IMG-LOGO
Humor

Saat Gus Dur Ditanya Ada Salib di Sirip Ikan

Jumat 13 Oktober 2017 10:1 WIB
Saat Gus Dur Ditanya Ada Salib di Sirip Ikan
Suatu ketika, Kang Maman berbincang dengan Gus Dur di masjid samping rumahnya, Al-Munawwaroh Ciganjur, Jakarta Selatan. Hari sudah larut. Gus Dur terdiam dan enggan beranjak dari tempat duduknya.

Kali ini Kang Maman yang berusaha melontarkan joke atau humor yang biasa melekat pada diri Gus Dur, namun saat itu Gus Dur masih saja terdiam.

Kang Maman mengatakan tentang beberapa fenomena aneh yang kerap muncul di negeri ini, misal dulu ramai batu ajaib yang dipegang bocah Ponari di Jombang, Jawa Timur.

Selain itu, di Cirebon, Jawa Barat juga heboh karena ada simbol menyerupai ‘salib’ di beberapa sirip ikan hias. Ternyata sebelumnya, para kiai matur ke Gus Dur tentang fenomena itu.

Saat itu Gus Dur hanya berbicara singkat. “Kiai jangan heran. Itu nggak aneh,” kata Gus Dur. Para kiai dibikin penasaran tentang perkataan lanjutan Gus Dur.

“Kalau ada ‘salib’ di sirip ikan mas, ya wajar toh,” lanjut Gus Dur.

“Wajar bagaimana, Gus?” tanya salah seorang kiai coba menimpali Gus Dur.

“Lah wong Mbah-nya ikan-ikan itu kan PAUS,” kata Gus Dur singkat disambut geerrr para kiai. (Fathoni)
Tags:
Sabtu 7 Oktober 2017 17:0 WIB
Dosen Ateis
Dosen Ateis
Ilustrasi (© 123rf.com)
Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba seorang dosen fisika nyeletuk, “Menurut saya Tuhan itu tidak ada.”

Semua mahasiswa di kelas bengong. “Kok begitu, Pak?”

“Kalian pernah melihat Tuhan?”

“Tidak...!” jawab mahasiswa serentak.

“Ya berarti Tuhan tidak ada!”

Salah seorang mahasiswa merespon, “Bapak pernah melihat akal?”

“Tidak.”

“Ya berarti akal Bapak tidak ada.” (Khoiron)

Rabu 4 Oktober 2017 16:1 WIB
Masyarakat ‘Madani’
Masyarakat ‘Madani’
Sudah menjadi tradisi seorang santri mengunjungi gurunya di tempat nyantrinya dulu. Hal ini juga dilakukan oleh Shodiq Rozali ketika dirinya rindu ingin bersilaturrahim ke kediaman gurunya, Kiai Su’adi di sebuah pesantren di daerah Ketapang, Malang Selatan.

Shodiq yang kini sudah menjadi ustadz muda dan diundang ceramah di mana-mana ingin memperoleh wejangan kiainya terhadap aktivitas dakwahnya selama ini.

Di dampingi keluarga dan beberapa teman, Shodiq disambut dengan hangat oleh tuan rumah. Tak mau diperlakukan istimewa, Shodiq pun segera tanggap terhadap gerak-gerik kiainya dalam menyambut tamu. Tentu usai cium tangan, dia ikut bantu menyediakan jamuan untuk para tamunya.

Setelah semua dipastikan beres dan terjamu dengan baik, tibalah waktu berbincang-bincang ringan antara Kiai Su’adi dan para tamunya yang tentu lebih tahu persis tentang kondisi masyarakat.

“Bagaimana keadaan masyarakat sekarang ini?” tanya Kiai Su’adi membuka keran obrolan sore itu.

Dengan membuka pertanyaan, sang kiai tidak mau mendahului obrolan panjang lebar dengan menyuguhi sejumlah taushiyah sebelum para tamunya memaparkan kondisi terkini yang terjadi di tengah masyarakat.

“Satu sama lain saling madani, kiai,” sahut Shodiq menimpali. Madani adalah bahasa Jawa yang artinya mengejek

Shodiq sebagai ustadz muda tahu betul fenomena sosial yang terjadi di era modern dan di zaman teknologi digital seperti sekarang ini, terutama saling mengejek di media sosial.

“Kalau begitu program pemerintah berhasil dong,” timpal Kiai Su’adi.

“Kok berhasil kiai?” tanya Shodiq penasaran dengan bayan atau penjelasan lebih lanjut kiainya.

“Lah kan katanya pemerintah mau bikin masyarakat madani,” jawab sang kiai. (Fathoni)
Sabtu 30 September 2017 8:1 WIB
Lingkaran di Kalender Kiai
Lingkaran di Kalender Kiai
Ilustrasi (jawapos).
Beda zaman dan berbeda era, berbeda pula cara seseorang mengondisikan kesibukannya setiap hari. Di zaman digital, seseorang dengan mudahnya dapat mencatat berbagai agenda di smartphone. Lengkap dengan tanggal, jam, dan keterangan dari agendanya tersebut. Bila perlu dibunyikan alarm agenda sebagai penegas dan pengingat.

Namun, berbeda dengan zaman di mana internet dan teknologi digital masih jauh dari jangkauan manusia, terutama masyarakat di kampung, tak terkecuali para kiai pemimpin pondok pesantren yang mempunyai agenda cukup padat menghadiri undangan memimpin pengajian, tahlil, dzikir, ziarah, slametan, dan lain-lain.

Sebetulnya smartphone bisa diganti dengan buku catatan khusus, namun tidak dilakukan seorang kiai. Jadi, sudah menjadi kebiasaan para kiai pesantren tidak menuliskan agenda dalam buku khusus. Tetapi mereka hanya membuat lingkaran di kalender yang terpampang di ruang tamunya.

Semakin banyak lingkaran, semakin sibuklah sang kiai. Sejurus dengan itu, semakin kebingungan juga sang kiai, agenda mana yang harus ia kunjungi.

Tulisan di kalender tidak nampak jelas, ditambah lagi dengan tulisan campuran huruf latin kearab-araban atau huruf Arab yang sulit dibedakan dengan sandi rumput.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya sang kiai hanya akan menunggu telepon dari panitia atau shohibul bait.
 
”Kriiiing.....”

“Ya halo, dengan siapa ini?” tanya sang kiai.

Maka terdengarlah jawaban dari pihak panitia. “Saya sendirian kiai, tidak sedang dengan siap-siapa.” (Fathoni)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG