IMG-LOGO
Nasional

Agus Sunyoto: G30S/PKI itu ‘Film Dongeng’

Kamis 19 Oktober 2017 16:30 WIB
Bagikan:
Agus Sunyoto: G30S/PKI itu ‘Film Dongeng’
Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto (tengah)
Jepara, NU Online
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto suatu ketika pernah ditanya oleh salah satu media arus utama soal film G30S/PKI. “Silakan ditonton!” begitu jawabnya. 

Penulis buku Atlas Walisongo itu menegaskan bahwa menurutnya itu “film dongeng”. “Tanggal 30 September ada peristiwa apa?” tanya dia. 

Pernyataan itu mengemuka dalam bedah buku Atlas Walisongo yang diselenggarakan oleh PCNU Jepara di ruang rapat Setda, Pemkab Jepara, Rabu (18/10) kemarin. 

Didampingi Rais Syuriyah PCNU Jepara KH Ubaidillah Noor Umar, dia menjelaskan bahwa tanggal 30 September tidak ada peristiwa apa-apa. Penculikan para Jenderal, kata sejarahwan itu, tanggal 1 Oktober pukul 5 pagi. “Sumbernya jelas ada di arsip nasional,” tandasnya. 

Di hadapan peserta bedah buku, Kiai Agus menyatakan ada hal yang ganjil. “Tanggal 30 September yang tidak ada peristiwa apa-apa malah disuruh untuk mengibarkan bendera setengah tiang. Sedangkan tanggal 1 Oktober para Jenderal diculik malah disuruh mengibarkan bendera penuh.”

Gus Dur, sewaktu masih hidup juga pernah ditanya oleh salah satu stasiun TV nasional. Kata Kiai Agus menirukan Gus Dur, “PKI kok ditakuti!”. Menurut Gus Dur, PKI yang dari golongan tani tidak perlu ditakuti. Yang patut diwaspadai hingga sekarang, kata Agus, ialah kelompok sosial demokrat (sosdem).

Karena itu agar tidak terjadi pembodohan sejarah yang berlarut-larut PBNU sedang getol menuliskan sejarah sendiri dengan pendekatan sejarah emic. “Sejarah dengan kacamata sendiri (NU, red),” terangnya yang pernah memperoleh penghargaan buku nonfiksi terbaik dari Islamic Book Fair tahun 2013 lalu. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Kamis 19 Oktober 2017 23:0 WIB
Perbedaan Antara Industri Halal di Jepang dan Indonesia
Perbedaan Antara Industri Halal di Jepang dan Indonesia
Jakarta, NU Online
Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia Rudiantara menyebutkan, pasar produk dan layanan muslim dan muslimah di Indonesia sangat tinggi sekali.

Ada 1,2 miliar pencarian di internet terkait dengan produk dan layanan Islami selama kurun waktu dua belas bulan, dari tahun 2015 hingga 2016.

“Itu adalah demands. Orang mau tau, belinya dimana semua yang berkaitan dengan itu (ada) 1,2 miliar,” kata Rudiantara usai menjadi pembicara kunci dalam acara Halal Lifestyle Expo dan Conference di Balai Kartini Jakarta, Kamis (19/10).

Namun sayangnya, ia menilai, ketika orang melakukan pencarian tersebut hanya ada sedikit saja yang muncul dan memberikan jawaban atas permintaan orang yang melakukan pencarian tersebut. Dari total 1,2 miliar pencarian tersebut, hanya sepuluh persen yang memberikan suplai. 

“Hanya sepuluh persen yang memberikan jawaban. Berarti sembilan puluh persen masih kosong. Yang belum disuplai, besar luar biasa,” katanya.

Ia menceritakan, industri halal di Jepang berkembang pesat dengan tujuan untuk menarik wisatawan muslim dan juga karena alasan kesehatan. Sedangkan di Indonesia tren halal masih didasarkan pada ketaatan pada ajaran agama Islam. 

Maka dari itu, ia berpendapat seharusnya Indonesia juga mengembangkan industri halal dan menggarapnya dengan serius mengingat permintaan yang ada begitu tinggi. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)
Kamis 19 Oktober 2017 22:22 WIB
Santri se-Nusantara Hadiri Kopdarnas di Bandung
Santri se-Nusantara Hadiri Kopdarnas di Bandung
Bandung, NU Online
Para santri dari berbagai daerah di Indonesia hadiri acara Kopdarnas (Kopi Darat Nasional) ke-3 AISNU yang digelar di Ponpes Baitul Arqom Bandung, Kamis (19/10).

Kopdarnas yang bertemakan Santri Milenial di Era Media Sosial ini dihadiri lebih dari 150 santri, yang kesemuanya merupakan anggota dari AISNU (Arus Informasi Santri  Nusantara). Mereka berasal dari berbagai pesantren seperti Tebuireng, Denanyar, Krapyak, Gedongan, Paculgowang, dan beberapa pesantren di luar Jawa.

"Alhamdulillah, terdata ada lebih dari 150 santri yang hadir. Dan meskipun belum lama terbentuk, Jawa Barat menjadi tuan rumah Kopdarnas ketiga. Kami dari regional Jawa Barat senang dan berterima kasih sekali," jelas Tubagus Saiful Rizal selaku ketua pelaksana Kopdarnas ke-3 AIS Nusantara.

Pimpinan Ma'had Baitul Arqom, KH Najib Muhammad Yusuf, membuka acara serta menyambut baik acara yang digelar oleh para santri ini.

"Tanpa pikir panjang, langsung kami sambut dan sepakati; Baitul Arqom menjadi tuan rumah dari Kopdarnas ketiga AIS. Ini menjadi suatu keberkahan, kehormatan bagi kami di Baitul Arqom. Di sini kita semua menjalin ukhuwah, silaturahmi. Dari dunia maya ke tatap muka," tutur Kiai Najib.

Sementara itu, Pembina AIS Nusantata Romzi Ahmad, memaparkan bahwa saat ini AIS terdapat di sembilan regional.

"Ada di Jatim, Jateng, Yogya, Jabar Lampung, Aceh, Kalbar, Kalsel, Sulsel. Dan kenapa kami menyelenggarakan Kopdarnas ketiga ini di Jabar. Karena memang harus, karena Jabar punya tugas besar. Harus kita pahami pula bersama bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya kuat di Jatim dan Jateng saja, tapi juga ada di Jabar," paparnya.

Romzi menegaskan bahwa misi dari AIS Nusantara adalah digitalisasi dakwah pondok pesantren.
"Bersama AIS, kita tebarkan Islam yang ramah bukan Islam yang marah; Islam yang merangkul bukan Islam yang memukul. Dengan AIS, santri harus berkarya," tandas Romzi yang juga merupakan alumni dari pesantren Gedongan.

Kopdarnas sebelumnya digelar di Yogyakarta dan Malang. Kopdarnas di Bandung ini digelar selama tiga hari, sampai Sabtu (21/10) ini, menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya: Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), Helmy Faishal Zaini (Sekjen PBNU), dan Savic Ali (Direktur NU Online). [Wahyu Noerhadi/Mukafi Niam]
Kamis 19 Oktober 2017 22:0 WIB
Yudi Latif: Pancasila Obat Peredam Ketegangan Sosial
Yudi Latif: Pancasila Obat Peredam Ketegangan Sosial
Jakarta, NU Online
Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif menegaskan, Pancasila bisa menjadi peredam dan pengantisipasi terhadap ketegangan-ketegangan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.

“Sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) mengantisipasi bahwa ketegangan sosial bisa muncul karena perbedaan agama,” kata Yudi di Hotel Kartika Chandra Jakarta, Kamis (19/10).

Sila kedua mengantisipasi ketegangan sosial yang terjadi karena globalisme dan lokalisme. Sila ketiga mengantisipasi ketegangan sosial yang terjadi akibat perbedaan suku, etnik, bahasa, dan budaya di seluruh Indonesia. Sila keempat meredam ketegangan yang timbul akibat perbedaan pilihan politik.

“Sila kelima mengantisipasi bahwa ketegangan sosial sangat mungkin terjadi akibat kesenjangan sosial,” ucapnya.

Maka dari itu, ia menilai bahwa Pancasila semakin relevan dengan zaman yang ada. Zaman dimana sekat-sekat sudah tidak ada lagi batasannya sehingga ketegangan sosial akan sangat mungkin terjadi kalau tidak dibatasi dan diantisipasi. 

Meski demikian, Yudi sadar bahwa saat ini kesenjangan sosial di Indonesia begitu menganga. Ada jarak yang begitu jauh antara yang kaya dan yang miskin. Oleh karena itu, kesenjangan inilah yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah.

Berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Dengan kata lain, Indonesia menempati urutan keempat terbawah dalam urusan kesenjangan sosial. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG