IMG-LOGO
Nasional

Siapa Santri Itu? Ini Penjelasan Rais ‘Aam dan Ketum PBNU

Ahad 22 Oktober 2017 7:29 WIB
Bagikan:
Siapa Santri Itu? Ini Penjelasan Rais ‘Aam dan Ketum PBNU
Bandung, NU Online
Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menjelaskan, santri tidak hanya orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab atau ahli agama. Namun, santri adalah orang-orang yang ikut kiai dan setuju dengan pemikiran serta turut dalam perjuangan kaum santri.

“Santri adalah orang-orang yang ikut kiai, apakah dia belajar di pesantren atau tidak, tapi ikut kegiatan kiai, manut pada kiai, itu dianggap sebagai santri walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti perjuangan para santri,” jelasnya di gedung PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dari sisi keberadaan, menurut Kiai Ma’ruf, santri ada yang tinggal di pondok di pesantren, ada pula yang sesekali ke pesantren atau disebut santri kalong, ada juga santri yang sekali-kali saja datang bertemu kiai dan santri.

“Pokoknya, santri itu ikut kiailah. Karena itu dia mencakup hampir semua lapisan masyarakat,” lanjut Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat itu.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpendapat, santri adalah umat yang menerima ajaran-ajaran Islam dari para kiai. Para kiai itu belajar Islam dari guru-gurunya yang terhubung sampai Rasulullah SAW.

Para santri, lanjut Kiai Said, menerima Islam dan menyebarkannya dengan pendekatan budaya yang berakhlakul karimah, bergaul dengan sesama dengan baik. Santri juga menghormati budaya, bahkan menjadikannya sebagai infrastruktur agama, kecuali budaya yang bertentangan ajaran Islam seperti seks bebas atau minum-minuman keras.

“Santri itu jelas, adalah orang-orang yang menindaklanjuti dakwah dengan budaya seperti yang dilakukan Wali Songo. Dakwah seperti itu yang jelas ampuh, efektif,” tegas kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak itu.

Dakwah dengan cara seperti itu terbukti di dalam sejarah berhasil mengislamkan Nusantara tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. Bahkan raja-raja Nusantara itu menjadi Islam.

“Kita saksikan sekarang, dakwah yang manfaat, dakwah yang lestari, masuk sampai dalam hati, adalah dakwah yang dilakukan secara budaya, bukan dengan teror dan menakut-nakuti. Islam diajarkan dengan menakut-nakuti tidak akan masuk ke dalam hati. Imannya hanya pengakuan bibir belaka sehingga menjadikan potensi munafik, tapi kalau berdakwah dengan budaya, iman masuk ke dalam hati, sehingga akan menjadi mukmin kholis (ikhlas),” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Ahad 22 Oktober 2017 22:24 WIB
50 Tahun Harlah Pesantren, Darul Huda FC Targetkan Juara LSN 2017
50 Tahun Harlah Pesantren, Darul Huda FC Targetkan Juara LSN 2017
Bandung, NU Online
Perhelatan final Liga Santri Nusantara memberikan semangat untuk kontingen dari pesantren untuk merebut tropi juara. Boleh dikatakan, kejuaraan nasional ini memiliki gengsi tersendiri untuk khalayak santri dan pondok pesantren.

Hal itu dirasakan oleh Darul Huda FC kontingen asal Ponorogo yang menargetkan juara pada Liga Santri Nusantara 3 (LSN). Setelah juara dari Region I Jawa Timur,mereka bersemangat untuk merebut tropi juara. Pasalnya, tropi itu akan dipersembahkan untuk ulang pesantren yang santrinya hampir puluhan ribu itu.

“Perayaan lima puluh tahun pondok menjadi salah satu motivasi kami untuk merebut juara dengan semangat bertanding dan menjungjung sportivitas,” ujar Habib Mustafa (31) di kota Bandung (20/10).

Ia menambahkan bahwa bekal menjuari region I Jawa Timur itu menjadi penyemangat untuk pergi ke kota kembang ini. Habib sendiri adalah kordinator region Jatim yang mendampingi tim Darul Huda untuk bertanding pada laga Final LSN.

Sedangkan rombongan kontingen tiba pada Senin malam. Mereka memakai kereta menuju Bandung. Menariknya, kontingen dari region I Jatim ini membawa paket lengkap untuk logistik pertandingan. Mereka membawa satu paket tim dapur sekaligus tim medis. Bahkan beras dua kintal mereka bawa untuk tidur di barak peserta.

Berbarengan dengan itu Anam (35) Panitia Pelaksana region I menyatakan bahwa atmosfer pertandingan pada region  di sana sangat kental dengan kekeluargaan. Hampir seluruh peserta berada dalam satu pondok ketika laga berlangsung hingga selesai. Ia pun bersemangat untuk datang ke Bandung mendampingi kontingen agar merebut tropi juara. Sedangkan Pondok Pesantren Darul Huda sendiri akan membawa bobotoh dari jaringan alumni pesantren itu. (Pungkit Wijaya/Abdullah Alawi)


Ahad 22 Oktober 2017 21:4 WIB
Rais ‘Aam Jelaskan Peran Santri Saat Ini
Rais ‘Aam Jelaskan Peran Santri Saat Ini
Bandung, NU Online
Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan, santri saat ini tetap harus berperan; kalau dulu secara fisik yaitu merebut kemerdekaan dan mempertahankannya, saat ini membela keesepakatan-kesepakatan para ulama yang telah menyelesaikan persoalan kebangsaan dan kenegaraan, yang sudah mengsinkronisasi dan mengharmonisasi pemahaman islam dan kebangsaan.

“Karena itu, Islam dan kebangsaan tidak boleh saling bertabrakan. Tidak boleh terjadi konflik karena ini terselesaikan dan sudah tersinkronisasikan oleh para ulama, para pendiri bangsa ini,” katanya di PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.  

Mana kala ada benturan antara Islam dan kebangsaan, berarti ada mispersepsi, ada salah pemahaman. Bisa saja pemahaman itu salah dari cara memahami Islam sehingga terjadi benturan dengan kebangsaan. Bisa juga sebaliknya salah di dalam menafsirkan kebangsaan, sehingga timbul benturan dengan Islam.

“Nah, ini yang tidak boleh terjadi. Itu tugas kita santri sekarang, mengawal harmonisasi dan integrasi dan pemahaman yang ada pada Islam dan pemahaman yang ada pada kebangsaan. Itu menjadi penting karena adanya kelompok-kelompok radikal,” jelasnya.

Karena itu, maka langkah yang harus dilakukan santri adalah melakukan kontraradikalisme dan deradikalisasi serta mengeliminasi kelompok-kelompok intoleran.

“Kelompok intoleran itu yang jangankan kepada non-Muslim, kepada sesama Islam saja tidak toleran. Kelompok ini saya menamakannya ananiyah jamaiyah, ego kelompok, ashobiyah jam’iyyah sehingga selain kelompok golongannya dianggap sesat dan kafir,” tegasnya.

Kalau kelompok seperti itu dibiarkan berkembang, akan terjadi konflik-konflik yang luar biasa.

“Kewajiban santri NU terutama harus menjaga ini dan melakukan pencegahan-pencegahan dan pengawalan-pengawalan untuk merawat kerukunan keislaman dan kebangsaan kita,” lanjutnya. (Abdullah Alawi)

Ahad 22 Oktober 2017 20:30 WIB
HARI SANTRI 2017
Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!
Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!
Jakarta, NU Online
Pada momen hari santri 2017 ini, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan para santri untuk kian peka terhadap perkembangan zaman di sekitarnya, termasuk teknologi informasi. Ia mendorong mereka untuk aktif memberikan manfaat di dunia digital.

“Hari ini santri juga hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudarat yang sama-sama besar,” ujarnya saat menyampaikan pidato pada apel akbar hari santri yang digelar di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta, Ahad (22/10).

Ia mengatakan, internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks.

Santri, tambahnya, perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan lima filosofi syariat Islam.

“Yakni untuk menjaga agama (hifdhuddin), jiwa (hifdhun nafs), nalar (hifdhul aql), harta (hifdhul mal), keluarga (hifdhun nasl), dan martabat (hifdhul ‘aradl) seseorang. Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah,” papar Kiai Said.

Kiai asal Cirebon ini juga mengimbau para santri untuk mentransformasikan momentum Hari Santri sebagai ajang gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. “Spirit “nasionalisme bagian dari iman”, hubbul wathan minal iman, perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme,” katanya.

Apel diikuti ribuan santri dan pelajar dari berbagai daerah di Jabodetabek. Usai pembacaan teks Pancasila yang dipimpin Ketua PBNU Robikin Emhas, deklarasi ikrar santri diteriakkan secara serentak yang dipandu oleh Sekjen PBNU Ishfah Abidal Aziz.

Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan sejumlah pejabat tinggi negara. (Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG