IMG-LOGO
Opini

Menyelami Samudera Sayyidina Husein

Rabu 11 Oktober 2017 12:2 WIB
Bagikan:
Menyelami Samudera Sayyidina Husein
Oleh Sayyid Abubakar Hasan al-Attas az-Zabidi

Dalam rangka memperingati jatuhnya bulan Muharram, khususnya sebagai pengingat atas syahadah Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib yang wafat pada 10 Muharram 61H, kami menyusun artikel ini, yang berisi testimoni atau pengakuan tokoh-tokoh dunia tentang keagungan Sayyidina Husein dan bagaimana perjuangannya memberi inspirasi bagi manusia. 

Secara jujur, tokoh-tokoh dunia Barat dan Timur mengakui heroisme Sayyidina Husein dalam peristiwa di medan Karbala. Kekaguman para tokoh dunia terhadap kepahlawannya telah ditunjukkan lewat berbagai bentuk apresiasi, entah lewat tulisan berupa buku, artikel, syair-syair pujian, kutipan-kutipan singkat (quotes), hingga dalam bentuk aksi sosial. 

Charles Dickens berkata, “Jika Husein berperang karena hasrat dunia, maka aku tak mengerti mengapa saudaranya, istrinya, dan anak-anaknya menemaninya. Husein berkorban murni demi Islam.” 

Kita dapat melihat bagaimana perjuangan Sayyidina Husein menjadi pembangkit semangat dan inspirasi bagi tokoh-tokoh revolusi di seluruh dunia. Nama-nama besar seperti Mahathma Gandhi, Soekarno, Dalai Lama, Mao Ze Dong, Che Guevara, hingga filosof sekuler asal Jerman Friedrich Nietzche mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialaminya. 

Dalam pandangan Dalai Lama, perjuangan Sayyidina Husein adalah bentuk nyata dari keberlanjutan risalah yang dibawa datuknya, Nabi Muhammad SAW. Dalai Lama berkata, “Jika sekiranya agama Budha memiliki dua tokoh agung seperti Ali bin Abi Thalib dan putranya Husein, serta memiliki kitab Nahjul Balaghah dan peristiwa Karbala, maka niscaya tidak akan tersisa manusia di muka bumi kecuali menjadi penganut Budha. 

Thomas Carlyle, tidak hanya mengagumi Nabi Muhammad SAW, tetapi ia membaca sejarah secara menyeluruh, termasuk kisah yang dialami Sayyidina Husein. Ia mengatakan, “Pelajaran terbaik yang dapat kita peroleh dari tragedi Karbala adalah bahwa Sayyidina Husein dan sahabat-sahabatnya adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat kepada Tuhannya. Mereka menggambarkan bahwa keunggulan kuantitas tidak lagi dianggap ketika telah nampak jelas kebenaran dan kebatilan. Kemenangan Sayyidina Husein adalah ketika dia tidak menghiraukan jumlah pasukannya yang sedikit. Dari itulah yang membuat saya benar-benar kagum.”

Seorang penulis Kristen berkebangsaan Suriah, Antoine Bara, menghabiskan waktu selama enam tahun untuk melakukan penelitian tentang Sayyidina Husein. Empat tahun dihabiskan mempelajari berbagai macam referensi, dua tahun sisanya ia gunakan untuk menyusun buku yang berjudul Imam Hussein In Christian Ideology. 

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan telah dicetak lebih dari 20 kali. Ketika ditanya tentang penyusunan buku tersebut, apakah itu murni riset atau keinginan khusus belaka, ia mengatakan, “Kedua-duanya. Pada awalnya, menulis buku bertujuan ilmiah akan tetapi ketika saya semakin menyelami lebih dalam dan lebih luas tentang topik sejarah ini, tumbuh sebuah perasaan kebesaran Sayyidina Husein pada diri saya. Manusia ini telah mengorbankan dirinya untuk agama, prinsip-prinsip, dan menyelamatkan Muslim dari penyimpangan dari Islam guna memastikan berlanjutnya pesan dan penyampaiannya dari satu generasi ke generasi lain." 

Ketika orang-orang dari belahan dunia mengapresiasi buku tersebut dan ingin menerjemahkannya, Antoine Bara langsung menyetujui dan tidak mengambil keuntungan dari situ. Ia mengatakan, “Saya tidak menulis buku itu demi profit, melainkan karena keyakinan saya kepada Sayyidina Husein AS."

Ada sekian banyak pernyataan dan apresiasi yang berkaitan dengan perjuangan Sayyidina Husein. Antoine Bara mengatakan bahwa Sayyidina Husein bukan hanya milik umat Muslim, melainkan milik seluruh dunia. Bara mengatakan bahwa Sayyidina Husein adalah “hati nurani agama”. 

Allahumma shalli alaa Sayyidinaa Muhammad wa alaa aali Sayyidina Muhammad...

Penulis adalah Pimpinan Majelis Taklim Al-Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas Az-Zabidi yang juga mufti besar Kesultanan Ternate, Maluku Utara

Tags:
Bagikan:
Rabu 11 Oktober 2017 18:2 WIB
Teruntuk Wanita, Hati-hati dengan Rayuan Gombal
Teruntuk Wanita, Hati-hati dengan Rayuan Gombal
ilustrasi: eatprayandblog.info
Oleh Kamas Wahyu Amboro

Pacaran merupakan hubungan yang salah. Kebahagiaan yang didapat merupakan kebahagiaan yang salah. Biasanya, seorang lelaki dengan mudahnya menyatakan cinta kepada seorang wanita dengan kata-kata mesra dan janji-janji palsu.

Kata rayuan itu memaang sangat menggoda, sepertI ini misalnya, “ade, aku mencintaimu. Aku akan menyayangimu seumur hidupku,”atau dengan memberikan kata-kata yang bisa dibilang sangat meyakinkan kita, “ade, aku akan setia padamu. Jadilah kekasihku,”Perhatikan! itu merupakan kata-kata gombal yang sebenarnya memiliki satu tujuan. Menjadikanmu menjadi orang yang selalu disisinya, yang bisa mengisi hatinya yang kosong.

Sebenarnya tak ada lelaki setia sebelum dia menikah. Kenapa? karena jodoh berada ditangan-Nya. Jika ia memintamu sebagai pacarnya, tolaklah dia dengan cara yang baik sembari memberikan nasihat. Contoh, “maafkan aku, bukankan Allah sang maha cinta melarang itu. Daripada memikirkanku yang tak ada gunanya. Sebaiknya manfaatkan waktumu untuk meraih cita-citamu. Dan janganlah bersedih. Bersemangatlah dalam menjalani kehidupan sebagai seorang pemimpi dan sebagai seorang muslim”.

Menolak cinta dengan baik sangat membantu dia. Karena kebanyakan orang sulit dinasihati orang lain yang tak memiliki hubungan batin, tapi mudah dan tanggap dinasihati oleh orang yang ia cintai. mungkin nasihatmu bisa menjadikan dia lebih baik lagi.

Tak hanya rayuan gombal dengan bahasa puitis, biasanya lelaki memberikan hadiah yang beraneka ragam. Hal itu dianggapnya sebagai bukti cintanya. Bagaimana menyikapi hal seperti ini? Saat ada seorang lelaki yang memberikan kita bermacam-macam barang dengan dalih cinta kepadamu? Seperti yang saya jelaskan di awal, tolaklah dia dengan cara yang baik, dengan memberikannya nasihat yang membuatnya tetap tegar dan bersemangat. Karena pada hakikatnya dia adalah saudara kita yang sedang menuju jalan yang salah.

Dan jika kamu sekarang sedang memiliki hubungan spesial. Cukupkan saja sampai di sini. Semesra apa pun itu, seindah apa pun kisahmu itu, karena apa pun alasannya itu merupakan hubungan yang salah. Putuskan dia dengan cara yang baik. Jangan langsung, “yank, hari ini kita putus?” dan jangan sampai keputusan itu membuat kamu move on dengan pacar baru. Tapi jadikan ‘putusmu’ dengan kekasihmu sebagai kenangan terakhir dan tak akan mengulang kembali kisah romantisme yang salah.

Biasanya sulit untuk memutuskan hubungan, ada sebagian orang berpendapat, “saya kan cuma sms-an, cuma ketemu sebentar tidak pegangan tangan, tidak melakukan hal-hal yang buruk,” Walaupun hubungan romantisme pacaranmu hanya seperti itu, tetapi itu membuat hatimu semakin berpaling dari Allah SWT. Selain itu, hal itu membuat konsentrasimu dalam belajar menurun. Bohong, jika ada orang yang lebih bersemangat belajar karena pacaran.

Cinta yang hakiki adalah cinta yang bangun di atas tali pernikahan. Itu adalah salah satu goal  sebagai lelaki. Kita seyogyanya mempersiapkan diri untuk bisa menjadi pribadi yang sukses dan saleh. Dan sebagai wanita, harus bisa menjadi pribadi yang sukses dan salehah. 

Karena pernikahan adalah satu-satunya jalan, sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan untuk bisa menjalin asmara. Dan pernikahan merupakan sunnah Nabi SAW. Di dalamnya terdapat berbagai macam keberkahan dan hal-hal yang positif.

Dengan pernikahan seseorang bisa menjalin asmara tanpa takut dosa, tanpa malu di lihat orang, tanpa harus mengumpat ke sana-ke sini. Bahkan akan menjadikan nilai pahala. Di dalamnya juga terdapat romantisme dan tanggung jawab. Seorang ayah mencari nafkah dan seorang ibu mengurus segala keperluan di rumah. Itu merupakan kisah asmara yang sangat romantis. So, mulai saat ini mari kita persiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya.


Penulis adalah Pimpinan Umum Majalah Orasi CSSMoRa UIN Sunan Gunung Djati Cirebon

Rabu 11 Oktober 2017 7:29 WIB
Jihad Santri Masa Kini
Jihad Santri Masa Kini
Oleh Muhammad Afiq Zahara

Di masa lalu banyak sekali perjuangan melawan penjajah yang dilakukan para kiai dan santri-santrinya. Jauh sebelum tanggal 10 November 1945. Di Cirebon, terjadi Perang Kedondong (1802-1818 M) yang dimpimpin Ki Bagus Rangin dan Kiai Jatira (Pesantren Babakan, Ciwaringin). Di Banten, terjadi Geger Cilegon 1888 (perang melawan Belanda) yang dikomandoi oleh Kiai Wasyid dan Tubagus Ismail, keduanya murid Syeikh Abdul Karim Banten.
 
Di Yogyakarta dan Jawa Tengah, terjadi Perang Diponegoro (Perang Jawa) yang dilakukan para ulama di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro dari Kesultanan Ngayogyakarto. Belum perang-perang kecil yang dilakukan para kiai melawan penjajah di berbagai daerah.

Di bumi Sumatera, Aceh menjadi wilayahyang paling sukar ditaklukkan Belanda. Mereka tertarikdengan kekayaan alam Aceh, khususnya lada dan minyak, sehingga Belanda melakukan invasi besar-besaran pada tahun 1873 M. Tidak ada yang memprediksi bahwa proses pengambil-alihan Aceh membutuhkan waktu 30 tahun lamanya (1873-1904 M), hingga para jenderal yang memimpin perang penaklukkan dikritik keras oleh publik Belanda karena perang berjalan terlalu lama, memakan banyak biaya dan taktik brutal yang diterapkan militer Belanda. (Adrian Vickers, A History of Modern Indonesia, Cambridge: Cambridge University Press, 2005, hlm 10-11).

Keberhasilan Aceh dalam menjaga wilayahnya bertahun-tahun tidak lepas dari peran para ulama dan murid-muridnya. Hal ini dibuktikan oleh saran Snouck Hurgronje (1857-1936 M) kepada Joannes Benedictus Van Heutz (1851-1924 M), Gubernur Jenderal Belanda, untuk mengesampingkan dulu serangan terhadap golongan bangsawan dan pengikutnya.

Hurgronje menyarankan agar militer Belanda memfokuskan targetnya kepada para ulama dan para pengikutnya. Strategi yang ditawarkan bersifat anti kompromi (perundingan) tapi juga berusaha menarik hati rakyat Aceh dengan mendirikan masjid, musholla, memperbaiki saluran irigasi dan lain sebagainya. (Adrian Vickers, 2005, hlm 13).

Setelah dua tahun berhubungan langsung dengan masyarakat Aceh, Hurgronje melakukan pemetaan metodelogis yang menyimpulkan bahwa pondasi utama rakyat Aceh adalah para ulama, seperti yang ditulis dalam bukunya, De Acehers (Rakyat Aceh). Buku ini kemudian menjadi acuan Van Heutz untuk melanjutkan kampanye militernya di wilayah Aceh dan akhirnya berhasil setelah menggunakan saran yang diberikan Snouck Hurgronje.

Semua itu adalah sedikit gambaran perjuangan ulama dan santri di masa lalu. Bagaimana dengan santri di era sekarang ini, meminjam bahasa populer ‘bagaimana santri di jaman now?’.

Dalam bahasa agama ‘berjuang’ disebut jihad. Di masa perang, jihad berarti mempertahankan diri dengan mengangkat senjata ketika ditindas dan dijajah. Jihad bukan berarti perang, tapi mempertahankan haknya menggunakan senjata merupakan bagian dari jihad. Sekarang telah terjadi reduksi makna jihad menjadi sekedar perang. Tidak hanya itu, bahkan aksi teror telah dianggap sebagai salah satu bentuk jihad.Ini salah. Karena di al-Qur’ân sendiri dikatakan (Q.S. al-Furqan [25]: 52):

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka menggunakan Al Quran dengan jihad yang besar.”

Sayyidina Abdullah bin Abbas ra menafsirkan “bihi” dalam kalimat “wa jâhidhum bihi” sebagai al-Qur’ân (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, juz 3, hlm 337). Artinya, berjihad dengan al-Qur’ân merupakan jihad yang besar atau al-jihâd al-akbar, bukan jihad dengan peperangan (jihad kecil). Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa kota Madinah ditaklukkan menggunakan al-Qur’ân, melalui perantara Sayidina Mus’ab bin Umari ra, bukan dengan pedang seperti kota-kota lainnya.

Itulah yang membuat Madinah berbeda—futihat bi al-qur’ân (ditaklukkan menggunakan al-Qur’an), yaitu dengan dakwah dan menjelaskan isi yang terkandung di dalam al-Qur’an sehingga menarik hati penduduknya untuk menerima agama Islam dengan tulus, tanpa paksaan.

Dengan dasar itu, perjuangan santri di masa sekarang adalah dakwah, bukan dakwah yang sekedar menyeru, melainkan dakwah dalam ruang lingkup yang lebih luas, karena itu dalam al-Qur’an disebut dengan jihad. Jika diuraikan dapat dibagi dalam beberapa kategori, meski tidak mewakili secara keseluruhannya:

Pertama, jihad sosial, yaitu jihad yang garapannya pokoknya adalah perbaikan sosial, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kurang mampu. Orang-orang dari agama lain telah menggarap bagian ini dengan sangat baik, salah satu contoh yang mereka lakukan adalah pembangunan irigasi dan mengalirkan air dari bawah ke atas di beberapa desa yang kekurangan air. Tidak sedikit dari penduduk desa itu yang kemudian tertarik terhadap agama yang dibawa orang-orang tersebut.

Dulu, para wali menggunakan pendekatan ini. Mereka adalah ahli agama yang juga ahli irigasi, pertanian, perikanan dan lain sebagainya. Dengan kemampuannya itu, mereka berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat yang hendak mereka bujuk untuk memeluk agama Islam.

Kedua, jihad kultural, yaitu jihad melestarikan budaya keagamaan yang telah ada dan mendekatkan beragam dimensinya sehingga lebih mudah diterima dan diamalkan oleh masyarakat, tanpa mengurangi esensi inti ajaran Islam, khususnya untuk orang-orang yang baru bertaubat atau mengenal Islam.

Ketiga, jihad spiritual, yaitu jihad yang mendorong para pengamal agama untuk memperbaiki kualitas ibadah mereka dengan permenungan, tadabbur dan tafakkur. Mempertanyakan kembali seluruh amal ibadahnya untuk menghasilkan kualitas ibadah yang lebih baik. Tujuannya agar tidak ada kesombongan dalam beragama.

Keempat, jihad pengetahuan, yaitu jihadmembangun dasar argumentasi yang kuat, untuk melindungi karakter beragama kita yang menghargai keragaman, agar tidak mudah dikebiri oleh pandangan baru yang memecah. Untuk itu dibutuhkan bangunan argumentatif (hujjah) yang kuat, khususnya dalam menghadapi penyebaran berita bohong di media sosial.

Kelima, jihad peradaban, yaitu jihad yang arahnya menciptakan masyarakat yang beradab atau harmonis, saling menghormati dan menghargai meski berbeda-beda. Masyarakat yang memadang diversitas atau kebhinekaan sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Masyarakat yang mampu menjadi pelengkap bagi lainnya, sehingga nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan dapat berjalan berdampingan dengan serasi, tanpa mencuri pandang curiga satu sama lainnya.

Dengan kata lain, jihad santri masa kini memiliki ranah garapan yang luas. Lima kategori jihad di atas sama sekali belum mewakili semuanya. Masih banyak pendekatan jihad yang harus diterapkan. Pada hakikatnya, segala sesuatu yang berkaitan dengan inner struggle (perjuangan batin) ke arah yang lebih baik adalah jihad. Hijrah dari keburukan menuju kebaikan adalah jihad. Berbakti kepada orangtua adalah jihad. Mengasihi sesama adalah jihad. 

Kenapa disebut jihad? Karena semua manusia memiliki celah di hatinya, entah itu rasa malas, masa bodoh ataupun acuh tak acuh. Dengan demikian, perjuangan melawan sifat-sifat negatif dalam diri manusia adalah jihad, yang di fase berikutnya melahirkan internal conflict (konflik internal) antara sisi baik manusia dan sisi buruknya.

Siapakah yang akan menang? Itu tergantung seberapa kuat pertahanan dan kemampuannya dalam terus berjihad.
Sebagai akhir kalam, rasanya sukar untuk tidak terperdaya oleh perkataanpemikir bebas asal Mesir, Jamal al-Banna tentang jihad. Katanya:

أن الجهاد اليوم ليس هو أن نموت في سبيل الله, ولكن أن نحيا في سبيل الله

“Sesungguhnya jihad di masa kini bukanlah mati di jalan Allah, melainkan hidup di jalanNya.” (Jamal al-Banna, Jihâd, hlm 212). Wallahu a’lam bi al-shawab.

Penulis adalah Alumnus Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
Selasa 10 Oktober 2017 12:1 WIB
'Negara Pesantren' Kiai Abdul Ghofur
'Negara Pesantren' Kiai Abdul Ghofur
KH Abdul Ghofur
Oleh Ahmad Ali Adhim

Pengasuh Pesantren Sunan Drajat Lamongan yang keturunan Kanjeng Sunan Drajat (Raden Qosim) ke-14 ini selalu mempunyai ciri khas tersendiri dalam mensyiarkan agama Islam. Beliau adalah Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beberapa kali putra H. Marthokan ini mendapat gelar doktor honoris causa dari universitas dalam dan luar negeri karena pengabdiannya yang luar biasa untuk masyarakat, seperti penganugerahan Doktor HC di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii, Amerika. Tanpa melalui proses belajar di kampus, beliau berhasil meneliti “Khasiat Buah Mengkudu dan Pelestarian Tanaman” yang akhirnya beliau juga mendapat gelar profesor.

Pesantren peninggalan Wali Songo yang nyaris terkubur oleh sejarah itu, kini di bawah asuhan Kiai Abdul Ghofur memiliki kurang lebih 12.000 santri. Rasanya hal itu sebanding dengan proses belajar Kiai Abdul Ghofur, jika kita runtut kembali melihat riwayat pendidikan yang pernah beliau tempuh. Pada masa mudanya beliau Menghabiskan waktu belajarnya di Pondok Pesantren Denanyar – Jombang, Pondok Pesantren Kramat dan Sidogiri di Pasuruan, Kemudian melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Sarang, Rembang dalam asuhan KH Zubair, lanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo, Pesantren Tretek, Pesantren Roudhotul Qur’an Kediri. Sempat menimba ilmu juga di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Pengalaman beliau sebagai kiai yang setiap hari menjadi tempat keluh kesah berbagai permasalahan kehidupan masyarakat, membuat beliau menarik kesimpulan bahwa pendidikan di pesantren merupakan ruang belajar yang terbaik. Selain tidak terpengaruh pergaulan bebas, seks bebas, dan narkoba, pesantren juga menjadikan seseorang selain mendapat ijazah resmi dari negara juga menjadikan seseorang bisa mengaji (baik Al-Qur’an maupun kitab kuning), berceramah agama dan berkhutbah, memimpin doa, kemampuan-kemampuan keahlian keagamaan lainnya yang berguna saat terjun di masyarakat nanti. Pendidikan di pesantren yang tidak bisa terlepas dari budaya ngantri, jauh dari orang tua, makan yang dibatasi, jam tidur yang singkat, dan padatnya kegiatan yang harus diikuti akan membentuk pribadi yang sabar, sederhana, rendah hati, peduli, ikhlas, rajin, disiplin, hemat, bersahaja, santun, dan beradab.

Manfred Ziemek (seorang ahli sosiologi) telah mengutip pendapat Kalnia Bhasin dan mengemukakan rumusan secara sederhana, di sini secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah ditujuan untuk mempersiapkan pimpinan-pimpinan akhlak dan keagamaan. Setelah proses pembelajaran di bangku sekolah selesai diharapkan para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri untuk menjadi pimpinan yang tidak resmi dari masyarakatnya. Rumusan tujuan pendidikan pesantren di atas merupakan sintesa dari beberapa tujuan pendidikan pesantren yang pernah dikunjungi Klania Bhasin. Rumusan tujuan tersebut ada titik temunya jika dikomparasikan dengan ayat Al-Qur’an yang artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah: 122)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, maka dalam merumuskan tujuan atau cita-citanya tentu saja mengarah kepada nilai-nilai Islam, baik rumusan tersebut secara formal atau hanya berupa slogan-slogan yang didawuhkan oleh pengasuh pesantren. Jika mengacu pada buku yang diterbitkan Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1984/1985, hal. 6-7, di situ sangat jelas bahwa misi awal Proyek Pembinaan dan Bantuan kepada pondok pesantren, Dalam Standarisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren menuju suatu lokakarya intensifikasi pengembangan pendidikan pondok pesantren bulan Mei 1987 di Jakarta telah merumuskan beberapa tujuan institusional pendidikan pesantren yang salah satunya secara khusus bertujuan untuk mendidik santri dan anggota masyarakat agar menjadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan, sehat lahir dan batin sebagai warga negara yang berpancasila. 

Rupanya untuk mencapai tujuan mulia itu, KH Abdul Ghofur memilih jalur Thoriqoh Pendidikan. Bagaimanakah konsep Thoriqoh Pendidikan yang ditawarkan oleh beliau? Dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thoriqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.”

Imam Ghazali dalam karyanya Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunah pada malam hari, berpuasa sunah, serta menghindari kata-kata yang tidak beguna.

Annemarie Schimmel (Seorang ahli dalam bidang mistisisme Islam) dalam karyanya Mystical Dimensions of Islam (USA: The University of North Carolina Press, pada tahun 1975, halaman 98, ia mengartikan thoriqoh dengan istilah: “The tariqa, the “path” on which the mystics walk, has been defined as “the path which comes out of the sharia, for the main road is called shar‘i, the path, tariq.” This derivation shows that the Sufi’s considered the path of mystical education a branch of that high -way that consists of the God-given law, on which every Muslim is supposed to walk. No path can exist without a main road from which it branches out ; no mystical experience can be realized if the binding injunctions of the shar’ia are not followed faithfully first. The path , tariqa, however, is narrower and more difficult to walk and leads the adept—called salik, “wayfarer”—in his suluk, “wandering,” through different stations (maqam) until he perhaps reaches, more or less slowly, his goal, the perfect tauhid, the existential confession that God is One.”

Definisi tersebut memberi gambaran bahwa thoriqoh adalah jalan khusus bagi salik (penempuh jalan ruhani) untuk mencapai kesempurnaan tauhid, yaitu ma’rifatullah. Jalan yang diambil oleh para sufi berasal dari jalan utama, syariat. Dijelaskan oleh Carl W. Ernst seorang spesialis dalam studi Islam, dengan fokus di Asia Barat dan Selatan dalam bukunya Ajaran dan Amaliah Tasawuf yang diterjemahkan oleh Arif Anwar pada tahun 2003 hal 153. Adapun thoriqoh dalam bentuk institusi baru muncul pada abad 11. Awalnya merupakan gerakan bersifat privat yang dilakukan oleh orang-orang yang sepaham pada awal-awal masa Islam, akhirnya tumbuh menjadi suatu kekuatan sosial utama yang menembus sebagaian besar masyarakat Muslim.

Dalam Al-Qur’an sendiri, misalnya jika ditinjau dalam surat Al-Jin Ayat 16, kita akan menemukan penjelasan seperti ini “Dan jika manusia tetap pada suatu thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan. Sedangkan dalam bidang tasawuf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti jalan untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi mengatakan “jalan menuju Allah itu sebanyak hitungan nafas makhluk”, aneka ragam dan bermacam-macam.

Untuk memahami seperti apakah thoriqoh pendidikan yang dimaksud oleh Kiai Abdul Ghofur, kita bisa mengingat kembali bahwa Ibnu Abdil Barr pernah meriwayatkan satu hadits yang artinya seperti ini ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi Rasulullah pernah bersabda ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. Kedua Hadits itu sudah sangat jelas bahwa menuntu ilmu (proses dalam pendidikan) adalah suatu jalan yang harus kita tempuh.

Kiai Abdul Ghofur dalam ceramahnya pernah menyampaikan “Aku wakafkan hidupku untuk pendidikan, dan thoriqohku adalah pendidikan.” Dapat kita fahami bersama, beliau sangat peduli terhadap pendidikan, karena bagi beliau “pendidikan” akan menjadikan manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Bila kita merujuk pada tujuan pendidikan di negara kita seperti yang tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3. Tujuan pendidikan dan pengajaran, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Mengusung misi yang sangat mulia seperti itu kenapa perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren tidak begitu serius? Kiai Abdul Ghhofur sangat prihatin kenapa pesantren dijadikan pilihan kedua bahkan terakhir oleh banyak para orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya?

Padahal tujuan pendidikan pesantren (Islam) sudah sangat jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Seperti itulah ajaran-ajaran yang diberikan dalam pesantren. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.

Konteks yang lebih menarik dari pengertian tujuan pendidikan adalah bagaimana kita melawan kebodohan dan kemalasan yang ada dalam diri kita. Sebagaimana dawuh Kiai Abdul Ghofur “Sekarang sudah bukan masanya berjihad dengan peperangan, akan tetapi yang lebih tepat adalah berjihad melawan kemalasan dan kebodohan, yaitu dengan cara memperbanyak beribadah, serius dalam belajar.”

Begitu agung dan bijaksana nasihat yang telah beliau berikan kepada kita, seakan-akan beliau mengajak kita semua untuk membuat “negara pondok pesantren“. Dimana semua pendidikan di negara ini berbasis pondok pesantren. Serta semua pemimpin dan pejabatnya sebisa mungkin harus lulusan pondok. Karena bagi beliau, dengan memiliki pemimpin lulusan pondok pesantren, maka Insya Allah negara kita akan menjadi negara yang sejahtera, religius, dan bebas korupsi. Seperti itulah Konsep Thoriqoh Pendidikan yang dikembangkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat oleh KH Abdul Ghofur, kurang dan lebihnya hanya Allah SWT dan Kiai Abdul Ghofur yang tahu.

Penulis adalah mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG