IMG-LOGO
Cerpen

Salamun Rabu Wekasan

Ahad 22 Oktober 2017 18:41 WIB
Salamun Rabu Wekasan

Oleh Abdullah Zuma

Gelar sarjana telah di pundakku beberapa bulan lalu dari perguruan tinggi di ibu kota. Ijazahku nilainya bagus-bagus. Aku sudah ditawari bekerja di beberapa perusahaan. Namun aku menundanya untuk istirahat dulu di rumah beberapa bulan untuk membicarakannya dengan ibu. Meski demikian, ternyata gelar sarjana itu tak berguna untuk sekadar masuk ke ruang depan di rumah orang tuaku sendiri. Aku sudah berkali-kali membukakan pintunya, tapi selalu urung. Seolah ada kekuatan yang menolakku, mendorong untuk mengatupkan daun pintunya kembali, perasaan bersalah yang besar.

Suatu sore, aku menatap pintu ruangan itu sambil duduk di kursi sembari menikmati kopi dan singkong rebus yang disuguhkan ibu. Tapi rasanya tawar. Pikiranku melayang-layang pada pintu itu, ruangan itu, isinya, dan pada almarhum ayahku yang meninggal setahun lalu.

Belum sempurna lamunan, pintu rumah ada yang mengetuk, uluk salam, dan langsung mendorong pintu. Di ambang telah berdiri tetangga dengan tangan menggenggam piring putih kosong. Piring itu menambah mumet pikiran. Bahkan aku merasa piring itu langsung dilemparkan ke kepalaku.

Aku tak menjawab salam orang itu. Malah pergi ke kamarku kemudian mengunci pintunya.

“Ini pasti Rabu wekasan,” jeritku dalam hati. Aku menangis sesunggukan di dalam kamar. Pikiranku kembali melayang-layang kepada ayah. Wajahnya, ubannya, pecinya, tasbihnya. Perkataan-perkataannya, saat-saat bersamanya bermunculan satu per satu. Begitu jelas.     

***

Ayah mengambil sebuah kitab lusuh agak tebal dari lemari jati yang tampak masih kokoh. Di lemari itu berderet kitab-kitab lain. Kitab yang tebal menyatu dengan yang tebal. Begitu pula yang kecil. Ada juga yang kelihatannya masih baru. Rata-rata kitab yang jilidnya tipis dilapisi dengan sampul. Ada yang dengan koran, bekas almanak dan ada yang memang benar-benar sampul.

Ayah menyebut benda-benda itu dengan kitab kuning. Padahal menurutku, tidak kuning. Bahkan kitab yang baru diambilnya sudah berwarna coklat muda. Pinggir-pinggir halamannya sudah keriting seperti milikku ketika setahun dibawa pulang pergi ke madrasah tanpa tas. Mungkin tokonya sudah lupa menjual kitab itu karena pembelinya saja, ayahnya ayah, telah almarhum.

Kemudian ia membuka jilidnya dengan perlahan seolah tidak ingin ada suara mengikutinya. Di jilid bagian dalam itu tampak tinta hitam tulisan tangan berbahasa Arab, berbaris rapi. Setiap baris tulisan diakhiri angka dengan huruf Arab juga. Ia meraba tulisan-tulisan itu sampai berakhir di satu barisan. Lalu membuka halaman-halaman dengan perlahan. Dan berhenti di angka sesuai akhir baris tulisan di jilid tadi. Ternyata ia tidak memulai dari daftar isi, melainkan dari catatan itu. Entah ayah yang membuatnya atau kakek karena konon ketika ayah nyantri, menggunakan kitab-kitab kakek.    

Di halaman itu, tampaklah rimba semut hitam kaku. Semut-semut itu kadang terjalin dalam satu susunan kalimat, ada juga yang sendirian. Di pengajian malam Jumat bersama bapak-bapak dan Jumat pagi bersama ibu-ibu, berdasarkan semut-semut itu, ayah bisa bercerita tentang para nabi atau sahabat dan para sufi, hukum-hukum yang rumit, perkataan-perkataan ulama, atau kisah-kisah orang alim. Ia bisa membacanya dengan lancar seperti orang kota membaca koran karena di saat senggangnya, ia sering sendirian terpekur di hadapan benda itu di ruangan paling depan rumahku.

Tapi bagiku, jangankan bercerita, melihatnya saja bikin mata kunang-kunang.

"Suatu saat, semut-semut ini harus bicara kepadamu," kata ayah. Dia memberi tekanan pada kata “harus”.

"Bicara? Bagaimana caranya, Ayah?"

"Kau harus belajar nahwu dan sharaf.  Untuk bisa seperti itu, kamu harus nyantri. Ayah nyantri. Kakekmu nyantri. Ayahnya kakekmu juga.”

Aku diam.

“Sore ini Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah,” lanjut ayah sambil mengeluarkan pena bertinta jafaron  yang warnanya kemerahan. Kemudian memanggil ibu di dapur untuk membawakan piring.

Ibu dan kedua adikku datang. Ia menyerahkan piring putih berukuran besar. Kami mengerubungi ayah. Fokusnya kepada pena di atas piring.

“Buat apa Ayah nulis di piring? Apa Ayah sudah tidak punya buku? Aku masih punya,” kata adikku yang pertama, berusia 6 tahun. Ayah tidak menanggapi. Adikku langsung ngeloyor pergi ke kamarnya. Ketika kembali, ia sudah menyodorkan bukunya. Tapi diambil ibu yang langsung membisikkan sesuatu di telinganya. Adik kemudian diam dan memerhatikan ayah. Kami tak ada yang bicara. Termasuk si bungsu.

Tatapan kami tetap seperti semula, ke tangan ayah yang mulai bekerja, mencipta huruf dan rangkaian huruf Arab di atas piring dengan rapi sebagaimana aku lihat di halaman-halaman Al-Qur’an. Ukurannya menurutku seimbang. Selintas, sebagaimana di kitab kuning itu, huruf-huruf itu nyaris seperti barisan semut-semut, cuma bedanya yang ini berwarna merah. Juga barisannya tidak lurus, melainkan berputar ke dalam seperti lingkaran obat antinyamuk bakar.

Ayah terus menulis dengan khusuk. Kami khusuk juga memerhatikannya. Semakin lama, semut-semut yang berbaris melingkar itu semakin berdesakkan. Kemudian tangan ayah berhenti persis di tengah-tengah piring. Dia meletakkan pena itu. Dan semut itu pun berhenti seolah jalan yang akan dilewatinya tercegat.

"Kamu tahu Al-Qur’an berapa juz?” tanya ayah kepadaku.

“Tiga puluh juz, Ayah.”

“Berapa surat dan berapa ayat?”

"Seratus empat belas ayat, dan enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat.”

"Nah, dalam ayat sebanyak itu, perlu kamu ketahui, dalam Al-Qur’an ada 7 ayat yang dimulai kata salamun. Salah satunya ada dalam surat Ya-Siin yang sering kita baca tiap malam Jumat. Kamu ingat?”

“Ingat, Ayah.”

“Coba bacakan!”

“Salamun qaulam mirrabi rahim”.

“Coba apa artinya?”

Aku menggeleng kepala. Aku merasa ayah berlebihan meminta arti ayat kepada anak seusiaku. Ayah-ayah temanku sedesa, mungkin juga sekecamatan, sore itu dan sore-sore yang lain, tak mungkin ada yang bertanya arti ayat kepada anak kecilnya. Sementara ayah menatapku lekat-lekat. Inilah ayahku. Kalau pertanyannya tak terjawab, biasanya marah-marah, setidaknya melotot. Konon kakek dan buyutku juga seperti itu. Pertanyaannya selalu harus berjawab. Jika tidak bisa, membentaklah ia. Apalagi jika pertanyaan itu sudah biasa, ayah sering menghadiahi sapu lidi. Mau berlindung sama ibu adalah sia-sia. Karena ibu selalu berada di pihak ayah. Sedari ingat, aku diajari membaca dan menghafal tiap malam diakhiri dengan tangisan. Ayah dan ibu seolah tak puas kalau aku belum menangis. Beberapa bulan lalu, aku dimintannya mentashrif sebuah fi’il mudlari.  Aku lupa, makanya dimarahi habis-habisan sampai mencucurkan air mata.

Kemudian ayah mengguyurkan sedikit air putih dari ceret ke piring itu. Lalu menghapus-hapus dengan telunjuknya. Sekarang airnya kemerahan. Adikku yang pertama, tanpa komando, hendak turut menghapus dengan telunjuknya juga. Tapi tangan ibu keburu menahannya. Adik bungsu meronta-ronta di pangkuan ibu, sepertinya ingin turut berpartisipasi menghapus juga.  

Kemudian air itu dimasukkan kembali ke dalam ceret. Dan di piring itu tak ada satu pun semut yang tertinggal.  

“Ini adalah Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar,” kata ayah, “kalian harus meminum air ini. Guyurkan juga ke dalam bak mandi dan sumur, juga ke kolam di depan kobong. ”

“Kenapa begitu, Ayah?”

“Kamu akan tahu penjelasannya kalau kamu sudah bisa membaca kitab ini,” katanya.

Tak lama setelah itu, beberapa orang tetangga uluk salam dan mengetuk pintu. Mereka membawa piring sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Kemudian ayah menulis di piring itu seperti tadi. Ketika ada yang datang lagi, ayah berbuat serupa. Namun, ketika menjelang maghrib, tetangga yang datang disuruhnya mengambil air dari sumur di dapur untuk dibawa pulang kemudian disatukan dengan air sumur dan minum walaupun setetes.

“Dulu mah para santri juga ikut meminta salamun ,” kata ayah seolah berbicara kepada dirinya sendiri. Sekitar lima tahun lalu, di kobong masih ramai dengan santri. Bahkan sejak zaman buyutku. Tak pernah kurang dari 30 santri yang tinggal. Sedikit memang, tapi tak pernah kering. Mereka berasal dari desa dan kecamatan tetangga. Bahkan pada generasi awal, banyak yang dari luar kabupaten. Namun sekarang tinggal beberapa santri kalong.  Santri tua telah pulang dan menikah, sementara anak-anak generasi baru, tak kerasan tinggal. Alasannya macam-macam.

“Dulu, menurut kakekmu, salamun ini disimpan di saku para santri ketika menghadapi tentara Belanda datang ke desa sini. Buyutmu yang membuatnya, dituliskan dalam selembar kertas,” lanjut ayah bercerita. “Begitu juga ketika datang tentara Jepang, giliran kakekmu yang membuatnya. Tidak hanya para santri yang membawanya, tapi gerilyawan. Sekarang ayah. Kelak seharusnya kamu. Salamun itu tolak bala. Menurut kitab ini, Allah menurunkan berbagai macam penyakit di akhir bulan Safar. Nah, salamun itu tolak balanya, ” jelasnya.

Kami tak ada yang berbicara. Adikku yang pertama pergi setelah meneguk segelas air. Kemudian berlari. Lamat-lamat terdengar suaranya agar meminum salamun entah kepada siapa. Sementara si bungsu menelusup ke dada ibu.   

“Zaman kakekmu, kobong itu dibakar Jepang karena mereka mengetahui tempat itu jadi persembunyian gerilyawan. Rumah kakekmu juga dibakar. Termasuk seluruh kitab kuningnya. Tapi santri selamat semua. Seluruh penduduk kampung mengungsi ke hutan. Sekembali dari pengungsian, kakek tak henti-hentinya menangisi kitab-kitab itu. Ketika zaman telah merdeka, santri berdatangan lagi. Tapi berbulan-bulan dia tak mengajari mereka. Ia masih sedih dengan kitab-kitab itu. Ia mau mengajar lagi ketika datang surat dari gurunya. Sedikit demi sedikit, ia membeli kitab. Semuanya masih terjaga di lemari jati itu. Sementara yang baru-baru, ayah yang beli. Kelak setelah tiada, kaulah dan adik-adikmu pemiliknya.”         

Enam bulan setelah ayah menulis salamun itu, selepas lulus SD, aku dikirimnya ke sebuah pesantren di kota kabupaten. Ayah menyuruhnya nyantri sambil sekolah, dan jangan dibalik. Tapi kenyatannya memang terbalik. Aku sekolah sambil nyantri. Pelajaran di sekolah lebih aku geluti daripada kitab-kitab kuning itu. Aku malas ngalogat  apalagi mutholaah.  Dan tak pernah bertanya apabila ada yang tidak mengerti kepada santri senior, apalagi langsung ke ajengan.  Karena itulah aku sering kena ta’jir.  

Pelajaran di pesantren aku rasa tidak menarik sama sekali dan suasananya juga tidak asyik. Dari hari ke hari aku makin tidak kerasan dan sering menginap di rumah teman sekelas di sekolah. Semakin bertambahlah ta’jir untukku. Makin berlipat-lipat juga ketidakbetahanku.

Ketika ayah mengetahui hal itu, aku pasrah mau dimarahi dengan cara apa pun. Aku kaget karena ternyata ayah tidak marah, melainkan diam. Namun pandangannya ke arah lain. Ada sesuatu di muka ayah yang coklat dan mulai keriput itu, entah apa namanya. Karena tidak ada reaksi, hal itu malah membangkitkan keberanianku untuk meminta sekolah saja. Ayah lagi-lagi diam. Di muka itu aku makin melihat ada bahasa yang panjang tapi tak diungkapkannya. Tapi herannya itu tak menjadi perhatianku karena keinginan hengkang dari pesantren terbuka. Ayah lalu bangkit tanpa sepatah kata pun.

Kelak, aku mengingatnya sejak itu, ia jadi pendiam.

Meski tak mendapatkan izin secara lisan, aku menafsirkan ayah mengabulkan keinginanku. Aku tinggal di kosan bersama teman lain yang berasal dari desa. Kesempatan itu aku manfaatkan sebaik-baiknya dengan belajar giat. Biaya sekolah aku ambil sebulan sekali melalui pintu dapur. Ketika aku mau berpamitan, ayah selalu tiada, seolah menghindariku.

Selepas lulus, perjuanganku tidak sia-sia, aku mendapatkan beasiswa di perguruan negeri di ibu kota. Jurusan kupilih sendiri tanpa bermusyawarah dengan ayah. Dan kini aku jadi sarjana, tapi melihat piring kosong saja pergi, apalagi membuka perpustakaan kitab-kitab kuning ayah.


Senin 16 Oktober 2017 13:0 WIB
Panggil Aku Bung Saja
Panggil Aku Bung Saja
Ilustrasi: IG manusia.merdeka
Oleh Dwi Putri

1.

Aku biasa memanggilnya ‘bung’. Kami bertemu dua tahun lepas ketika sama-sama menghadiri kegiatan rutinan di Taman Ismail Marzuki. Kata teman-temanku, kegiatan itu dicetuskan oleh salah seorang penyair atau mungkin penulis yang terkenal di jagat dunia sastra kontemporer Indonesia. Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Kata temanku lagi, acara itu selalu ramai didatangi oleh penikmat sastra, baik dari ibukota ataupun dari luar ibukota. 

Pertama kali ketika datang di sana aku cukup kaget, ternyata ramai juga walaupun waktu yang digunakan masanya orang asyik mendengkur di atas kasur. Di kampungku pasti tidak akan diperbolehkan oleh kades setempat. Takut ganggu warga katanya.

Rambutnya awut-awutan. Tangan sebelah kirinya nyaris ditutupi tato. Perantau cupu sepertiku mana berani dekat dengan orang semacam dia. Lebih mirip anak punk daripada seorang penikmat sastra. Waktu itu aku belum bisa membayangkan bagaimana seorang sastrawan di ibukota, Yogyakarta, dan lainnya. Yang kutahu di tv dan surat kabar, seorang sastrawan ya berpakaian rapi. Yang terpenting kalian jangan sampai menyalahkan tv dan surat kabar perihal ketidaktahuanku ini. Akunya yang kurang baca, jadi mana paham dengan dunia sastra dan bagaimana cara mereka menikmati hidup.

Kebetulan posisi kami berdekatan. Ia tersenyum padaku, aku hanya menunduk. Entah tanda apa itu. Hormat? Takut? Ha-ha-ha lucu saja kalau aku mengingat peristiwa itu. Apalagi sesekali di tengah diskusi, ia sering menyeletuk kecupuanku kala itu.

Aku pernah bertanya padanya, “kenapa aku harus memanggilmu bung? Kenapa tidak kakak atau adik sebagaimana lazimnya?” 

Dia hanya tertawa renyah sembari memamerkan gigi yang kuning dan terselip sesuatu yang berwarna hitam, entah apa itu. Aku tidak berani meyelidik dan menatap giginya lama. Menjijikkan.

“Aku suka dipanggil ‘bung’, karena aku merasakan diriku bebas. Kamu tau kan konsep presiden pertama kita menyematkan kata ‘bung’ di depan namanya?”

Aku hanya mengangkat bahu pelan. Lagi dia tertawa.

“Kamu benar-benar tidak tahu? Atau cuma mengujiku saja? Ha-ha-ha.” Tawanya lepas. Puas sekali nampaknya membuat mukaku merah padam.

“Coba aku tanya, di antara kita berdua mana yang lebih tua?”

“Cah edan… ya tentu kamu yang lebih tua. Dari kerutan di muka saja sudah kelihatan.”

Badannya bergetar menahan tawa, “Nah itu maksudku. Bayangkan kalau kamu memanggilku abang, kakak, kang, mas, atau apapun itu. Kamu pasti merasa segan denganku toh? Ya bisa saja akrab, tapi tetap ada sekat.”

Aku tidak mempedulikannya. Mulutku sibuk menyedot es jeruk yang baru saja kupesan. Sedangkan dia lebih memilih kopi. Katanya kopi membangkitkan semangat dan seleranya. Jiwa mudanya akan kembali. Aku memang orang Sumatra. Dan kebetulan keluargaku mempunyai kebun kopi beberapa hektar. Tapi bagiku kopi tidak terlalu mampu menarik perhatianku. Apa enaknya? Pikirku. Ya selera orang memang berbeda-beda. Tapi sekali lagi kubilang, aku tidak suka kopi.

2.

“Mahbub.” 

Aku menoleh ke arahnya, “Mahbub?” tanyaku.

“Iya, Mahbub.” 

“Dia siapa? Bapakmu? Kakekmu? Atau leluhurmu.” Aku menggosok tanganku kencang. Dingin sekali.

Seperempat jam yang lalu hujan. Sekarang gerimis. Ah, romantis sekali sebenarnya. Andai dia pacarku. Aku tersenyum sendiri ketika membayangkan kami berdua berpelukan mesra menatap langit. Sambil membiarkan wajah kami disentuh lembut rintik-rintik hujan di malam tanpa bintang.

“Kau kenapa tersenyum?”

Aku terkejut, ia menyenggol lenganku.

“Eh, tidak apa-apa. Jadi? Siapa Mahbub?

Mulai ia menyulut rokok. Aku risih sebenarnya menghirup kepulan asap itu. Menghindar tidak mungkin. Jadi untuk mengalihkannya, aku terpaksa sesekali pura-pura menggaruk dan memelintir hidungku pelan.

“Nanti kau kenalan sendiri dengannya ya.”

“Jadi dia masih hidup?”

“Menurutmu?”

“Ya mana aku tahu. Namanya saja aku baru mendengarnya sekarang.”

“Besok aku mau ke kampus tempat aku kuliah dulu. Aku dapat undangan hadir di acara anak-anak sana. Tentang Mahbub. Mau ikut?”

“Ya, siapa tahu ketemu Mahbub, aku ikut sajalah.”

Katanya, Mahbub itu sama dengan dirinya. Mahbub senang dipanggil ‘bung’. Apa peduliku dengan orang-orang yang suka dipanggil dengan sebutan ‘bung’ itu. Seingatku, aku pernah membaca sebuah artikel salah seorang temanku yang diterbitkan di sebuah media nasional. Di sana ada semacam analisis penggunaan bahasa dari masa ke masa sejarah Indonesia. Jika kita menelisik kembali ke sejarah Orde Lama, tentu kata ‘bung’ identik dengan jiwa sosialis sebagaimana jiwa Bung Karno. Tapi zaman terus berkembang. Zaman Bung Karno terkenal dengan peristiwa 65/66 yang terkenal karena gejolak politik. Jadi untuk menggeser zaman Soekarno, maka pemerintah di zaman Orde Baru sebisa mungkin menghilangkan semua hal yang berbau Orde Lama. Termasuk kata panggilan ‘bung’ yang akrab disematkan pada tokoh-tokoh Orde Lama di zaman pemerintahan Bung Karno.

3.

“Kampret kau. Tega sekali aku diajak pergi dengan jalan kaki begini.” Aku menggerutu sepanjang jalan. Sesekali aku berhenti sambil memijit-mijit dengkulku yang terasa nyeri. Yang benar saja, aku diajak jalan kaki dari Pasar Rumput menuju Matraman. Katanya kampus yang mengadakan acara Mahbub itu di sana. Aku sendiri belum pernah mendengar ada kampus di sekitar tempat itu. Padahal aku sering mejeng bersama teman-teman satu komunitasku di taman yang ia sebut Taman Amir Hamzah.

“Biar terbiasa. Nanti kau kulatih jadi aktivis, biar kuat jalan kaki ke mana-mana. Bisa hemat duit kan? Nanti juga kalo lagi demo semacam long march kau tidak kaget lagi.” Ia terus berjalan menikmati perjalanan sambil memetik gitar kesayangannya. Tahu begini, lebih baik aku menolak untuk ikut. Bodohnya aku yang terus saja ikut dengan orang gila yang berjalan di depanku ini. sudah tahu gila, tapi tetap diikuti. Kegilaan apa yang ia salurkan padaku sehingga aku tetap mengikuti kegilaannya.

“Sekarang masih di Minangkabau. Berapa lama lagi kita sampai?”

“Ya paling habis ‘isya kita sudah sampai. Kau sudah maghriban kan?”

Aku melengos, “Apa pedulimu aku sholat apa tidak?”

“Ha-ha-ha… cupu begini, ternyata kau lebih jantan daripada aku ya.”

“Maksudmu?” mataku picing sebelah.

“Ya itu, cupu di hadapan manusia, tapi keberanianmu menantang Tuhan lebih dari sekedar berani. Salut padamu, aku beri jempolku empat-empatnya. Mau?” Rambut gondrong kriwilnya melayang-layang diterpa angin kendaraan yang lalu lalang.

“Tidak mau.” Jawabku ketus.

“Lho kenapa?” matanya lurus ke depan tanpa menoleh ke arahku.

“Dengar ya bung, jempolmu bau. Jadi dikasih gratis pun aku tidak akan mau.” Kami berdua tertawa. Aduh, lagi aku membayangkan dia adalah pacarku.

Ia mengajakku untuk terus menikmati perjalanan. Tidak terasa kami sudah tiba di jalan tambak. Sedikit lagi kami akan sampai. Duh, ketika sadar dari hipnotis ketidaksadaran darinya, kakiku mulai nyeri lagi, napasku agak tersengal menahan sesak. Meskipun bukan golongan orang kaya, aku tidak pernah mau bepergian dengan jalan kaki. Maksudku, itu jelas akan menghabiskan banyak waktu. Apalagi untuk ukuran Jakarta yang terlanjur banyak polusi, debu, asap knalpot. Bagiku jelas akan banyak kerugian yang akan didapat. Jakarta bukan ide yang baik untuk berjalan kaki. Aku lebih suka naik TransJakarta ketimbang kendaraan umum lainnya. Tidak tahu. Aku merasa nyaman saja walaupun di beberapa waktu harus berdesakan dengan pelanggan lainnya. Aku bukan pencinta bus. Mungkin salah satu alasanku menyukai bus Jakarta lebih karena aku terlalu terobsesi hidup dengan suasana seperti di Eropa. Ya, ketika di dalam TransJakarta, aku mendapati diriku seperti di benua biru itu. Aku suka suara decit bus, aku suka berdesak-desakan, aku suka bau AC nya, aku suka melihat petugas yang membawa plang setiap berada di pemberhentian, aku suka menempelkan kartu bus di pintu masuk dan keluar.

“Kenapa?”

“Napasku sengal, Bung. Seharusnya kau tidak usah berhenti dengan dongengmu itu sampai ke tujuan, supaya aku tidak terasa lelah. Kalau begini kan repot. Kau tahu sendiri aku gampang capek.”

“Payah!” Jawabnya singkat.

Dari kejauhan sudah terdengar suara musik. Itu jazz. Sebentar, Mahbub suka jazz? Atau dia yang sedang memainkan musik? Aku menduga seorang Mahbub adalah musisi berkelas yang tak dikenal di negara sendiri. Biasanya kan begitu. Terkenal di negeri orang, dicaci di negeri sendiri. sementara musik yang sama sekali tidak bermutu malah jadi tren di kalangan masyarakat. Tapi yang namanya musik dadakan tidak akan bertahan lama tenar di belantika musik tanah air.

“Tidak usah berpikir siapa yang memainkan musik jazz itu.” Dia seolah-olah mendengar suara hatiku.

Sesampainya di Taman Amir Hamzah, kami masih harus berjalan lagi ke arah masjid Jami’ Matraman. Lokasi kampus yang menjadi tempat kegiatan berada di sisi kiri masjid. Nah ya, itu dia ada plang yang tertulis nama kampus. Sesekali terdengar suara riuh penonton. Mungkin Mahbub sedang menunjukkan aksi kerennya. Aku jadi tambah penasaran dengan Mahbub. Selepas acara aku harus foto bersama dengan Mahbub, pikirku.

Mataku terpaku dengan bendera-bendera di pagar kampus itu. Warnanya kuning, ada gambar perisai warna biru di tengahnya, dan tulisan yang tidak bisa ku baca karena posisinya lunglai tak ada angin supaya aku jelas melihatnya. Ini acara partai atau acara musik? Atau mungkin itu lambing persatuan jazz ala Mahbub. Banyak mahasiswa yang mengenakan jas warna biru, itu apalagi? Jas almamater atau jas persatuan jazz Mahbub? Ahhhhh, semua tentang Mahbub. 

Di lokasi acara, banyak orang yang datang menghampiri kami. Nyaris mereka berebutan untuk bersalaman dengan orang ‘gila’ di sampingku ini. mereka tersenyum dan menyalamiku juga, tapi tak setakzim seperti apa yang mereka lakukan pada yang di sampingku. Aku agak sedikit menjauh supaya mereka lebih leluasa lagi melepas kangen dengan dia. Aku kikuk melihat seseorang di depanku, ia tersenyum manis dan mengulurkan tangan. Aku menyambutnya gemetar.

“Mahbubian dari mana bang?” tanyanya.

“Oh, eh, anu… apa ya. Aku Cuma ikutan Bung Nanda.” Jawabku gelagapan. Sial, siapa perempuan ini.

“Bang Nanda Taruna maksudnya?”

Aku mengangguk, “Aku kepengen ketemu Mahbub. Nanti bisa kau antarkan?” badanku agak sedikit membungkuk, agar perkataanku hanya didengar oleh perempuan itu.

Mendengar bisikanku, ia malah tertawa lepas sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Lho ada apa?” aku kebingungan melihat respon darinya.

“Abang seriusan mau ketemu Mahbub?” masih dia terkekeh. Aku mencoba menyelidik maksud dari tawanya.

“Kalau bukan karena Mahbub kalian itu, mana mungkin aku mau diajak sama Bung Nanda jalan kaki dari Pasar Rumput ke sini.”

“Ha-ha-ha itu sudah menjadi kebiasaan bang Nanda. Jadi tidak aneh lagi.”

Aku tersipu. Rasanya ingin sekali menenggelamkan wajahku di tempatku berpijak sekarang. Aku melepas kacamataku sejenak karena mataku kemasukan keringat. Agak sedikit perih, mataku sepertinya memerah.

“Hei hei hei, senang sekali kau rupanya bercengkrama dengan gadis di sini.” Yang mendengar celetukan Bung Nanda tertawa. Ia merangkul bahuku, mengajak duduk bersila bersama dengan teman-temannya.

“Mana Mahbub?” 

Bung Nanda agak sedikit tersendat. Kemudian menatapku pelan.

4.

Aku tidak berani lagi menoleh ke belakang. Menangis sambil tersenyum. Padahal aku sudah siap memberikan kejutan untuknya. Kejutan yang kuyakini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Aku pikir, sekarang ia yang malah cupu. Menggantikan posisiku. 

Bung, bung. Sekarang aku sudah tahu Mahbub. Aku sudah berkenalan dengannya. Orang yang pertama kali ku sangka Mahbub ternyata puteranya. Mahbub hanya kenangan, sama seperti dirimu. Sedari awal ikut acara jazz kala itu, keinginan pertamaku adalah berfoto dengan Mahbub. Tapi tak apa, aku sudah menemukan Mahbub dalam dirimu. Sudah banyak foto kita bersama bukan?

Kebahagiaan ternyata bukan milik kita lagi. Tapi milikmu. Aku akan memulai babak baru seperti dirimu dulu. Dasar orang gila! Aku akan menjadi orang gila sepertimu juga. 

aku akan berlagak seperti orang yang sangat idealis. Sebagaimana ada pepatah yang mengatakan idealis adalah harta terhebat yang dimiliki oleh seorang mahasiswa sepertiku.

Aku kurang yakin sebenarnya. Kenapa selama ini aku menentang menjadi orang seperti dirimu? Karena aku sudah cukup kenyang dan kepalang naik darah melihat mereka yang dulu menjunjung tinggi keidealisannya. Sekarang mereka malah berbuat sebaliknya. Apa aku harus berpikir keras lagi bahwa idealis hanya dimiliki ketika seseorang duduk di bangku kuliah dan menyemat gelar mahasiswa? Habis wisuda dihalalkan untuk pragmatis dan realistis?

Idealis memang mahal, Bung. Kau mampu membawaku ke arah itu. Tapi aku juga tidak yakin, apakah hal tersebut mampu kupertahankan hingga aku melepas masa seorang mahasiswa. Aku ingin sepertimu dan Mahbub bung. Aku juga ingin tertawa bersama kalian melihat kekonyolan negeri kita ini.

5.

“Bangsat, tengik, keparat, tidak tahu diuntung!!! Mereka bawa ke mana dia?! Aku tidak akan memaafkan manusia-manusia kampret itu sampai dia ada dihadapanku sekarang!!!”

aku hanya menunduk. Seftian menepuk pundak Laksono sembari berusaha menenangkannya. Laksono menepis tangan Seftian. Ia berusaha menutup kekalutannya dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Airmatanya tidak dapat dibendung. Ia duduk di sofa masih menahan tangis. Kamipun merasakan hal yang sama. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam di tengah malam kelam itu.

“Coba kalian perhatikan, bajunya sama sekali tidak ada sobekan. Hanya darah yang menempel. Itu artinya apa?!! Dia tidak mungkin diserang petugas hanya karena mendorong pagar pak Menteri hingga rusak. Setidaknya hal itu bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik toh!!!” kemarahan Laksono kian memuncak. Ia memantuk-mantukkan kepala di dinding.

“Kecuali jika memang mereka adalah kabinet anti kritik.” Seftian menimpali.

“Menurutku bukan masalah anti kritik atau tidaknya, Sef. Jika kita bicara pemimpin egaliter, sampai kapanpun tidak akan pernah ada. Aku rasa aku atau kita akan bungkam dengan sendirinya jika yang di atas sana adalah senior atau setidaknya pimpinan kita, bukan begitu? Karena dengan begitu kita akan terkena cipratan segepok fulus. Kebetulan yang sekarang tidak satu arah dengan kita. Makanya tanpa pikir panjang berani melawan.”

“Maksudmu apa, Ngga?!!” tak bisa dielak, tangan Laksono melayang ke arah mukaku. Kesetanan dia menyerangku. Untuk membela diri agar tinjunya tak mengenai mukaku lagi, aku balik membalas. Badanku memang kerempeng jika dibanding Laksono yang gempal. Tapi aku masih bisa membalas. Seftian, Cecep, dan Ilham berupaya menarik Laksono yang sudah menekan keras badanku di lantai. Tulang rusukku serasa remuk dibuatnya.

Payah!!! Malam itu memang malam yang tidak pernah aku harapkan. Pertama karena di siang harinya kami kehilangan Bung Nanda. Iya Bung Nanda yang dielu-elukan simpatisannya di dunia aktivis. Ada yang bilang ia dibawa oleh aparat dan sudah dibawa ke tempat yang aman. Ada juga yang bilang bung satu itu dilarikan di rutan Salemba. Atas dugaan merusak pagar rumah Menteri dan menyulut para mahasiswa melakukan kerusuhan di beberapa titik. 

Berapa kali aku dan teman-teman bolak balik rutan Salemba dan lokasi terakhir Bung Nanda berada, di sekitaran rumah Pak Menteri. Ajaib memang. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Waktu itu memang aku sempat putus asa dan menangis sejadi-jadinya. Bajuku bau keringat, wajahku sudah tidak karuan karena asap, bekas arang, debu. Aku orang pertama yang akan merasa kehilangan orang gila itu. Tanganku masih memegang pentungan. Mana tahu aku lihat orang yang membawa Bung Nanda. Kalau lihat, aku akan menghabisinya sampai mati. Tapi bung satu itu tidak kunjung kelihatan. Sampai ‘Isya kerusuhan massal masih terjadi. Aku sudah tidak peduli lagi apa maksud tujuan kami demonstrasi. Aku sibuk ke sana kemari mencari Bung Nanda, berlari seperti orang gila sambil berteriak memanggil namanya. 

Tanganku ditarik oleh seseorang dari belakang. Aku takut jika orang itu akan menculikku sama seperti Bung Nanda. Makin kencang aku berteriak hingga suaraku terdengar parau. Ternyata Ilham. Ia mencoba menenangkanku. Kami berjalan dari sekitaran monas menuju kampus mereka dengan mengendarai mobil. Di mobil sudah ada Seftian, Cecep, dan Laksono.

Sebelum menarikku, lebih dahulu mereka mengincar Laksono yang sudah seperti orang gila. Kata Cecep, Laksono terkena gas air mata. Sebagian badannya terasa perih. Pun matanya ia mengedip memicing. Ah Laksono. Dia kawan yang baik.

Tapi malam itu kami malah bertengkar. Muka dan sekujur tubuhku memar karenanya. Tapi tak apalah. Tidak baik memang aku berpendapat seperti itu di saat keadaan sedang genting. Aku rindu Bung Nanda. Itu saja. Ke mana aku harus mencari orang gila itu agar aku tetap bertahan dan menjadi teman yang baik untuk teman-temannya. 

Besok dan seterusnya aku akan terus mencarinya. Jika kudapati dirinya, aku akan beritahu bahwa seorang Rangga Aditya Tan sudah resmi menjadi bagian dari pergerakan mereka. Sampai ketemu, bung. Aku sangat merindukanmu. Aku sudah siap menjadi orang gila sepertimu. Sampai bertemu lagi. Sekali lagi. Aku merindukanmu.


Jakarta, 11 Oct’ 2017


Penulis adalah student major of Psychology Nahdlatul Ulama Indonesia University

Ahad 3 September 2017 11:1 WIB
Iktikaf
Iktikaf
Ilustrasi.
Tatkala sudah di ujung lemah semangat, aku mendengar sebuah nama yang disebut-sebut sebagian jamaah shalat dzuhur di Masjid At-Taqi Desa Muntilan Sari, waktu itu, sepulang dari sowan Kiai Abror guru spiritualku dan kabarnya menjadi salah satu guru spiritual Presiden.  

Kepadanya, aku curahkan semua keinginanku, tentang perekonomian keluargaku, hampir semua pekerjaan untuk ukuran warga desa yang hidup di masyarakat ibukota suatu Kecamatan sudah aku lakoni: Dagang, nyawah, ternak, nambak, finishing jait, kuli panggul, kuli bangunan, jasa gadean, dropshipper baju, obat kuat, furniture, semua belum menemukan kata berhasil, apalagi sukses. 

“Coba gali potensi yang ada pada dirimu, kang Man?” jawab Kiai Abror. 

“Cocoknya aku kerja apa dan di mana, Kiai?” husnuzhonku, mungkin Kiai Abror yang di lingkupi aneka ilmu supra  dalam hal ini khasaf, sanggup mendiagnosa kerja dan daerah untukku, tapi salah dugaanku, bukan berarti Kiai Abror tak mampu, tetapi ada etika yang harus di jaga untuk seorang Kiai Khos, aku menangkap hal tersebut dari diamnya setelah aku tanya. Kalau menimba aneka ilmu ke-supranatural-an malah di segurah, di bimbing sampai mampu dan mumpuni.

“Jika kang Man, sudah menemukan potensi diri, nanti kualitas kang Man akan di hampiri oleh alam. Bismillah saja.” Terusnya.“ oh iya Kang, jika perjalanan kerumah pas dzhuhur, usahakan ikut jamaah di masjid.”

Lebih dari dua, tiga mungkin empat Orang-orang sukses dalam usaha dan membina rumah tangga, aku minta wejangan, termasuk membaca buku-buku pengembangan diri, buku strategi usaha, manajemen usaha, masih tetap nihil. Setelah pamit kepada istri,  aku meluncur ke daerah Muntilan Sari, mencari informasi, satengah jam kemudian aku sudah berdiri di rumah mewah empunya Kang Iktikaf, orang yang aku tuju dan berharap banyak untuk peningkatan perekonomian serta kebahagiaan keluargaku.

“Mas! Mas mencari siapa?” tanya seorang perempuan dari Tengah-tengan pintu besar dan panjang tipe kupu sejodo ala Londo berukiran khas Jepara.

“Apakah pak Iktikaf ada, bu?”

“Ada, tapi masih di masjid, silahkan duduk mas, sebantar lagi balik,” jawab perempuan itu dan aku duduk di kursi santai yang sengaja ditata di depan rumah, khas ala rumah Joglo Betawi. Baru saja kedua mataku asik mengelilingi bangunan halaman rumah yang luas, indah dan 3 mobil, tiba-tiba sosok yang gagah lengkap dengan kerapian batik sutra corak Satrio Manah – ciri khas batik Yogyakarta bak pak Kepala Desa ngantor, menyapaku.

“Assalamualaikum!” Lalu bersalaman dan mempersilahkanku masuk rumah. Dua gelas es teh serta air mineral mendarat di hadapan kami berdua. Ngalor ngidul kami berbincang, semua hajatku sudah aku utarakan,tak sengaja sorot mataku menangkap sebuah foto yang tak asing, “Ya, itu foto Kakek, kenapa di pajang di rumah mewah ini?” tanya batinku, lalu dengan puluhan penasaran akhirnya aku lontarkan.

“Oh, itu foto Kek Sukri, adiknya bapak saya?” jawab Kang Iktikaf. “Konon kata bapak, namaku yang aneh itu juga pemberian Kek Sukri,” lanjutnya sambil senyum.

“Nama asli bapak, siapa?” 

“Kang iktikaf.”

“Iktikaf?” tanyaku agak bingung.

“Bukan Iktikaf saja, Sesuai KTP dan data KK, nama saya Kang Iktikaf, ada Kang-nya.”

“Kang iktikaf, begitu?” Heranku, dia mengangguk, kami berdua melepas tawa, kemudian aku jelaskan, bahwa Kek Sukri adalah Kakeku, Bapaknya Romoku, aku sebut juga namaku, Kenang Rahman bin Abdur Rahman bin Sukri. Kenang kalau arti dialek orang jawa berarti Adik laki-laki, atau anak laki-laki. Lagi-lagi tawa kami lepas, seperti para sahabat yang bercanda tanpa batas. 

“Nama-nama produk Kek Sukri memang berbeda dan aneh, hahaha...” Komentarnya sebelum melangkah memberitahu istri dan ibunya, kalau aku adalah seudaranya.

Harus bisa merubah jerami menjadi emas, kata Kang Iktikaf, aku pun membantahnya dengan bukti upayaku untuk merubah jerami menjadi emas, namun belum berhasil, ku tanya juga tentang kiat-kiat mencapai sukses, jawabnya juga sama, dan selalu sama dengan Orang-orang sukses yang pernah aku temui, sampai akhirnya aku mampu menggiring Kang Iktikaf pada level kisah suksesnya yang sangat mengejutkanku, kisah itu keluar dari mulutnya yang awal kalimatnya ragu-ragu dan tidak di pertemuan awal ku dengannya, melainkan kesekian kali.

“Termasuk empat armada mobil rental itu dan satu mobil sedan itu ya pakde Kaf?”

“Iya, Toko kain, toko pakaian, sawah-sawah, tanah kaplingan, tambak, dan hasilnya juga merenovasi rumah ini, dan usaha refill air minum serta conter HP juga masih dalam tahap, termasuk ruko di jalan raya depan masjid itu.”

“Taa, tapi, tapi bagaimana dengan...?” kalimatku kikuk di potong dia, seakan dia tahu apa yang terlintas dalam otakku soal hukumnya. Hukumnya sah-sah saja, dan aku sudah limabelas tahun, Alhamdulillah aman, semoga tetap aman sentosa, jawabnya. Aku pun juga ingin menanyakan jenjang waktu, tapi sudah terjawab sebelum pertanyaanku keluar. Saat kutanya tentang hati nuraninya, apakah merdeka, ia pun semangat menjawabnya.

“Sangat! Kan sifatnya meminjam.”

“Berarti memanfaatkan aji mumpung?”

“Begitu juga boleh, asal kita tahu aturan mainnya?”

“Maksudnya?” aku bingung.

“Kita, harus pandai merangkul juru kuncinya, pakdemu ini juga terus menempel juru kuncinya.”

“Maksud juru kunci?” aku tambah bingung. Lantas Kang Iktikaf yang ku sapa dari jalur Romoku dengan sebutan pakde, menjelaskan sampai nominal angka-angka.

“Setahun limaratus juta, ya pakde!”

“Minimalnya segitu. Lewat jalur itulah pakde mampu merubah ‘Jerami Menjadi Emas’ dan jika cocok untukmu Man, maka jangan ragu, nanti pakde pandu, bagaimana?” Kang Iktikaf mengakhiri sarannya.

Dari perjalanan ke rumah, perasaan dan batinku perang, antara sanggup dan tidak, apalagi ilmu fiqih yang belum aku kuasai sepenuhnya menambah bantingan nafsu vs nurani. Aku ceritakan sepenggal kesuksesan Kang Iktikaf kepada istriku saat malam semakin diam, beberapa kali istriku menelah ludah,

“Awalnya, apakah ayah tahu, kok bisa sugih, sukses begitu?” akhirnya kalimat istriku keluar. 

Sambil tiduran, aku ceritakan kepada istriku. Pakde Kang iktikaf itu idenya berawal dari tak sengaja ikut nonton lelangan Sawah, lalu berpikir, bagaimana menggulingkan pak Karjo, dengan action selalu ikut jamaah ke masjid, selalu nongol kegiatan-kegiatan di masjid. Dan menempel juru kunci, yaitu Takmir masjid, Imam Rotib masjid, Tokoh-tokoh pengaruh di desanya, akhirnya pak Karjo yang baru setahun jadi Bendahara masjid berhasil dilengserkan lewat reformasi total kepengurusan masjid,

Jadilah Pakde Kang iktikaf Bendahara Masjid Jami’ At-Taqi, yang kekayaannya tiap tahun minimal plus Lima Ratus Juta, maka dengan duit kekayaan masjid, Pakde Kang iktikaf pergunakan untuk modal usaha-usahanya, beli tanah, sawah-sawah, memperkaya diri, juga pendapatan dari bunga Bank, Deposito Triwulan, Tahunan.

Sampai sekarang Limabelas tahun tak tergantikan. Jika reformasi tiba, pakde nempel lengket dengan mereka-mereka yang berpengaruh di masjid serta di desannya, kalimatku berhenti sejenak.

“Haruskah kita mengikuti jejaknya, bun?” tanyaku.

“Ya! Dan tidak disini, tapi kita pindah di desa Muntilan Sari!” istriku semangat, aku kaget.

“Lho itukan desanya pakde Kang iktikaf?”

“Betul!” jawabnya masih berkobar-kobar, “Karena masjid kampung kita ini, tak sekaya masjid At-taqi!” lanjutnya.

Aku terhentak dan berdiri mengambil minum. Namun, dengan cepat istriku menarik sarungku ke dalam lorong malam semakin menggairahkan.

Agon Naada, Mutakhorijin (alumnus) Pondok Pesantren Raudlotus Salikin, Buko, Wedung, Demak, Jawa Tengah.
Ahad 20 Agustus 2017 9:0 WIB
Vila di Pasir Peso
Vila di Pasir Peso
ilustrasi: sanggarlukiskumeli.blogspot.co.id
Oleh Abdullah Alawi

“Ah, rupanya desaku belum banyak berubah. Masih saja seperti dulu. Anak-anaknya harus berjalan kaki tujuh kilo meter untuk sekolah. Padahal negeri ini sudah 63 tahun merdeka dan seratus tahun bangkit,” bisikku dalam hati ketika melihat anak-anak berseragam putih-biru di depanku. Mereka menjinjing sepatunya supaya terhindar dari beceknya jalanan. 

Aku teringat beberapa tahun silam ketika aku seperti mereka, sering menjinjing sepatu ketika jalan becek. Barulah sepatu dipakai ketika hampir sampai di sekolah. Duduk di bangku sudah lelah. Seragamku bau keringat karena tak pernah memakai parfum. Tapi nilaiku tak kalah dengan teman-teman yang hanya berjalan beberapa meter ke sekolah. Mungkin jalan kaki membuatku semangat.  

Aku terpaksa berjalan kaki melewati jalan setapak yang sering digunakan oleh penyadap karet dan anak-anak yang berangkat sekolah. Jalan pintas ini biasa digunakan menuju Pasir Peso. Sebenarnya tubuhku letih setelah perjalanan jauh. Tapi karena di pangkalan ojek masih sepi, aku terpaksa jalan kaki. Setelah diguyur hujan semalaman, tukang ojek biasanya mangkal setelah jalanan mulai kering. Aku malas menunggu siang karena rinduku menuju lemah cai sudah tak tertahan lagi.

Setelah keluargaku menjadi transmigran ke pulau Sumatera selama lima tahun, selama itulah aku memendam kerinduan tanah kelahiran. Rindu kepada sungainya, terasering sawahnya, humanya, lampingnya, alamnya, dan orang-orangnya. Semuanya! Tapi selalu saja ada aral melintang, misalnya masalah ongkos atau izin dari orang tuaku. Dan, baru kali ini kerinduanku terlaksana.

Pagi sudah mulai terang meski matahari malas keluar. Burung-burung masih bersembunyi di sarang. Embun masih bertahta di dedaunan.

Aku terus berjalan meski tubuhku semakin letih. Keringat membasahai sekujur tubuh. Anak-anak sekolah semakin jarang kutemui. Tetapi ketika di sebuah tikungan aku berpapasan dengan anak yang mengingatku pada seseorang. Aku tak bisa menahan untuk tidak menyapanya.

“Neng..., kamu...kamu adiknya teh Imas, ya?”

“Mmm...i...iya. Akang siapa? Kok kenal teh Iim?” kata anak itu sambil menatapku keheranan. 

Aku tersenyum. 

“Aku temannya teh Iim. Aku juga orang Pasir Peso. Tapi sudah lima tahun pindah. Bagaimana kabarnya dia? Dimana sekarang?”

Anak itu tidak menjawab. Dia malah melihat jam tangan yang menempel di tangan kirinya. 

“Oh ya, takut kesiangan ya? Nanti barangkali saya main ke rumahmu. Silakan lanjutkan...”

Anak itu melanjutkan perjalanannya dengan tergesa-gesa.

Aku menatap kepergian anak itu. Perawakannya, wajahnya, mirip sekali dengan kakaknya, Imas. Dia adalah teman sekelasku. Aku masih terkenang saat-saat bersamanya. Berangkat sekolah bersama dan pulang pun bersama. Jika hujan turun, biasanya berteduh di bedeng penyadap karet. Betapa indahnya kurasakan menikmati saat-saat bersamanya. Sebenarnya rinduku ke lemah cai adalah rindu kepada Imas...

Perkebunan karet terlewati. Sekarang di hadapanku terlihat bebukitan Pasir Peso. Kadang kakiku terpeleset karena asyik melihat pemandangan di depanku. 

Aku memasuki jalan desa yang rusak berat dan tak terurus. Sisa air hujan menggenang di lubang-lubang sepanjang jalanan. Tiba-tiba mobil hard top melaju kencang di jalanan becek itu. Air sisa hujan semalam muncrat ke bajuku. 

“Sialan!” makiku dalam hati sambil melihat mobil itu terus melaju yang oleng ke kiri dan kanan karena menginjak jalan berlubang. 

“Siapa pemilik mobil itu? Dia pasti bukan orang Pasir Peso,” bisikku lagi dalam hati. 

***

“Ki Martayuda adalah satu-satunya orang Pasir Peso yang berani melawan Balanda,” kata abah Atma ketika bercerita tentang pahlawan Pasir Peso sehabis maghrib. Aku mendengarkan dengan khusuk. 

“Padahal dia melawan hanya seorang diri,” katanya melanjutkan. 

“Orang Pasir Peso tidak ada yang membantu?” tanyaku.

“Penyerangan itu tidak direncanakan karena dia benar-benar marah...”

“Apa penyebab kemarahannya?”

“Isterinya diambil opsir-opsir Belanda yang biasa mengambil cengkeh dari petani Pasir Peso,” abah Atma menghentikan kisahnya sebentar karena mulutnya diisi singkong goreng.

“Isteri ki Martayuda adalah permata Pasir Peso yang terkenal kecantikannya. Opsir-opsir itu kepincut kemudian membawanya lari...”

“Terus bagaimana?” 

“Setelah tahu isterinya diculik, ki Martayuda marah besar. Kemudian tanpa dibantu siapa pun, dia mencegat opsir di punclut  Pasir Peso. Dua opsir Belanda mati di tangannya dengan sebuah pisau belati. Tapi isterinya gagal direbut kembali karena opsir yang lain telah membawanya pergi. Sejak itulah punclut disebut Pasir Peso. Begitulah sejarah kampung Pasir Peso, Jalu,” kata abah Atma mengakhiri cerita tentang lemah caiku. Dia bercerita dengan semangat 45. 

Begitulah abah Atma menjadi menjadi sejarahwan Pasir Peso, meski sejarah itu tidak pernah dicatat, tapi cerita itu selalu hidup, turun-temurun, menjadi dongeng sebelum tidur anak-anak Pasir Peso. 

“Ngomong-ngomong, sekarang disimpan dimana pisau ki Martayuda itu?”

“Ada di tangan abah. Suatu waktu kamu bisa melihatnya karena kamu masih keturunannya.”

Aku mengangguk-angguk.

“Tapi sayang, Pasir Peso sekarang hampir sirna ing bhumi. Jati ka silih ku junti,” kata abah Atma dengan nada menyesal.

“Kenapa?”tanyaku.

“Sekarang Pasir Peso berubah jadi kampung Vila atau vila saja.” 

“Bagaimana ceritanya bisa seperti itu, Bah?” tanyaku sambil mengerenyitkan dahi.

“Itu gara-gara vila di punclut Pasir Peso. Mulanya orang desa tetangga yang menyebut kampung vila. Kemudian orang Pasir Peso menjadi terbiasa karena nama vila terasa lebih ngota daripada Pasir Peso yang terdengar kampungan...”

“Siapa pemilik vila itu?”

“Orang kota. Orang Pasir Peso mana ada yang mampu membikin vila seperti itu. Luar biasa! Konon di dalamnya ada kolam renang segala. Pemiliknya seminggu sekali ke vila itu, atau sebulan sekali. Di situ tinggal isteri mudanya yang keempat...”

Aku mengangguk-angguk lagi.

“Oh ya, Jalu, Abah sudah ngantuk. Kalau mau tidur, di kamar depan saja....” kata abah Atma sambil ngeloyor ke kamarnya. Dari  dalam sudah terdengar dengkur Ambu Atma yang kecapaian. Sebenarnya aku ingin bertanya siapa yang isteri pemilik vila itu. Tapi aku mengurungkannya.

Malam semakin larut. Suara jangkrik dan binatang malam terdengar bersahutan ditimpali suara katak di sawah. 

Aku merebahkan diri di kamar. Tapi belum bisa tidur. Pikiranku meracau-racau. Obrolan dengan abah Atma masih terngiang-ngiang ketika bercerita tentang pahlawan Pasir Peso. Aku baru tahu bahwa ki Martayuda membunuh opsir karena isterinya. Barangkali dia tidak akan menjadi pahlawan kalau isterinya tidak direbut opsir itu. Tapi dia sudah terlanjur jadi mitos. Makamnya sering diziarahi. Kesaktiannya begitu terkenal. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia tak mempan senjata api.  

Tiba-tiba aku ingat Imas, permata Pasir Peso. Aku berharap Imas masih seperti yang dulu, masih mencintaiku. Sampai tiga hari di Pasir Peso, aku belum sempat pergi ke rumahnya karena sibuk menemui saudara-saudaraku termasuk abah Atma, pamanku. 

Di ujung lamunanku, aku berharap mimpi ketemu Imas... 

*** 

Aku kaget bukan main setelah tahu bahwa Imas sudah menikah. Aku langsung membuktikan hal itu ke rumah orang tuanya. Betapa terbakarnya hatiku ketika tahu suaminya adalah pemilik vila itu. Yang paling membuatku kecewa, dia terpaksa menikah untuk melunasi utang orang tuanya kepada suami Imas sekarang. 

Kenapa orang luar Pasir Peso yang mendapatkannya? Aku menggugat dalam hati. Bagiku pemilik vila itu tak ada bedanya dengan opsir Belanda yang mengambil isteri ki Martayuda. Vila dan suami Imas sudah melanggar kedaulatan Pasir Peso, Gara-gara vila itu, Pasir Peso sirna ing bhumi. Gara-gara vila itu pula Imas hilang. Begitulah kesimpulanku. 

Darahku adalah darah ki Martayuda. Pejuang Pasir Peso. Aku masih merasa orang Pasir peso dan wajib merebut Imas dan mengmbalikan nama Pasir Peso. Karena nama Pasir Peso adalah sejarah orang Pasir Peso sendiri. Kalau Imas mau, akan aku ajak kabur. Tapi kalau tidak mau, setidaknya aku akan membuat perhitungan dengan suaminya dan vila itu. Peduli amat siapa pun suaminya. Aku sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Malam sudah berlalu separuhnya. Aku berdiri di gerbang vila itu. Pagar yang tinggi dan kokoh memperlihatkan keangkuhannya. Dadaku terbakar ketika membaca tulisan, “pribumi dan anjing dilarang masuk”. Aku meraba belati milik ki Martaydua yang terselip balik bajuku.

Tiba-tiba aku ragu akan keberanianku sendiri. Dapatkah aku melakukannya? Apakah Imas masih mencintaiku? Ki Martayuda disebut pahlawan, sedang aku? Barangkali seperti inilah perasaan ki Martayuda ketika akan membunuh opsir Belanda dan merebut isterinya. Ada rasa takut, rapuh karena dia juga manusia? Aku berusaha menekan perasaan itu jauh-jauh.  

Aku mencopot tulisan itu, menginjak-injaknya. Kemudian mulai memanjat pagar vila itu...


Ciputat, 5 Agustus 2008


IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG