IMG-LOGO
Nasional

Ketum PBNU Paparkan 6 Fase Penting Santri Kokohkan Pilar NKRI

Ahad 22 Oktober 2017 10:30 WIB
Bagikan:
Ketum PBNU Paparkan 6 Fase Penting Santri Kokohkan Pilar NKRI
Jakarta, NU Online
Kiprah santri teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan hal itu pada apel akbar hari santri 2017 yang digelar di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Ahad (22/10). Apel diikuti ribuan santri dan pelajar dari Jabodetabek, serta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, Kapolri Jenderal M. Tito Karnavian, dan sejumlah pejabat tinggi negara.

Kiai Said kemudian menjelaskan tentang momen-momen penting peran santri dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI itu. “Pada 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Pernyataan ini adalah legitimasi fiqih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila,” paparnya.

Selanjutnya, tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa. Tujuh kata dalam sila pertama yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” itu ditolak sebagian bangsa Indonesia dan berpotensi menimbulkan disintegrasi.

“Tahun 1953, kaum santri memberi gelar Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-Dlarûri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat yang harus diperangi,” tambah kiai asal Cirebon ini.

Berikutnya, tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi komunisme. “Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsensus nasional, mu’âhadah wathaniyyah,” jelasnya.

“Selepas reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945 bahwa NKRI adalah negara-bangsa—bukan negara agama, bukan negara suku—yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan,” ujarnya.

Apel akbar ini didahului dengan melantunkan mars “Ya Lal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah, pembacaan teks Pancasila, dan deklarasi ikrar santri. Sebelumnya, Sabtu (21/10) malam, pembacaan 1 miliar shalawat nariyah digelar di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. (Mahbib)

Bagikan:
Ahad 22 Oktober 2017 22:24 WIB
50 Tahun Harlah Pesantren, Darul Huda FC Targetkan Juara LSN 2017
50 Tahun Harlah Pesantren, Darul Huda FC Targetkan Juara LSN 2017
Bandung, NU Online
Perhelatan final Liga Santri Nusantara memberikan semangat untuk kontingen dari pesantren untuk merebut tropi juara. Boleh dikatakan, kejuaraan nasional ini memiliki gengsi tersendiri untuk khalayak santri dan pondok pesantren.

Hal itu dirasakan oleh Darul Huda FC kontingen asal Ponorogo yang menargetkan juara pada Liga Santri Nusantara 3 (LSN). Setelah juara dari Region I Jawa Timur,mereka bersemangat untuk merebut tropi juara. Pasalnya, tropi itu akan dipersembahkan untuk ulang pesantren yang santrinya hampir puluhan ribu itu.

“Perayaan lima puluh tahun pondok menjadi salah satu motivasi kami untuk merebut juara dengan semangat bertanding dan menjungjung sportivitas,” ujar Habib Mustafa (31) di kota Bandung (20/10).

Ia menambahkan bahwa bekal menjuari region I Jawa Timur itu menjadi penyemangat untuk pergi ke kota kembang ini. Habib sendiri adalah kordinator region Jatim yang mendampingi tim Darul Huda untuk bertanding pada laga Final LSN.

Sedangkan rombongan kontingen tiba pada Senin malam. Mereka memakai kereta menuju Bandung. Menariknya, kontingen dari region I Jatim ini membawa paket lengkap untuk logistik pertandingan. Mereka membawa satu paket tim dapur sekaligus tim medis. Bahkan beras dua kintal mereka bawa untuk tidur di barak peserta.

Berbarengan dengan itu Anam (35) Panitia Pelaksana region I menyatakan bahwa atmosfer pertandingan pada region  di sana sangat kental dengan kekeluargaan. Hampir seluruh peserta berada dalam satu pondok ketika laga berlangsung hingga selesai. Ia pun bersemangat untuk datang ke Bandung mendampingi kontingen agar merebut tropi juara. Sedangkan Pondok Pesantren Darul Huda sendiri akan membawa bobotoh dari jaringan alumni pesantren itu. (Pungkit Wijaya/Abdullah Alawi)


Ahad 22 Oktober 2017 21:4 WIB
Rais ‘Aam Jelaskan Peran Santri Saat Ini
Rais ‘Aam Jelaskan Peran Santri Saat Ini
Bandung, NU Online
Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan, santri saat ini tetap harus berperan; kalau dulu secara fisik yaitu merebut kemerdekaan dan mempertahankannya, saat ini membela keesepakatan-kesepakatan para ulama yang telah menyelesaikan persoalan kebangsaan dan kenegaraan, yang sudah mengsinkronisasi dan mengharmonisasi pemahaman islam dan kebangsaan.

“Karena itu, Islam dan kebangsaan tidak boleh saling bertabrakan. Tidak boleh terjadi konflik karena ini terselesaikan dan sudah tersinkronisasikan oleh para ulama, para pendiri bangsa ini,” katanya di PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.  

Mana kala ada benturan antara Islam dan kebangsaan, berarti ada mispersepsi, ada salah pemahaman. Bisa saja pemahaman itu salah dari cara memahami Islam sehingga terjadi benturan dengan kebangsaan. Bisa juga sebaliknya salah di dalam menafsirkan kebangsaan, sehingga timbul benturan dengan Islam.

“Nah, ini yang tidak boleh terjadi. Itu tugas kita santri sekarang, mengawal harmonisasi dan integrasi dan pemahaman yang ada pada Islam dan pemahaman yang ada pada kebangsaan. Itu menjadi penting karena adanya kelompok-kelompok radikal,” jelasnya.

Karena itu, maka langkah yang harus dilakukan santri adalah melakukan kontraradikalisme dan deradikalisasi serta mengeliminasi kelompok-kelompok intoleran.

“Kelompok intoleran itu yang jangankan kepada non-Muslim, kepada sesama Islam saja tidak toleran. Kelompok ini saya menamakannya ananiyah jamaiyah, ego kelompok, ashobiyah jam’iyyah sehingga selain kelompok golongannya dianggap sesat dan kafir,” tegasnya.

Kalau kelompok seperti itu dibiarkan berkembang, akan terjadi konflik-konflik yang luar biasa.

“Kewajiban santri NU terutama harus menjaga ini dan melakukan pencegahan-pencegahan dan pengawalan-pengawalan untuk merawat kerukunan keislaman dan kebangsaan kita,” lanjutnya. (Abdullah Alawi)

Ahad 22 Oktober 2017 20:30 WIB
HARI SANTRI 2017
Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!
Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!
Jakarta, NU Online
Pada momen hari santri 2017 ini, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan para santri untuk kian peka terhadap perkembangan zaman di sekitarnya, termasuk teknologi informasi. Ia mendorong mereka untuk aktif memberikan manfaat di dunia digital.

“Hari ini santri juga hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudarat yang sama-sama besar,” ujarnya saat menyampaikan pidato pada apel akbar hari santri yang digelar di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta, Ahad (22/10).

Ia mengatakan, internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks.

Santri, tambahnya, perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan lima filosofi syariat Islam.

“Yakni untuk menjaga agama (hifdhuddin), jiwa (hifdhun nafs), nalar (hifdhul aql), harta (hifdhul mal), keluarga (hifdhun nasl), dan martabat (hifdhul ‘aradl) seseorang. Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah,” papar Kiai Said.

Kiai asal Cirebon ini juga mengimbau para santri untuk mentransformasikan momentum Hari Santri sebagai ajang gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. “Spirit “nasionalisme bagian dari iman”, hubbul wathan minal iman, perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme,” katanya.

Apel diikuti ribuan santri dan pelajar dari berbagai daerah di Jabodetabek. Usai pembacaan teks Pancasila yang dipimpin Ketua PBNU Robikin Emhas, deklarasi ikrar santri diteriakkan secara serentak yang dipandu oleh Sekjen PBNU Ishfah Abidal Aziz.

Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan sejumlah pejabat tinggi negara. (Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG