IMG-LOGO
Nasional

Mana yang Lebih Dekat Orang Tua Zaman Sekarang, HP atau Anak?

Sabtu 21 Oktober 2017 19:1 WIB
Bagikan:
Mana yang Lebih Dekat Orang Tua Zaman Sekarang, HP atau Anak?
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Ida Fauziyah mengungkapkan tentang pentingnya sebuah ketahanan keluarga dalam menghadapi tantangan zaman dan perubahan sosial.

Menurut Ida, di antara tantangan zaman sekarang ini, ialah derasnya arus teknologi informasi. Kemajuan teknologi informasi, katanya, sangat berpengaruh terhadap pola komunikasi suami istri dan antara orang tua dengan anaknya.

Ia menyampaikan hal itu pada acara Festival Keluarga Maslahah, dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LKKNU di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat, Sabtu (21/10).

“Komunikasi terasa sangat lancar berkat kecanggihan teknologi infromasi meskipun pada jarak berjauhan tetapi kecanggihan komunikasi itu tidak akan pernah bisa mewakili kehangatan dan dekapan orang tua terhadap anak. Pelukan hangat orang tua pasti sangat dibutuhkan oleh anak-anak kita,” terang perempuan kelahiran Mojokerto, Jawa Timur ini.

Pada acara yang bertema “Membangun Keluarga Membangun Bangsa” ini, Ida mengatakan tentang dampak negatif terhadap keluarga jika tidak pandai menggunakannya dengan bijak.

Perempuan 48 tahun ini pun mengungkapkan sebuah kasus tentang seorang anak yang mempunyai cita-cita menjadi handphone dengan alasan agar terus dekat dengan orang tua dan cepat mendapat respon setiap permaslahan yang disampaikan. Seperti handphone yang cepat diangkat kalau ada pesan atau panggilan masuk.

"Cita-cita" itu merupakan sindiran kepada orang tua zaman sekarang tentang mana yang lebih dekat bagi mereka, apakah anak atau telepon genggam. “Itu fenomena yang saya kira (dipicu oleh) derasnya teknologi informasi yang sampai tidak bisa menghindarkan, dan tidak bisa mewakili kehangatan ortu terhadap anak,” katanya.

Pada acara yang diselenggarakan selama dua hari (21-22/10) ini, hadir Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Helmy Faisal Zaini, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (PMK RI) Puan Maharani, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Puto Sandjojo, Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suaib Thahir, Sekretaris LKKNU Alissa Wahid, dan lain-lain. (Husni Sahal/Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 21 Oktober 2017 23:30 WIB
Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019
Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019
Pringsewu, NU Online
Berbarengan dengan kegiatan Perkemahan Ma'arif Cabang III Kabupaten Pringsewu, Pimpinan Satuan Komunitas (Pinsako) Pramuka Ma'arif NU Provinsi Lampung dilantik oleh Kepala Kwartir Daerah (Kakwarda) Lampung Idrus Effendi.

Pelantikan tersebut dilaksanakan di halaman Kantor PCNU Pringsewu dan dihadiri oleh Ketua Sako Pramuka Ma’arif Pusat Arifin Junaidi.

Dalam sambutannya, Kakwarda mengharapkan agar Sako Ma’arif NU Lampung dapat ambil bagian dan aktif dalam kegiatan kepramukaan yang diselenggarakan di Provinsi Lampung.

"Pinsako Ma’arif NU adalah Sako ketiga yang dilantik setelah Sako Pramuka Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang dibina oleh Jaringan SIT serta Sako Pramuka Sekawan Persada Nusantara (SPN) yang dibina oleh LDII," jelasnya, Jumat (20/10).

Sementara itu Ketua Sako Ma’arif Pusat H. Arifin Junaidi menilai Sako Pramuka Ma’arif Lampung merupakan pramuka yang aktif dan konsisten dalam berkiprah membina para generasi muda melalui kepramukaan.

Keaktifan inilah yang menjadikan Lampung ditunjuk untuk menjadi tuan rumah Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) III yang akan dilaksanakan pada 2019.

Perwimanas II berlangsung September kemarin di Magelang dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Sebanyak 15 ribu peserta mengikuti upacara pembukaan perkemahan tingkat nasional itu. Peserta tersebut terdiri dari enam ribu peserta kemah dan sembilan ribu guru serta peserta didik Ma'arif NU dari seluruh Indonesia.

Sako Ma’arif NU Lampung saat ini diketuai  Dr. M. Afif Ansori dan didampingi oleh para pengurus Pramuka yang berasal dari kader-kader NU di Provinsi Lampung.

Hadir juga dalam pelantikan tersebut Ketua PWNU Lampung KH. Sholeh Bajuri, Bupati Pringsewu KH. Sujadi dan Pengurus Kwarcab Pringsewu. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Sabtu 21 Oktober 2017 22:15 WIB
Sembilan Poin Risalah Solo Perkuat Sinergitas PTKI dan Pesantren
Sembilan Poin Risalah Solo Perkuat Sinergitas PTKI dan Pesantren
Sukoharjo, NU Online
Selama tiga hari, Selasa-Kamis (17-19/10), Rabithah Ma'ahid Islamiyah NU (RMINU) atau asosiasi pesantren NU Jawa Tengah menggelar kegiatan Silaturahim Daerah (Silatda) “Gerakan Ayo Mondok”. Acara yang bertajuk "Pesantren Pusat Pendidikan Karakter Nilai Luhur Bangsa dan Islam Moderat" ini bertempat di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta.

Pada hari terakhir kegiatan, setelah melalui proses diskusi grup serta seminar yang diikuti para perwakilan dari RMI-NU Se-Jateng dan DIY, serta dari utusan pondok pesantren dan perwakilan dari IAIN Surakarta, menghasilkan sejumlah komitmen yang dituangkan dalam “Risalah Solo”.

Risalah yang berisikan Sembilan poin penting itu, menyiratkan gagasan untuk mensinergikan gerakan pesantren dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

“Sembilan poin yang intinya adalah sinergitas perguruan tinggi Islam dan pesantren dalam membangun, mengembangkan kualitas pendidikan masa depan untuk kemajuan bangsa dan peradaban,” papar Rektor IAIN Surakarta Dr. H. Mudofir.

Adapun isi 9 poin “Risalah Solo” yaitu:

1. PTKI dan Pesanren sebagai pusat peradaban dan ilmu pengetahuan menjunjung tinggi nilai luhur kemanusiaan dan kebangsaan
2. PTKI dan Pesantren bersama-sama membumikan nilai-nilai Islam yang santun, moderat, toleran, dan berbasis kearifan lokal
3. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan tradisi keilmuan yang berbasiis khazanah klasik dan modern
4. PTKI dan Pesantren bersama-sama bersinergi dalam menjaga keutuhan NKRI 5. PTKI dan Pesantren bersama-sama berperan dalam upaya pembangunan berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan alam
6. PTKI dan Pesantren bersama-sama mewujudkan nilai-nilai keadilan dalam segala aspek kehidupan
7. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan tradisi musyawarah mufakat untuk kemaslahatan umat dan bangsa
8. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan budaya dakwah hasanah berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan teknologi informasi
9. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan potensi diri dalam rangka menjaga eksistensi sekaligus memperkuat daya tawar dalam kompetisi global

Dalam penandatanganan “Risalah Solo”, selain Rektor IAIN Surakarta turut serta Ketua PP RMI-NU Ketua PP RMI NU KH Abdul Gaffar Rozin, Ketua PW RMI Jateng KH Mandzhur Labib, dan Prof. Kamaruddin Amin mewakili Menteri Agama RI. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Sabtu 21 Oktober 2017 22:0 WIB
Menteri PMK: Pembangunan Budi Pekerti Harus Dimulai dari Keluarga
Menteri  PMK: Pembangunan Budi Pekerti Harus Dimulai dari Keluarga
Jakarta, NU Online
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengingatkan tentang peran penting seorang ibu, keluarga dan lingkungannya secara lebih luas dalam membentuk perilaku yang berbudi pekerti, dan berjiwa gotong royong terhadap anak-anaknya.

“Itu dimulai dari keluarga dan khususnya ibu,” kata Puan Maharani saat menjadi pembicara kunci pada acara Festival Keluarga Maslahah dan Rapat Koordinasi Nasional Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahata Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) di Hotel Arya Duta Jakarta, Sabtu (21/20).

Menurutnya, banyak kasus menunjukkan bahwa paham-paham sesat dan paham radikal itu muncul dari lingkungan keluarganya.

Begitu juga dalam hal pembangunan karakter dan berbudi pekerti luhur, katanya, harus dimulai dari keluarga. Keluarga harus menjadi tempat yang nyaman, saling memberikan kasih sayang, membina dan membantu. 

“Karena kadang kala rumah itu hanya menjadi tempat kita berteduh dari panas dan hujan. Semuanya itu sibuk main HP dan tidak ada komunikasi,” kata perempuan 44 tahun ini.

Sementara pembentukan dengan gotong royong, menurutnya, karena menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya dibebankan kepada ibunya, tapi juga keluarganya. 

Hadir pada acara yang bertemakan "Membangun Keluarga Membangun Bangsa" ini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Helmy Faisal Zaini, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Ketua Pengurus Pusat LKKNU Ida Fauziyah, Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suaib Thahir, Sekretaris LKKNU Alissa Wahid, dan lain-lain. (Husni Sahal/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG