IMG-LOGO
Daerah

Pesantren Daar El-Hikam Bakal Gelar Panggung Santri

Kamis 19 Oktober 2017 23:30 WIB
Bagikan:
Pesantren Daar El-Hikam Bakal Gelar Panggung Santri
Ilustrasi.
Jakarta, NU Online
Pesantren Daar El-Hikam Ciputat Timur, Tanggerang Selatan, Banten bakal menggelar Panggung santri pada 21-22 Oktober 2017. Acara ini akan digelar di halaman Pesantren Daar El-Hikam Ciputat Timur.

Acara ini diawali dengan bedah film sang kiai, apel hari santri, dan dzikir bersama. Selain itu, berbagai pentas seni dari santri Santri Darhk panggilang pesantren Daar E-Hikam akan turut mewarnai, seperti Hadroh, Marawis, Nasyid, Pagar Nusa, Puisi Santri, Musikalisasi Puisi dan di akhiri Mauidoh Hasanah oleh Pimpinan Pesantren Daar-Elhikam KH Baharudin.

Ketua panitia Sayyid Rifai mengatakan, panggung santri ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Santri 2017. Ia berharap, panggung santri ini menjadi tempat untuk menunjukan bakat-bakat santri Daar El-Hikam maupun santri-santri lainnya.

“Panggung santri ini menjadi momentum untuk santri menunjukan bakat dan melatih mentalnya, terutama santri-santri SMP,” kata Sayyid.

Acara ini akan dihadiri oleh beberapa santri pesantren di sekitar Ciputat Timur, tokoh masyarakat, PC IPNU-IPPNU Tanggerang Selatan, PC PMII Tanggerang Selatan dan masayarakat umum.

Sebagai informasi, santri di Pesantren Daar El-Hikam terdiri atas siswa SMP dan mahasiswa yang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Husni Sahal/Fathoni)
Bagikan:
Kamis 19 Oktober 2017 21:42 WIB
Putri Kiai Wahab Chasbullah Berharap Santri Terus Jaga NKRI
Putri Kiai Wahab Chasbullah Berharap Santri Terus Jaga NKRI
Jombang, NU Online 
Jelang perhelatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober, banyak harapan besar ditujukan kepada santri datang dari berbagai kalangan.

Salah satunya, seperti yang diutarakan Wakil Bupati Jombang, Hj Mundjidah Wahab. Ia berharap segenap santri di tanah air tetap dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia (NKRI). 

Sebagaimana sejarah mencatat, paparnya, pembentukan Negara Indonesia tidak lepas dari kontribusi santri.

"Pesantren dan santri harus menjadi inspirator dalam menjaga keutuhan NKRI ini," katanya pekan lalu.

Perempuan yang juga Ketua PC Muslimat NU Jombang ini menyatakan, gerakan radikal menjadi ancaman nyata bagi keutuhan NKRI. Pada kondisi ini, imbuh Bu Mun, sapaan akrabnya, kontribusi santri sangat diperlukan.

"Pesantren dan santri harus mampu mempelopori gerakan anti radikalisme," imbuh putri almaghfurlah KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini.

Tak hanya itu, santri menurutnya juga harus menjadi garda terdepan dalam melahirkan gernerasi masa depan yang profesional dan berakhlakul karimah. (Syamsul Arifin/Fathoni)
Kamis 19 Oktober 2017 20:54 WIB
Tertarik NU, Seniman Ini Lukis Ulama-ulama Nusantara
Tertarik NU, Seniman Ini Lukis Ulama-ulama Nusantara
Purworejo, NU Online
Banyak ekspresi yang dilakukan warga NU dalam mengaktualisasikan cintanya dalam bentuk karya. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Bramantyo, pelukis asal Baledono, Purworejo, Jawa Tengah, ini. Ia melukis ulama dan para kiai yang lekat dan menjadi simbol Nahdlatul Ulama.

Ditemui NU Online di kediamannya pada Kamis (19/10), Bram - begitu ia biasa disapa - mengaku baru sebulanan ini tertarik untuk melukis tokoh-tokoh NU dalam bentuk realis. Sebelumnya, ia banyak melukis dengan gaya pop-art yang banyak mengangkat tema-tema 'perlawanan' dan kritik sosial.

Dalam waktu yang kurang dari sebulan, Bram telah menyelesaikan beberapa lukisan tokoh NU itu, diantaranya: KH. Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy'ari, KHA. Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, H. Hasan Gipo dan KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Selain itu, ia juga mengangkat peristiwa perobekan bendera Belanda pada Peristiwa 10 November di Hotel Yamato oleh para santri dan arek-arek Surabaya.

Ditanya alasan mengapa mengangkat tema ke-NU-an dan kebangsaan, ia mengaku tertarik dengan sikap ke-beragama-an para kiai dan ulama Nusantara yang ramah dengan kultur dan tradisi.

"Kebetulan di tempat saya kultur NU kuat. Ketika ada tahlilan, orang non-muslim pun ikut datang meski diam untuk menghormati. Spirit menjaga kebersamaan ditengah perbedaan ini begitu kental dimiliki oleh para kiai NU," terangnya.

Dalam waktu dekat, iya juga akan membuat lukisan dengan tema persatuan ditengah perbedaan. "Keakraban para tokoh lintas agama akan kita lukiskan," terang pria yang berencana menggelar pameran tunggal bertemakan 'Islam Nusantara' ini.

Nuansa baru

Begitu "banting stir" melukis tokoh-tokoh NU, setelah sebelum-sebelumnya melukis dengan gaya "rocker," Bram mengaku mendapat pengalaman batin dalam melihat karyanya.

"Sekarang ini, kalo melihat lukisan kiai-kiai, entah mengapa rasanya nyes, adem," terangnya. Bahkan, ia punya pengalaman "unik" tentang satu lukisan karyanya, yaitu lukisan Mbah Hasyim Asy'ari yang bersanding dengan H. Hasan Gipo, Ketua Umum (Tanfidziyah) PBNU pertama.

"Malam kemarin lalu, hujan deras mengguyur. Saya lupa memasukkan lukisan-lukisan itu ke dalam rumah (hanya di beranda rumah). Esoknya, ketika lukisan lain basah, khusus lukisan yang itu tidak. Saya heran," akunya. 

Karena penasaran, esoknya ia sengaja tidak memasukkan lagi lukisan itu. "Tapi untuk yang kedua ini basah, kena hujan. Mungkin karena saya menyengaja," selorohnya, diiringi gelak-tawa.

Kedepan, Bram ingin mengangkat tema-tema "Islam Nusantara" kedalam karya-karyanya. Dengan riset sejarah yang dibantu Lukman Khakim, seorang kader muda NU,  Bram akan menggali ide dari buku-buku sejarah baik nonfiksi seperti Atlas Walisongo atau fiksi seperti Suluk Abdul Jalil karya Agus Sunyoto. (Ahmad Naufa/Fathoni)
Kamis 19 Oktober 2017 15:32 WIB
Gelar Siltada ‘Ayo Mondok’, RMINU Jateng Berharap Sinergitas PTAI dan Pesantren
Gelar Siltada ‘Ayo Mondok’, RMINU Jateng Berharap Sinergitas PTAI dan Pesantren
Sukoharjo, NU Online
Untuk pertamakalinya Rabithah Ma'ahid Islamiyah NU (RMI-NU) Jawa Tengah menggelar kegiatan Silaturahim Daerah (Silatda) “Gerakan Ayo Mondok”. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta menjadi tuan rumah dalam kegiatan yang digelar selama tiga hari, Selasa-Kamis (17-19/10).  

Sekretaris RMI NU Jawa Tengah Abu Choir menerangkan, pada kegiatan yang bertajuk "Pesantren Pusat Pendidikan Karakter Nilai Luhur Bangsa dan Islam Moderat" ini, para peserta tidak hanya datang dari Jawa Tengah, tetapi juga dari perwakilan RMINU dan Pondok Pesantren Daerah Istimewa Yogyakarta. 

“Kita berharap dari kegiatan ini, terdapat sinergitas antara perguruan tinggi Islam dengan pesantren,” terang Abu Choir kepada NU Online, Rabu (18/10). 

Ditambahkan Abu Choir, selama tiga hari tersebut, para peserta diagendakan untuk mengikuti berbagai rangkaian acara. “Ada pemutaran film Jalan Dakwah Pesantren, seminar, lomba dan grup diskusi,” papar dia. 

Dalam grup diskusi, para peserta akan dibagi ke dalam beberapa kelompok fokus permasalahan, di antaranya Penguatan Ekonomi Pesantren, Relasi Pesantren dan Media, Pera Sosial Ulama Perempuan dan lain sebagainya.  

Kegiatan ini juga menghadirkan beberapa tokoh antara lain Ketua PP RMI NU KH Abdul Gaffar Rozin, Koordinator Nasional “Gerakan Ayo Mondok”, KH Luqman Haris Dimyati, dan beberapa tokoh akademisi dari IAIN Surakarta. (Ajie Najmuddin/Mahbib) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG