IMG-LOGO
Trending Now:
Opini

Gerakan Membangun Makam Imam Ghazali di Thus

Jumat 13 Oktober 2017 3:0 WIB
Bagikan:
Gerakan Membangun Makam Imam Ghazali di Thus
Tempat itu diduga makam Imam Ghazali di Thus
Oleh Abdul Hakim 

Di dunia Islam, baik timur maupun barat, siapa yang tak kenal dengan dengan Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad ath Thusi (1111 M). Ia dikenal dengan nama Imam Ghazali. Seorang ulama yang berhasil menggagas kaidah-kaidah tasawuf yang terkumpul dalam karya yang terkenal Ihya Ulumuddin (The Revival of Religion Sciences). Karya magnum opus yang hingga saat ini menjadi sumber referensi akademis baik di dunia Timur maupun dunia Barat.

Karya-karya yang dikenal hujjatul Islam itu masih bisa kita nikmati hingga saat ini, tapi sangat disayangkan, tempat jasadnya dikebumikan, tak layak disebut makam ulama. Makamnya di Thus, Khurasan, Iran, yang konon sejak 7 tahun lalu ditemukan, hanya dipagari dengan kawat dan beratapkan bahan seadanya, serta di sekelilingnya terlihat rumput-rumput liar.

Jika itu benar, saya berharap kepada semua pecinta Imam Ghazali, mari bergerak mendermakan hartanya. Jika sudah terkumpul, mari kita meminta ahli arsitek khusus dari Indonesia untuk terbang ke Thus atau Khurasan dengan membawa rombongan para pekerjanya, tentunya dengan perizinan pemerintah di sana, untuk merehab atau pembangunannya. 

Jika hal itu dapat direalisasikan, insyaallah, makam beliau akan semakin hidup dan bisa jadi tujuan destinasi ziarah wali bagi Muslimin pecinta Imam Ghazali dari seluruh dunia.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki”. 

Ayat tersebut mengatakan, para wali dan syuhada atau mujahid yang berjuang di jalan Allah tidaklah wafat, bahkan mereka hidup disisi Allah SWT. 

Kita bisa mencontoh dengan yang sudah dilakukan Muslimin terhadap makam para dzuriyat Rasul, seperti Sayidina Ali (661 M) dan Sayidina Husein (680 M) di Irak serta Sayidina Ali Arridha (819 M) yang tidak jauh dari makam Imam Ghazali. Begitupun dengan makam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (820 M) yang berada di Mesir. Di makam-makam terlihat hidup dan memberi banyak manfaat bagi para pecintanya, dimana di sana dibangun perpustaan yang merangsang terjadinya halaqoh-halaqoh majelis ilmu.

Di lain sisi kita patut bersedih terhadap kondisi makam para istri Rasulullah SAW, putra, putri dan cucunya serta para sahabat dan aulia yang berada di Jannatul Baqi' Madinah Al Munawarah. Pada tahun 1925 M, makam mereka dahulu diratakan pemerintah Saudi atas dukungan Wahabiyin antiziarah. 

Mari kita bergerak, jangan kita pandai membangun yayasan dan rumah kita saja, lalu kita melupakan diri untuk merawat makam orang yang kita cintai. 

Jika bukan kita siapa lagi yang dapat merealisasikan gerakan pembangunan ini? Jika bukan kita, maka siapa lagi yang dapat mencerdaskan umat agar semangat dalam menjaga atsar ulama dan aulia. Jika bukan kita maka siapa lagi yang dapat menjaga sejarah mereka? Sudikah kita memiliki generasi yang tak mengenal sejarah hanya karena hilangnya atsar tersebut?


Penulis adalah Sekretaris LTN PCNU Kabupaten Bogor, anggota Gusdurian Depok

Bagikan:
Jumat 13 Oktober 2017 7:1 WIB
Semua Akan Santri Pada Waktunya
Semua Akan Santri Pada Waktunya
Oleh Aswab Mahasin

Awalnya penetapan hari santri tanggal 22 Oktober tidak sedikit menyulut pro-kontra di kalangan masyarakat, alasannya adalah dikhawatirkan mengkotak-kotakan ummat Islam Indonesia. Selain itu, penetapan hari santri juga terkesan keputusan politik pemerintah dalam rangka memenuhi janji kampanye Jokowi. Apakah demikian?

Hari santri mulai ditetapkan tahun 2015 dan sekarang hiruk-pikuk perselisihan hari santri sudah tidak lagi mengemuka. Hal yang wajar dan merupakan sebuah kewajiban di alam Indonesia ini,di mana santri merupakan bagian terpenting dalam perjuangan kemerdekaan dan menyumbangkan banyak pemikiran dan model keislaman Indonesia yang damai dan santun, tidak berlebihan jika Indonesia mempunyai hari santri setiap tahunnya. Setidaknya sebagai pengingat-ngingat kita semua, tentang sejarah, tentang ulama/kiai, tentang pesantren, tentang santri, dan sebagainya.

Kalau dianggap hari santri sebagai ‘bingkisan’ politik dari kampanye Jokowi, bagi saya merupakan nilai plus dalam suasana tradisi politik Indonesia—i'tikad baik merealisasikan janji kampanye harus diapresiasi. Asalkan itu positif, dan hari santri adalah positif.

Jika dikatakanhari santri akan menyempitkan makna santri—hanya dari kalangan Nadlatul Ulama saja, sepertinya tidak juga. Hari santri memang inisiatif yang dimunculkan oleh NU. Namun, hari santri sudah menjadi hari nasional, dan semua orang yang merasa dirinya santri berhak ikut merayakan hari santri. Sama sekali tidak ada yang termarginalkan dalam hari santri ini. Kalau masih ada yang merasa terpinggirkan, itu hanya perasaan mereka saja. Mari kita nikmati bersama.

Ada juga ungkapan menyatakan,‘hari santri bisa menyempitkan makna, yakni perjuangan kemerdekaan diupayakan kalangan santri’. Bagi saya, ungakapan itu sama sekali tidak “presisi”. Indonesia banyak memiliki hari, hari kartini, hari pahlawan, hari kesaktian pancasila, dan hari-hari lainnya.

Tidak bisa juga menarik makna, hari kartini akan menimbualkan kesan bahwa perjuangan kemerdekaan hanya diupayakan oleh Kartini. Tidak begitu bukan? Begitupun dengan hari santri. Kemerdekaan bangsa ini diperjuangkan oleh seluruh masyarakat Indonesia, dan salah satunya adalah kaum santri.

Itulah beberapa nada miring yang muncul ketika hari santri ditetapkan. Di Indonesia ini pro-kontra bukan perkara aneh. Tinggal bagaimana kita menjawab pro-kontra itu menjadi sebuah kepantasan di masa yang akan datang. Santri dengan ‘embel-embel’ sejarahnya laik memiliki tanda hari.

Tanggal 22 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai hari santri, ini merujuk pada perjuangan ulama dan santri dalam perjuangan jihad kemerdekaan yang ditandai dengan ‘resolusi jihad’ 22 Oktober 1945. Resolusi itu membakar jiwa nasionalisme santri untuk melawan diskriminasi terhadap Indonesia, dan akhirnya perjuangan meletus pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya yang sekarang dijadikan sebagai hari pahlawan.

Kebelakang lebih jauh, sebelum NU berdiri 1926, jauh sebelum itu perjuangan yang mengatasnamakan diri sebagai kaum santri sudah meletup. Perang Diponegoro di Jawa (1825-1830), dan perang Aceh (1875-1903). Dalam buku Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari yang ditulis oleh Drs. Lathiful Khuluq, M.A. “Perang-perang tersebut merupakan perlawanan bersenjata kaum santri melawan imperialis Belanda yang berakhir dengan pencaplokan wilayah-wilayah tersebut ke dalam kontrol Belanda dan konsolidasi kekuasaannya terhadap wilayah Nusantara. Peperangan-peperangan ini telah menguras kekayaan Belanda, sehingga mereka melaksanakan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) untuk menanggulangi kerugian.

Kebijakan yang dimulai 1830 ini memperkaya Belanda, memiskinkan pribumi, dan berpihak pada kelompok minoritas Arab dan Cina. Namun, dari tanam paksa ini munculnya kesadaran sebagian birokrat Belanda terhadap “utang budi” kepada bumi pertiwi, terlahir istilah politik etis. Belanda memfasilitasi pendidikan untuk pribumi. Namun, akses pendidikan ini hanya bisa dijangkau oleh mereka para priyayi, sedangkan masyarakat bawah sama sekali tidak menerima pendidikan. Dan Pesantren sebagai lembaga pendidikan “merakyat” menampung semua lapisan masyarakat untuk belajar. Singkat certita, dari sinilah terjadi pembatas antara elit priyayi, elit abangan, dan elit santri. Melahirkan dualisme sistem pendidikan. (Drs. Lathiful Khuluq, M.A. Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari, 2000. hlm. 3)

Dengan demikian, pesantren harus tetap menjadi alat perlawanan politik/budaya diskriminatif—sebagai penyeimbang kondisi zaman yang susah dikontrol. Karena pendidikan di pesantren tetap berbeda dengan pendidikan pada umumnya (sekolah formal). Pendidikan sekolah hanya mengutamakan kognitif (pengetahuan semata) tidak memperdulikan kualitas moral siswanya, pemabok, penjudi, suka tawuran, suka pakai narkoba, dan sebagainya di ruang lingkup sekolah/kampus tetap bisa “lulus” yang penting mereka hadir di ruang kelas (model pendidikan ini terdapat pemisahan antara pengetahuan dan agama), walaupun pelajaran agama tetap ada. Namun, bukan pengaruh besar dalam membina akhlak (karena hanya 2 jam dalam seminggu). Berbeda sistem pendidikan di pesantren, ada keseimbangan antara pengetahuan dan agama. 

Menurut KH. Hasyim Asy’ari meyakini bahwa dalam meluruskan karakter dan mendidik akhlak melalui pendidikan budi pekerti adalah sebuah keniscayaan. Bahkan lebih lanjut dijelaskan oprasional pendidikan pada hakikatnya adalah proses saling mempengaruhi antara fitrah dan lingkungan.

Berarti, peran pendidikan di samping berfungsi dalam pengembangan kreativitas dan produktivitas. Juga berperan besar dalam usaha memupuk moralitas dan nilai-nilai—nilai-nilai insani dan nilai-nilai Ilahi. Maka dari itu, pesantren menjadi penting, para santri dan pesantren lah yang menjadi pondasi bangsa ini. Dengan jumlah pesantren 26.000 lebih dan jumlah santri 80 juta lebih (sesuai dengan warga NU, karena NU rumah besar santri), tentu diharapkan akan menjadi pembeda dan penentu dari kemajuan Indonesia di akan datang.

Kembali ke hari santri, inilah momentum yang harus digiatkan oleh seluruh santri agar selalu istiqomah dalam mebela negeri, dari segi politik, sosial, budaya, hukum, agama, dan sebagainya. Harus dibuktikan oleh kaum santri, bahwa hadiah hari santri bukan hanya merujuk pada kepantasan sejarah semata, melainkan pembuktian untuk kepantasan sekarang dan yang akan datang.

Dan perlu diingat, kita semua adalah santri, siapapun diantara kita yang pernah mondok atau belum pernah mondok adalah santri. Dalam definisi pendeknya santri adalah orang yang belajar agama dan mendengar petuah kiai, dan kita semua orang Islam pernah merasakan hal itu, jadi kita semua adalah santri, dan akan menjadi santri pada waktunya.

Seperti fenomena lucu, setiap kampanye Presiden, Caleg, Kepala Daerah hampir semua calon meminta restu kiai, dan memasang fotonya besar-besar sedang mencium tangan kiai dan mereka mengaku mendapatkan restu dari sang kiai (hanya ingin menunjukan bahwa ia adalah santri). Begitupun dengan foto Gus Dur dan nama Gus Dur selalu dicatut dalam kompetisi politik Indonesia. Semua akan santri pada waktunya, entah itu mengaku-ngaku santri, atau merasa dirinya santri sungguhan.

Menurut Clifford Geertz, dalam bukunya The Religion of Java (1960), menuliskan, “Istilah santri mempunyai dua arti; pertama, santri adalah murid-murid pesantren, kedua, santri memiliki arti lebih luas mencakup seluruh kaum muslimin yang ta’at baik tradisional maupun modernis. Arti kedua ini bisa dikontraskan dengan istilah abangan yang mengacu pada orang-orang Islam yang tidak menjalankan ajaran Islam dengan sempurna atau yang masih mempercayai ajaran-ajaran non-Islam. 

Melihat istilah Clifford Geertz tersebut, berarti telah jelas, seluruh umat Muslim di Indonesia adalah santri, santri yang mesantren, santri kalong, dan santri medsos adalah santri. Sebagai santri sejatinya harus mengingat-ngingat bagaimana model Islam yang berkembang di bumi Nusantara ini, damai, tentram, aman, nyaman dan kita sebagai santri sekarang harus terus menyemarakan perdamaian. 

Mengawal bangsa Indonesia sekarang, para santri harus melakukannya dari berbagai sisi. Sisi ekonomi, santri harus pintar-pintar dalam berwirausaha, dan membantu sesamanya (bersedakah, zakat) sebagai distribusi kekayaan untuk mengurai kemiskinan. Sisi sosial, merajut kembali solidaritas, toleransi, dan pemahaman multikulturalisme agar kita semua bisa hidup berdampingan secara damai.

Sisi politik, menjadi politisi praktis atau sebagai rakyat subjek dan objek politik harus mengedepankan politik rahmatan lil ‘alamin, tidak menghalalkan segala cara untuk membela kekuasaan dan partainya, karena menurut Gus Dur, “Tidak ada jabatan (kekuasaan) yang harus dipertahankan mati-matian”.

Sisi budaya, mengedepankan kekuatan nalar, dan menghormati suku dan budaya lain, sebagai strategi untuk terus menjaga keutuhan bangsa. Sisi hukum, mentaati aturan yang telah disepakati, aturan hukum negara ataupun aturan di lingkungan kita sendiri, dengan tujuan mengurai kebiasaan meremehkan hukum. Dan dari sisi keagamaan, meminimalisir gesekan antar golongan atau agama, meminimalisir konflik, dan menebarkan perdamaian, berdakwah secara bijaksana, dan berlaku baik dengan siapapun.

Sisi-sisi itulah yang harus dibangun dan terus dirajut oleh santri, di era ruwet ini santri akan menjadi solusi terbarukan. Saya yakin, ada kemampuan dari kita semua untuk mengurai benang kusut yang sedang melanda bangsa kita. Minimal yang kita upayakan adalah Indonesia aman dari ancaman disintegrasi. 

Dari mulai hal terkecil saja dulu, memberikan kedamaian terhadap lingkungan tempat tinggal kita, tidak menutup kemungkinan akan merambat ke tinggkat yang lebih besar. Apalagi santri ada disetiap sudut bahkan mungkin pojokan Indonesia, di tempat terpencil pun pasti ada santri. Menebarkan gizi damai santri, santun santri, mandiri santri, dan gaya hidup santri akan menjadikan Indonesia lebih aman. Pada ujungnya “kita akan santri pada waktunya”.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.
Kamis 12 Oktober 2017 15:0 WIB
Mengenal ‘Mereka’ dengan Sederhana
Mengenal ‘Mereka’ dengan Sederhana
Ilustrasi (© NU Online)
Oleh Risa Siti Azizah

Hasrat manusia yang paling mendasar adalah rasa ingin tahu. Rasa ini, sudah tentu bagi pelbagai hal yang belum tahu, lebih tepatnya “apa yang baru”. Dan yang baru itu ternyata adalah bukan melulu apa yang jauh, melainkan begitu dekat bahkan sangat dekat. Sebagai misal adalah “agama yang dianut” rekan di sekitar kita. Bukankah menarik jika kita ingin tahu agama rekan kita yang notabene bukan agama yang kita peluk. Apakah ini baik? Hemat saya, tentu saja baik-baik saja, selama itu dengan tujuan-tujuan yang baik, demi menjaga keharmonisan dan kerukunan antar sesama umat beragama. 

Dewasa ini, pengetahuan tentang agama lain menjadi perlu untuk dipelajari mengingat seringkali terjadi kesalahpahaman sudut pandang seseorang terhadap suatu agama yang tidak dianutnya. Misalnya stereotip warga di Amerika yang menganggap setiap Muslim adalah teroris. Hal tersebut merupakan sebuah kekeliruan yang tak jarang terjadi juga di Indonesia. Bukan hanya non-Muslim yang kerap beranggapan negatif terhadap Muslim, tetapi banyak warga Muslim pun berpikiran sama terhadap non-muslim. Untuk menangani masalah ini, demi menjaga kerukunan dan mencegah terjadinya pertikaian, dibutuhkan solusi untuk meluruskan pandangan atau stereotip negatif terhadap sesama umat beragama. Kita butuh pemahaman yang benar terhadap “yang lain”. Dan berdialog lintas agama bisa menjadi alternatif mencari informasi yang valid.

Saya merasa sangat senang sekali, kala bisa ikut serta dalam acara kunjungan lintas iman muhibbah yang diinisiasi oleh Wahid Foundation ke salah satu gereja Katholik di Tasikmalaya, Gereja Hati Kudus Yesus. Dalam acara tersebut, saya bisa berdialog langsung dengan saudara atau tokoh-tokoh Katholik. Saya bisa sedikit tahu Katholik dari orang yang sepatutnya berbicara tentang Katholik, atau orang Katholik sendiri. Ingin rasanya, saya membagikan beberapa informasi menarik yang “mungkin” sering kali disalahfahami oleh masyarakat luas. 

Sudah bertahun-tahun kiranya, kita sering mendengar isu Kristenisasi dengan membagi-bagikan sembako. Saya pun melontarkan pertanyaan tentang ini ke “mereka” dalam acara tersebut. Terlihat, kala mendengar pertanyaan yang mungkin “bodoh” ini, mereka tersenyum. Saya rasa, senyuman mereka tulus. “Kami setiap tahun rutin mengadakan Pasar Murah dan dilaksanakan setiap bulan Ramadhan,” jawab salah seorang dari mereka. “Dan tak ada niat dari kami untuk melakukan Kristenisasi. Benar bahwa dana Pasar Murah adalah dana jamaat yang kami dapat dari zakat 20 persen dari penghasilan mereka, hanya saja dana itu kami salurkan buat kemanusiaan dan demi menjalin sillaturahmi dengan sesama hamba Tuhan. Dan kalau benar itu Kristenisasi, sudah bertahun-tahun kegiatan itu kami lakukan dan jamaat kami tetap saja sedikit, lantas apakah kami jadi menghentikan kegiatan tersebut? Tidak. Sama sekali tak ada niat Kristenisasi,” lanjutnya.

“Dan Puji Tuhan, masyarakat sekitar kami pun tak ada yang menilai bahwa itu Kristenisasi. Karena mereka tahu, bahwa kami benar-benar tak ada niat Kristenisasi. Lalu, kalau akan saudara kami orang Islam yang menyangka itu Kristenisasi, mungkin karena mereka tidak menyaksikan langsung acara tersebut, mungkin karena mereka tidak tahu saja.”

Mendengar jawaban itu, saya teringat ujaran guru saya yang mengutip (konon) hadits, al-insan ‘aduwu ‘ala ma jahili, “manusia adalah musuh dari ketidaktahunannya”. Karena tidak tahu Kristiani, maka kita cendrung membenci Kristen. Dari ketidaktahuan itu pula kita cendrung mencurigai kegiatan-kegiatan social saudara kita kaum Kristen. Hemat saya, dalam amal sosial, Islam dan Katholik sama-sama memiliki tujuan yang sama, membantu beban ekonomi kaum papa, dalam Bahasa lain - kemaslahatan umat.

Dalam acara muhibbah kami, salah seorang peserta ada pula yang bertanya tentang laku-ritual Katholik semisal puasa. Mereka menjawab bahwa Katholik melaksanakan puasa, hanya saja puasanya “berbeda” dengan orang Islam. Mereka puasa pada hari Rabu dan Jumat agung pra-Paskah, yang merupakan peringatan hari wafatnya Yesus Kristus. Selain itu, selama 40 hari Pra-Paskah juga dikenal dengan hari Pantang, dimana para jemaat gereja pantang memakan, meminum, atau melakukan “sesuatu” pada hari-hari tersebut.

“Apakah ada sangsi jika ada jemaat tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut?” pertanyaan tambahan dari peserta muhibbah ini. “Pihak gereja tidak mencampuri urusan pribadi jemaatnya, karena urusan tobat merupakan urusan pribadi yang harus diselesaikan dengan kesadaran sendiri. Hanya saja, dalam agama Katholik seseorang yang berdosa bisa bertobat di hadapan imam mereka. Imam mereka kita kenal sebagai Pastur atau Romo. Karena dalam agama Katholik terdapat ritual yang dinamakan Sakramen Pengakuan Dosa. Sakramen Pengakuan Dosa Atau Sakramen Tobat ini merupakan salahsatu sakramen dalam 7 sakramen dalam ajaran agama Katholik. Dan pengakuan dosa sendiri dilakukan dengan tertib di ruangan kecil di dalam gereja.”

Setiap agama punya keunikan tersendiri, dalam bahasa lain “doktrin”, seperti pengampunan dosa dalam Katholik. Tanpa doktrin, agama adalah filsafat. Hemat saya, keunikan agama inilah yang bisa melanggengkan identias sebuah agama. Hanya saja, jika pemeluk agama lupa akan makna keunikan agamanya, yang tiada lain adalah “kasih”, maka agama akan dengan mudah ditinggalkan oleh manusia di masa depan. Karena watak dasar manusia tak ingin bertikai, tak ingin perang, tak ingin hidup dalam tumpahan darah. Menurut saya, hidup dengan keunikan agama kita masing-masing dengan tanpa saling curiga atau buruk sangka, adalah cara membangun kehidupan yang diharapkan Tuhan, toleran dan penuh kasih.


Penulis adalah salah seorang alumni Training Content Creator Wahid Foundation asal Kota Tasikmalaya

Kamis 12 Oktober 2017 4:3 WIB
Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah
Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah
Anak-anak sekolah (foto: isknews).
Oleh Suwendi

Di bulan Oktober ini, tepatnya tanggal 9 hingga 14 Oktober 2017, Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyelenggarakan sejumlah even berskala nasional, di antaranya adalah Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) yang bertempat di Taman Sulthanah Ratu Shafiatudin Banda Aceh, Provinsi Aceh. Pentas PAI ini diikuti oleh seluruh siswa sekolah, mulai Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas dari 34 provinsi di Indonesia. 

Mereka akan mengikuti sejumlah even perlombaan yang mengasah atas pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan keagamaan dan kebangsaan yang telah diperoleh, khususnya, selamamengikuti mata Pelajaran Agama Islam (PAI) di sekolah. Pentas PAI yang kedelapan ini mengambil tema “Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan”.

Even ini merupakan salah satu upaya Kementerian Agam dalam memperkuat PAI di sekolah, di samping terdapat upaya lain yang telah nyata dan sedang dilakukan, seperti program Bina Kawasan, Pengajaran Islam Rahmatan Lil’alamin, dan lain-lain. Memperkuat PAI di sekolah, termasuk di dalamnya melalui Pentas PAI, menurut hemat penulis, memiliki makna yang strategissetidaknya untuk menjawab tiga hal berikut. 

Pertama, merevitalisasi agama sebagai bagian dalam memperkokoh nilia-nilai kebangsaan di kalangan siswa sekolah. Agama didorong untuk menjadi penyanggah dalam meneguhkan komitmen kebangsaan di kalangan siswa sekolah, sehingga militansi kebangsaan di kalangan siswa sekolah tidak bisa dipisahkan dari sikap dan keyakinannya dalam beragama. Meneguhkan akan komitmen kebangsaan atas dasar agama di kalangan siswa ini, diakui belakangan menjadi sebuah kebutuhan mendesak. 

Sebab, fenomena lunturnya semangat kebangsaan di kalangan para siswa sekolah, yang sebagian didasarkan atas pemahaman keagamaannya, menjadi keprihatinan tersendiri.

Data yang diperoleh dari hasil Penelitian Wahid Institute bertajuk “Bagaimana Potensi Radikalisme di Kalangan Aktivis Organisasi Rohani Islam (Rohis) di Sekolah-sekolah Umum” (2016) dengan 1.423 responden yang terdiri atas para aktivis Rohis menyajikan bahwa pada aspek pandangan dan sikap terhadap isu-isu dalam pidana (jinayah) dan politik Islam (siyasah) ditemukan 33%responden mengartikan jihad adalah berperang dan mengangkat senjata melawan orang kafir; 78% mendukung ide khilafah, 17% mendukung orang yang murtad dibunuh, 62% setuju orang yang berzina dihukum rajam hingga mati, dan 58% mendukung hukum potong tangan bagi pencuri, serta 1% sangat setuju dan 3% setuju bahwa memberi hormat bendera haram dilakukan.

Pada aspek peta dukungan terhadap pelaku dan aksi terorisme ditemukan bahwa 33% meyakini Amrozi, Imam Samudera, Abu Bakar Baasyir, Abu Naim dan Oman Abdurrahman merupakan contoh muslim yang mempraktekkan jihad sejati; 37% meyakini Osama bin Laden mati syahid; 10% setuju terhadap Bom Sarinah; dan 6% mendukung ISIS. Aspek partisipasi bergabung ke Suria, Palestina, dan Poso ditemukan 60% siap bergabung saat ini dan 68% akan bergabung di masa akan datang.

Temuan di atas menujukkan betapa sebagian siswa di sekolah, utamanya pengurus Rohis, menghadapi problem kebangsaan dan keagamaan yang memprihatinkan. Untuk itu, melakukan revitalisasi peran agama dalam mendukung semangat nasionalisme kebangsaan di kalangan siswa sekolah mutlak dan segara dilakukan. Langkah dan kebijakan untuk menempatkan kesadaran bahwa Indonesia sebagai negara yang religius, bukan negara agama atau bukan negara sekuler, juga perlu ditanamkan. Demikian juga, gerakan menumbuhkan kesadaran bahwa nilai-niai keislaman di kalangan siswa juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan kita menjadi prioritas bersama. 

Kedua, membangun kesadaran akan keragaman baik dalam budaya, bahasa, etnis, dan agama sebagai karateristik Indonesia penting dilakukan. Keragaman ini merupakan fitrah yang Allah berikan sebagai kekayaan yang perlu dipertahankan dan, sekaligus, diberdayakan. Keragaman tidak kemudian dinafikan, tetapi dirawat dan dilestarikan sehingga mampu menciptakan kedamaian dan keharmonisan. Tentu, ini merupakan “pekerjaan” yang tidak mudah. Jika tidak mampu mengelolanya dengan baik maka akan terjadi benturan-benturan. 

Di sisi lain, Indonesia merupakan negara yang lekat dengan nilai-nilai religius-keagamaan. Meski bukan negara agama, kehidupan kebangsaan Indonesia dipenuhi dengan norma-norma keagamaan. Dalam konteks ini, menghadirkan dan memaksimalkan peran agama dan nilai-nilai agama dalam merawat kesadaran atas keragaman di kalangan siswa sekolah tampaknya menjadi pintu masuk yang efektif. Siswa di sekolah perlu dimantapkan pemahaman dan kemampuannya dalam mengartikulasikan agamasebagai perekat sosial di tengah-tengah keragaman.

Ketiga, meneguhkan kontribusi PAI dalam membangun kedewasaan dalam beragama. Even Pentas PAI dengan tema “Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan” menjadi pilihan yang tepat. Kondisi siswa di sekolah, sebagaimana ditemukan dari hasil studi Wahid Institut di atas, perlu untuk dilakukan kesadaran bahwa kita hidup di tengah negara-bangsa Indonesia dan kesadaran bahwa ternyata ada kebenaran agama lain menurut pengikutnya, selain kebenaran dalam agama yang kita anut.

PAI di sekolah mendorong untuk mengajarkan bahwa kita adalah orang Islam yang berwarganegara Indonesia sehingga artikulasi keislamannya harus sesuai dengan nilai keindonesiaan. Demikian juga, kesadaran bahwa Indonesia itu plural. Di samping kita yang beragama Islam, ada penganut lain yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan lain-lain. 

Kita meyakini bahwa kebenaran dalam agama yang kita anut merupakan sebuah keniscayaan. Namun, kebenaran di agama lain yang diyakini oleh patut penganutnya juga patut dihormati. Oleh karenanya, secara sosialkita harus menghargai atas kebenaran yang dianut mereka itu.Menghargai orang lain merupakan ajaran Islam itu sendiri.

Merevitalisasi agama dalam konteks kebangsaan dan merawat keragaman di kalangan siswa di sekolah merupakan domain dari pembelajaran PAI. Di banding dengan mata-mata pelajaran lainnya, PAI cenderung memiliki “hak” dan sekaligus “kewajiban” untuk mampu memposisikan agama pada tingkat yang semestinya. 

Kesuksesan dalam pembelajaran PAI di sekolahmerupakan modal dalam menatap masa depan Indonesia yang jauh lebih baik. Pasalnya, ada sekitar 80% siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah dari seluruh siswa di Indonesia, yang mengikuti pelajaran PAI. Ini artinya, PAI memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan watak anak bangsa ke depan. Keberhasilan dalam menyemai kedewasaan dalam beragama merupakan langkah yang harus dilakukan melalui PAI. Di sinilah peluang dan sekaligus tantangan bagi guru, pimpinan sekolah, dan pemerintah untuk mampu menghadirkan agama melalui materi-materi PAI sebagai “ruang titik temu” kesadaran kebangsaan dan keragaman itu.

Dalam konteks pengajaran PAI di sekolah, perlu ditekankan bahwa agama bukan hanya mengajarkan tentang agama itu sendiri, tetapi juga bagaimana agama itu menjadi instrumen dalam meneguhkan kohesi sosial dan karakter kebangsaan kita. Agama harus kontributif dalam membangun bangsa, dan sekaligus hadir sebagai solusi atas problem-problem sosial. Di sinilah yang perlu ditekankan oleh seluruh stakeholder pendidikan di sekolah agar menempatkan dan mengartikulasikan agama pada posisi yang semestinya.

Untuk meraih itu, tentu diperlukan kematangan berfikir, pemahaman keagamaan, hingga keterampilan teknis-operasional secara komprehensif dan genah (sesuai) yang dimiliki oleh seluruh stakeholder di sekolah menjadi penting dilakukan. PAI bukan hanya memompa semangat keagamaan yang bersifat elementer dan emosional semata, tetapi lebih dari itu, yakni menempatkan dan memfungsikan agama yang senantiasa berkorelasi dengan dinamika kehidupan sosial kebangsaan segera ditanamkan. Semoga.

Penulis adalah Pegiat Pendidikan Islam.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG