IMG-LOGO
Humor

Ikan Milik Allah

Senin 23 Oktober 2017 6:21 WIB
Bagikan:
Ikan Milik Allah
Ilustrasi santri (ist).
Sudah menjadi aktivitas sehari-hari Kiai Nuri untuk mendidik dan mengajar para santri di pondok pesantrennya. Pagi itu ia menyampaikan tentang kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Seorang santri bernama Muhidin memahami penjelasan kiainya bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini semua milik Allah SWT.

Tibalah saat Muhidin dan beberapa santri membutuhkan lauk pauk untuk makan tetapi sudah tidak ada persediaan uang untuk membelinya.

Sampai pada akhirnya si santri mengambil ikan di kolam milik kiai. Saat memperoleh ikan yang besar, tiba-tiba Kiai Nuri datang.

“Hai, kenapa kamu mengambil ikan milik kiaimu?” tegur Kiai Nuri kepada Muhidin dan beberapa kawan santrinya.

Alih-alih lari tunggang langgang, Muhidin justru mendekati Kiai Nuri dan berkata, “Bukankah kiai sendiri yang mengajarkan ayat, lillahi ma fis samawati wa ma fil ardh, semua ini milik Allah. Jadi bukan milik kiai,” seloroh Muhidin. 

Kiai Nuri terdiam. Dalam hati ia berucap, “Senjata makan kiai nih.” 

“Iya Nak, itu milik Allah, tapi jangan ikan yang besar!” ujar Kiai Nuri.

Saking gemesnya, Kiai Nuri sekaligus melempar sandal bakiaknya ke arah Muhidin. “Aduh, kenapa kiai melempar bakiak ke saya?” tanggap Muhidin.

Dengan membaca ayat, wa ma romaita wa lakinallaha roma, Kiai Nuri menjawab tenang, “Bukan saya yang melempar, tapi Allah Nak.” (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Ahad 15 Oktober 2017 13:0 WIB
Penyesalan Gus Dur kepada Anak TK
Penyesalan Gus Dur kepada Anak TK
Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid.
Sindiran termasyhur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) salah satunya ketika mengkritik perilaku para Anggota DPR yang seperti Anak Taman Kanak-kanak (TK). Namun, di balik sindirannya itu, ada yang masih mengganjal pada diri Gus Dur.

Bukan karena mengkritik para anggota di lembaga negara tersebut, tetapi sebab menyamakan Anak TK dengan mereka.

Sore itu Gus Dur duduk-duduk santai dengan Kang Hidayat di pelataran Masjid Al-Munawwaroh Ciganjur, Jakarta Selatan. Di saat itulah Gus Dur mengungkapkan penyesalannya dan merasa berdosa kepada anak-anak TK.

“Saya menyesal telah menyamakan DPR dengan anak TK,” ujar Gus Dur.

“Kenapa Gus, apa karena itu lembaga negara?” tanya Kang Hidayat penasaran.

“Bukan itu. Saya merasa berdosa karena telah meremehkan anak-anak TK yang suci, cerdas, dan kreatif,” jelas Gus Dur lirih.

“Lalu, mereka (anggota DPR) itu pantas disamakan dengan siapa, Gus?” tanya Kang Hidayat lagi.

“Dengan sesama mereka,” jawab Gus Dur. (Fathoni)
Jumat 13 Oktober 2017 10:1 WIB
Saat Gus Dur Ditanya Ada Salib di Sirip Ikan
Saat Gus Dur Ditanya Ada Salib di Sirip Ikan
Suatu ketika, Kang Maman berbincang dengan Gus Dur di masjid samping rumahnya, Al-Munawwaroh Ciganjur, Jakarta Selatan. Hari sudah larut. Gus Dur terdiam dan enggan beranjak dari tempat duduknya.

Kali ini Kang Maman yang berusaha melontarkan joke atau humor yang biasa melekat pada diri Gus Dur, namun saat itu Gus Dur masih saja terdiam.

Kang Maman mengatakan tentang beberapa fenomena aneh yang kerap muncul di negeri ini, misal dulu ramai batu ajaib yang dipegang bocah Ponari di Jombang, Jawa Timur.

Selain itu, di Cirebon, Jawa Barat juga heboh karena ada simbol menyerupai ‘salib’ di beberapa sirip ikan hias. Ternyata sebelumnya, para kiai matur ke Gus Dur tentang fenomena itu.

Saat itu Gus Dur hanya berbicara singkat. “Kiai jangan heran. Itu nggak aneh,” kata Gus Dur. Para kiai dibikin penasaran tentang perkataan lanjutan Gus Dur.

“Kalau ada ‘salib’ di sirip ikan mas, ya wajar toh,” lanjut Gus Dur.

“Wajar bagaimana, Gus?” tanya salah seorang kiai coba menimpali Gus Dur.

“Lah wong Mbah-nya ikan-ikan itu kan PAUS,” kata Gus Dur singkat disambut geerrr para kiai. (Fathoni)
Sabtu 7 Oktober 2017 17:0 WIB
Dosen Ateis
Dosen Ateis
Ilustrasi (© 123rf.com)
Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba seorang dosen fisika nyeletuk, “Menurut saya Tuhan itu tidak ada.”

Semua mahasiswa di kelas bengong. “Kok begitu, Pak?”

“Kalian pernah melihat Tuhan?”

“Tidak...!” jawab mahasiswa serentak.

“Ya berarti Tuhan tidak ada!”

Salah seorang mahasiswa merespon, “Bapak pernah melihat akal?”

“Tidak.”

“Ya berarti akal Bapak tidak ada.” (Khoiron)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG