terlibat aktif dalam kegiatan Sahabat Taruna Tanggap Bencana atau Tagana dari unsur Banser Tanggap Bencana (Bagana) digelar Kementerian Sosial di Magelang, Jawa Tengah mulai 5 hingga 7 Oktober 2017.

"Kami bersyukur sahabat-sahabat Banser telah mendapat pengetahuan tambahan keilmuan spesialisasi tentang penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial. Hal itu tentu berdampak positif untuk kegiatan organisasi dalam jangka panjang. Insya Allah mereka siap menjadi relawan penanggulangan bencana alam maupun sosial," kata Chabibullah menambahkan.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut dibuka Kasubdit Kesiapsiagaan dan Mitigasi Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) Kementerian Sosial, Nur Amalia.

Dilansir dari laman kemsos.go.id, Amalia menilai sangat tepat jika Tagana bisa bersinergi dengan Bagana yang memiliki Sumber Daya Manusia besar dan jujur.

Tingginya risiko bencana alam di Indonesia membuat Kementerian Sosial mengharuskan setiap satu orang Tagana harus memiliki lima Sahabat Tagana.

Pembentukan relawan-relawan bencana dari unsur Banser sangat cocok karena BNPB telah mengeluarkan indeks risiko bencana dan terdapat 323 kabupaten dan kota berisiko tinggi terjadi bencana alam.

Sehingga dengan adanya Bagana berbagai macam bencana alam dan sosial disejumlah daerah bisa secepat mungkin tertanggulangi.

Amalian berharap, Tagana dan Bagana harus terus disinergikan dalam kegiatannya dan sama-sama menjadi ujung tombak dalam membantu masyarakat terkena musibah. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Selasa 10 Oktober 2017 17:11 WIB
Terima Kunjungan Umat Buddha, Kiai Said Jelaskan Prinsip Islam Nusantara
Terima Kunjungan Umat Buddha, Kiai Said Jelaskan Prinsip Islam Nusantara
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima kunjungan dari International Forum of Buddhist Muslim Relationship di lantai tiga Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

Setiba di ruangan Kiai Said, para tamu memperkenalkan identitas satu per satu. Kiai Said pun menerimanya dengan hangat.

Di hadapan para tamunya, Kiai Said menjelaskan tentang prinsip Islam Nusantara yang dijalankan oleh NU, yakni moderat, toleransi, dan antiradikalisme.

“Dulu, sekarang, dan seterusnya NU moderat, toleransi, dan antiradikalisme,” katanya.

Menurut Kiai Said, prinsip yang dipegang NU tersebut sekarang sudah mulai kuat. Melalui prinsip tersebut, NU ingin membangun persaudaraan sesama umat Islam dan sesama saudara sebangsa se-Tanah Air.

“Itu tidak pernah goyah dan semakin maju,” tegas kiai asal Kempek, Cirebon ini.

Pada kesempatan itu, kiai lulusan Ummul Qurro, Arab Saudi tersebut menyayangkan kejadian yang terjadi di Myanmar.

“Saya yakin itu keluar dari garis agama, tapi itu bisa mempengaruhi cara pemahaman cara pandang orang Indonesia yang masih sangat rawan, bisa menyulut radikalisme sebagian yang masih rawan,” katanya. 

Turut mendampingi Kiai Said, Bendahara Umum PBNU H. Ing Bina Suhendra, Ketua PBNU H. Eman Suryaman dan H. Aizzudin Abdurrahman.(Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG