IMG-LOGO
Daerah

PCNU Dukung Polisi Usut Pernikahan Sejenis di Jember

Jumat 27 Oktober 2017 7:35 WIB
Bagikan:
PCNU Dukung Polisi Usut Pernikahan Sejenis di Jember
Jember, NU Online
Katib Syuriyah PCNU Jember Muhammad Nur Harisudin mendukung langkah polisi untuk  mengusut tuntas kasus pernikahan sejenis di Kecamaman Ajung, Kabupaten Jember. Sebab, dari sisi hukum positif, pernikahan manusia sesama jenis kelamin jelas tidak bisa ditoleransi.

Dari sudut agama, tidak satu referensi pun yang membenarkan perilaku homoseksual itu. "Makanya, kita dorong polisi menuntaskan masalah itu,"  tukasnya di Kantor PCNU Jember, Rabu (18/10).

Menurut alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Situbondo itu, dari sisi apapun perilaku LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) tidak mendapatkan pijakan, termasuk  dari sisi kepatutan dan kultur ketimuran. Dikatakannya, selama ini komunitas LGBT kerap menyodorkan dalih HAM sebagai alasan untuk  melegaliasi keberadaan mereka.

"Kita bukan alergi HAM. Tapi harus dilihat dulu, kalau (HAM) sesuai dengan Islam, wajib kita dukung. Tapi kalau bertentangan dengan Islam seperti LGBT, harus kita lawan," lanjutnya.

Seperti diketahui, saat ini Jember dihebohkan dengan terbongkarnya  pernikahan pasangan sama-sama lelaki, yaitu Muhammad Fadholi dan Ayu Puji Astutik. Kedua pasangan ini bahkan sudah resmi menikah di KUA Kecamatan Ajung, Jember, Juni 2017. Ayu Puji Astutik berhasil mengelabui petugas KUA dengan cara memalsukan dokumen dan "macak" perempuan.

Belakangan terbukti bahwa Ayu Puji Astutik adalah lelaki tulen, yang diakuinya sendiri  menyusul  desakan masyarakat. Keduanya  bahkan kemaren sudah diciduk polisi dan ditetapkan sebagai tersangka. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Bagikan:
Jumat 27 Oktober 2017 22:30 WIB
Gratis Biaya Kuliah Angkatan Pertama STIDKI NU Indramayu
Gratis Biaya Kuliah Angkatan Pertama STIDKI NU Indramayu
Indramayu, NU Online
Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Nahdlatul Ulama Kabupaten Indramayu menggelar Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa), Selasa-Kamis, 24-26 Oktober 2017.

Ketua PCNU Indramayu, KH. Juhadi Muhamad, mengatakan dengan hadirnya STIDKI NU Indramayu, akan menjadi jembatan bagi keberlangsungan jenjang karir dimasa yang akan datang bagi kader NU yang berpotensi. 

“Salah satu keistimewaan STIDKI NU Indramayu ini adalah bukan milik yayasan ataupun milik perorangan. STIDKI NU murni milik Nahdlatul Ulama,” ungkap Kiai Juhadi di lokasi kegiatan Kampus STIDKI NU Indramayu yang juga Kantor PCNU Indramayu Jalan Gatot Subroto No. 9 Indramayu, Kamis (26/10). 

Pada tahun pertama perkuliahan digratiskan dengan menggalang kekuatan tokoh NU melalui program orangtua asuh atau beasiswa.

Alhamdulillah sekarang sudah banyak tokoh NU yang telah siap menjadi orang tua asuh bagi para mahasiswa STIDKINU,” tambahnya.

Kiai Juhadi berharap seluruh mahasiswa memanfaatkan kesempatan istimewa tersebut.

“Belajarlah yang tekun dan rajin serta pada saatnya nanti menjadi sarjana, akan benar-benar menjadi sarjana yang siap mengabdi kepada ummat, NU, bangsa dan negara,” ujarnya.

Ketua Panitia Propesa, Zamakshari mengapresiasi para calon mahasiswa. Menurutnya propesa adalah syarat wajib agar diakui sebagai mahasiswa-mahasiswi STIDKI NU.

"Berbagai materi telah kami siapkan dengan mengundang para pakar yang berkompeten untuk menyampaikan pemaparan, diantaranya dari PCNU Indramayu, kiyai dari Pesantren Babakan Cirebon, praktisi perbankan,  wartawan senior di Indramayu,” kata Zamakshari.

Hal itu diharapkan  agar saat aktif menjadi para peserta Propesa memiliki pondasi dasar yang kuat untuk menjadi mahasiswa cinta terhadap almamater, menjadi kader NU yang tangguh serta siap bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain di Indonesia.

Selain mendengarkan materi dan diskusi, peserta Propesa juga menggelar bakti sosial berupa pemberian sembako dan pakaian layak pakai kepada fakir miskin, panti jompo, anak jalanan dan tukang becak. Mereka disebar di berbagai sudut Kota Indramayu.

Hasyim, salah satu peserta mengungkan rasa bangganya karena bukan hanya bisa mengikuti kegiatan Propesa, tetapi juga diajarkan berbagai melalui pembagian sembako dan pakaian layak pakai kepada orang-orang yang membutuhkan.

“Yang membuat kami terharu, pada saat pembagian sembako ada tukang becak yang sampai memeluk kami dan menangis saking bahagianya mendapatkan santunan tersebut,” ujar Hasyim yang juga wartawan di Indramayu.

Propesa ditutup secara resmi oleh Rektor/Ketua STIDKI NU Indramayu, Jaenal Effendi. Doktor muda jebolan Jerman ini menegaskan, keberadaan STIDKI NU Indramayu harus dimanfaatkan oleh masyarakat Indramayu umumnya dan warga NU khususnya untuk menempuh pendidikan tinggi. 

“Kami bertekad mencetak sarjana-sarjana yang berkualitas dan unggul dengan dukungan para tenaga pengajar atau dosen yang kesemuanya sangat berkompeten. Oleh karena itu kepada para mahasiswa STIDKI NU Indramayu saya berpesan agar meluruskan niat dalam menempuh perkuliahan ini, belajar yang giat dan tekun serta bersama-sama membesarkan STIDKI NU Indramayu,” pungkas tokoh muda NU ini yang juga pengurus LPNU PBNU. 

STIDKI NU Indramayu dibuka sejak 15 Juni 2017 dengan Ijin operasional berupa SK Direktur Pendidikan Islam No. 3333 tahun 2017. Terdapat empat program studi  yakni Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Manajemen Dakwah (MD),  Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), dan Bimbingan Konseling Islam (BKI). (Iin Rohimin/Kendi Setiawan) 

Jumat 27 Oktober 2017 22:2 WIB
Siapkan Resolusi Jihad Zaman Now
Siapkan Resolusi Jihad Zaman Now
Siapkan Resolusi Jihad Zaman Now
Surabaya, NU Online
Generasi milenial adalah mereka yang lahir tahun 1980 hingga 2000, yang juga dikenal sebagai generasi Y. tentu saja di dalamnya ada elemen santri.

Demikian disampaikan Wakil Ketua LTN PWNU Jawa Timur Wasid Mansyur, Jumat (27/10) saat dihubungi via WhatsApp.

Dengan memaparkan hasil yang didapat salah satu lembaga riset, angka generasi milenial tersebut mencapai 81,27 juta jiwa dan disusul generasi berikutnya yakni 68,02 juta jiwa. "Ini artinya bahwa masa depan bangsa Indonesia ditentukan generasi muda yang mendominasi jumlah penduduk seluruhnya," kata Dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Sadar akan dominan dan menentukannya generasi ini bagi masa depan bangsa, diperlukan langkah serius agar mereka mampu membawa angin perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. "Membawa udara segar bagi bangsa Indonesia yang telah berumur tujuh puluh dua tahun," tegasnya.

Dalam pandangan seorang doktor muda ini, Momentum Hari Santri Nasional hendaknya tidak semata perayaan seremonial tahunan. "Namun yang mendesak adalah mengingatkan generasi milenial ini makna Resolusi Jihad yang pernah digagas sejumlah ulama dan kiai, khususnya pendiri NU, Hadlratussyekh KH Hasyim Asy'ari," ungkapnya.

Karena dalam pandangannya, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap terbawa di sanubari santri yang notabene sebagai bagian tak terpisahkan dari generasi muda. Santri milenial juga harus cerdas menggunakan sejumlah sarana termasuk media sosial untuk menyebarkan konten berkualitas dan bernada damai. "Inilah Resolusi Jihad zaman now yang kita gelorakan," ungkapnya.

"Dalam suasana peringatan Hari Santri Nasional inilah, kami mengajak sejumlah kalangan untuk menyadari tantangan berat yang kini ada di depan mata," sergahnya. Karenanya, lewat forum diskusi Cangkir 9, beberapa pegiat media dan literasi dihadirkan untuk membincang persoalan ini.

Dalam acara nanti cangkir Sembilan akan Fauzi Priambodo pengusaha, RN Bayu Aji seorang akademisi dan sejarah muda, Chafid Wahyudi pegiat literasi, Syaifullah Ahmad Nawawi Redaktur Pelaksana Majalah Aula, M Zikky akademisi dan Santri Techno Community, Ahmad Karomi Pengasuh Santri Zaman Now, Dodik Nurcahyo, Najih Ramadhan, serta praktisi media TV, Said Hudaini.

Wasid berharap dengan kehadiran para narasumber, menjadi nilai lebih dari diskusi yang akan berlangsung di Giant Maspion Square Surabaya, Sabtu (28/10) besok. "Mari bersama ikut merayakan momentum ini yakni dengan mulai dari diri sendiri yakni dengan berbagi konten berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan," harapnya. Semua pihak tidak perlu saling hujat karena ketenangan sebenarnya sangat dirindukan di masa-masa penuh hoax seperti saat ini, lanjutnya.

Diskusi yang terbuka untuk umum tersebut dimeriahkan penampilan stand up comedy khas santri, juga iringan musik Santri Urban Community. Yang tidak kalah menarik yakni lantunan dzikir sebelum kegiatan dimulai. "Silakan hadir dengan membawa serta keluarga dan sahabat, apalagi kegiatan diselenggarakan di akhir pekan," pungkasnya. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Jumat 27 Oktober 2017 21:1 WIB
Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali
Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali
KH Agoes Ali Masyhuri.
Surabaya, NU Online
Nabi Muhammad SAW bersabda tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Hadits ini disampaikan KH Agoes Ali Masyhuri saat menjadi Khotib Jumat di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jumat (27/10).

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ini memang pendek tapi memiliki arti yang cukup luas. Pentingnya persatuan dan kesatuan bagi hidup berbangsa dan bernegara. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang. Berdamaian satu sama lain harus terus dilakukan. 

"Itu semua tidak akan teralisasi kalau tidak ada rasa kecintaan kepada seksama, ini yang pertama," tegas Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo ini.

Kedua, keimanan tidak akan kokoh kecuali menghindari rasa dendam, rasa iri dan rasa dengki. Tapi dia harus memikirkan untuk orang lain dan mencintai orang lain. Ketiga, keimanan akan sempurna apabila kalian peduli terhadap sesama manusia, mencintai manusia kepada siapapun termasuk non-muslim.

Keempat berlombalah dalam mendapatkan kebaikan. "Ini adalah bagian kesempurnaan dari iman, sikap seperti ini merupakan bukti keimanan sesorang," terang Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini.

Kelima, masyarakat harus memiliki hati yang bersih dan berwibawa. Hendaklah sesama muslim mendorong agar senantiasa berusaha membantu orang lain. kehidupan ini ibaratkan tubuh manusia, jika ada anggota tubuh yang sakit, niscaya anggota tubuh lainnya juga ikut merasakan kesakitan.

"Ini bukti kesempurnaan dan mampu menciptakan manusia yang harmonis," ungkapnya. (Rof Maulana/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG